Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Friday, July 3, 2020

Agitasi Pemimpi


Akan tiba pada suatu hari.
Si Hitam kembali berdemonstrasi.
Dengan piring dan sendok yang bernyayi.
Sambil terus menjaga diri.

Sang Pemimpin langsung berasumsi.
Si Hitam harus segera dibasmi.
Karena merengek-rengek seperti bayi.
Yang meminta susu dan kasih.
Yang nantinya juga akan mati

Kita ini orang miskin.
Tolong, jangan hanya mengikuti angin.
Kita ini fakir.
Tak mudah lagi berpikir.
Kita ini begitu hitam.
Siang pun kita anggap malam.
Kita ini fakir, miskin dan hitam.
Harus banyak melawan.

Robin Hood itu dongeng.
Tak pernah saya kebagian harta.
Negara itu bohong.
Mana pernah ia merawat saya.

Saya merintih sepanjang hari.
Hingga saya tak kuat merintih lagi.
Dingin, gelap, dan sunyi di sini.
Sepertinya alam mengizinkan saya mati.

Tolong.....
Perhatikan saya...
Tolong......
Pelancar saya...


          Aku baru saja terbangun dari tidurku, tidur dengan durasi terpanjang selama hidupku. Aku terbangun tepat pukul 16.24 karena dentuman yang amat keras. Aku melacak dari mana asalnya, aku mencari hingga keluar rumah, aku berlari ke lapangan terbuka, hampa seketika, aku tak menemukan apa-apa. Aku duduk di bangku taman sembari memikirkan apa yang barusan terjadi. Cukup lama aku duduk di sana, memperhatikan sungai yang cemar dan suat suit sirene yang samar. Perasaanku tidak enak, hawa di sini merancukan, ada baiknya aku pulang, aku butuh ketenangan, mungkin dengan sembahyang atau makan-makan. Saat tiba di rumah, aku langsung ke kamar dan tanpa disadari aku kembali terlelap. Lama sekali rasanya. Aku melanjutkan mimpi-mimpi yang tadi terhenti karena dentuman, aneh sekali rasanya.

          Langit sudah mulai gelap, pertanda tak boleh lagi terlelap. Begitu kata kakek-nenek kita, nanti bisa diculik setan, lanjutnya. Masalahnya aku tak pernah takut pada setan, karena pada dasarnya mereka baik, aku juga baik, kita sama-sama baik, tak boleh saling alergenik. Aku lanjut tidur saat itu, tak peduli wasiat orang tua jaman dulu. Petaka, aku mampi buruk; jantungku berdetak tak karuan, seluruh tubuh keringatan, sampai-sampai badanku tak bisa digerakan. Aku terbangun tengah malam dan masih menerka-nerka, apa iya semua ini benar-benar terjadi? Tapi syukurlah ternyata tidak. Dalam suasana yang begitu racau, aku beranikan diri keluar kamar untuk mengambil bebarapa makanan, mungkin dengan adanya asupan yang masuk bisa mengembalikan suasana yang sudah racau tadi. Petaka, semuanya habis, tak ada yang tersisa sama sekali. Aku harus keluar rumah untuk membeli makanan dan melanjutkan mimpi buruk itu.               
 
        Jarak antara rumah dengan tempat perbelanjaan tak jauh, kira-kira 160 meter. Malam ini tidak terlalu sunyi, masih ada suara kendaraan yang sesekali melintas, penerangan sepanjang jalan juga cukup baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sesampainya di tempat perbelanjaan, aku membeli sejumlah barang, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Semua berjalan baik-baik saja, sesuai rencana. Saat perjalanan itu hanya tinggal beberapa langkah menuju pagar rumah, mataku tiba-tiba tertuju ke arah sebuah pohon dan lampu jalan yang mulai redup. Selama aku perhatikan, selama itu pula aku yakin ada sebuah kejadian, firasatku membawaku kesana. Aku tak percaya dengan yang kulihat. Seorang merintih dalam sayup-sayup mata yang kelelahan, kondisinya amat mengkhawatirkan, tak ada siapa-siapa di sekitarnya, seorang itu hanya seorang diri dan hanya membawa diri, bahkan lebih mirip seperti bangkai bekas terkaman hewan ketimbang manusia bernyawa. Seorang itu tiba-tiba terkejut dengan kehadiranku dan berupaya menahan diri. Aku memberanikan diri untuk makin mendekatinya dan menyakinkan seorang itu jika aku ini adalah orang baik. Aku ajukan kepadanya sepotong roti, matanya berbinar menginginkan itu. aku ajukan juga sebotol air mineral, wajahnya menampakkan kesegaran. Tapi entah kenapa seorang itu menolaknya dan berkata, "Terima kasih, aku sudah tak lama lagi. Aku di sini sudah hampir 21 hari, berteman dengan kelaparan dan kesederhanaan. Terima kasih, aku sedikit lagi. Mengambil sisa-sisa makanan dari satu tong ke tong yang lain. Terima kasih, aku hampir sampai. Menunggu waktunya tiba sampai Tuhan berkata 'sudah'. Terima kasih wahai anak kecil." Aku terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata yang seorang itu keluarkan. Aku tak habis pikir, masih ada orang yang terlihat kepayahan tapi menolak pertolongan. Sangat jelas, dia tidak dalam keadaan baik. Aku membuka suara dan bertanya, "Maaf, dirimu ini siapa? tak pernah ku jumpai seorang seperti kau di sini. Apa yang sedang kau lakukan dan apa yang kau perlukan?" Seorang itu tersenyum semringah lalu membenarkan posisi duduknya dan berkata, "Aku adalah bagian dari Si Hitam, aku bagian dari mereka. Aku berjuang pada baris terdepan untuk memperjuangkan hak mereka." Matanya berapi-api saat menjawab itu dan berlanjut, "Akulah yang mengetuk pintu-pintu kamar saat kalian terlena dengan kenikmatan Tuhan. Aku juga yang menggedor paksa pintu-pintu itu saat kalian tak lagi peduli pada sesama. Aku makan dari bekas kemewahan kalian, minum dari air yang kalian hambur-hamburkan, berlindung pada tempat yang kalian jauhkan. Aku selalu ada di sini bahkan di saat kalian sedang bermimpi. Kalian terlalu sibuk dengan kefanaan, berlomba-lomba memenuhi nafsu untuk dipamerkan. Kalian mengaku menjadi makhluk Tuhan tapi nasib orang seperti kami, kalian tidak pedulikan. Kalian ada untuk kesenangan, tapi tiada dalam kesukaran.

         "Aku adalah bagian dari Si Hitam. Aku selalu ada saat demonstrasi publik, berada di baris terdepan untuk menyampaikan aspirasi. Aku teramat lantang dalam prosesi bernyayi dan teramat lancang dalam proses menagih janji. Tidaklah kau ketahui, pemimpin kita tlah banyak mengingkari janji, membuat kebijakan yang hanya menguntungkan golongannya sendiri. Lihatlah, dia mengaku paling manusiawi tapi menengok orang susah saja dia jijik, merasa paling peduli tapi engga merawat kami. Cobalah kau dengar, sudah berapa ratus kali dia mengatakan akan membantu kami tapi tempat kami tinggal saja dia tidak mengetahui. Petaka, dia melewati tempat tinggal kami, tapi tak pernah mengulurkan tangannya untuk kami. Jadi, apa sebenarnya dia itu? Pemimpin kami atau musuh kami?

        "Aku akan usai. Semua darah dan keringatku akan kering sedikit lagi. Semua catatan perjuanganku juga akan selesai. Aku tak perlu lagi hidup seperti ini, tak perlu berjuang melawan tirani, tak perlu lagi berurusan dengan janji-janji. Aku tak pernah lelah tapi aku harus pulang pada akhirnya. Layaknya sebuah harta karun, akan aku wariskan semangat ini kepada orang-orang yang berada di barisan paling belakang, sebuah semangat untuk membakar ketakutan dan kebungkaman dalam melihat ketidakadilan. Perjuangan ini harus tetap berlanjut sampai nantinya Si Hitam tak lagi bernyanyi dengan piring kosong, mendapat susu dan perhatian khusus, mempunyai hunian yang layak huni, mampu membaca dongeng dengan nyaman, rintihan yang berganti dengan keriuhan dan puji-pujian. Seandainya cita-cita itu tak terwujud, mohon jangan biarkan ketidakadilan itu menjadi sebuah pembenaran. Harapanmu bisa saja tak terwujud, tapi jangan biarkan kau kehilangan harapan itu." Matanya yang semula berapi-api berubah menjadi sayup-sayup kembali. Wajahnya tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan. Seorang itu diam sambil menunduk sekian lamanya lalu menyuruhku pergi karena sudah larut malam. Aku akhirnya meninggalkan seorang itu tanpa sepatah dua kata sama sekali. Ironis melankolis. 
   
        Sesampainya di rumah, aku tak lagi mempunyai nafsu untuk makan, aku masih terus memikirkan maksud seorang itu. Aku bingung dengan semua perkataannya. Dugaanku dia sedang melantur karena kelaparan, atau bisa juga dia mengigau, atau bahkan dia sudah gila sedari 21 hari yang lalu. Dalam kondisi kegelisahan itu aku tiba-tiba tertidur. Cukup lama aku tertidur, sampai kira-kira pukul 3 sore satu guntur membangunkanku. Suaranya amat besar, kilatnya bagai cahaya yang sedang beradu di udara, pun hujan turun secara membabi-buta. Prahara itu semakin lama semakin besar. Aku terus mengamati prahara itu, sampai tiba-tiba aku teringat kepada seorang yang mengaku dirinya Si Hitam. Terus aku memikirkan kejadian tadi malan, dan melihat tanda-tandanya, mungkin tadi malam aku bermimpi bertemu seseorang itu. Tapi tidak, sepotong roti dan sebotol air mineral cukup menyakinkanku jika kejadian tadi malam adalah benar-benar terjadi. Cukup lama menimbang-nimbang apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Aku putuskan untuk menerjang prahara itu dan menyematkan Si Hitam. Alangkah baiknya Tuhan, saat aku baru keluar rumah, prahara itu reda, aku segera berlari mencapai tempat Si Hitam biasa berada. Petaka, seorang itu sudah tiada. Aku mencarinya kesana-kemari dengan maksud menemuinya lalu memberinya sebuah perlindungan. Aku berpikir Si Hitam itu pergi untuk mendapatkan tempat berlindung dari prahara tadi. Akhirnya aku bertanya dengan para warga sekitar, dimana orang yang aku cari-cari itu berada. Dan betapa terkejutnya aku, saat mendengar jawaban dari mereka bahwa Si Hitam itu telah tiada. mereka menambahkan lagi, "Si Hitam itu mati sejak pagi tadi, dia sudah dikuburkan dan sebuah prahara datang setelah pemakaman."
           
          Aku terdiam, merenung, berpikir, menyesal dan merasa kehilangan. Tak masuk akal memang, aku baru mengenalnya tadi malam lalu mendapat kabar buruk jika seorang itu telah tiada dan aku bersedih kerena ketiadaannya. Cukup gila memang, hanya karena mendengar ceritanya aku langsung hanyut pada jalam kisahnya. Sudah gila rupanya, karena aku bisa langsung berempati padanya. Sekali lagi, ini bukan mimpi, ini benar-benar terjadi. Seorang yang mengaku dirinya bagian dari Si Hitam yang amat gigih dalam melakukan perlawanan, sekarang sudah ada di pemakaman, beristirahat dengan tenang dalam tanah galian. Takdir Tuhan.

           Tiba-tiba prahara muncul kembali, aku bergegas untuk pulang ke rumah. Aku berlari sekuat mungkin agar tidak terjebak di antara prahara itu. Setelah sampai di depan pintu rumah, aku menemukan sebuah surat yang terbungkus oleh sebuah plastik bening sederhana, lantas aku mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Aku membuka surat tersebut lalu membacanya dengan seksama. Oh tidak, surat tersebut dari Si Hitam dan tujuan surat tersebut memang untuk diriku. Aku terkejut, bagaimana seorang yang sudah tiada bisa mengirim sebuah surat. Surat yang sarat makna itu berisi, "Terima kasih nak, atas sejumlah uang yang kau letakkan di bawah tumpukan plastik dan koran bekas tempat tinggalku. Cukup meringankan beban pikiranku untuk mati sebab beberapa hal, semoga Tuhan melancarkan upacara besok dan semesta ikut hadir dalam prosesi tersebut. Terima kasih sekali lagi, akhirnya aku usai juga."

           Aku berkaca-kaca selepas membaca pesan itu dan berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik; berjuang untuk orang lemah, menutup nafsu untuk dipamerkan, mendengarkan pesan-pesan kuno, meminimalisasi kesalahan yang disepakati bersama dan akan lebih beragama.
       
   "Jangan hanya berziarah, perlu juga kau berzirah."





Raihan Immadu 
Pamulang, 8 Juni 2020
Selamat membaca
Senantiasa berusaha



       
       

No comments:

Post a Comment