Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.


Showing posts with label ohmongkosong. Show all posts
Showing posts with label ohmongkosong. Show all posts

Tuesday, June 28, 2022

Aku Rasa Sama Saja

Menatap tajam wajah aparat.
Bermain dengan bacaan.
Diskusi tanpa arah.
Makan, canda, dan tawa.
Pulang, seorang diri.
Lagi-lagi diserang keadaan.

_____________

Lagi dan lagi diserang oleh keadaan, sepi. Bising, dingin, dan bau hujan seketika ada di hadapanku. Terbayang soal nilai dan harapan orang tua yang kadang kala suka melampaui batas kemampuan anaknya. Melamun di trotoar jalan dan hampir berteriak kenapa hidup seaneh ini (tadi sebenarnya aku ingin menulis "se-bajingan ini" tetapi kayanya akan diserang sama orang-orang bijak yang bilang kalau hidup harus tetap disyukuri se-bajingan apapun kondisinya). Polisi moral bertebaran di mana-mana sedang polisi sungguhan khilaf dan tidur di mana-mana. 

Kemarin aku mendapat cukup banyak pesan rahasia. Sebelumnya, aku tidak tau dan tidak suka ikut ke dalam tren seperti itu, sebenarnya. Harapan terselubungku satu, mendapat kata-kata kotor atau umpatan-umpatan porno yang aku sering temukan di kolom postingan orang. Tak ada, nyatanya orang-orang lebih banyak menyemangatiku dan bertanya tentang tanggapanku serta hal-hal pribadi yang ada di dalam hidupku. Perlu aku sampaikan berapa banyak lagi kepada kalian, aku dan kisah hidupku sejauh ini tidak semenarik apa yang kalian kira, mendekati membosankan lebih tepatnya. Selera dan animoku juga kadang anomali. Intinya, tidak seseru cerita-cerita orang lain yang tiba-tiba suka meninggi tanpa perlu diminta. 

Selepas menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku sempat berpikir adakah seseorang yang menerima pertanyaan yang nyeleneh nan ekstrem lalu bagaimana respons orang itu. Selang beberapa menit (mungkin Tuhan mendengar kekepoanku) ada seorang teman yang marah teramat marah ketika sebuah pertanyaan nyeleneh terlontar kepadanya. Kutukan dan penghakimannya terlampau bengis untuk seseorang yang harusnya tau resiko perbuatannya. Seseorang mungkin saja akan bertanya perihal yang sama sekali tidak kita sadari dan sukai, begitupun sebaliknya, seseorang bisa saja memuji dan menerbangkan diri kita sejauh yang ia bisa. Kemungkinannya sama, antara pujian dan makian, 50:50. 

    Sumber: Google


Tidur saat bunyi ayam tetangga mulai terdengar lalu bangun ketika keroncongan perut semakin tak terkendali. Tidak ada sehat-sehatnya pola hidup seperti itu, kata temanku. Katanya, aku harus bangun pagi, sarapan, belajar, ibadah, makan lagi, lalu tidur siang sebentar, dan kegiatan lain apapun itu selain tidur seharian penuh. Terima kasih sarannya, mungkin akan aku praktikkan selama dua atau tiga hari ke depan kemudian terserahlah aku mau hidup seperti apa. Saranmu sebenarnya pernah aku coba pada awal-awal kedatanganku di daerah ini tetapi uang yang ibu kasih tidak cukup untuk memenuhi pola hidup seperti itu. Hampir sama saja sebenarnya, antara tidur seharian penuh demi menyelamatkan keuangan dengan hidup sehat tetapi menyengsarakan ibu yang jauh di luar sana. 

Pernah begitu takut menatap mata seseorang yang aku suka sampai-sampai lebih baik untuk tidak berbicara dengannya tentang hal-hal sepele. Melamun ke arah tembok kamar kemudian tersadar betapa kakunya diriku di depan wanita yang aku suka. Berlatih asal-asalan untuk memulai dan memilah obrolan yang seru besok hari tetapi nyatanya tidak bertemu sama sekali di keesokan harinya. Sempat yakin bahwa sudah waktunya berhenti pada kesendirian ini tetapi kemudian tersadar untuk apa aku susah payah mendapatkannya. Tak ada yang bisa menjamin kebahagiaanku juga jika sudah bersamanya. Jika yang aku cari hanya sebatas validasi dan iri sebab melihat kanan-kiri lebih baik aku sibuk dengan urusan organisasi atau diskusi. Sesimpel itu bagiku, mungkin tidak bagimu, terlebih kamu yang suka menjadi pusat perhatian dan pemberhentian (sementara).

Membaca kutipan yang ada di buku-buku Camus dan Sartre sering kali membuat otakku  heran tiada henti. Sikapnya yang tidak karuan, kebebasannya, ketenangannya, kedinginannya, ketidakpeduliannya makin membuatku bertanya-tanya adakah sosok yang melampaui pikirannya itu. Tidak mengetahui kematian ibundanya, bersikap santai ketika di pemakaman, bahkan menunggu kematiannya sendiri yang tinggal hitungan hari. Tiap kali membacanya membuatku berada di situasi lain di mana orang-orang tidak lagi sibuk mengurusi masalah orang lain. Pencapaian yang selama ini kita semua kejar mati-matian seakan hanya menjadi bahan tertawaan dua orang tersebut (kalau aku benar membacanya, kalau aku salah berarti aku perlu belajar lagi dan mengalihkan sejenak perhatianku dari gerak-gerik orang sekitar). Benar kata orang bijak di atas, seaneh apapun hidup harus tetap dijalani sepenuh atau setengah hati. 

Keadaannya sekarang pukul tiga. Entah memang takdir Tuhan atau sebatas kebetulan, lagu yang diputar teman sekamarku adalah Nematomorpha. Sebuah cacing parasit yang biasa menjangkiti serangga seperti belalang. Mungkin gambaran nyata dari perjalanan hidup seperti itu, seserius aku menjalaninya ada waktunya parasit-parasit itu akhirnya masuk dan coba mengakali tujuan yang sudah ku buat. Sangat mungkin aku kalah dengan mereka dan membusuk tak berguna. Tetapi peduli setan si parasit tersebut, jika bukan karma yang diterimanya nanti, mungkin perlahan mereka akan ikut mati karena kuatnya sifat parasit yang ada di tubuhnya. Terang-terang saja, hidup kalau bukan karena ambisi dan iri mungkin tidak semencekam ini. 

Setengah empat pagi. Aku cari kamu dalam setiap ruang, seperti aku yang menunggu kabar dari angin malam. Seteduh-teduhnya musik Payung Teduh, masih lebih teduh tembok-tembok jalanan ini; basah terkena hujan, rapuh diterpa angin, retak diterjang sinar. Tak ada bedanya dengan keadaanku kini, tak berdaya diserang bunyi. 

Aku rasa sama saja, dibaca atau tidaknya tulisanku satu ini tidak akan sekonyong-konyong membuatku memenangi perang tak berujung ini. 

__________________

Datang diri mimpi semalam.
Pada akhirnya rinduku berbuah tulisan. 
Entah untuk siapa.
Entah maksudnya apa.
Sekadar pertanda untuk kita. 





Raihan Immaduddin
Semarang, 28-06-22
Selamat Malam 

Tuesday, May 3, 2022

Aku Kira Hanya Aku

Jika Pamulang kau ingat sebagai aku, maka aku mengingatmu sebagai semua tempat, semua rumah, semua kedai kopi, dan semua jalan yang aku lalui.


Aku kira hanya aku yang mengingatmu.
Aku kira hanya aku yang rindu padamu.
Aku kira hanya aku yang menantikanmu.
Aku kira hanya aku
Aku mengira
Hanya aku


Sejak kedatanganku dua puluh dua hari yang lalu di daerah yang aku sendiri bingung kenapa aku bisa memilih tempat ini. Tempat yang cukup jauh dari ingar bingar pasar, cukup jauh dari serapah-serapah perkotaan, cukup jauh dari lantunan musik lazim yang aku dengar di sela-sela gang rumah teman. Merangkak mengais kenyamanan, bertatih-tatih menyesuaikan keadaan, memohon-mohon untuk tidak melakukan banyak kesalahan awal.


Dari arah sini, semuanya tampak asing dan beda. Aku mengamatinya dengan seksama dalam tempo selambat-lambatnya. Bertanya perihal arti, mencoba perihal lafal, dan menguji perihal sakit. Percakapan yang berseliweran seringkali tak aku pahami. Aku kembali menjadi awam dan pendiam. Sekadar mengikuti alur tanpa sedikitpun mencoba memutus alirnya. Sedia wajah ramah kepada semua orang yang aku temui.
________________

Sumber: Google

Menyenangkan sekali jika di daerah entah berantah ini aku bisa melihatmu. Memberimu sedikit saran tentang bagaimana memimpin rapat organisasi yang seru. Meledek seluruh tindak tandukmu juga pasti amat seru. Ah, benar saja aku selalu mengingatmu. Entah berapa banyak orang awam yang menanyaiku soal hubungan, aku tak cukup tertarik menjawabnya. Jawabanku biasanya simpel, "Sudah enam tahun aku sendiri." Aneh, lalu orang-orang itu memberondongku dengan pertanyaan yang semakin nyeleneh. Tamengku satu, "Aku mencintai seseorang yang aku sendiri tidak pernah tau perasaannya untukku, aku mencintai seseorang yang aku sendiri tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan, aku mencintainya seperti cintanya Qois ke Layla walaupun aku ragu untuk bisa sampai di tahap tersebut. Aku mencintai seseorang yang sering membuatku lupa keindahan orang-orang yang ku temui, aku mencintainya entah sampai kapan."


Malam tadi aku kesulitan tidur, akan ada hal penting yang akan aku lakukan sore hari ini. Aku menulis tulisan ini biar kau tau, aku masih menjadikanmu alasan semangat seluruh kegiatanku. Entah di sana kau turut mendoakan kelancaranku atau tidak, aku tidak peduli. Jujur, senang rasanya bisa di tahap ini, meskipun seringkali aku merasa kesepian menjalaninya. Ketidakmampuanku untuk bercerita ke orang lain tentang apa-apa saja yang aku jalani. Sejujurnya aku sangat ini bercerita banyak kepadamu, aku ingin kau menjadi orang pertama yang tau tentang prosesku. Sayang, aku tak cukup mampu melakukannya. Di daerah entah berantah ini, ada bagian dari diriku yang tidak baik-baik saja. Aku bahkan sering tidak tau apa yang harus aku kerjakan semalaman penuh. Sesedih itu kedengarannya memang.


Tepat sebelum aku melakukan hal penting sore ini, aku putuskan untuk memutar lagu favoritmu tahun kemarin. Lagu yang sangat mungkin menggambarkan keadaanmu, keadaan ketika kau menyukai seseorang tetapi seseorang itu pergi meninggalkanmu, keadaan yang memaksamu pergi menuju jalan-jalan baru di luar sana, keadaan di mana teman-temanmu sudah mulai muak dengan ceritamu dan sikapmu. Mungkin, aku hanya mengira soalnya. Aku pun mulai terbiasa mendengarkan lagu tersebut di manapun aku berada. Pikirku, dengan diputarnya lagu tersebut akan menghadirkan dirimu dalam setiap kegiatanku; memberiku semangat aneh, membantuku dalam menimbang pilihan yang sulit, dan memberitahu apa yang tidak harus aku kerjakan. Cara itu terbukti manjur dalam beberapa kesempatan, beberapa yang lain gagal karena aku terlalu hanyut dalam lagu dan engkau di sampingku.


Lalu, bagaimana kabarmu di sana? Semoga baik-baik saja. Aku ingin meminta satu saran untuk kegiatanku sore ini, baiknya aku pakai baju apa? Flanel atau kemeja? Atau kaus polos saja? Agar dianggap memiliki pembawaan yang santai dan sederhana. Mungkin kemeja saja biar terlihat agak formal sedikit walaupun nanti meracau ke mana-mana. Terima kasih atas sarannya, sangat membantu, sungguh.
_________________


Sering-seringlah unggah kegiatanmu biar aku turut senang di sini. Pamer pacar atau teman dekatmu juga tak apa, aku kadang menunggu momen tersebut, entah aku kuat atau tidak tetapi aku sangat ingin merasakannya. Soal sakit atau kuat itu urusan nanti, kalau aku kuat berarti valid apa yang aku anggap cinta selama ini, kalau ternyata aku sedih, kecewa, atau marah mungkin aku belum jadi apa-apa. Beritahuku tentang sejauh mana kau mencari seseorang yang kau anggap paling pas bersamamu, aku ingin menyemangatimu dan pasanganmu.
_________________


Kalau kau mau tau, sore tadi acaranya cukup lancar. Beberapa kali aku lupa ingin bicara apa, kesulitan untuk mengatakan beberapa kata tetapi secara keseluruhan aku cukup puas dengan hasil tadi. Kau ikut senang, bukan? Senang saja sudah, akupun senang melihatmu jalan-jalan di akhir pekan bersama kawanmu. Cerita berkalamu lebih dari sekadar foto atau video berdurasi 14 detik, semacam pengingat dan tanda bahwa kau sedang bahagia di tempat kau berada. Tebar senyumanmu sebisa mungkin di manapun, beritahu sekitarmu jika kau adalah orang yang paling bahagia. Perihal sakit dan sunyi yang akan kau rasakan selepas pulang, bagiku itu hukum alam untuk orang-orang seperti kita, periang namun sepi ketika pulang.


Aku sudah menjadi lebih kuat dari yang kau kira, mungkin. Aku sudah mulai lihai memanipulasi pandangan orang-orang tentangku. Mendengarkan cerita sedih orang-orang di sini: Bercerita betapa susahnya mencari sosok ideal, berbagi kisah pilu bagaimana ditolak berkali-kali, meluapkan frustrasi dan emosi karena gagal mengungkapkan rasa. Tragis, bagiku. Saranku, bersikap realistis saja, terdengar menyakitkan tetapi mau bagaimana lagi, kalian bercerita kepada orang yang salah. Lelaki yang kurang usaha dan meninggalkan begitu saja wanita yang cukup mengerti keadaanya. Apa yang kalian harapkan dariku? Kata-kata mutiara, kah? Atau kalimat penuh semangat yang membuat kalian kembali hidup dan bergairah? Tidak, jangan harapkan itu semua, aku hanya bisa berkata, "Tulislah apa yang kau rasakan dan berikan kepadanya pada suatu hari, semua orang suka membaca tulisan yang ditujukan untuknya, termasuk tulisan dari seseorang yang ia tidak tertarik sekalipun. Jadi percayalah, tulisan yang kalian buat akan jauh lebih tinggi nilainya daripada apa yang kalian lakukan selama ini yang tak pernah juga dihiraukan olehnya."


Biarkan saja perasaanmu terpupuk dan terpendam, ssuatu saat hal tersebut juga akan meledak mengagetkannya. Memberinya sentilan-sentilan kecil, memaksanya menahan haru, dan berkontemplasi setelahnya. Menarik untuk dicoba, bukan? Aku sudah melakukannya selama enam tahun belakangan, kesehatan mentalku masih cukup baik begitupun pandangan orang lain tentangku. Sepi yang teramat sangat membentukku menjadi seperti sekarang ini, kepercayaan kepadamu membuat diriku menjadi pejuang terkuat di manapun aku berada.
______________


Lagi-lagi aku berhasil melewatkan tantangan ini bersamamu. Aku kira hanya aku yang berjuang, ternyata doa dan lagu-lagumu sahut-menyahut menyemangatiku. Aku kira hanya aku yang terasing, ternyata senyuman di cerita berkalamu membuat keadaannya ramai dan hidup. Aku kira hanya aku yang tersesat pada jalan gelap, ternyata candaan-candaamu dengan adikmu yang sering tidak jelas dan lucu itu membuatku terbiasa melihat di kondisi gelap. Aku kira kau harus membaca tulisan yang tidak akan ku unggah di cerita berkalaku, cerita ini untukmu sekaligus untukku yang sedang baik-baik saja di tempat entah berantah ini. Terakhir, kalau kau mau tahu, rasaku kepada kau masih sama seperti dulu.


Aku kira hanya aku yang ingin bercerita
Aku kira hanya aku yang ingin menjangkau
Aku kira hanya aku yang ingin bahagia
Ternyata kau juga ingin
Saka dan semesta yang tak memberikan izin.


Aku kira hanya aku
Mungkin kau kira hanya kau
Aku kira aku masih cinta kau
Aku kira kau tidak seperti ku
bukan begitu?



Raihan Immadu

Semarang, 1 Maret 2022

Selamat membaca

Semoga dirimu bahagia 

Monday, November 29, 2021

Bagiamana Aku

Bagaimana Aku

Setelah memutuskan persoalan yang cukup besar, aku terjebak dalam riuh suasana yang begitu pelik. Aku pun mencoba menjalaninya dengan bersikap biasa saja. Tetapi perlahan-lahan suasana itu mulai menggoyahkan diriku, besar dan semakin membesar. Tiap kali aku tak menghiraukannya, suasana itu melemah. Tiap kali aku coba menghiraukannya, suasana itu mengacaukan yang ada, kacau sekacau-kacaunya.

Aku banyak berdiam diri di kamar gelap, mencoba membayangkan jadi apa aku nanti, mencoba membayangkan akan berlibur kemana aku nanti, mencoba menerka akan menemukan hal unik apa aku nanti, mencoba membayangkan bertemu orang baik apa aku di jalan nanti. Tetapi aku rasa waktu itu semakin dekat dan perlahan mulai ku hapus kebiasaan aneh itu. Mencoba realistis pada apa yang terjadi, mencoba menyakini bahwa membayangkan adalah hal paling tidak seru untuk terus aku lakui. 

Selalu ada cara untuk bahagia atau terlihat bahagia. Contohlah aku ini, kata orang-orang aku ini bahagia. Selalu ada cara untuk menyakiti orang lain. Contohlah aku ini, kata orang-orang aku ini suka menyakiti hatinya. Jadi, aku ini apa sih sebenarnya? Orang yang bahagia, kah? Atau orang yang suka menyakiti? Atau, aku ini adalah orang yang bahagia saat menyakiti orang lain? Entahlah, untuk sekadar tidur tenang malam ini saja aku tidak bisa hanya karena memikirkan penilaian orang lain tentangku.

Pagi hari aku lupa beribadah, siang hari aku tutupi itu semua dengan kata-kata mutiara, sorenya aku menelan ludah, malamnya aku ganti dengan doa-doa. Jadi, aku ini apa sebenarnya? Manusia suci, kah? Atau manusia yang menyebalkan? Atau, aku ini adalah manusia yang suka menyebalkan hati orang-orang suci. Ah sudahlah, untuk sekadar menikmati kopi dengan tenang saja aku tidak bisa hanya karena memikirkan vonis orang lain tentangku yang sebenarnya itu adalah hak Tuhan.

Perasaan itu mudah berubah. Aku yang malam suka gundah, siangnya bisa sangat patriotik. Malam ini bisa sangat menyukaimu, paginya bisa saja memblokir nomormu di kontakku. Ya, gejala yang biasa terjadi di tiap-tiap orang di muka bumi. Yang tidak biasa adalah ketika semalaman ini kau melamun, paginya kau singkirkan semua kewajibanmu, sorenya kau lanjut melamun, malamnya kau tak lekas sadar. Aku banyak menemuinya di cerita berkala orang lain, sedangkan aku? Tak jauh beda sepertinya. 

Berjalan, aku berjalan menemui orang lain di jalan, kadang aku menyapanya dengan suara, atau menyenyuminya saja, kadang kala aku tak hiraukan dia. Tak ada salahnya menutup diri, toh apa yang ingin orang tau tentang kita. Sepenting apa aku ini? Kalau menurutmu aku sangat penting dalam makna hidupmu, boleh dong kau berjanji untuk bersamaku selamanya!? Tetapi masalahnya kan kau tak berani berjanji seperti itu. Jujur saja, aku tidak begitu penting dalam hidupmu, tetapi kau terpaksa mengatakannya hanya karena kau takut dianggap tidak atau sangat tidak penting untukku.

Hari-hari sering aku habiskan untuk memikirkan hal besok, coba bayangkan betapa tidak berharganya hari ini untukku. Aku singgah kesana-kemari tetapi untuk membicarakan hari kemarin dan harapan ke depannya. Jarang kita bertanya, "Sibuk apa kamu hari ini." Tetapi kita malah akan semakin liar saat membicarakan, "Kamu inget ga kejadian waktu itu, ih masa ga inget, kamu harus inget, itu lucu banget sumpah." atau "Gimana ke depannya, apa yang akan kamu mau lakukan? Lulus kapan? Kapan kita bisa seperti ini lagi?" Tak ada salahnya mencari topik seperti tadi tetapi cobalah beri ruang untuk kejadian hebat yang sudah kita lakukan hari ini. Bersama orang yang tepat, kejadian sepele pun bisa sangat dihargainya, bersama orang yang salah, kejadian luar biasa pun selalu bisa menjadi bahan bercandaan. Silahkan pilih, mau bersama orang yang selalu mengapresiasimu atau orang yang selalu bisa menghiburmu, keduanya baik, jadi tenang saja.

Refleksi itu perlu, kebanyakan refleksi kau lupa dirimu. Aku sering menyesalkan kenapa aku harus memutuskan keputusan tersebut, tetapi udahlah, namanya juga aku, suka begitu. Mungkin banyak alasan dan pertimbangan aku melakukannya. Tetapi sebagai manusia biasa aku wajar untuk menyesalkannya, mungkin aku benar-benar salah atau mungkin aku sudah benar melakukan itu. Maka, beri aku satu kesempatan lagi untuk bisa menulis sesuatu untukmu. Sebab aku bisa menebak sedang melakukan apa kau tadi sore!? Pasti kau asyik main hp. Hah tebakanku masih terlalu umum ya. Yasudah biar ku coba lagi, aku tau apa yang kau lakukan tadi pagi!? Pasti sedang belajar ya, itu kantuk dan kantong matamu begitu terlihat. Oh, masih tetap terlalu umum ya tebakanku. Yasudah beri aku kesempatan terakhir untuk menebak apa yang kau lakukan malam ini!? Sudah jelas, pasti malam ini kau sedang sibuk yaa, entah apa kesibukanmu malam ini hingga akhirnya kau tidur tanpa sedetikpun melihat pesan-pesan dariku. Yasudah begitu saja, hari juga tampak sudah gelap, aku harus tidur untuk mensyukuri nikmat Tuhan hari ini. Terima kasih, aku sudah bisa tampak bahagia.
Sumber: Pinterest


Refleksi itu perlu, kebanyakan refleksi aku lupa kesepianku.

Thursday, June 24, 2021

Kalau Aku Bagaimana


Kalau biasanya kalian akan menemukan penggalan lirik lagu atau beberapa bait puisi di awal carita ku, kali ini simpan dulu ekspetasi itu. 

Aku katakan, tulisan ini akan berbeda dari sebelumnya. Kalian tak akan menemukan rima-rima indie di akhir kalimat, semua akan mengalir begitu saja. Maklum, aku sedang pusing, kalau terlalu banyak mikirin rima, akan sampai kapan tulisan ini sampai ke kalian. Oiya, jangan lupa bacanya pakai intonasi, sengaja aku kasih banyak koma agar kalian berhenti, anggap saja sedang membaca sebuah diary, tentang apa yang kalian rasakan saat ini. Tak ada rima, yang ada hanya kesah, jangan terlalu menghayati, kalian masih punya banyak urusan untuk dihadapi, jangan mengurusi urusanku, aku masih cukup mampu. Tak apa kalau kalian tidak menyukai tulisan ini, toh ini dibuat bukan untuk kalian. Kalau kalian suka, tak apa, tapi jangan menyukaiku, perihal menyukai aku tak mampu. Satu lagi, aku akan banyak menggunakan aku kamu, bukan gua elu, kalau kalian jijik, yaudah. Tidak berpengaruh juga untuk ku, sesimpel itu. 

Untuk seseorang yang sengaja aku jadikan inspirasi cerita, tolong jangan kegeeran, aku menulis ini sebab aku ingin menulis, sesimpel itu. Terlebih tulisanku sudah lama tak terisi, jadi jangan terlalu kegeeran, kesenangan boleh, aku juga suka begitu soalnya. Sebelum kau kesal dan memaki-makiku di chat, aku minta maaf. Mungkin akan banyak kata kasar yang terlontar, tapi yasudahlah namanya juga aku, suka begitu.

Sumber: Pinterest

Begini ceritanya...
Mungkin seminggu yang lalu, aku malas menunjukkan waktu spesifiknya, nanti dikira merhatiin kamu banget, kan males jadinya. Ketika kamu membalas cerita berkala ku, dengan menyuruhku segera tidur, padahal aku sedang mengerjakan tugas dan besok pagi adalah deadline nya. Tugas segera aku selesaikan, copas sana copas sini, comot sana sini, ngarang indah, dan akhirnya selesai malam itu. Anehnya kau belum juga terlelap, malah menanyai ku beberapa pertanyaan, mungkin kau sedang rindu malam itu, tapi malu mengakuinya. 

Kau balik bertanya, "Kangen ga sama gue?" "Kangen sih tapi biasa aja" jawabku. Sebab aku terlalu sibuk, begadang tiap malam, mengerjakan tugas demi tugas, kelas yang begitu padat, senin sampai sabtu masuk pukul tujuh, dan hari minggu untuk tugas olahraga. Aku terlalu sibuk sampai kau kira aku gengsi ngechat mu lebih dulu, padahal tidak seperti itu. Ya biasa saja, aku tidak pernah ngechat mu karena aku sibuk dan tidak sedang bosan. Kalaupun aku bosan, aku tidak kepikiran ngechat mu, sesimpel itu. Aku juga tau kau sedang sibuk, aku turut kasihan padamu, sebab kau masih berkutat dengan angka-angka, seperti anak SMA yang belajar MTK; aljabar, linear, pecahan, statistika, aritmatika, ah fak lah semuanya. Coba kau lihat aku, merdeka, cuman perlu baca-baca dan ngolah kata-kata, sayang tugasnya yang tak kira-kira. Sebenarnya sih sama saja, tapi kan kau tau, aku selalu menganggap diriku lebih keren darimu HAHAHAHAHAHA. 

Sekali lagi, aku ga gengsi, mungkin esok pagi atau malam lusa aku ngechat mu, mungkin, kalau aku tidak lupa. 

"Kalau menurut lu, gua gimana?" Jujur, kau adalah penghancur idealisme. Aku pernah katakan, "Aku tidak akan berubah hanya karena wanita." Tetapi perlahan luntur karena kau. Bukan karena tumbuh rasa, tetapi lebih karena ingin berjuang bersama. Bukan kerena takut kehilangan, tetapi lebih karena takut kau berjuang sendirian. Bukan karena takut kesepian, kalau tentang kesepian, aku terlalu sering kesepian, tapi bukan karena itu, lebih karena ingin tetap beriringan agar kau tak menyerah di tengah jalan. Namanya juga kamu, nyerah mulu. Aku yang dulu sangat keras, kasar, frontal dan berlebihan, perlahan jadi lemah. Jujur itu bukan aku, tapi mau bagaimana, kau sering bawa perasaan. Dibilang baperan, kau tak terima, tapi memang seperti itu adanya, ah fak lah. Kalau aku ngomong anjing, kau langsung marah, bilang anjay, kau malah ketawa, aneh banget lah. Kalau ngatain dirimu aneh, kau membantah, memujimu pintar, kau lebih membantah. Mengecap dirimu religius, kau tak suka, melabeli dirimu malas beribadah, kau malah marah-marah, mending kalau datang bulan saja. Saat datang bulan, selalu kau tak berselera, aku ajak cerita, kau iya iya aja, aku ajak ghibah, kau bilang aku banyak dosa, ga salah sih, tapi kau suka dengan ghibah yang aku kasih. Disuruh belajar, kau malas, gagal ujian, kau tampak memelas, aku coba semangati, katamu tak berpengaruh, aku balik memaki, kau tambah terpuruk, serba salah. Jadi bingung, aku ini apa. Saat aku memilih baca buku ketimbang lanjut cerita, kau bilang aku jahat, saat aku jujur menjawab tidak peduli dengan ceritamu, kau bilang aku lebih jahat, saat aku minta maaf, kau maafin, tetapi saat aku bercerita kembali, kau bilang tak peduli. Aku makin tersudut. Kembali meminta maaf, lalu katamu biasa saja. Saat aku biasa saja, kau bilang aku lebih kaku dari sebelumnya, saat aku mencoba seperti sebelumnya, kau yang tak pernah sama seperti sebelumnya, yaudah lah, aku yang salah. Namanya juga aku, suka begitu, tak bisa sesimpel itu. 

Aku yang berubah karena ingin menemani kau berjuang, kau malah bilang "Jadi lu berubah cuman karena takut gua baper, bukan karena emang lu ngeliat itu baik?" Begini aku kasih tau, "Baik itu relatif, aku yang ngomong kasar, keras, frontal, atau berlebihan bukan berarti tidak baik, tapi bukan berarti baik. Baik atau buruk itu relatif, tergantung perspektif, sudut pandang, dan cerita orang."

Tak apa sebenarnya aku mau sepertinya apa, yang terpenting tetap jadi diriku sendiri. Untuk mu, aku ingin ucapkan terima kasih. Ada gunanya juga sih menjadi lemah lembut, terlebih saat ini, aku harus menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, jadinya perlu hati-hati, kalau tidak, akan banyak hati yang tersakiti, dimusuhi dan menjadi penyendiri dalam menjalani studi. Menjadi lebih lembut aku bisa, menghadapi wanita aku tak bisa, apalagi wanita seperti dirimu. Bayangkan, saat aku sudah mulai tertarik dengan dunia politik, hukum, HAM, dan filsafat, Sedangkan kau masih terus menanyakan, "Malam ini enakan makan mie atau Mcd?" Ga salah sih, cuman rada kesal aja saat mendengarnya, jika aku terus terang dengan mengatakan, "Ga ada yang enak, keduanya makanan sampah!" Mungkin kau akan marah, dan berkata, "Alah, kalau ada juga dimakan." Ya pasti, kalau makanan itu ada dihadapan ku dan tidak ada makanan lain, pasti aku makan. Sulit memang jika sudah berdebat makanan mana yang paling enak, tetapi seharusnya tidak perlu serumit itu, kau bisa makan apapun, orang gila yang tidak makan seharian saja masih bisa hidup di jalanan. Semoga kau tidak menjadi gila. Semoga kau tidak terlalu sering makan makanan sampah. Semoga kau tidak menjadi sampah. Semoga kau tidak menjadi lebih rumit. Semoga rumit tidak menjadi kau. Semoga tidak ada wanita serumit kau, kalaupun kenyataannya semua wanita itu rumit, yasudah gapapa, toh aku pernah menghadapi kau, walaupun aku kalah telak. 

Jika terus mendesak bertanya, "Apakah ada perasaan yang tumbuh dalam diriku?" Aku ingin menjawab, "mungkin ada perasaan itu, akan terlalu hipokrit jika aku bilang tidak. Mungkin kau lebih peka terhadap perasaan itu, sedangkan aku tidak terlalu." Harus diakui kau wanita yang pandai walau kekanak-kanakan, mungkin tidak kekanak-kanakan juga tapi lebih ke wanita yang haus perhatian dan butuh didengarkan. Lumayan cantik dan menarik dari segala hal. Lucu juga tapi bawel. Sedangkan aku aja suka males dengerin cerita yang ga penting, tidak tertarik bahkan. Kalau boleh dianalogikan, mungkin akan seperti ikan nemo di akuarium. Masalahnya satu, akuarium bukan tempat alamiah dari ikan nemo, lautan adalah tempatnya. Sebab di sana nemo bisa berenang bebas dan menemukan anemon laut yang selalu bisa menjaganya dari segala ancaman. Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang berhasil menemukan tempat alamiah kita, melebur jadi satu hingga satu frekuensi. Pergi dan lakukanlah! Tunggu apalagi! Ada banyak anemon laut yang menunggu nemo di sana. 

Patut ditunggu akan jadi apa kau nanti. Tapi aku mohon padamu, jika ditanya tentang "Siapa idolamu?" Tolong jangan jawab "Marcus Aurelius" lagi. Anjing lah, itu jawaban paling aneh buat seseorang baru baca dua lembar buku Stoikisme. Silahkan kau bersenang-senang di Barat, cari semua yang mau kau cari, alami yang kau ingin alami, temui apa yang ingin kau jumpai. Jangan lupa bawa dua buku dariku. Mungkin di sana kau bisa jadi orang yang lebih praktis atau bahkan menjadi feminis. Tapi ga mungkin lah kau jadi feminis, masa nanti kau orasi di atas mobil bak atau long march saat hari perempuan, mungkin yang ada kau malah ketiduran HAHAHAHAHAA. Terserah lah, tadi aku hanya bercanda, tak peduli kau jadi apa, yang penting kau mencintainya dan berlaku apa adanya. Maka cobalah masuk tahap mencintai bukan lagi menyukai, sebab dalam mencintai kau akan sungguh-sungguh menjaga, memelihara, merawat, dan melindungi bukan lagi tentang rasa ingin selalu memiliki saat kau mulai menyukai.

Selalu ada buat gua ya, jangan capek ngingetin gua untuk minta sama Tuhan, you're my best support system. 

Waktunya habis, misinya tuntas, selesai sudah.




Raihan Immadu
Pamulang, 7 Nov 2020
Selamat membaca
Semoga bahagia

Friday, April 16, 2021

Cinta


Diamlah! Hanya yang mencintai yang tau, keindahan yang dicintai. - Layla


Seberapa banyak lagi senja yang harus aku lalui, seberapa sering lagi malam yang harus aku lewati, menghitung satu per satu bintang di langit, menunggu bulan purnama datang setelah berhati-hati. Puisi sudah sering aku tulis, secangkir kopi sudah banyak yang aku habisi, musik dan liburan aku lewati sendiri. Tak, tak ada yang benar-benar aku nikmati.


Sebab harta mereka tertawa. Dunia digenggamnya karena setumpuk uang di sakunya. Mulai bercerita sudah setinggi mana pencapaian mereka, sudah sejauh mana hotel yang mereka kunjungi. Tak pernah lupa dalam men"story"kan kegiatannya sebagai bukti dan bekal eksistensi untuk dipuji. Tak, tak terbersit dalam hidupku untuk melakukannya.


Selalu berdoa kepadanya sembari mempersiapkan diri menjadi paling suci di dunia. Sebab kefanatikannya yang membuat diri mereka paling tinggi dari yang lain. Mereka semua salah, kelompok kami yang paling benar, mereka semua berdosa, maka ikutilah jalan kami. Semua yang bersebrangan dengan kami akan selamanya menjadi sesat dan terkutuk. Tak, tak ingin aku menjadi bagian dari mereka. Sungguh.


Ada yang karena sedang menyukai seseorang menyebabkan dirinya berubah menjadi puitis dan romantis, ada juga yang tiba-tiba menjadi dewasa dan gagah, ada lagi yang malah menjadi manja dan serba takut. Hidup ini hanya tentang dia, dan semua yang berhubungan dengan dia adalah kenikmatan hidup. Tak, tak pernah bisa aku seperti itu.


Seringkali kita terjebak dalam satu realitas dimana mau tidak mau kita harus ada di dalamnya. Mengeluh tentang betapa menyebalkannya orang-orang tadi adalah kesia-siaan. Memaksa orang-orang tadi berubah sesuai keinginan kita malah semakin membuat kita terlihat bodoh. Bingung akan bercerita pada siapa karena semua orang adalah penjara bagi kita. Sadarlah, saat ini dirimu objek, bukan lagi subjek.


Jadilah seperti aku, ikutilah perintahku. Bukan seperti itu! Harusnya kau begini! Semakin dibebaskan orang-orang malah akan semakin bimbang, menjiplak siapapun yang mereka mau sebagai pedoman kehidupan. Berita yang kian semrawut sebab semua hal dirasa perlu. Kita asing dalam khayal kita sendiri. kita pusing dalam lamunan kita sendiri. Dan kita sakit karena obat yang kita buat sendiri.


Bukankah kita selalu membicarakan tentang kebenaran dan kebaikan. Sesempit perdebatan antara baik dan buruk, benar dan salah, munafik dan jahat. Ada kalanya kita perlu membuka opsi ketiga, keempat atau kesepuluh. Tak apa, masalah beda akan ku bela, masalah doa akan aku jaga, tapi masalah yang lebih besar aku pasrahkan kepada yang Maha Besar. Coba katakan, "kemungkinan kita ini benar" Jangan lagi "saya paling benar." Agar kelak saat kau sendiri, aku bisa menemanimu.


Kesukaan kita tidaklah sama, selera kita juga berbeda, cara kita hidup dan menikmati hidup tentulah lain. Mari berlaku adil, jika kau besar akan aku kasih bagian terkecil, jika kau kecil akan aku kasih bagian terbesar. Hidup tentulah kompleks, apa yang merupakan kesenangan orang lain ya terima itu sebagai fakta yang ada walaupun menurutmu itu tidak menyenangkan sama sekali.


Pilih, konsekuen, dan tengok sebelah. Kasih juga sedikit cinta. Jangan bilang kau tak punya cinta, sebab dengan hidup kau telah membuktikannya. 




Raihan Immadu.

Pamulang, 16 April  2021

Selamat membaca.

Semoga bahagia.