Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Friday, September 27, 2019

Losers' Lunch (Postingan Translate) Part 1.

Hai hai semua . Ketemu lagi sama aing, Admin K yang kece dan cemerlang . Tentu saja, masih di blog kesayangan qta yang penuh dengan kebahagiaan ini, KnK Land. Kali ini aing akan memposting atau lebih tepatnya men-translate postingan orang. Kenapa aing melakukan itu? Tentu saja, agar isi blog ini makin kaya dan makin banyak kata kunci, mwaahahaha. Tulisan yang bakalan aing translate adalah tulisan dari penulis situs Longreads, Ben Rothenberg berjudul Loser's Lunch. Postingan ini puanjaang bingits guys. Langsung aja qta cekidoott .









Para pecundang merupakan pelengkap dalam hari-hari kerjaku sebagai penulis olahraga.

Berbicara dengan seseorang yang keluar dari lapangan setelah mengalami kekalahan telak dan menampakkan ketidaknyamanan yang begitu samar untuk meredam perasaan terluka yang kurang menyenangkan setelah pertandingan merupakan tugas penting dalam pekerjaan ini. Pada kesempatan yang langka, saya pernah berbicara dengan mereka yang baru saja mengalami kekalahan yang begitu mengerikan bahkan menggelincirkan sampai-sampai membuat mereka tampak ragu terhadap kelayakan karir mereka. Akan tetapi, bagi sebagian besar "pecundang", meski dalam keadaan yang begitu terbawah sekalipun, ada semacam kredibilitas dan martabat tersendiri hanya dengan tampil dihadapan orang-orang yang lumayan banyak dalam suatu ajang olahraga profesional yang penuh aspirasi dan kehormatan.

Meski begitu, tidak ada yang jauh dari kata aspiratif, pikirku di restoran Applebee's yang saya kunjungi di hari ke-6 US Open tahun 2017. Sembari duduk di seberang meja, dengan stik mozzarella dan beberapa gelas air, mereka bukanlah pecundang biasa.

Rainer Piirimets, seorang veteran tiga tahunan dari tur tenis Estonia, tersingkir dari US Open sehari sebelumnya, yang pada akhirnya keluar dari Stadion Arthur Ashe pada sore harinya. Rekannya, yang juga dari Estonia dan telah tur selama 10 tahun duduk di sampingnya.

Piirimets meninggalkan stadion bukan melalui terowongan menuju ruang loker, tetapi lewat gerbang samping. Pergelangan-pergelangan tangannya tidak mengenakan gelang penahan keringat, melainkan borgol.

Permintaan akan wawancara ini tidak dilakukan seperti yang biasa saya lakukan dimana secara langsung melalui meja media di turnamen, melainkan dilakukan melalui pesan di Facebook. Piirimets dengan semangat menerimanya. Dia menyarankan untuk bertemu di Applebee's, tetapi bukan karena dia lapar -dia hanya ingin mengatur cerita langsung setelah 10 jam di tahanan polisi sehari sebelumnya.

"Kami bukanlah kriminal," kata Piirimets, suatu kalimat yang dia dan temannya akan gunakan sebagai lagu yang dinyanyikan berulang-ulang hingga 2 jam kemudian.

Piirimets sangat yakin bahwa dirinya telah diperlakukan seperti kriminal sehari sebelumnya. Sambil menonton pertarungan ronde ketiga antara Petra Kvitova dan Caroline Garcia, ia terlihat di tempat duduknya yang ada di dek atas (bagian 331) oleh petugas keamanan turnamen dan dikawal keluar. Dia kemudian ditangkap lalu dimasukkan ke ruangan kecil oleh polisi di dekat tempat itu, yang kemudian melontarkannya keluar dari stadion. Polisi mengarahkannya melewati kerumunan yang padat dengan para penggemar olaharaga tenis menatapnya dengan wajah kebingungan, kemudian memasukkan dia ke dalam mobil polisi yang telah menunggu di luar pintu gerbang turnamen.

Piirimets, seorang pelompat tinggi yang kompetitif saat masih muda, dimasukkan ke dalam suatu sel penjara yang terletak di distrik ke-110, Queens, yang ia bersama seseorang yang katanya gelandangan yang profan dan tampak gelisah. Setelah beberapa jam di penjara, ia dibawa ke pengadilan untuk dakwaan di hadapan hakim. Kemudian, ia dibebaskan dadn diberi panggilan untuk hadir lagi ke pengadilan setelah tujuh hari kemudian. Ia tidak berencena untuk hadir.

Temannya, yang akan saya sebut Pete, juga ikut gelisah akan perlakuan yang diterima Piirimets.

"Karena salah apa dia dipenjara selama 10 jam?", kata Pete. "Karena dia membuat masalah kecil, bukan masalah yang besar."

Kejahatannya adalah masuk tanpa izin. Piirimets juga pernah dikeluarkan dari US Open tahun sebelumnya, dan selama waktu pengusiran pertama ia menerima sebuah dokumen yang menyatakan bahwa ia dilarang mengikuti turnamen selama 20 tahun. Ia mengatakan bahwa ia tidak berpikir kalau ancaman itu serius dan juga tidak berpikir kalau dia terikat oleh dokumen-dokumen tersebut karena dia tidak menandatangani garis di bawahnya. Ia juga tidak paham kalau masuk tanpa izin adalah kejahatan yang bisa membuatnya ditangkap di Amerika Serikat. Lagi pula, katanya, ia telah dikeluarkan dari banyak turnamen di seluruh dunia, dan tidak ada yang seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Karena mengapa? Karena ia bukan kriminial, katanya dengan bingung.

Siapa Piirimets itu? Ia dikenal sebagai salah satu anggota spesies nakal dan jahat dalam ekosistem tenis : courtsider. Akan tetapi, dengan para pemburu mereka yang semakin beradaptasi, para courtsider -bisa dibilang demikian- telah menjadi spesies yang terancam punah. Hanya yang paling keras kepala dari jenis mereka yang mampu bertahan. Meskipun taruhan olahraga telah dilegalkan di Amereika Serikat, mereka tetap akan menjadi persona non grata (orang-orang yang tidak disenangi) di US Open tahun ini, dan yang akan mereka akan coba datangi lagi.

Meskipun ia hanya courtsider kedua yang pernah ditangkap pada acara Grand Slam, Piirimets adalah orang kedelapan yang ditangkap pada lima hari pertama US Open 2017, menurut USTA - yang dengan bangganya disebut "pertempuran keras" saat courtsiding dan cukup bersemangat untuk memeringatkan media tentang penangkapannya. Dua puluh courtsider -17 pria dan tiga wanita (tidak ada orang Amerika)- telah tertangkap selama turnamen tahun 2016, yang datang dari Sri Lanka, masing-masing berfikir bahwa mereka memilki keterampilan untuk melawan sistem. Semuanya diberi peringatan dilarang mengikuti turnaman selama 20 tahun.

Sumur: https://longreads.com/2018/09/03/losers-lunch/

Oke, sampe disini dulu postingan aing. Sungguh capek men-translate paragraf demi paragraf. Bagi kalian yang penasaran cerita tentang para courtsider, silakan baca langsung di sumur aslinya atau tunggu Part 2 dari postingan ini, hehe . Kalo ada kesalahan translate atau mau koreksi translate silakan sampaikan juga di komen. Sampe jumpa di postingan selanjutnya. Bye~

Jangan lupa juga

Nonton video kucing disiksa
Baca Start Point
Baca cerita Caramelt dari Chapter 1

No comments:

Post a Comment