Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.


Showing posts with label ohmongkosong. Show all posts
Showing posts with label ohmongkosong. Show all posts

Tuesday, June 28, 2022

Aku Rasa Sama Saja

Menatap tajam wajah aparat.
Bermain dengan bacaan.
Diskusi tanpa arah.
Makan, canda, dan tawa.
Pulang, seorang diri.
Lagi-lagi diserang keadaan.

_____________

Lagi dan lagi diserang oleh keadaan, sepi. Bising, dingin, dan bau hujan seketika ada di hadapanku. Terbayang soal nilai dan harapan orang tua yang kadang kala suka melampaui batas kemampuan anaknya. Melamun di trotoar jalan dan hampir berteriak kenapa hidup seaneh ini (tadi sebenarnya aku ingin menulis "se-bajingan ini" tetapi kayanya akan diserang sama orang-orang bijak yang bilang kalau hidup harus tetap disyukuri se-bajingan apapun kondisinya). Polisi moral bertebaran di mana-mana sedang polisi sungguhan khilaf dan tidur di mana-mana. 

Kemarin aku mendapat cukup banyak pesan rahasia. Sebelumnya, aku tidak tau dan tidak suka ikut ke dalam tren seperti itu, sebenarnya. Harapan terselubungku satu, mendapat kata-kata kotor atau umpatan-umpatan porno yang aku sering temukan di kolom postingan orang. Tak ada, nyatanya orang-orang lebih banyak menyemangatiku dan bertanya tentang tanggapanku serta hal-hal pribadi yang ada di dalam hidupku. Perlu aku sampaikan berapa banyak lagi kepada kalian, aku dan kisah hidupku sejauh ini tidak semenarik apa yang kalian kira, mendekati membosankan lebih tepatnya. Selera dan animoku juga kadang anomali. Intinya, tidak seseru cerita-cerita orang lain yang tiba-tiba suka meninggi tanpa perlu diminta. 

Selepas menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku sempat berpikir adakah seseorang yang menerima pertanyaan yang nyeleneh nan ekstrem lalu bagaimana respons orang itu. Selang beberapa menit (mungkin Tuhan mendengar kekepoanku) ada seorang teman yang marah teramat marah ketika sebuah pertanyaan nyeleneh terlontar kepadanya. Kutukan dan penghakimannya terlampau bengis untuk seseorang yang harusnya tau resiko perbuatannya. Seseorang mungkin saja akan bertanya perihal yang sama sekali tidak kita sadari dan sukai, begitupun sebaliknya, seseorang bisa saja memuji dan menerbangkan diri kita sejauh yang ia bisa. Kemungkinannya sama, antara pujian dan makian, 50:50. 

    Sumber: Google


Tidur saat bunyi ayam tetangga mulai terdengar lalu bangun ketika keroncongan perut semakin tak terkendali. Tidak ada sehat-sehatnya pola hidup seperti itu, kata temanku. Katanya, aku harus bangun pagi, sarapan, belajar, ibadah, makan lagi, lalu tidur siang sebentar, dan kegiatan lain apapun itu selain tidur seharian penuh. Terima kasih sarannya, mungkin akan aku praktikkan selama dua atau tiga hari ke depan kemudian terserahlah aku mau hidup seperti apa. Saranmu sebenarnya pernah aku coba pada awal-awal kedatanganku di daerah ini tetapi uang yang ibu kasih tidak cukup untuk memenuhi pola hidup seperti itu. Hampir sama saja sebenarnya, antara tidur seharian penuh demi menyelamatkan keuangan dengan hidup sehat tetapi menyengsarakan ibu yang jauh di luar sana. 

Pernah begitu takut menatap mata seseorang yang aku suka sampai-sampai lebih baik untuk tidak berbicara dengannya tentang hal-hal sepele. Melamun ke arah tembok kamar kemudian tersadar betapa kakunya diriku di depan wanita yang aku suka. Berlatih asal-asalan untuk memulai dan memilah obrolan yang seru besok hari tetapi nyatanya tidak bertemu sama sekali di keesokan harinya. Sempat yakin bahwa sudah waktunya berhenti pada kesendirian ini tetapi kemudian tersadar untuk apa aku susah payah mendapatkannya. Tak ada yang bisa menjamin kebahagiaanku juga jika sudah bersamanya. Jika yang aku cari hanya sebatas validasi dan iri sebab melihat kanan-kiri lebih baik aku sibuk dengan urusan organisasi atau diskusi. Sesimpel itu bagiku, mungkin tidak bagimu, terlebih kamu yang suka menjadi pusat perhatian dan pemberhentian (sementara).

Membaca kutipan yang ada di buku-buku Camus dan Sartre sering kali membuat otakku  heran tiada henti. Sikapnya yang tidak karuan, kebebasannya, ketenangannya, kedinginannya, ketidakpeduliannya makin membuatku bertanya-tanya adakah sosok yang melampaui pikirannya itu. Tidak mengetahui kematian ibundanya, bersikap santai ketika di pemakaman, bahkan menunggu kematiannya sendiri yang tinggal hitungan hari. Tiap kali membacanya membuatku berada di situasi lain di mana orang-orang tidak lagi sibuk mengurusi masalah orang lain. Pencapaian yang selama ini kita semua kejar mati-matian seakan hanya menjadi bahan tertawaan dua orang tersebut (kalau aku benar membacanya, kalau aku salah berarti aku perlu belajar lagi dan mengalihkan sejenak perhatianku dari gerak-gerik orang sekitar). Benar kata orang bijak di atas, seaneh apapun hidup harus tetap dijalani sepenuh atau setengah hati. 

Keadaannya sekarang pukul tiga. Entah memang takdir Tuhan atau sebatas kebetulan, lagu yang diputar teman sekamarku adalah Nematomorpha. Sebuah cacing parasit yang biasa menjangkiti serangga seperti belalang. Mungkin gambaran nyata dari perjalanan hidup seperti itu, seserius aku menjalaninya ada waktunya parasit-parasit itu akhirnya masuk dan coba mengakali tujuan yang sudah ku buat. Sangat mungkin aku kalah dengan mereka dan membusuk tak berguna. Tetapi peduli setan si parasit tersebut, jika bukan karma yang diterimanya nanti, mungkin perlahan mereka akan ikut mati karena kuatnya sifat parasit yang ada di tubuhnya. Terang-terang saja, hidup kalau bukan karena ambisi dan iri mungkin tidak semencekam ini. 

Setengah empat pagi. Aku cari kamu dalam setiap ruang, seperti aku yang menunggu kabar dari angin malam. Seteduh-teduhnya musik Payung Teduh, masih lebih teduh tembok-tembok jalanan ini; basah terkena hujan, rapuh diterpa angin, retak diterjang sinar. Tak ada bedanya dengan keadaanku kini, tak berdaya diserang bunyi. 

Aku rasa sama saja, dibaca atau tidaknya tulisanku satu ini tidak akan sekonyong-konyong membuatku memenangi perang tak berujung ini. 

__________________

Datang diri mimpi semalam.
Pada akhirnya rinduku berbuah tulisan. 
Entah untuk siapa.
Entah maksudnya apa.
Sekadar pertanda untuk kita. 





Raihan Immaduddin
Semarang, 28-06-22
Selamat Malam 

Tuesday, May 3, 2022

Aku Kira Hanya Aku

Jika Pamulang kau ingat sebagai aku, maka aku mengingatmu sebagai semua tempat, semua rumah, semua kedai kopi, dan semua jalan yang aku lalui.


Aku kira hanya aku yang mengingatmu.
Aku kira hanya aku yang rindu padamu.
Aku kira hanya aku yang menantikanmu.
Aku kira hanya aku
Aku mengira
Hanya aku


Sejak kedatanganku dua puluh dua hari yang lalu di daerah yang aku sendiri bingung kenapa aku bisa memilih tempat ini. Tempat yang cukup jauh dari ingar bingar pasar, cukup jauh dari serapah-serapah perkotaan, cukup jauh dari lantunan musik lazim yang aku dengar di sela-sela gang rumah teman. Merangkak mengais kenyamanan, bertatih-tatih menyesuaikan keadaan, memohon-mohon untuk tidak melakukan banyak kesalahan awal.


Dari arah sini, semuanya tampak asing dan beda. Aku mengamatinya dengan seksama dalam tempo selambat-lambatnya. Bertanya perihal arti, mencoba perihal lafal, dan menguji perihal sakit. Percakapan yang berseliweran seringkali tak aku pahami. Aku kembali menjadi awam dan pendiam. Sekadar mengikuti alur tanpa sedikitpun mencoba memutus alirnya. Sedia wajah ramah kepada semua orang yang aku temui.
________________

Sumber: Google

Menyenangkan sekali jika di daerah entah berantah ini aku bisa melihatmu. Memberimu sedikit saran tentang bagaimana memimpin rapat organisasi yang seru. Meledek seluruh tindak tandukmu juga pasti amat seru. Ah, benar saja aku selalu mengingatmu. Entah berapa banyak orang awam yang menanyaiku soal hubungan, aku tak cukup tertarik menjawabnya. Jawabanku biasanya simpel, "Sudah enam tahun aku sendiri." Aneh, lalu orang-orang itu memberondongku dengan pertanyaan yang semakin nyeleneh. Tamengku satu, "Aku mencintai seseorang yang aku sendiri tidak pernah tau perasaannya untukku, aku mencintai seseorang yang aku sendiri tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan, aku mencintainya seperti cintanya Qois ke Layla walaupun aku ragu untuk bisa sampai di tahap tersebut. Aku mencintai seseorang yang sering membuatku lupa keindahan orang-orang yang ku temui, aku mencintainya entah sampai kapan."


Malam tadi aku kesulitan tidur, akan ada hal penting yang akan aku lakukan sore hari ini. Aku menulis tulisan ini biar kau tau, aku masih menjadikanmu alasan semangat seluruh kegiatanku. Entah di sana kau turut mendoakan kelancaranku atau tidak, aku tidak peduli. Jujur, senang rasanya bisa di tahap ini, meskipun seringkali aku merasa kesepian menjalaninya. Ketidakmampuanku untuk bercerita ke orang lain tentang apa-apa saja yang aku jalani. Sejujurnya aku sangat ini bercerita banyak kepadamu, aku ingin kau menjadi orang pertama yang tau tentang prosesku. Sayang, aku tak cukup mampu melakukannya. Di daerah entah berantah ini, ada bagian dari diriku yang tidak baik-baik saja. Aku bahkan sering tidak tau apa yang harus aku kerjakan semalaman penuh. Sesedih itu kedengarannya memang.


Tepat sebelum aku melakukan hal penting sore ini, aku putuskan untuk memutar lagu favoritmu tahun kemarin. Lagu yang sangat mungkin menggambarkan keadaanmu, keadaan ketika kau menyukai seseorang tetapi seseorang itu pergi meninggalkanmu, keadaan yang memaksamu pergi menuju jalan-jalan baru di luar sana, keadaan di mana teman-temanmu sudah mulai muak dengan ceritamu dan sikapmu. Mungkin, aku hanya mengira soalnya. Aku pun mulai terbiasa mendengarkan lagu tersebut di manapun aku berada. Pikirku, dengan diputarnya lagu tersebut akan menghadirkan dirimu dalam setiap kegiatanku; memberiku semangat aneh, membantuku dalam menimbang pilihan yang sulit, dan memberitahu apa yang tidak harus aku kerjakan. Cara itu terbukti manjur dalam beberapa kesempatan, beberapa yang lain gagal karena aku terlalu hanyut dalam lagu dan engkau di sampingku.


Lalu, bagaimana kabarmu di sana? Semoga baik-baik saja. Aku ingin meminta satu saran untuk kegiatanku sore ini, baiknya aku pakai baju apa? Flanel atau kemeja? Atau kaus polos saja? Agar dianggap memiliki pembawaan yang santai dan sederhana. Mungkin kemeja saja biar terlihat agak formal sedikit walaupun nanti meracau ke mana-mana. Terima kasih atas sarannya, sangat membantu, sungguh.
_________________


Sering-seringlah unggah kegiatanmu biar aku turut senang di sini. Pamer pacar atau teman dekatmu juga tak apa, aku kadang menunggu momen tersebut, entah aku kuat atau tidak tetapi aku sangat ingin merasakannya. Soal sakit atau kuat itu urusan nanti, kalau aku kuat berarti valid apa yang aku anggap cinta selama ini, kalau ternyata aku sedih, kecewa, atau marah mungkin aku belum jadi apa-apa. Beritahuku tentang sejauh mana kau mencari seseorang yang kau anggap paling pas bersamamu, aku ingin menyemangatimu dan pasanganmu.
_________________


Kalau kau mau tau, sore tadi acaranya cukup lancar. Beberapa kali aku lupa ingin bicara apa, kesulitan untuk mengatakan beberapa kata tetapi secara keseluruhan aku cukup puas dengan hasil tadi. Kau ikut senang, bukan? Senang saja sudah, akupun senang melihatmu jalan-jalan di akhir pekan bersama kawanmu. Cerita berkalamu lebih dari sekadar foto atau video berdurasi 14 detik, semacam pengingat dan tanda bahwa kau sedang bahagia di tempat kau berada. Tebar senyumanmu sebisa mungkin di manapun, beritahu sekitarmu jika kau adalah orang yang paling bahagia. Perihal sakit dan sunyi yang akan kau rasakan selepas pulang, bagiku itu hukum alam untuk orang-orang seperti kita, periang namun sepi ketika pulang.


Aku sudah menjadi lebih kuat dari yang kau kira, mungkin. Aku sudah mulai lihai memanipulasi pandangan orang-orang tentangku. Mendengarkan cerita sedih orang-orang di sini: Bercerita betapa susahnya mencari sosok ideal, berbagi kisah pilu bagaimana ditolak berkali-kali, meluapkan frustrasi dan emosi karena gagal mengungkapkan rasa. Tragis, bagiku. Saranku, bersikap realistis saja, terdengar menyakitkan tetapi mau bagaimana lagi, kalian bercerita kepada orang yang salah. Lelaki yang kurang usaha dan meninggalkan begitu saja wanita yang cukup mengerti keadaanya. Apa yang kalian harapkan dariku? Kata-kata mutiara, kah? Atau kalimat penuh semangat yang membuat kalian kembali hidup dan bergairah? Tidak, jangan harapkan itu semua, aku hanya bisa berkata, "Tulislah apa yang kau rasakan dan berikan kepadanya pada suatu hari, semua orang suka membaca tulisan yang ditujukan untuknya, termasuk tulisan dari seseorang yang ia tidak tertarik sekalipun. Jadi percayalah, tulisan yang kalian buat akan jauh lebih tinggi nilainya daripada apa yang kalian lakukan selama ini yang tak pernah juga dihiraukan olehnya."


Biarkan saja perasaanmu terpupuk dan terpendam, ssuatu saat hal tersebut juga akan meledak mengagetkannya. Memberinya sentilan-sentilan kecil, memaksanya menahan haru, dan berkontemplasi setelahnya. Menarik untuk dicoba, bukan? Aku sudah melakukannya selama enam tahun belakangan, kesehatan mentalku masih cukup baik begitupun pandangan orang lain tentangku. Sepi yang teramat sangat membentukku menjadi seperti sekarang ini, kepercayaan kepadamu membuat diriku menjadi pejuang terkuat di manapun aku berada.
______________


Lagi-lagi aku berhasil melewatkan tantangan ini bersamamu. Aku kira hanya aku yang berjuang, ternyata doa dan lagu-lagumu sahut-menyahut menyemangatiku. Aku kira hanya aku yang terasing, ternyata senyuman di cerita berkalamu membuat keadaannya ramai dan hidup. Aku kira hanya aku yang tersesat pada jalan gelap, ternyata candaan-candaamu dengan adikmu yang sering tidak jelas dan lucu itu membuatku terbiasa melihat di kondisi gelap. Aku kira kau harus membaca tulisan yang tidak akan ku unggah di cerita berkalaku, cerita ini untukmu sekaligus untukku yang sedang baik-baik saja di tempat entah berantah ini. Terakhir, kalau kau mau tahu, rasaku kepada kau masih sama seperti dulu.


Aku kira hanya aku yang ingin bercerita
Aku kira hanya aku yang ingin menjangkau
Aku kira hanya aku yang ingin bahagia
Ternyata kau juga ingin
Saka dan semesta yang tak memberikan izin.


Aku kira hanya aku
Mungkin kau kira hanya kau
Aku kira aku masih cinta kau
Aku kira kau tidak seperti ku
bukan begitu?



Raihan Immadu

Semarang, 1 Maret 2022

Selamat membaca

Semoga dirimu bahagia 

Monday, November 29, 2021

Bagiamana Aku

Bagaimana Aku

Setelah memutuskan persoalan yang cukup besar, aku terjebak dalam riuh suasana yang begitu pelik. Aku pun mencoba menjalaninya dengan bersikap biasa saja. Tetapi perlahan-lahan suasana itu mulai menggoyahkan diriku, besar dan semakin membesar. Tiap kali aku tak menghiraukannya, suasana itu melemah. Tiap kali aku coba menghiraukannya, suasana itu mengacaukan yang ada, kacau sekacau-kacaunya.

Aku banyak berdiam diri di kamar gelap, mencoba membayangkan jadi apa aku nanti, mencoba membayangkan akan berlibur kemana aku nanti, mencoba menerka akan menemukan hal unik apa aku nanti, mencoba membayangkan bertemu orang baik apa aku di jalan nanti. Tetapi aku rasa waktu itu semakin dekat dan perlahan mulai ku hapus kebiasaan aneh itu. Mencoba realistis pada apa yang terjadi, mencoba menyakini bahwa membayangkan adalah hal paling tidak seru untuk terus aku lakui. 

Selalu ada cara untuk bahagia atau terlihat bahagia. Contohlah aku ini, kata orang-orang aku ini bahagia. Selalu ada cara untuk menyakiti orang lain. Contohlah aku ini, kata orang-orang aku ini suka menyakiti hatinya. Jadi, aku ini apa sih sebenarnya? Orang yang bahagia, kah? Atau orang yang suka menyakiti? Atau, aku ini adalah orang yang bahagia saat menyakiti orang lain? Entahlah, untuk sekadar tidur tenang malam ini saja aku tidak bisa hanya karena memikirkan penilaian orang lain tentangku.

Pagi hari aku lupa beribadah, siang hari aku tutupi itu semua dengan kata-kata mutiara, sorenya aku menelan ludah, malamnya aku ganti dengan doa-doa. Jadi, aku ini apa sebenarnya? Manusia suci, kah? Atau manusia yang menyebalkan? Atau, aku ini adalah manusia yang suka menyebalkan hati orang-orang suci. Ah sudahlah, untuk sekadar menikmati kopi dengan tenang saja aku tidak bisa hanya karena memikirkan vonis orang lain tentangku yang sebenarnya itu adalah hak Tuhan.

Perasaan itu mudah berubah. Aku yang malam suka gundah, siangnya bisa sangat patriotik. Malam ini bisa sangat menyukaimu, paginya bisa saja memblokir nomormu di kontakku. Ya, gejala yang biasa terjadi di tiap-tiap orang di muka bumi. Yang tidak biasa adalah ketika semalaman ini kau melamun, paginya kau singkirkan semua kewajibanmu, sorenya kau lanjut melamun, malamnya kau tak lekas sadar. Aku banyak menemuinya di cerita berkala orang lain, sedangkan aku? Tak jauh beda sepertinya. 

Berjalan, aku berjalan menemui orang lain di jalan, kadang aku menyapanya dengan suara, atau menyenyuminya saja, kadang kala aku tak hiraukan dia. Tak ada salahnya menutup diri, toh apa yang ingin orang tau tentang kita. Sepenting apa aku ini? Kalau menurutmu aku sangat penting dalam makna hidupmu, boleh dong kau berjanji untuk bersamaku selamanya!? Tetapi masalahnya kan kau tak berani berjanji seperti itu. Jujur saja, aku tidak begitu penting dalam hidupmu, tetapi kau terpaksa mengatakannya hanya karena kau takut dianggap tidak atau sangat tidak penting untukku.

Hari-hari sering aku habiskan untuk memikirkan hal besok, coba bayangkan betapa tidak berharganya hari ini untukku. Aku singgah kesana-kemari tetapi untuk membicarakan hari kemarin dan harapan ke depannya. Jarang kita bertanya, "Sibuk apa kamu hari ini." Tetapi kita malah akan semakin liar saat membicarakan, "Kamu inget ga kejadian waktu itu, ih masa ga inget, kamu harus inget, itu lucu banget sumpah." atau "Gimana ke depannya, apa yang akan kamu mau lakukan? Lulus kapan? Kapan kita bisa seperti ini lagi?" Tak ada salahnya mencari topik seperti tadi tetapi cobalah beri ruang untuk kejadian hebat yang sudah kita lakukan hari ini. Bersama orang yang tepat, kejadian sepele pun bisa sangat dihargainya, bersama orang yang salah, kejadian luar biasa pun selalu bisa menjadi bahan bercandaan. Silahkan pilih, mau bersama orang yang selalu mengapresiasimu atau orang yang selalu bisa menghiburmu, keduanya baik, jadi tenang saja.

Refleksi itu perlu, kebanyakan refleksi kau lupa dirimu. Aku sering menyesalkan kenapa aku harus memutuskan keputusan tersebut, tetapi udahlah, namanya juga aku, suka begitu. Mungkin banyak alasan dan pertimbangan aku melakukannya. Tetapi sebagai manusia biasa aku wajar untuk menyesalkannya, mungkin aku benar-benar salah atau mungkin aku sudah benar melakukan itu. Maka, beri aku satu kesempatan lagi untuk bisa menulis sesuatu untukmu. Sebab aku bisa menebak sedang melakukan apa kau tadi sore!? Pasti kau asyik main hp. Hah tebakanku masih terlalu umum ya. Yasudah biar ku coba lagi, aku tau apa yang kau lakukan tadi pagi!? Pasti sedang belajar ya, itu kantuk dan kantong matamu begitu terlihat. Oh, masih tetap terlalu umum ya tebakanku. Yasudah beri aku kesempatan terakhir untuk menebak apa yang kau lakukan malam ini!? Sudah jelas, pasti malam ini kau sedang sibuk yaa, entah apa kesibukanmu malam ini hingga akhirnya kau tidur tanpa sedetikpun melihat pesan-pesan dariku. Yasudah begitu saja, hari juga tampak sudah gelap, aku harus tidur untuk mensyukuri nikmat Tuhan hari ini. Terima kasih, aku sudah bisa tampak bahagia.
Sumber: Pinterest


Refleksi itu perlu, kebanyakan refleksi aku lupa kesepianku.

Thursday, June 24, 2021

Kalau Aku Bagaimana


Kalau biasanya kalian akan menemukan penggalan lirik lagu atau beberapa bait puisi di awal carita ku, kali ini simpan dulu ekspetasi itu. 

Aku katakan, tulisan ini akan berbeda dari sebelumnya. Kalian tak akan menemukan rima-rima indie di akhir kalimat, semua akan mengalir begitu saja. Maklum, aku sedang pusing, kalau terlalu banyak mikirin rima, akan sampai kapan tulisan ini sampai ke kalian. Oiya, jangan lupa bacanya pakai intonasi, sengaja aku kasih banyak koma agar kalian berhenti, anggap saja sedang membaca sebuah diary, tentang apa yang kalian rasakan saat ini. Tak ada rima, yang ada hanya kesah, jangan terlalu menghayati, kalian masih punya banyak urusan untuk dihadapi, jangan mengurusi urusanku, aku masih cukup mampu. Tak apa kalau kalian tidak menyukai tulisan ini, toh ini dibuat bukan untuk kalian. Kalau kalian suka, tak apa, tapi jangan menyukaiku, perihal menyukai aku tak mampu. Satu lagi, aku akan banyak menggunakan aku kamu, bukan gua elu, kalau kalian jijik, yaudah. Tidak berpengaruh juga untuk ku, sesimpel itu. 

Untuk seseorang yang sengaja aku jadikan inspirasi cerita, tolong jangan kegeeran, aku menulis ini sebab aku ingin menulis, sesimpel itu. Terlebih tulisanku sudah lama tak terisi, jadi jangan terlalu kegeeran, kesenangan boleh, aku juga suka begitu soalnya. Sebelum kau kesal dan memaki-makiku di chat, aku minta maaf. Mungkin akan banyak kata kasar yang terlontar, tapi yasudahlah namanya juga aku, suka begitu.

Sumber: Pinterest

Begini ceritanya...
Mungkin seminggu yang lalu, aku malas menunjukkan waktu spesifiknya, nanti dikira merhatiin kamu banget, kan males jadinya. Ketika kamu membalas cerita berkala ku, dengan menyuruhku segera tidur, padahal aku sedang mengerjakan tugas dan besok pagi adalah deadline nya. Tugas segera aku selesaikan, copas sana copas sini, comot sana sini, ngarang indah, dan akhirnya selesai malam itu. Anehnya kau belum juga terlelap, malah menanyai ku beberapa pertanyaan, mungkin kau sedang rindu malam itu, tapi malu mengakuinya. 

Kau balik bertanya, "Kangen ga sama gue?" "Kangen sih tapi biasa aja" jawabku. Sebab aku terlalu sibuk, begadang tiap malam, mengerjakan tugas demi tugas, kelas yang begitu padat, senin sampai sabtu masuk pukul tujuh, dan hari minggu untuk tugas olahraga. Aku terlalu sibuk sampai kau kira aku gengsi ngechat mu lebih dulu, padahal tidak seperti itu. Ya biasa saja, aku tidak pernah ngechat mu karena aku sibuk dan tidak sedang bosan. Kalaupun aku bosan, aku tidak kepikiran ngechat mu, sesimpel itu. Aku juga tau kau sedang sibuk, aku turut kasihan padamu, sebab kau masih berkutat dengan angka-angka, seperti anak SMA yang belajar MTK; aljabar, linear, pecahan, statistika, aritmatika, ah fak lah semuanya. Coba kau lihat aku, merdeka, cuman perlu baca-baca dan ngolah kata-kata, sayang tugasnya yang tak kira-kira. Sebenarnya sih sama saja, tapi kan kau tau, aku selalu menganggap diriku lebih keren darimu HAHAHAHAHAHA. 

Sekali lagi, aku ga gengsi, mungkin esok pagi atau malam lusa aku ngechat mu, mungkin, kalau aku tidak lupa. 

"Kalau menurut lu, gua gimana?" Jujur, kau adalah penghancur idealisme. Aku pernah katakan, "Aku tidak akan berubah hanya karena wanita." Tetapi perlahan luntur karena kau. Bukan karena tumbuh rasa, tetapi lebih karena ingin berjuang bersama. Bukan kerena takut kehilangan, tetapi lebih karena takut kau berjuang sendirian. Bukan karena takut kesepian, kalau tentang kesepian, aku terlalu sering kesepian, tapi bukan karena itu, lebih karena ingin tetap beriringan agar kau tak menyerah di tengah jalan. Namanya juga kamu, nyerah mulu. Aku yang dulu sangat keras, kasar, frontal dan berlebihan, perlahan jadi lemah. Jujur itu bukan aku, tapi mau bagaimana, kau sering bawa perasaan. Dibilang baperan, kau tak terima, tapi memang seperti itu adanya, ah fak lah. Kalau aku ngomong anjing, kau langsung marah, bilang anjay, kau malah ketawa, aneh banget lah. Kalau ngatain dirimu aneh, kau membantah, memujimu pintar, kau lebih membantah. Mengecap dirimu religius, kau tak suka, melabeli dirimu malas beribadah, kau malah marah-marah, mending kalau datang bulan saja. Saat datang bulan, selalu kau tak berselera, aku ajak cerita, kau iya iya aja, aku ajak ghibah, kau bilang aku banyak dosa, ga salah sih, tapi kau suka dengan ghibah yang aku kasih. Disuruh belajar, kau malas, gagal ujian, kau tampak memelas, aku coba semangati, katamu tak berpengaruh, aku balik memaki, kau tambah terpuruk, serba salah. Jadi bingung, aku ini apa. Saat aku memilih baca buku ketimbang lanjut cerita, kau bilang aku jahat, saat aku jujur menjawab tidak peduli dengan ceritamu, kau bilang aku lebih jahat, saat aku minta maaf, kau maafin, tetapi saat aku bercerita kembali, kau bilang tak peduli. Aku makin tersudut. Kembali meminta maaf, lalu katamu biasa saja. Saat aku biasa saja, kau bilang aku lebih kaku dari sebelumnya, saat aku mencoba seperti sebelumnya, kau yang tak pernah sama seperti sebelumnya, yaudah lah, aku yang salah. Namanya juga aku, suka begitu, tak bisa sesimpel itu. 

Aku yang berubah karena ingin menemani kau berjuang, kau malah bilang "Jadi lu berubah cuman karena takut gua baper, bukan karena emang lu ngeliat itu baik?" Begini aku kasih tau, "Baik itu relatif, aku yang ngomong kasar, keras, frontal, atau berlebihan bukan berarti tidak baik, tapi bukan berarti baik. Baik atau buruk itu relatif, tergantung perspektif, sudut pandang, dan cerita orang."

Tak apa sebenarnya aku mau sepertinya apa, yang terpenting tetap jadi diriku sendiri. Untuk mu, aku ingin ucapkan terima kasih. Ada gunanya juga sih menjadi lemah lembut, terlebih saat ini, aku harus menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, jadinya perlu hati-hati, kalau tidak, akan banyak hati yang tersakiti, dimusuhi dan menjadi penyendiri dalam menjalani studi. Menjadi lebih lembut aku bisa, menghadapi wanita aku tak bisa, apalagi wanita seperti dirimu. Bayangkan, saat aku sudah mulai tertarik dengan dunia politik, hukum, HAM, dan filsafat, Sedangkan kau masih terus menanyakan, "Malam ini enakan makan mie atau Mcd?" Ga salah sih, cuman rada kesal aja saat mendengarnya, jika aku terus terang dengan mengatakan, "Ga ada yang enak, keduanya makanan sampah!" Mungkin kau akan marah, dan berkata, "Alah, kalau ada juga dimakan." Ya pasti, kalau makanan itu ada dihadapan ku dan tidak ada makanan lain, pasti aku makan. Sulit memang jika sudah berdebat makanan mana yang paling enak, tetapi seharusnya tidak perlu serumit itu, kau bisa makan apapun, orang gila yang tidak makan seharian saja masih bisa hidup di jalanan. Semoga kau tidak menjadi gila. Semoga kau tidak terlalu sering makan makanan sampah. Semoga kau tidak menjadi sampah. Semoga kau tidak menjadi lebih rumit. Semoga rumit tidak menjadi kau. Semoga tidak ada wanita serumit kau, kalaupun kenyataannya semua wanita itu rumit, yasudah gapapa, toh aku pernah menghadapi kau, walaupun aku kalah telak. 

Jika terus mendesak bertanya, "Apakah ada perasaan yang tumbuh dalam diriku?" Aku ingin menjawab, "mungkin ada perasaan itu, akan terlalu hipokrit jika aku bilang tidak. Mungkin kau lebih peka terhadap perasaan itu, sedangkan aku tidak terlalu." Harus diakui kau wanita yang pandai walau kekanak-kanakan, mungkin tidak kekanak-kanakan juga tapi lebih ke wanita yang haus perhatian dan butuh didengarkan. Lumayan cantik dan menarik dari segala hal. Lucu juga tapi bawel. Sedangkan aku aja suka males dengerin cerita yang ga penting, tidak tertarik bahkan. Kalau boleh dianalogikan, mungkin akan seperti ikan nemo di akuarium. Masalahnya satu, akuarium bukan tempat alamiah dari ikan nemo, lautan adalah tempatnya. Sebab di sana nemo bisa berenang bebas dan menemukan anemon laut yang selalu bisa menjaganya dari segala ancaman. Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang berhasil menemukan tempat alamiah kita, melebur jadi satu hingga satu frekuensi. Pergi dan lakukanlah! Tunggu apalagi! Ada banyak anemon laut yang menunggu nemo di sana. 

Patut ditunggu akan jadi apa kau nanti. Tapi aku mohon padamu, jika ditanya tentang "Siapa idolamu?" Tolong jangan jawab "Marcus Aurelius" lagi. Anjing lah, itu jawaban paling aneh buat seseorang baru baca dua lembar buku Stoikisme. Silahkan kau bersenang-senang di Barat, cari semua yang mau kau cari, alami yang kau ingin alami, temui apa yang ingin kau jumpai. Jangan lupa bawa dua buku dariku. Mungkin di sana kau bisa jadi orang yang lebih praktis atau bahkan menjadi feminis. Tapi ga mungkin lah kau jadi feminis, masa nanti kau orasi di atas mobil bak atau long march saat hari perempuan, mungkin yang ada kau malah ketiduran HAHAHAHAHAA. Terserah lah, tadi aku hanya bercanda, tak peduli kau jadi apa, yang penting kau mencintainya dan berlaku apa adanya. Maka cobalah masuk tahap mencintai bukan lagi menyukai, sebab dalam mencintai kau akan sungguh-sungguh menjaga, memelihara, merawat, dan melindungi bukan lagi tentang rasa ingin selalu memiliki saat kau mulai menyukai.

Selalu ada buat gua ya, jangan capek ngingetin gua untuk minta sama Tuhan, you're my best support system. 

Waktunya habis, misinya tuntas, selesai sudah.




Raihan Immadu
Pamulang, 7 Nov 2020
Selamat membaca
Semoga bahagia

Friday, April 16, 2021

Cinta


Diamlah! Hanya yang mencintai yang tau, keindahan yang dicintai. - Layla


Seberapa banyak lagi senja yang harus aku lalui, seberapa sering lagi malam yang harus aku lewati, menghitung satu per satu bintang di langit, menunggu bulan purnama datang setelah berhati-hati. Puisi sudah sering aku tulis, secangkir kopi sudah banyak yang aku habisi, musik dan liburan aku lewati sendiri. Tak, tak ada yang benar-benar aku nikmati.


Sebab harta mereka tertawa. Dunia digenggamnya karena setumpuk uang di sakunya. Mulai bercerita sudah setinggi mana pencapaian mereka, sudah sejauh mana hotel yang mereka kunjungi. Tak pernah lupa dalam men"story"kan kegiatannya sebagai bukti dan bekal eksistensi untuk dipuji. Tak, tak terbersit dalam hidupku untuk melakukannya.


Selalu berdoa kepadanya sembari mempersiapkan diri menjadi paling suci di dunia. Sebab kefanatikannya yang membuat diri mereka paling tinggi dari yang lain. Mereka semua salah, kelompok kami yang paling benar, mereka semua berdosa, maka ikutilah jalan kami. Semua yang bersebrangan dengan kami akan selamanya menjadi sesat dan terkutuk. Tak, tak ingin aku menjadi bagian dari mereka. Sungguh.


Ada yang karena sedang menyukai seseorang menyebabkan dirinya berubah menjadi puitis dan romantis, ada juga yang tiba-tiba menjadi dewasa dan gagah, ada lagi yang malah menjadi manja dan serba takut. Hidup ini hanya tentang dia, dan semua yang berhubungan dengan dia adalah kenikmatan hidup. Tak, tak pernah bisa aku seperti itu.


Seringkali kita terjebak dalam satu realitas dimana mau tidak mau kita harus ada di dalamnya. Mengeluh tentang betapa menyebalkannya orang-orang tadi adalah kesia-siaan. Memaksa orang-orang tadi berubah sesuai keinginan kita malah semakin membuat kita terlihat bodoh. Bingung akan bercerita pada siapa karena semua orang adalah penjara bagi kita. Sadarlah, saat ini dirimu objek, bukan lagi subjek.


Jadilah seperti aku, ikutilah perintahku. Bukan seperti itu! Harusnya kau begini! Semakin dibebaskan orang-orang malah akan semakin bimbang, menjiplak siapapun yang mereka mau sebagai pedoman kehidupan. Berita yang kian semrawut sebab semua hal dirasa perlu. Kita asing dalam khayal kita sendiri. kita pusing dalam lamunan kita sendiri. Dan kita sakit karena obat yang kita buat sendiri.


Bukankah kita selalu membicarakan tentang kebenaran dan kebaikan. Sesempit perdebatan antara baik dan buruk, benar dan salah, munafik dan jahat. Ada kalanya kita perlu membuka opsi ketiga, keempat atau kesepuluh. Tak apa, masalah beda akan ku bela, masalah doa akan aku jaga, tapi masalah yang lebih besar aku pasrahkan kepada yang Maha Besar. Coba katakan, "kemungkinan kita ini benar" Jangan lagi "saya paling benar." Agar kelak saat kau sendiri, aku bisa menemanimu.


Kesukaan kita tidaklah sama, selera kita juga berbeda, cara kita hidup dan menikmati hidup tentulah lain. Mari berlaku adil, jika kau besar akan aku kasih bagian terkecil, jika kau kecil akan aku kasih bagian terbesar. Hidup tentulah kompleks, apa yang merupakan kesenangan orang lain ya terima itu sebagai fakta yang ada walaupun menurutmu itu tidak menyenangkan sama sekali.


Pilih, konsekuen, dan tengok sebelah. Kasih juga sedikit cinta. Jangan bilang kau tak punya cinta, sebab dengan hidup kau telah membuktikannya. 




Raihan Immadu.

Pamulang, 16 April  2021

Selamat membaca.

Semoga bahagia.



Tuesday, December 31, 2019

Makian di Penghujung Tahun


 Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam. 
-Efek Rumah Kaca

  Hanya ingin membatasi bahasan tentang cinta tapi apa boleh buat, mereka terlalu mengalir begitu saja dalam cerita. Menyentuh tanpa dirasa, mengalami tanpa bisa dipahami, merasakan sebelum melakukan. Membatasi cinta berarti berhenti menjadi manusia, adalah suatu kebohongan besar kala seseorang mampu hidup tanpa cinta. Coba kita tebak kehidupan seorang yang tak memiliki cinta dalam ceritanya; mungkin ia tidak bisa melihat indahnya mawar saat pertama kali dipetik, tak dapat melihat indahnya warna pink pada gulungan permen kapas, tidak bisa merasakan manisnya coklat sebagai tanda pemberian, tak bisa menikmati hangatnya boneka sebagai tanda kasih sayang, atau paling parah, tidak akan mendapat kecupan spesial dari seorang tersayang. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Barangkali seorang yang mengatakan demikian hanya mencari sedikit perhatian, yang sebenarnya sangat ingin dicintai tapi gengsi untuk mengakui. Mencoba terlihat kuat tanpa dia sadari dititik itulah ia terlihat begitu dungu. Cerita dan cinta, suatu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Pahamilah, sebab banyak orang yang pura-pura mengabaikannya.

  Seorang tiba-tiba berlari di tengah derasnya hujan penghujung tahun. Menangis tersedu-sedu, berhenti sejenak, lalu berteriak dengan lantang ke langit, memaki dirinya sendiri dan mengucap sumpah serapah berkali-kali. Terus berlari sampai menemukan tempat teduh, kedinginan, mengigil dan bergetar seluruh tubuh. Meminta bantuan jika dia sedang memerlukan kehangatan, sayang tak ada yang peka. Tak berselang lama, dia membuka handpone, menggerakkan jari-jarinya menuju berbagai aplikasi yang ada, tampak tak ada perubahan berarti, hanya kini mukanya agak sedikit memelas bersedih dan udara dingin semakin tega menyerangnya bertubi-tubi. Terlihat tak ada yang lebih peduli padanya, kecuali alam semesta yang sedikit berkabung saat melihatnya. Begitu banyak kesedihan di penghujung tahun, karena ada harapan yang harus menemui ajalnya terlebih dahulu, sebelum bisa menyenangkan pemiliknya. Selalu ada tangis yang tercipta saat kegagalan menyertai, tanpa berpikir panjang, dia merasa gugur saat itu juga. Selain kehilangan harapannya, dia juga sudah kehilangan seorang yang sudah mendampinginya selama 21 bulan lebih, entah mendampingi karena sudah saling mamahami atau sekedar tak enak hati sebab selalu ditemani saat sepi, sepertinya opsi kedua lebih tepat. 21 bulan hanya dijadikan bahan untuk menemani sepi, kemana saja kau selama ini, dikelabui untuk dijadikan refrensi mencari yang terbaik. Seharusnya kau sadar, kau sudah diperalat. Mestinya kau sadar, kau sudah banyak meminum obat. Harusnya kau sadar, yang selama ini kau anggap setia menemanimu di saat hujan, belum tentu sudi bersama saat kau ditimpa ujian.

  Karna aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember, di bulan Desember.
-Efek Rumah Kaca

  Segala puji bagi Tuhan yang sudah menurunkan hujan dengan segala manfaatnya, dan segala puji bagi Tuhan yang tlah menciptakan wanita beserta senyuman, dengan ribuan makna di dalamnya. Pria ini sebenarnya tidak cemen-cemen amat, buktinya dia sudah melewati 3 hujan dan 2 terjangan badai. Tapi kali ini semua perjuanganya harus kandas. Catat! Yang menghentikannya bukan badai tapi hujan. Demi Tuhan, pria ini benar-benar akan menyerah. Setelah memberanikan diri mengabadikan momen berdua, setelah memberi bingkisan berguna, setelah menyanyikan beberapa lagu cinta, setelah berbagi tawa saat di obrolan (hahaha). Setelah sekian lama, akhirnya diputuskan menyerah. Yaaah, 21 bulan yang terbuang sia-sia. Akhir yang sedikit disayangkan, untuk teman-teman yang slalu mendukungnya. Tapi apa boleh buat, keputusan sudah dibuat, keputusannya sudah bulat. Berhenti mencintai, dan memilih sendiri. Kini, hidupnya hanya untuk menulis lirik untuk mengenang dan menyenangkan diri dari kenangan yang sudah dia lewatkan. Semoga bisa lebih lama lagi kelihatan bahagianya, semoga pura-puranya tidak kelihatan, semoga bahagianya tidak kelihatan pura-pura, dan semoga kuat menjalankan peran-peran.


  Sekarang pakaiannya sudah agak kering sehabis terpaan hujan tadi, menyalakan rokok dan kembali berjalan dengan tergopoh-gopoh. Baginya menyerah dangan keadaan seperti ini lebih baik ketimbang trus bertahan tanpa ada komitmen yang terjalin. Pikirannya sudah terbuka, bahwa menyalahkan diri sendiri bukan cara yang tepat untuk kali ini. Maka dari itu, ia memutuskan tidak lagi melewati hujan melainkan menari-nari menikmati tetasan air yang turun, menutup matanya agar lebih menghayati sambil mengucap pesan terakhir untuk wanita yang dicintai. Baginya, kesedihan di penghujung tahun akan terobati dengan sendirinya, setelah kebahagianya awal tahun datang menghampirinya. Tak ada yang selamanya, yang ada hanya 'yaudahlah ya'. Harapan baru akan muncul menimpa angan yang trus membayangi. Tak ada kesedihan yang abadi, yang ada hanya selalu menyesali. Tak ada, seiring usaha akan menjadi ada.

  Seperti pelangi setia menunggu hujan reda.
-Efek Rumah Kaca

  Setibanya dirumah, pria itu berbaring di sofa, membuka foto lama, mengenang wanita yang selama 21 bulan dicintainya. Mengeluarkan buku catatanya dan mulai menulis bait demi bait kebahagian. Menutup kisah lama yang akan kadaluwarsa, mengganti dengan semangat menggugah tanpa harus mencari pengganti saat ini juga. Takut semuanya menimpa dia kembali, secarik bacaan-bacaan penangkal sial disiapkan. Berjaga-jaga dari sepi, karena sepi yang akhirnya membuka jalan untuk melaju ke depan tanpa bisa dikendalikan, intinya pria itu takut semuanya terulang lagi. Ada baiknya bisa lebih mengantisipasi dan mengevaluasi apa yang sudah dilewati. Sedia payung sebelum hujan, sedia senyum sebelum dipatahkan.

  Aku takut, saat pria itu mendekati wanita, wanitanya hanya menganggap pria itu tak lebih dari teman untuk mengusir sepi(lagi), sebab..

Dia tak mencintaimu, dia hanya sedang kesepian dan kebetulan ada kamu. 
-wira



Raihan Immadu
Pamulang, 15 Des 2019
Selamat membaca
Semoga dapat menerka 
Selamat tahun baru 2020

Sunday, November 3, 2019

Beberapa Sisi


Terjadi lagi, malaikatku terlambat datang. kebanyakan dandan, wajahnya mustahil telanjang.   - Jason Ranti

Rasanya senja kali ini paling sedap untuk mengungkapkan rasa, entah rasa atau resah lebih tepatnya. Ingin mengungkapkan tapi tak mau rahasia terpecahkan. Ingin menjalaskan tetapi takut diketahui banyak orang. Ingin mengakhiri paceklik tapi ragu untuk memetik. Ingin sekali tapi masih ada tapi-tapi. Ingin tapi tak ingin. Begini saja, kita runtun kejadiannya:
Pertama, aku memandangimu.
Kedua, kamu sudah mengenalku.
Ketiga, aku tak berani mendekatimu. Keempat, aku hampir menyerah.
Kelima, masih ada celah.
Keenam, aku benar-benar menyerah.
Ketujuh, sudahlah, kau saja yang bahagia.
Kedelapan, ada kabar untuk berperang.
Kesembilan, ada sabar untuk seseorang.
Kesepuluh, perang tetap berlanjut.
Kesebelas, aku sedikit pengecut.
Kedua belas, kau mulai terpincut.
Ketiga belas, area resmi ditutup.
Keempat belas, resmi kau milik musuh.
Kelima belas, aku kehabisan peluru.
Keenam belas, cari tempat untuk menjauh.
ketujuh belas, belum waktunya membalas.
kedelapan belas, waktunya beres-beres.

Selamat! Hati-hati di jalan, akan banyak batu yang menghadang. Hati-hati di jalan, banyak rambu yang menyesatkan. Hati-hati di hati, banyak dendam yang belum terselesai. Sekali lagi, hati-hati!

Kapan pertama kali kamu merasakan aku memiliki perasaan kepadamu? Lupa atau tak pernah?

Satu buah cerita yang terjadi mungkin memiliki banyak versi. Variasi mungkin terjadi karena perbedaan persepsi. Ada baiknya kau memilah-milah, mana yang paling mengena sebab banyak sekali cerita yang pada akhirnya menimbulkan efek samping karena kekhilafan dalam menyaring. Tetap jaga prasangka agar tidak terjerembab lebih jauh, tetap jaga pikiran agar bisa benar-benar utuh, tetap jaga tangan agar tidak berbuntut ricuh dan tetap jaga mulut agar tidak banyak orang tahu. Beberapa orang menganggap satu berita tidak begitu penting untuk dijaga kerahasiaannya. Disebarlah, ditelaah dan dibicarakan ke penjuru arah. Timur membicarakan A, Barat membicarakan A, Utara membicarakan A, Selatan membutakan A lalu menutupnya dengan semangat menggugah. A tidak melakukan pembelaan tapi merasakan adanya perbedaan. Makin hari makin seru. Tiap hari populasi rubah semakin tak menentu, berkumpul membicarakan hal yang sama. Si rubah mungkin kelaparan, tidak mendapatkan mangsa yang benar-benar bisa membuatnya kenyang dalam beberapa hari ke depan. Kawanan rubah berdiskusi untuk mematikan mangsanya malam ini. Sayang, si rubah tidak begitu bersih dalam menyiapkan strategi. Bocorlah rencananya ke publik tapi dengan nalurinya yang sangat kuat, si rubah masih bisa mengelak dan beralasan jika tadi malam mereka hanya berdiskusi perihal masalah kawanannya. Berdalih untuk berbohong tapi selalu bisa selamat tanpa meminta tolong. Si rubah memang seperti itu adanya, lukanya saja belum bisa diobati dengan ramuan apapun. Si rubah tidak pernah menyesal mempunyai cacat itu, bagi dia lukanya lah yang membuatnya beringas dari waktu ke waktu. Si rubah, hewan yang memiliki kelebihan untuk melakukan kecurangan secara bersama-sama. Hati-hati masih banyak pendengki diantara kita. Hati-hati!

Satu hal yang perlu kau tau.
"Kita selalu benar menurut cerita versi kita"
- yajugaya

Sudah berapa kali kamu terbangun dari sebuah mimpi yang kamu tidak sukai?
Sudah berapa kali kamu menyesal tak bisa melanjutkan mimpi yang kamu sukai?
Sudah berdoa sebelumnya? Sudah meminta lindungan Tuhan sebelumnya? Apa jangan-jangan setan sudah menyukaimu sebelumnya? Tidurlah malam ini dengan tenang, aku beserta doaku akan menjagamu dari kejauhan. Berharaplah.

Ketegangan bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Kamu pernah merasakan ketenangan seperti apa? Ketegangan saat menaiki kora-kora? Ketegangan saat melihat seorang bersimbah darah? Ketegangan karena lupa matikan listrik saat kau berada di luar rumah? Atau ketegangan saat dia tidak mencintaimu sepenuhnya? Perasaanmu memang biasa saja tapi nampak ada yang tidak biasa. Aku memiliki beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab untuk meringankan kegetiran yang kamu dapat dari situasi tegang tadi:
1. Seperti apa aku?
2. Kenapa kamu tak seperti aku?
3. Dimana aku di saat kamu menjauh?
Terakhir, kau mau tidak sepertiku?!!
Waktu yang terus berputar atau takdir yang tertukar. Pertanyaan-pertanyaan yang tak seharusnya mendapat jawaban "Gatau/ya gitu/terserah/gapapa/yaudah lah". Belajarlah untuk memiliki prinsip agar nantinya kau bisa menyelsaikan dan bersikap. Tidak dipandang sebelah mata. Untuk apa kamu memiliki body goals jika otakmu masih bloon. Belajarlah semampumu, waktu ada ditanganmu, jika lelah istirahatlah yang cukup, jika jenuh buka pesan dariku, jika kau hilang tolong jangan kabari aku. Sebab aku tau kau dimana, pasti di sebuah tempat yang kau rasa aman dan jauh dari jangkauanku. Hati-hati, ada aku di tanganmu. Hati-hati, akan tercipta banyak puisi. Hati-hati, masih banyak rasa peduli. Pergi, jangan lupa bawa hati. Hati, bawa sekalian dia pergi.

Tuhan hanya memberikan kita sedikit ujian dan tak akan melebihi batasan yang kita punya. Percayalah dengan sungguh-sungguh, tanamkan sekarang juga. Kau tidak pernah sendirian!!

Tak seharusnya kau ikut campur dalam masalah orang lain, cukup menjadi pendengar yang baik dan katakanlah semoga bisa cepat selasai. Adalah penggalan kalimat dari seseorang yang selalu mengajariku bagaimana cara berpandangan, walau dirasa tidak begitu menyakinkan manusianya tapi rasanya cukup lumayan HAHAHAHAHAA. Setelah dipikir-pikir memang seharusnya seperti itu, toh, Tuhan memberikan ujian untuk setiap hambanya dan diselesaikan dengan kemampuannya, bukan untuk dikerjakan secara bersama-sama. Sejatinya setiap manusia itu sama, hanya rasa syukur saja yang membedakan setiap insan. Tuhan mencukupkan rezeki dan tidak pernah membuat hambanya kekurangan. Semiskin-miskinnya manusia pasti rezekinya sudah dicukupkan. Jangan banyak menengok atas, coba sesekali menjadi tanah dan susah, lalu bayangkan sejauh mana kalian bisa melangkah, jika tidak adanya pertolongan dan usaha, kalian bisa apa! Materi membutakan, sedekah mengurangkan, dan glamor merupakan kenikmatan. Hapus sekarang statusmu tentang "Nikmat mana lagi yang kau dustakan" Untuk kesekian kali! Belajarlah menjadi orang, bahkan seseorang yang menulis cerita panjang seperti ini pun belum tentu menjadi orang. Semua tentang beribadah kepada Tuhan, tak usah berdebat mengenai Tuhan mana yang paling hebat. Kepercayaanmu cukup kau saja yang percaya, jika masih kurang percaya, pecahkan masalah itu sendiri, kelak aku hanya akan menjadi pendengar yang baik dan berkata semoga bisa cepat selesai.

Tak semua urusan kau harus mengetahuinya.
Tak semua urusan kau harus didalamnya.
Dan tidak semua urusan kau harus memecahkannya.

Si rubah kembali datang untuk memanaskan keadaan. Si rubah dengan tekad besi, kini sudah seperti babi, memakan tainya sendiri, kotor dan lapar. Kebengisan dan keegoisannya muncul ketika datang mangsa. Nampak dari kejauhan mangsanya, terlihat tetap tegar walau sendirian. Dia memiliki kawanan tapi kali ini dia tertinggal dari kawanannya, tertinggal atau memang dipaksa ditinggalkan, yang pasti kini dia hanya sendirian. Tak ada jalan lain selain melawan. Dengan semangat berapi-api dia mencoba menghadapi si babi. Si babi memiliki kawanan tapi dipaksa sendiri agar lebih dihormati. Belum sempat pertempuran berjalan, Tuhan berhasil menghentikan. Bagaimana tidak, Mereka berdua tak ada yang mendahulukan Tuhan. Kebencian sudah tertanam sejak lama, terlebih saat ditambah dengan bumbu-bumbu khusus untuk memanaskan persaingan. Tak ada jalan lain, perseteruan ini nantinya hanya akan terhenti dititik jenuh dan bosan. Si Rubah tak lagi menjadi babi dan akan mencari mangsa lain. Si mangsa akan tetap hidup tenang dan mencari kawanan yang meninggalkannya tadi. Tidak ada kepastian jika si rubah dan si mangsa akan hidup bahagia. Kebencian akan terus membara di keduanya, mungkin suatu saat akan mereda atau akan semakin menjadi-jadi. Tak ada yang tau! Tapi selama mereka taat pada Tuhannya. Mereka pasti tau. Tuhan tidak menyukai pertikaian mulu. Tuhan tidak menyukaimu, mereka dan aku. Tuhan tidak suka namanya dijadikan bahan melulu. Tuhan ingin bukti shahih, bukan dalil untuk mengelabui.


Kebencian di sana-sini, apalagi di organisasi -Efek Rumah Kaca

Sembah Tuhan tiap minggu, tapi masih lempar batu - .feast

Kemanusiaan itu seperti terang pagi. Merekahkan harapan, menepis kabut kelam - Efek arumah Kaca

Beberapa orang memaafkan lagi, walau sudah ditindas habis berkali-kali - .feast

Tak pernah terlambat jika kau ingin berubah, hanya dirimulah yang menghambat segalanya - Nosstress


Kapan pertama kali kalian belajar tersenyum? Masih ingat pertama kali kalian meminta dan menerima maaf? Kapan pertama kali kalian mencoba memberi? Masih ingat pertama kali kalian mengasihi? Kapan pertama kali kalian mengikhlaskan? Masih ingat pertama kali kalian diajarkan tentang kemanusiaan? Kamana nilai kebaikan yang sudah diajarkan?! Sudah lupa atau sengaja dilupakan! Dilupakan atau tidak mau melakukan?! Bukannya tidak mau tapi gengsi untuk melakukan! Dan kau, takkan mau disalahkan!!

Kesembilan belas, Si rubah berubah
kedua puluh, Si mangsa terus berdoa
kedua satu, mereka nampak di dunia
kedua dua, jelma manusia.


Hati-hati/Harapan




Raihan Immadu
Pamulang, 2 November 2019
Selamat menikmati. 
Semoga mengerti. 


Thursday, June 27, 2019

Tutup rapat-rapat


  Semoga ya hari ini, lebih baik dari hari kemarin. Yang lewat begitu saja, tanpa lakukan apa-apa.
Semoga ya pagi ini, lebih cerah dari pagi kemarin. Mungkin bisa bangun lebih diri, tuk bergegas siapkan diri.
-Nosstress

    Setelah keluarnya tulisan "kacamatanya pass buat kamu" Banyak opini publik yang muncul ke permukaan. Sebenarnya yaa sah-sah saja mau berpendapat tentang apa, tetapi kadang harus dibatasi agar tidak keluar dari koridor dan tak terkesan sok tau. Sekali lagi! Banyak yang bertanya tentang sosok ini, siapa sebenarnya dia, benar apa tidak memakai kacamata atau cuman khayalan penulis karena hatinya tak lagi terisi. Maka, aku dapat katakan, "Semua jawaban atas pertanyaan yang kalian tanyakan akan terjawab melalui tulisan ini, tapi tutup rapat-rapat, akan banyak hal yang muncul yang entah akan berdampak apa kedepannya.'' Terimakasih atas perhatiannya. Semoga dapat dipercaya!


   Perjalanan panjang tentang sosok wanita berkacamata, tidak terlalu tebal tapi pass dikenakan. Mungkin setelah tulisan itu muncul, dia mulai menyadari dan agak merasa jika itu dia. Oiyaa, dia juga sempat bertanya langsung: "itu yang elu tulis siapa sih? kayanya gue bgtt deh." Yaa, dengan sedikit rasa panik yang tertutupi oleh tertawaku ya agak berlebihan, menjawab: "Bukan aah, perasaan lu doang kali." Selain itu sedikit ku coba menanyakan hal lain agar dia tidak membahas soal itu lagi. Naas, rasa ingin taunya lebih besar daripada rasa ingin tau ku tentangnya. Dan tak lama, dia malah pergi dan berkata: "Udahlah!! males gua ngomong sama lu." Aaaaah bgst tuh orang! Diriku sudah tertawan, tak bisa melawan, hanya bisa diam dan akhirnya tidak diberi ampun. Keparat dengan semuanya yang ku lakukan HAHAHAHAHAA. Bohong deng, dia ngomongnya sambil tertawa kok. Jadi, tak usah terlalu terbawa suasana, santai sajaa. Memang, setiap hari ku banyak melakukan hal-hal yang menyenangkan orang banyak, mungkin itu bisa menjadi alasan kenapa diriku banyak disenangi walau kadang tingkahku sering berlebihan. Kadang juga diriku sendiri bingung, kenapa orang lain masih ingin berteman denganku, yang kerjaannya cuman membuat kegaduhan dan menyusahkan banyak orang. Entah orang lain yang harus beradaptasi atau aku yang berubah, ada baiknya sih, aku saja yang berubah. Merubah diri bukan lagi menjadi yang terbaik tapi yang selalu ada. sebab yang terbaik, hanya berlaku untuk dirinya sendiri, sedangkan yang selalu ada, sebuah tingkah setia yang tak pernah meninggalkan bahkan ke seseorang yang terbaik sekalipun. Ingat!! Mencoba menjadi yang selalu ada.


   Untuk saat ini , tak akan ada seseorang terbaik, yang ada hanya seseorang yang merasa dirinya sok terbaik.


    Hari demi hari berjalan dengan baik, kadang terjadi interaksi kadang seperti tak peduli. Tapi gak juga sih, aku lebih merasa tiap hari berjalan datar saja, tak banyak hal istimewa. Sebuah kisah akan menarik jika terjadi banyak konflik. Yaa, bagaimana mau menarik jika kamu menoleh ku saja hanya beberapa detik. Maksudku cobalah sedikit lebih lama menoleh kearahku, aku pasti bisa mengeluarkan sifat asliku, mungkin kau bisa terhibur atau kesal lalu kabur. Jujur saja, aku lebih menyukai wanita yang menyukaiku terlebih dahulu, karna bagiku aku tak perlu lagi capek-capek mencari. Untuk saat ini, sepertinya aku yang menyukaimu lebih dulu, wanita berkacamata. Apa mungkin karena hati ini sudah terlalu lama, tidak mendengar celotehan-celotehan wanita bercerita. Aduh, pantas saja hidupku selama beberapa tahun belakangan ini datar-datar saja, ternyata ada yang hilang, celotehan tidak berguna darinya HAHAHAHAHAH. Jujur lagi, aku sebenarnya tidak terlalu suka mendengar wanita berbicara banyak, sebab menurutku setiap perkataan yang muncul dari mulut seorang wanita, pasti membicarakan seorang wanita dan pria, bukannya begitu?!! Hah! Dasar lambe turah HAHAHAHAA. Aku menyukaimu tapi belum mencintaimu. Kamu yang aku rasa begitu lucu, kayanya pass menjadi bahan setiap tulisanku. Aku ingin sekali merubah pandangan orang lain tentang blog ini yang katanya sudah lekat dengan kesendirian. Aku rasa bisa, sangat bisa untuk merubah persepsi orang. Hanya tinggal kamu saja, mau atau tidak membantu harapan ini tercapai. Kalau mau mari lakukan, jika tidak mari berdamai dengan kesenangan. Sebab yang meninggalkan karena penolakan pada akhirnya hanya menimbulkan kepatahatian. 


  Menyusuri semua yang bisa aku telusuri tentangmu. Walau sepertinya aku tidak begitu lihai dalam hal mencari, sepasang mata yang aku miliki kadang tidak terlalu jeli, dan kedua tangan yang aku miliki kadang tidak begitu teliti. Aku juga kadang suka pelupa, tidak sabaran dan tidak bisa memedam kekesalan. Aku yang tidak bisa banyak hal, agaknya juga tidak bisa mendekatimu. Maaf, bukannya tidak bisa, tapi tidak tau cara mendekatkan. Maaf lagi, bukannya tidak tau, tapi aku mageran. Dan rahasia tentang diriku yang kamu tidak tau adalah aku malas berjuang HAHAHAHAH. Mungkin setelah membaca bagian ini, kau akan menjauh, pergi, hilang atau pura-pura tak tau. Aku berharap sih kemungkinan terakhir yang akan terjadi, berrpura-pura tidak tau, dan tetap seperti dulu. Bodoamatlah orang lain berkata apa, tapi ya seperti inilah aku sebenarnya. Tak perlu lagi memakai topeng untuk menyenangkan banyak orang, yang akhirnya membuat diri sendiri senang saja tidak bisa. Dengan banyak kecacatan yang ada, aku ingin ada disampingmu, setidaknya pernah ada. Walau aku tidak siap jika merubah semua yang sudah aku miliki, setidaknya aku bisa menambahkan kecacatan yang bisa membuatmu tersenyum senang. Apa kamu sudah siap untuk ikut berpetualang dengan lika-liku ketidakjelasan hidupku? Aku rasa hidupku ini seru, tapi banyak tidak adanya. Tenang, besok langsung akan ku ajak kamu nongkrong di warung kopi pinggir jalan, bersama mengamati kemacetan jalan, suara motor berknalpot bising, sautan klakson yang berbunyi, amarah pengendara yang meledak-ledak dan suara emas pengemis di trotoar. Bagaimana? Seperti cerita di film petualangan yang sering kau tonton kan, makanya marii bersama. Sebab dengan bersama, kita akan menjadi perokok pasif selamanya HAHAHAHAHA. Maaf ya aku memang suka bercanda:)


    Aku adalah aku. Dimana seseorang yang tidak pernah mempercayai adanya badmood. Semua yang kita lakukan akan berdampak pada diri kita, dan ketika ada yang salah maka akan ada badmood. Sungguh aku tidak mempercayainya. Semua orang pasti pernah mengalami fase-fase terburuk dalam hidupnya, tapi dengan bagaimana dia menyikapinya, semua akan berjalan baik-baik saja. Aku tipe orang yang tak mau banyak bicara ketika terjadi masalah, aku tipe orang yang akan bersikap baik-baik walau ditimpa ribuan masalah. Kenapa? Karena aku tidak ingin orang di sekitar ku ikut memikirkan permasalahan yang tengah aku hadapkan. Terlihat jumawa bukan?! HAHAHAHAHA. Gak lah, aku hanya bercanda. Ada saatnya aku kerjakan semuanya, ada saatnya ku bagikan cerita pada semunya. Namanya juga manusia, tak mungkin bisa hidup sendirian, selagi memiliki teman kenapa harus sendirian. Disaat fase terburuk datang, aku akan segera mencari kesibukan, entah itu jalan-jalan, menonton segala bentuk hiburan atau cuman tidur-tiduran sampai tertidur beneran. Hidup itu adalah sebuah pilihan, jangan sok dirumit-rumitkan. Kalian punya teman, keluarga, kawan, pasangan hingga tuhan, tinggal cerita saja apa yang sulit kalian lakukan. Kalian memiliki pikiran, berbeda dengan hewan, yang ketika ada masalah mereka tidak tau cara menyelesaikan. Kalau mereka tahu cara menyelsaikan, berarti mereka mengagumkan. Kenapa aku katakan demikian, yaa karena aku tidak tahu jalan pikiran hewan HAHAHAHAHA. Hidup itu simple, bahkan hewan saja yang tidak memiliki pikiran, beberapa bisa mengatasi kesulitan. Apa kalian harus menjadi hewan dulu agar ada yang bisa kalian kerjakan!! Jadi, di setiap terjadi fase terburuk, aku tau akan kemana, menuju tempat dimana sekawanan ada dan setia mendengarkanku bercerita. Cara membuat diriku bahagia sederhana, bisa membuat orang tertawa dan melupakan sejenak masalah yang mereka punya, walau akupun seperti mereka, butuh tempat bahagia. Tapi tak apa, sebab karena mereka semua, aku bisa menikmati dunia dengan segala bentuk lika-liku yang ada.


   Kamu adalah kamu. Yang setiap kamu ingin lakukan selalu aku doakan, yang setiap sudah kamu lakukan pasti akan aku beri dukungan, yang setiap kali kamu mau berhenti di tengah jalan pasti akan selalu ku ingatkan untuk trus kembali berjalan, yang setiap kamu mengalami kegagalan pasti akan ku bangkitkan. Yang setiap semua-semua yang kamu tunjukkan, pasti akan ku perhatian. Kamu adalah kamu. ketika sebuah ketidakmungkinan akhirnya menjadi harapan, ketika sebuah omong kosong akhirnya menjadi kepercayaan, ketika sebuah kepayahan akhirnya menjadi pertolongan, ketika sebuah candaan akhirnya menjadi bahan tertawaan, ketika sebuah keraguan akhirnya menjadi kepastian. Ketika semua yang ada di dalam hidupmu, akhirnya hampir menjadi sebuah kesempurnaan. Kamu adalah kamu, sosok yang tak canggung untuk mengungkapkan rasa, dimanapun kamu berada. Aku ingin mencintaimu sekarang, melalui caraku sendiri, tanpa ada gangguan, tanpa ada sebuah yang dijanjikan. Aku ingin mencintaimu sekarang, tanpa ragu, tanpa canggung, tanpa bingung, tanpa tapi. Kamu adalah aku dan akuu adalah kamu, Bersama, kita pasti menjadi yang selalu ada, setia membantu di saat susah melanda. Aku dan kamu adalah kita. Yang nantinya akan menulis sebuah kisah, dari kata "Pada suatu hari.." sampai dengan "bahagia hingga nanti."


  Melihat tawamu, Mendengar senandungmu, terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu. Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupku, terlihat jelas bahwa hatimu. Anugrah terindah yang pernah kumiliki.
- Sheila On 7





Raihan Immadu
Pamulang, Kamis 27 juni 2019
Selamat membaca
Semoga mengerti.



Sunday, March 24, 2019

Pecahan Dari Sebuah Patahan


  Pernah melihat sepasang insan yang asyik berduaan di sepanjang jalan? Atau di tempat makan? Atau di lorong sekolah? pernah?? Pernah merasa terganggu? bukan karna iri yang membuncah bukan?!! Tapi sebagai pengingat, jika tak semua tempat dapat mereka jadikan ajang bercerita. Mungkin semua orang pernah merasakan indahnya suatu perasaan, tapi tak mengungkapkannya, tapi tak mengamalkannya. Mereka diam sembari berdoa pada tuhan agar di berikan yang terbaik. Bukan untuk sekarang, tapi nanti disaat dia memiliki pekerjaan, bukan cuman perasaan. Memang mencintai dalam diam adalah hal terbaik bagi seorang hamba. meluangkan waktu doanya untuk sekedar menjaga seseorang yang ia suka. Memperhatikan geraknya, lalu tersipu malu saat ia menyadarinya. Kadang cinta tak diukur dari seberapa beraninya seseorang mengutarakan perasaannya, tapi cinta diukur dari berapa kerasnya ia memohon pada tuhan, agar dapat disatukan.




  Kau pikir sehat itu datang tiba-tiba? tidak!! Percayalah doanya dia, yang selalu bisa membuatmu tampak ceria. 


  Aku lebih suka melihat seseorang di sudut biskop sendirian. Menonton film yang ia tuju, tanpa ada yang mengganggu. Ia mungkin sendirian, tapi ia tidak menuju pendosaan. Sebab dari atas ia bisa melihat seberapa hinanya orang-orang yang  berada dibawah. Berdekatan,ciuman,pegangan tangan atau sebagainya. Mungkin mereka akan berkata "gapapa lah sesekali tempat juga mendukung, gelap gk ada yang tau" lantas seseorang sudut atas bagaimana? Menegur? Ilegal bukan! Mengingatkan dari bangku ke bangku? Memang ada yang peduli! Menyuruhnya keluar? Ia siapa bisa mengeluarkan orang seenaknya!! Apa yang harus dia lakukan?? Diam adalah pilihan terbaik, sembari berdoa agar mereka berubah. Mungkin ini merupakan sedikit gambaran seperti apa engkau dihadapan tuhan. Hina bukan? Tuhan tak langsung menegurmu,memberimu kesakitan,atau pendosaan. Tuhan akan trus berbaik sangka padamu dan menunggu kapan kau bisa mengingatnya disegala waktu.
Maka nikmat tuhan mana lagi yang kau (sengaja) dustakan.


  Tenang tak ada yang mencoba melarangmu perihal berdekatan. Aku juga suka bagaimana ada di posisi itu. Memberi senyum disaat bertemu bahkan ditempat umum. Berbagi tawaa disemua cerita yg kau rasa penuh canda, padahal tidak. Melempar segala sabar disaat kau sudah siap mamaki dan menampar. Masih tetap terbayang lucunya senyummu itu, entah dari hati atau hanya semu, intinya aku senang saat itu. Menyadari hari mulai gelap, lalu bergegas menuju rumah, dengan sejuta alibi saat ditanya mamah. Tak apa sebenarnya, mereka juga pernah muda, pernah merasakan indahnya suatu perasaan. Bukannya mamahmu sering kau jadikan tempat bercerita, disaat kau sedang mengagumi seseorang di kelas. Dan mendesak mengenalkan saat ia main ke rumah? Lalu masih harus ditutupi juga? Sampai harus menunggu tengah malam agar bisa menelpon saat dikira sudah aman!! masih takut? HAHAHAHAHA aku kira kau sudah jago menutupi itu, ternyata masih belum. Kuncup dan tertutup, kau masih terlihat ragu dan takut mengakui itu.


  Baris keempat. Kau terlalu suka mengumpat. menuji didepan dan berbicara beraneka di belakang. Kau mengajak pasanganmu berjalan ke tempat hiburan, bangga dan bahagia saat itu, seakan kau merasa dia sudah layak menemanimu selamanya. Padahal di belakang kau terus mangatakan tentang keegoisannya, pada sahabat perempuanmu. Itu yang disebut kesetiaan? Untuk apaa menjalin hubungan jika menutup aib pasangan saja masih dipertanyakan? Mulutmu trus mengatakan semua hal, yang kau rasa bisa membuat pasanganmu lebih baik. Padahal tidak!! Kau hanya mengatakan, sedangkan kau hanya diam menanti dia berubah. Kebodohan dan kegoblokan yang nampak pada dirimu yang teramat sulit disembunyikan. Lalu siapa yg selama ini kau bilang egois?? Belum lagi ditambah dengan keanehanmu untuk tetap menunggu dia berubah, sebagai alasan mencari celah untuk bisa berpindah, pada hati yang bisa menenangkanmu saat itu juga. Egoisnya dirimu yang selalu ingin instan dalam suatu hubungan. Sabar,tanang,dan bersyukur akan terpendam dengan sikapmu yang terlalu bodoh, tolol dan bego. Kasar memang, tapi yg muncul di permukaan hanya itu. Berleha saja, kau akan tetap celaka.


  Kau sadar apa yang selama ini kau lakukan itu salahh? Putuslah, untuk apa tetap memaksakan. Diluar sana masih ada kehidupan yang bebas. 


  Tak usah berfikir dua kali untuk putus. Untuk apa kau mencari ketulusan, sedangkan yang kau dapat hanya kebusukan. Sebenarnya ia sama sekali tak mengharapkanmu lama. kau hanya seperti bintang, bertahan sehari lalu hilang keesokannya. Kau masih ragu??  Kau masih bisa mendapat semangat-semangat itu dari kawanmu. Kau hanya penghibur sementara. Percayalah, ia pada akhirnya akan berpindah jugaa. Melupakanmu dan melakukan kesombongan disaat kau sendiri, mencoba memamerkan pasangannya disaat kau rapuh. Untuk apa trus mempertahankan, sedangkan yang kau alami hanya pahitnya di muka duakan. Putus sajaa, kau hanya akan sakit untuk beberapa hari kedepan, tidak untuk selamanya. Untuk apa kau trus memaksakan, sedangakan yang kau rasakakan hanya sakit saat tak di pedulikan. Tenang disaat kau putus, dunia akan menyambut kau bak narapidana yang keluar dari penjara. Dapat mencium udara segar kebebasan dunia. Yang terpenting kau bebas dari belenggu keegoisan itu, cukup kau nikamati kebebasannya, tak usah pikirkannya. Waktu demi waktu akan membuatmu semakin terbuka. Hari demi hari akan membuatmu semakin bebas. detik demi detik akan membuatmu semakin asik. Tenang kau hanya dianggap hina, bagi orang yg sok mengeri cinta. Tapi dihadapan tuhan, kau jauh tampak lebih mulia.


  Tak perlu sungkan-sungkan, kau bisa melakukannya. Putuskan,Lupakan dan Tinggalkan. 




 Pamulang, 22 Desember 2017
 Selamat menbaca
jangan terbawa suasana
 Raihan Immadu

Ubah Haluan kapten!


  Coba siapkan waktu luangmu saat ini, kita takkan membicarakan kedepan lagi. Kita akan bahas semua tentang cara kembali. Kembali mengetuk tabir lama yang tak pernah terjamah lagi. Tak apa!! Hanya sebentar! Kau masih takut?? Tenang, ini hanya perkara mudah, semudah kita bicara hal yang murah. Aku tau hatimu selalu semangat ketika membicarakan dia. Sama seperti saat kau membalas cerita berkalanya, berharap dibalas bukan?? Oiyaa bagaimana foto dia yang ada di galerimu?? Masih ada kan?? Atau sudah disembunyikan?? Agar kau tetap terlihat kuat sebagai mantan dan cara untuk terhindar dari kekepoan gebetan?? Simpan baik-baik ya fotonya!!!! Sudah cukup bersandiwara dan bercanda, kau harus mengakuinya. Cepat atau lambat,  kau pasti mengharapkan dia kembali. Entah sebagai teman atau pasangan. Yang pasti kau akan tetap mengharapkannya, kini atau nanti.




     "Rindu itu berat" ahh kau berbohong Dilan. Yang berat itu bukan rindunya, tapi mengakuinya dan menemuinya.


  Menemuinya adalah bagian tersulit ketika sudah tak berhubungan. Mungkin karena gengsi yang masih di tinggikan, atau alasan sibuk dengan kerjaan, atau bahkan rasa benci yang masih ia pendam. Terserahlah itu hanya beberapa alasan ketika diajak bertemu. Yang terpenting sudah berani mencoba,walaupun hasilnya sudah sangat jelas, tidak bisa. Sebenarnya waktu dan jarak bukan sebagai penghalang, kita tak perlu berjam-jam untuk sekedar bertemu, kita tak butuh berkilo-kilo untuk sekedar bertamu, kau tak perlu yang namanya tempat untuk sekedar menjamuku. Dimanapun sebenarnya bisa. Hanya kau yang terlalu banyak bercerita, cerita  tentang sibuknya kau ketika diberi pekerjaan rumah. Kau menggemaskan memang, terlalu banyak hall yang harus ku tebak. Sayang, aku tak pernah terjebak. Sebab dirimu terlalu mudah dibaca. Suka berdusta dan selalu punya alasan, untuk menghindar sebuah pertemuan, yang kau anggap hanya melelahkan badan.


   Mengakui adalah suatu yang paling pemberani, yang pernah dilakukan seseorang disaat sendiri. Tepikan gengsi, tanpa ada tapi-tapi lagi. Disaat itu dia rindu, disaat itu juga dia menuju. Tak banyak kode yang membingungkan, yang akhirnya hanya sebuah pengakuan. Jika rindu akui, bukan sekedar basa basi. Tak perlu canggung, kau pernah berjalan dalam satu panggung. Kuatkan hatimu, bukan perlancar ketikanmu. Dia sedang sendiri, buat apa membuang waktu lagi. Kau tak perlu mencari sosok baru, jika ada peluang di masa lalumu. Tak perlu makan waktu, kau sudah hafal caranya dia terseyum padamu. Buat apa hanya menggumam di malam hari, jika dihadapannya kau tak nampak seperti lelaki. Jelas kau tlah diajarkan menjadi pejantan tangguh. Jika akhirnya kau hanya bisa menunggu, apa gunanya kata-kata manis itu, Kau hanya jago di materi tapi cemen saat kau diuji. Kata-kata manismu hanya akan menjadi sebuah kata ejekan, disaat kau tak berani mengatakan. Tunggu apa lagi! Lakukan dan jadi apa yang kau harapkan. Pejantan tangguh, kini atau tidak sama sekali.


   Tak ada perpisahan dalam hubungan, itu hanya kesalahpahaman. Lupai, Ulangi, dan Perbaiki. Kelak kau bisa searah kembali. 


  Memulai semuanya kembali, adalah sebuah hal yang sering terjadi. Walau kata orang ending ada tetap sama. tapi tidak, jika ia tetap berusaha. Menutup semua celah yang ia lakukan ketika itu. Menghafal semua kejadian yang akan membuatnya jenuh, tenang, hati ia belum penuh, kau bisa isi dengan hal yang baru. Kau akan begitu mudah menenangkannya ketika sedang marah, kau tetap bisa membuatnya tertawa ketika sedang banyak masalah. Yang terpenting kau akan bisa menjalin hubungan dalam waktu yang lama, karna kau sudah tau dimana letak endingnya. Tak ada ending yang sama. Itu hanya perkataan orang yang tak mau mencoba. Jangan sok tak mau, diwaktu luang kau memikirkan masa lalu. Kau belum benar-benar melupakan. Mengaku tak butuh pasangan dan akan tetap di bawah payung kawanan. Heeyy kawanmu sudah punya!! Kau kapan?? Jika kembali adalah cara yang paling tepat, kenapa tak dipercepat. Sinis saja terus, kau akan tetap selalu manis.


    Sudahkah kalian mendapat sesuatu dari bacaan ini? sudah luangkan waktu hari ini? Tak ada yang menyuruhmu kembali, tapi hanya sebuah saran jika kau tetap tak mau sendiri. Terserah mau dilakui atau tidak, aku tak pernah memaksa. Yang penting kalian senang, entah bersama teman, kawanan, pacar atau mantan. Suatu yang tumbuh kembali akan terasa berbeda, tetapi ada kepuasan tersendiri didalamnya. Kau tak perlu bersikap dewasa, toh kau belum mencapai usia. Terimalah kau apa adanya tak perlu di beda-bedakan. Ingat! kau masih remaja, nikmatilah. Nikmatilah saat dimana kau sedang labil-labilnya. tak perlu mencari yang baru, cukup mengulang yang tlah berlalu. Tak usah banyak rindu, jika mengaku saja masih kau anggap berat. Jangan merindu jika bertemu saja masih berat. jangan melupakan, mending mengulang kejadian, endingnya akan kita ubah kapten. Kau tak kan menyesal sebab tak ada yang perlu disesalkan. Cukup kembali, kita akan akan searah lagi, selalu tertawa nanti, dan bahagia setiap hari.


   When i say i love you.
Please baby say you love me too.
"Satu langkah SO7"



Raihan immadu
Pamulang, 17 februari 2018
Selamat membaca
Semoga men

Sunday, March 17, 2019

Kacamatanya Pass Buat Kamu:)


   Hujan kini sering tak kunjung turun, walau sudah musimnya. Rindu sejukmu sudah terasa, sabarpun diuji di kala panas menerjang. -nosstress


   Cinta ini mungkin akan telat mekar dari biasanya. Sebab pertengahan bulan ketiga telah tiba. Waktu yang tepat untuk berleha-leha tanpa memikirkan apa-apa. Kecuali dirimu. EAAA HAHAHAHAHA. Hati ini sudah jatuh pada sasaran yang tepat. Wanita berkacamata, tidak tebal tapi pass dikenakan. Sejauh yang aku perhatikan baru-baru ini kau mengenakannya, kemarin-kemarin engga kan! Matamu memangnya bermasalah? Kenapa? koo bisaa? Keseringan main PUBG ya? atau mengerjakan tugas kelompok MTK? Jangan sering-sering main hp aah. Kasian mata kamu, nanti minusnya nambah. Kasian juga wajah kamu, nanti jika kacamatamu dilepas, mata kamu jadi sipit, gapapa sih tambah lucu sebenarnya hehehehee :)


   Satu per satu wanita tersingkirkan yang akhirnya meninggalkan satu. Yang paling pas dengan kriteria. Pass bukan berarti yang terbaik. Tapi, bukan juga yang terendah ataupun tertinggi. Intinya pass lah, susah dijabarkan seperti apa dirimu. Mungkin jika aku membuat puisi, aku pasti sudah menuliskan diksi-diksi terbaik yang pernah aku miliki. Umpatan yang paling pass mewakili perasaan ini ke dirimu adalah "kacamatanya cocok buat kamu, jangan biarkan terlepas nanti pesonanya memudar" Waktu yang pass melihatmu adalah ketika sedang melamun dalam alunan lagu Barat yang tertutupi earphone kesayangan. Pass, tidak kalah dari senja yang belakangan ini sering aku lihat di beberapa instastory teman yang mencoba lebih puitis. Segala keindahan tumpah ruah dalam satu momen, langka. Hamparan kefokusan menguasai pikiran, tak pernah terlewatkan, menunggu momen yang pass untuk diabadikan. Diam, pelan,mengendap, waspada, awas ketahuan. Bisa mati kutu jika tertawan. bisa merusak citra tentang anak urakan di sekolahan. Pura-pura tidak tahu saja kamu, biar aku merasa kesenangan.


   Kesibukanmu yang kadang membuatku menjauh sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit menepi dan akhirnya hanya diam diseutas tali. Diam tak bergerak, diam tak mendekat. Mau bagaimana lagi, sibukmu mengantarkanmu pada pandangan yang sempit. Bagaimana tidak, sibukmu membuatmu menjadi robot, yang rela diatur oleh pengatur. Bagaimana aku bisa mendapatkan, jika waktu luang saja kamu tidak mendapatkan. Sabarr yaa, perspektif bodoh itu akan berlalu. Mungkin kamu harus memiliki kacamata hati untuk memperbaiki perasaanmu, yang minus atau plus. Atau mungkin prasangka ku yang terlalu buruk, menilai kamu yang mulai sibuk. Mungkin benar, aku yang lebih tepat memakai kacamata hati, sifat ini harus diperbaiki juga perkataan ini. Sebab, kadang kala mulut ku sering tidak mau mengaku jika aku sedang menyukaimu. Demi, aku suka berbohong akhir-akhir ini. Merasa bodoamat, saat ditanya sama siapa aku dekat, jawaban cuek yang keluar tapi jitu untuk mempertahankan pertemanan. Maaf ya, ini cara terakhir untuk mengultimatum perasaan yang sudah jarang mendapat dambaan. Kamu, masih belum sadarkan? Sama, aku juga udah ga sabar! Ga sabar ingin menyadarkanmu! Sadarlah! Sudah terlalu lama bersabar! Rasa ini sudah besar! Tapi aku mohon jangan disebar, takut nanti pudar.

 

    Kesibukan, ketikan, teriakan, perakitan hingga kesakitan adalah hal yang sering aku perhatikan disaat waktu luang. Waktu dimana peluang datang tanpa ada sebuah percobaan. Sialan, aku kelewatan, sudah terlalu jauh berlari di belakang pesaing-pesaing di luar sana. Sebuah lomba yang seharusnya belum dimulai tapi akhirnya sudah tau siapa pemenangnya. Pemenang merebut hati seseorang yang tak menyadari dirinya sedang dilombakan. Kasihan, kasihan para pesaing lain yang tak kamu kasih kesempatan. Kasihan, kasihan dirimu yang dipaksa memilih satu dari beberapa pilihan. Tenang, santai, bijaksana, aku percaya yang akan kamu lakukan. Tak perlu panik, muka kamu malah tambah manis jika panik. tenang dan santai saja, wanita selalu benar koo. Aku berharap kamu tau yang pass dikenakan itu siapa, jikalau bukan aku akhirnya, tak apa, kamu tetap cantik koo dengan kacamatamu. Jangan lupa Berdamailah dengan sibukmu dan menjauhlah dari apa yang mengganggumu. Jika salah satunya aku, katakanlah, aku mungkin luluh dan menyerah, mengibarkan bendera putih dan sesegera mungkin pergi. Sampai jumpa, sudah tiba waktunya, berkelana mencari harta paling berharga. Menjelajah ke penjuru kota ,mencari pengganti sementara. Menjarah seluruh kota, mencari yang setara. Menjadi raja di satu kota, mengambil harta yang paling sempurna. Hahahahaaa terlalu melondramatik yaa. Palingan juga aku akan kembali atau aku pasti akan kembali. jangan pernah merindu, tunggu aku saja. Dahh..


   Ketuk pintu, lepas sepatu, matikan lagu, nyalakan lampu dan ucap apa yang ingin dibantu, jangan rancu, langsung ke poin yang dituju. adalah tatacara untuk bertamu, untuk sesekali mengobati rindu. Jangan lupa bawa kacamatamu, taruh di meja. Jika kau mengizinkannya, aku ingin sekali memakainya. Cukup sekali ini saja, aku sudah siap bermimpi menjadi penulis terbaik, dengan cerita-cerita yang tak melulu tentang cinta. Tapi, apa aku siap? menjadi seseorang berkacamata yang membawa sebilah buku kemana-mana, menunggumu saja sudah muak rasanya. Memang, aku ini ingin enaknya saja. Pantas, selama ini hidupku biasa-biasa saja, tidak sedih tapi tidak juga terlalu gembira. Ehh tapi pass yaa. Hidup bukannya memang seperti itu, sesuai porsinya saja. Tak mewah tapi sederhana, tak monoton tapi nikmat dilakon. tidak murung mulu tapi enak saat dijalani dulu. Uuuuh nikmatnyaa. memang, wanita adalah candu untuk beberapa orang yang mengedepankan gengsi semata. Takut dibilang ini lah, itu lah, anu lah, gini lah, gitu lah, banyak lah, halah bct. Padahal hidup ini benar-benar sederhana, sayang mereka sendiri yang merumitkannya dengan urusan wanita. Semoga tak ada lagi orang yang berpikir seperti itu di dunia. Entah berapa lama harus merubah pandangan orang maniak seperti itu. Mencintai itu secukupnya saja, menyayangi itu sekedarnya saja. Bila  dirasa masih kurang, ambil sisa-sisa kebahagiaanku di masa lalu, jika masih kurang juga, mungkin orang itu kurang bersyukur. Benar-benar kurang bersyukur. Bahagia itu secukupnya, sedih itu seperlunya, jangan diperumit, jangan dipersempit, jika tak ingin dicap parasit, Lakukan yang terbaik, bukan menjadi sosok sok terbaik.


  Terakhir... 
 Saran aku sih ke kamu satu, pasang trus kacamatanya biar tambah cantik, manja,manis,lucu gimana gitu. Jaga baik-baik kacamatanya jangan biarkan terjatuh, retak, pecah atau hilang. Takut nanti penglihatanmu kurang baik, melihat siapa yang akan menjagamu baik-baik.

 Pertanyaan aku ke kamu sih cuman satu, cocok ga sih aku pakai kacamata kamu? Kalau cocok, boleh tuh kita saling melengkapi. Nanti, kamu aku tulisin puisi, kamu siapin aku hati. Bersama, kita akan buat tulisan lagi, yang lebih berarti dan syarat akan gengsi. Mari mencoba, aku yakin harapan kita sama.

 Harapan aku sih ke kamu cuman satu, semoga aku bisa benar-benar memakai kacamata kamu. Berdebat tentang mau kemana tulisan ini diarahkan, Nirmala. Percuma panjang lebar kalau kamu sendiri ga nyadar. Sadarlah, aku sudah sabar, dengan hanya berharap satu, memakai kacamata kamu. Besok, lusa, atau sewindu lagi. Semoga, yaa. Yaa, semogaa :)


   Semoga ya, malam ini. Lebih baik dari malam kemarin. Bersama bulan kan ku temukan, kamu yang ku rindukan. -nosstress


Bersambung...




Raihan Immadu
Pamulang, 17 Maret 2019
Selamat membaca
Semoga membahagiakan

Sunday, November 4, 2018

Setelah kehilangan, baru merasakan


 Ku awali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia dia sana.  - Pemuja rahasia. 


   Lama sosok sok penulis ini tak menulis. Mungkin masih masa-masa berkabung setelah kehilangan sosok teman dekatnya. Bernyanyi, bercerita, tertawa atau bahkan membully. Semua terasa begitu cair. Tak ada pihak yang tersakiti, semua terasa begitu berarti. 140 hari menghilang terkadang masih terngiang. 140 hari hilang terasa ada yang berkurang. 140 hari meninggal terasa ada yang mengganjal dan tertinggal. doa dan harapan untuknya agar mendapatkan tempat terbaik adalah topik terbaik saat ini. Tersenyumlah disana, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Dirimu baik walau bukan yang terbaik. Bermain-mainlah disana, bermanja-manja lah disana, tak perlu susah-susah memikirkan kita disini. Insyaallah kau mendapatkan tempat terbaik. Aamiin. Tenang, perjuanganmu untuk menegakan keadilan kebijakan pemimpin, akan trus kita perjuangkan. Bersyukurlah kamu tak merasakan hal bodoh yang aku dan teman-teman lain alami kini. Kebanyakan resolusi, tak ada aksi, yang ada hanya basa-basi. Brengsek dan bajingan, kata yang trus sekawanan keluarkan. Kesal tak ada masa, nyesal tak melakukan apa-apa, hingga akhirnya sia-sia. Semua terjadi. Terlambat, tak bisa membuatnya terhambat dan akhirnya terlaknat.


        Ia merupakan seorang yang sulit diterka. Keperawakannya dan perasaannya sulit ditebak. Teman yang selalu membicarakan cinta yang itu-itu saja. Maklum, baru menemukan cinta sejati. Lucu disaat mendengarkannya bercerita, dengan sumpah-sumpah aneh diakhirnya. diiringin lagu anugerah terindah, membuatnya terbawa suasana. lagu diganti, seketika itu pula moodnya berganti. menjelang sore diskusi ini semakin mengada-ada. Berkhayal akan melakukan sesuatu bersama doi esok hari. Entah benar-benar terjadi, atau hanya resolusi lagi, yang pasti esok hari kita pasti berdiskusi lagi. Memulai obrolan dengan sebatang rokok di tangan kiri, bantingan kartu remi yang mengiringi dan kata-kata kasar yang pasti mengikuti. Tak ada kopi sore ini, yang ada teh dan air putih. Semua terasa sama saja. Yang membedakan sore ini adalah ada guru atau tidak. Lari atau berdiam diri. Duduk atau lari menggebu-gebu. Menyiapkan beribu alasan jika tertangkap atau trus menghindar seperti buron kelas kakap. Capek bangsat. HAHAHAHAHA lagi-lagi kata kasar keluar. Dasar anak madrasah.


        Saat-saat menyenangkan juga banyak terjadi dilorong sekolah. Bernyanyi lagu pemuja rahasia. Tidak jelas liriknya yang terucap, cuman nadanya saja yang teringat. Berkali-kali dikoreksi, tetap saja tak pernah fasih. Kepercayaan dirinya lebih besar dari ilmunya. Suka memaksa memang. Lagu ini belum selesai, orang ini sudah berandai. parahnya lagi ketika bel berbunyi, orang ini sudah lihai bersembunyi. Tiba-tiba sudah didepan kelas doi dan membawa kotak bekal dari mamah. Maklum, takut dibilang budak cinta. Biarlah, sekawanan juga tau jika dia sedang ranum-ranumnya bercinta. Jangan diganggu takut ia kecewa. Berbahagia lah duhulu, jika gundah kita siap membantu. Tapi kadang kita hanya menertawai dan membicarai dua sejoli ini. Kenapa ya mereka bisa dekat? Menapa gk sama yang lain?Dia kan jelek! Dia kan aneh! Semua ditepis oleh satu argumen orang ini. "Cinta itu berasal dari hati bukan dari fisik dan perkataan orang lain" jlep. Semua tertawa HAHAHAHAH gk pantes memang orang ini berpuitis ria. Mukanya saja tidak mendukung apalagi perkataannya. Kepercayaan dirinya mengalahkan rasa malunya. Semua tantangan, akan dilakukan. Dihadapan orang banyak atau sekawanan, pasti terlaksanakan. Entah bermaksud menghibur atau serius. Pasti akan menbuat terbahak-bahak dan keheranan. Koo ada ya orang se pede dia? Koo gk malu yaa? Gak takut dibilang gila? Semua terpatahkan ketika orang ini berbicara "Gak usah gengsi, hidup ini bukan sekedar jaim didepan orang yang kita senangi" jlep. Ada benarnya juga nih orang. HAHAHAHAHAH tetap saja tak cocok perkataan dan tampang seramnya itu. Kepercayaan dirinya mengalahkan kenyataan yang ada. Kenyataannya adalah ia akan selalu menjadi teman terbaik. Kehilangannya pasti merindukan, banyak meninggalkan pelajaran, yang tak pernah diajarkan. Pertamanan ini segalanya, kenangan ini terkenang selamanya. menangisi yang sudah tak ada, mengkhayal yang sudah tiada. Sia-sia. Percaya diri saja, mungkin kita masih bisa bereuni di mimpi. Menitipkan salam dan teguranmu nanti. Mungkin esok, lusa, atau bahkan malam ini. Rasa takut ini akan ku akhiri, sehabis menulis tulisan ini. Doa dan mental akan disiapkan. Demi menunggu kehadiran. Datang yaa.. ku mohon....


    Iringan musik
    Bantingan kartu
    Sebuah candaan singkat
    Dan coretan tepung diakhir

    Menjadi saksi jika kita pernah melawan ketidaknyamanan. 
    melakukan sebuah hal yang kita anggap keren. 
    tapi tak pernah memikirkan vonis sesudahnya.
    goblok memang kita jika dipikir kembali. 
    tak jelas maunya apa. 
    yang penting kita bisa bersama
    ya intinya disana,  bersamaa.





        Seberapa pantas, pria kesepian, melompat lebih tinggi, hari bersamanya, lapang dada, mudah saja, saat aku lanjut usia. Sederet lagu yang kita nyanyikan dihari terakhir kau sekolah. Menggunting earphone kesayangan, hingga hanya terdengar sebelah. Mungkin bermaksud bercanda atau bahkan memberikan sebuah tanda, sayang, hati ini tak pernah peka dengan geliat dan tanda. Setelahnya kau sakit, ada kemungkinan pulih dan akhirnya kandas. Secepat itu ya kau pergi. Kita belum bernyanyi kisah klasik, penutup dari konser yang kita nonton dibulan kemarin. Secepat itu ya kau meninggalkan. Masih banyak konser bulan depan, kita bisa bernyanyi ria dibarisan paling depan. Secepat itu ya kau membuat sekawanan meneteskan air mata. Padahal masih banyak malam untuk kita berpesta, menyalakan rokok dengan kopi di pesisir pantai malam hari. Secepat itu ya kau membuat kita bertamu ke rumah barumu. Air mata dan doa yang keluar menuju hari-hari pemakaman adalah saksi bahwa kita semua pernah nyaman, nyaman berdiskusi apapun dimanapun itu. Sedih jika dikenang, lumpuh jika dihilangkan. Huuuh tuhan punya rencana, baginya terbaik ya mungkin memang yang terbaik. Punya banyak cara untuk mengingatkan hamba-hambanya agar menyadari pentingnya ia. Lapang dada saja, lalu ambil hikmah, semua takkan berjalan sama, lika liku pasti adaa, jangan pernah menyesali yang pernah terjadi, semua sudah digariskan oleh sang ilahi. Jalani saja, lihat dengar dan rasakan. Jangan mencoba melawan.

     
        Terimakasih sudah begitu solid ketika harus botak.
       Terimakasih sudah begitu khawatir ketika diperjalanan. 
       Terimakasih sudah begitu berirama ketika bercengkrama. 
       Terimakasih sudah begitu ikhlas ketika menjadi bahan candaan.
       Terimakasih sudah begitu asyik ketika bernyanyi  bersama.
       Percayalah hanya bunga terbaik, yang dipetik oleh sang pemilik.
       Percayalah hanya tulisan terbaik, yang diketik oleh sang juru ketik.
       Percayalah ini semua berasal dari hati, ketika kehilangan sahabat sejati.
       Tenang-tenanglah disana kawan, semoga mendapat tempat terbaik dihadapan tuhan.


     Sampai jumpaaaa dikehidupan yang lain.
    uuuuu huuuhhh..
    - Saat aku lanjut usia
         



     Raihan Immadu. 
    Pamulang, 3 November 2018
    Selamat membaca. 
    Semoga menutup duka.