Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.




Monday, June 4, 2018

Start Point - Chapter 5 : Shadow

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point

Untuk pembuka, kurasa aku akan memperkenalkan diri

Aku mulai melangkahkan kakiku. Berjalan diantara pohon-pohon tinggi yang menjulang keatas dengan daunnya yang lebat. Suara dari rumput dan ranting yang kuinjak diperjalananku seakan menjadi sebuah musik pengiring. Tak lama, aku melihat sebuah robot drone melintas yang sedang mengambil gambar. Robot drone itu terbang melintas melalui pohon-pohon untuk mencari para player yang ada.

Drone itu sempat melirik kearahku, namun nampaknya dia agak mengabaikan keberadaanku. Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara dari ranting yang patah dari belakang. Saat aku menengok, ternyata itu adalah sebuah ogre yang sudah siap mengayunkan gada besarnya kearahku dan pohon-pohon yang ada disekitarku. Namun, aku berhasil menghindar dengan cara menunduk, aku menarik pedangku dan menebas lututnya. Tebasan itu membuatnya tak sanggup untuk berdiri.

Sementara dia terjatuh, aku mengaktifkan skill Moonlight Sword dan menebas dada dari monster ogre itu. Suara dari pedangku yang menebasnya menggema keseluruh hutan membuat beberapa hewan menjadi takut dan bersembunyi. Namun, tebasan itu membuatnya kalah telak dalam satu serangan. Setelah tubuh dari ogre tersebut menghilang, aku menyarungkan kembali pedangku dan menengok kerobot drone tadi—robot yang terbang itu. Tapi, ternyata robot itu sudah tak ada disana.

Aku memutuskan untuk melupakan drone tersebut dan kembali berjalan menyusuri hutan ini. Tak lama setelah aku berjalan kembali, aku mendengar suara percakapan antara Leila dan Zaki. Nampaknya mereka sedang mengobrol bersama sembari mencariku dan Sindy. Aku bersembunyi diantara semak-semak sambil membuntuti mereka. Aku bisa saja menyerang mereka, namun apa aku harus melakukannya. Atau aku harus mencari Sindy terlebih dahulu. Ini adalah saat-saat dimana aku harus memilih, bekerja sama, atau bergerak sendiri.
Zaki berhenti, dia menengok kebelakang—kesemak-semak dimana aku bersembunyi. Nampaknya, dia mendengar suara langkah kakiku dan suara gesekan tubuhku dengan daun-daun yang ada disemak. “A-ada apa, Maulana?” Leila yang sedang berjalan, ikut berhenti dan menghampiri Zaki.
“Tidak, kurasa hanya perasaanku saja....” Zaki kembali berbalik dan melanjutkan perjalanannya bersama Leila.
Sejak saat itu, aku lebih berhati-hati dalam membuntuti mereka. Disaat aku sedang membuntuti mereka, lagi-lagi ada ogre yang menyergapku dari belakang. Dia menghantamkan gada besarnya itu kearahku, aku berhasil menghindar dengan menggelindingkan tubuhku menjauh darinya.
Melihat dari tanah yang hancur akibat serangannya, kurasa itu adalah salah satu serangan yang fatal. Walau begitu, aku tidak punya waktu untuk melayani monster ini. Ogre itu melompat kearahku dan melakukan full swing akan gadanya kepadaku. Dengan cepat, aku menarik pedangku dari sarungnya dan menahan serangan tersebut dengannya. Dengan tangan kananku yang memegang pegangan pedang, dan tangan kiriku yang memegang bagian tumpul dari pedangku, aku menahan serangan itu sekuat yang kubisa.
“Pertarungan itu.... tak harus dilakukan dengan pedang!” Aku menendang kaki ogre tersebut lalu mendorong gada miliknya dengan pedangku. Aku melompat menaiki ogre tersebut, duduk diatas punggungnya, lalu menusukkan pedangku ini kejantung dari monster tersebut. Aku melompat kembali dan menarik pedangku sambil menendang tubuh ogre itu dan membuatnya jatuh. Dengan serangan itu, aku berhasil mengalahkannya.
Namun, akibat dari pertarungan itu, aku kehilangan jejak dari Leila dan Zaki. Dengan terburu-buru aku menyarungkan kembali pedangku lalu berlari kearah yang sama dimana Leila dan Zaki pergi.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara dari pistol yang ditembakkan. Aku mengikuti sumber dari suara tersebut dan menemukkan Zaki, Leila, dan Sindy.
Aku melihat Sindy yang mengarahkan pistolnya kepada Leila, sementara Leila melakukan hal yang sama dengan busur dan anak panahnya dan Zaki yang hanya bisa terdiam kaku dibelakang Leila. Suasana sangatlah tegang, sampai-sampai Zaki tak berkutik sedikitpun. Kurasa ini sudah agak keterlaluan, kau tahu, seharunya ini adalah sebuah pertarungan yang adil dan tak barbar. Sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya. “Tu-tunggu dulu, kalian berdua... tenanglah!” Aku menghampiri mereka berdua, mencoba untuk mencairkan suasana.
“Kenapa? Apa ada yang salah dengan apa yang kulakukan?” Sindy tetap mengarahkan pistolnya tanpa ragu sama sekali.
“A-aku hanya membela diriku sendiri....” Leila Menarik anak panahnya yang sudah terpasang di busurnya.
“Oh ya, ba-bagaimana jika kita adakan duel. Kau tahu, satu lawan satu.” Sindy menurunkan pistolnya lalu menghela nafasnya, diikuti Leila yang kembali menyimpan anak panahnya.
“Baiklah, kita akan mengadakan duel. Aku melawan Leila, dan kau melawan Zakarya.” Sindy menyimpan pistolnya kedalam inventorinya lalu menunjukku dan Zaki, lalu menunjuk dirinya sendiri dan Leila. Tak lama kemudian, Sindy dan Leila sepakat untuk bertarung di sebuah sungai besar yang terletak diantara dua hutan. Sebuah sungai besar dengan arusnya yang deras dan airnya yang sangat jernih dan segar. Ada sebuah jembatan besar yang menghubungkan antar kedua hutan tersebut.
Tak lama setelah mereka berteleportasi, aku dan Zaki berhasil menemukan sebuah tempat yang cocok untuk bertarung. Sebuah desa buatan yang barusaja dibangun oleh perusahaan Bum Corp. Sebuah desa kosong yang sangat cocok untuk dijadikan tempat untuk duel. Letaknya juga tak terlalu jauh dari sungai dimana Leila dan Sindy bertarung. Aku berteleportasi ketempat yang acak di desa tersebut sementara Zaki sedang sibuk memilih lokasi untuk dirinya berteleportasi.
***
Aku berpindah kesebuah rumah sederhana yang atapnya terbuat dari jerami. Namun tembok-temboknya kokoh dan tebal. Sedikitnya jendela yang terdapat dirumah ini menjadi keuntungan sekaligus kerugian bagiku, ditambah lagi lokasinya yang agak dekat dengan tengah desa yang ditandai dengan adanya sebuah sumur. Aku melangkahkan kakiku di lantai-lantai yang terbuat dari semen yang dingin juga agak berdebu, menelusuri tiap sudut dari rumah.
Tiba-tiba, tepat didepanku, ada semburan api yang merambat kearahku. Api tersebut merambat dari lorong-lorong sempit yang menghubungkan antara ruang tamu dengan dapur. Untuk menghindari api tersebut, aku menghancurkan salah satu jendela menggunakkan pedangku dan melompat keluar dari rumah. Namun, Zaki sudah mengantisipasi tindakanku ini. Disaat aku masih ada di udara, Zaki mengayunkan pedangnya yang sudah dia satukan dengan api. Sebuah pedang yang dapat membakar apa saja, Great Sword of Fire, begitulah dia menyebutnya. Dengan cepat, aku menepis pedang api itu dengan pedangku, lalu dengan pistol revolver yang ada ditangan kiriku, aku menembaknya. Namun, peluru itu hampir meleset dan hanya menggores pipinya.
Aku mendarat dan langsung melompat kesamping Zaki, mencoba untuk menebas tangan kirinya yang memegang pedang api tersebut. Tetapi Zaki menangkisnya dengan perisai yang ada ditangan kanannya. Dia mendorongku menggunakkan perisainya dan berhasil membalikkan keadaan. Aku terdorong sampai-sampai punggungku menabrak tembok dari rumah tadi. Saat ini, akulah yang berada dalam keadaan bertahan, sedangkan dia ada dalam kondisi menyerang.
Pedang tersebut semakin terasa panas. Membuat genggamanku semakin menjadi lemah dan lemas. Zaki memanfaatkan momen tersebut untuk memfokuskan seluruh energinya ke kakinya lalu menendangku. Tendangannya yang amat sangat kuat membuatku terlempar masuk kedalam rumah, menghancurkan tembok yang sebelumnya menahanku. Bertumpu pada pedangku, aku mencoba untuk kembali bangkit. Sementara Zaki yang sudah mematikan api di pedangnya lalu melangkah memasuki rumah melalui lubang besar yang tercipta akibat serangannya tadi. “Bagaimana, Dimo? Pedangku bagus,’bukan?”

“Cih, pedangmu yang besar itu sama sekali tidak cocok denganmu.” Aku tersenyum kecut sembari membersihkan jaketku yang kotor karena debu. Dengan cepat, aku langsung menembak kakinya dengan revolverku. Setelah dia kehilangan keseimbangan, aku langsung berlari dan menabraknya dengan tubuhku hingga membuatnya terdorong keluar dari dalam rumah. Aku mengayunkan pedangku kearahnya tapi berhasil ditahan olehnya dengan perisainya.
Tetapi, aku terus mencoba mendorongnya dan menyudutkannya. Namun aku terlalu fokus dengan hal itu sampai-sampai aku lupa dengan pedangnya. Dia menepis pedangku dengan pedangnya lalu membalikkan posisi. Lagi-lagi, dia mendorongku hingga membuatku kembali dalam posisi bertahan.
Setelah mengaktifkan kembali pedang apinya, dia mengayunkan pedang itu kearah kepalaku, namun aku berhasil menghindar dengan menunduk. Bekas goresan dari pedang api itu membuat tembok yang terkena serangannya tadi menjadi gosong.
Aku tak bisa membayangkan damage sebesar apa yang akan aku terima jika terkena serangan itu. Aku menyimpan revolverku, lalu balik mendorongnya dengan kedua tanganku yang mendorong pedang melawan perisainya. Lalu aku menendang batu kearah kepalanya, namun dia berhasil menghindar. Tetapi, itu cukup untuk mengalihkan perhatiannya dan memberiku waktu untuk berlari menuju sungai yang letaknya tak jauh. Saat ini, aku takkan bisa memadamkan api tersebut, jika aku terus melawannya, akulah yang akan menjadi daging panggang. Aku membuka tabel teleportasi, namun itu gagal karena Zaki yang tiba-tiba melempar pedangnya kearahku. Aku berhasil menghindar, namun pedang tersebut mengenai salah satu pohon dan membakarnya “Percuma saja, disekitar sini adalah pepohonan. Kau takkan bisa kabur.”
Aku menengok kesana kemari, mencari celah, namun gagal “Sial, dia benar.”
***
Mereka hanya terdiam, menghadap satu sama lain, diatas sebuah jembatan besar yang terbuat dari kayu. Suara yang ada hanyalah suara dari percikan dan aliran air yang ada tepat dibawah mereka. Serta suara gesekan pohon yang tercipta akibat angin kencang yang berhembus. Serentak, Leila dan Sindy berlari kearah yang sama, yaitu kedepan. Sindy dengan cepat mengambil kedua pistol miliknya, dan melompat. Sementara Leila menarik salah satu anak panahnya dari arrow rest, dan meluncur dibawahnya.
Disela-sela itu, dia menarik anak panah yang sudah terpasang dibusur tersebut dan menembakkannya. Melihat itu, Sindy langsung menembakkan kedua pistol tersbeut kearah Leila. Namun, dia meleset dikarenakan anak panah tersebut mengenai bahu kanannya terlebih dahulu. Namun, dia tak sepenuhnya meleset. Salah satu peluru dari pistol di tangan kanannya berhasil mengenai tangan kanan Leila. Setelah mendarat, Sindy menarik anak panah tersebut keluar dari bahunya. Anak panah itu menghilang setelah dia pegang. Sindy langsung menyimpan pistol ditangan kirinya dan menggantinya dengan sebuah pisau. Dia berlari kearah Leila dan berusaha menyerangnya dengan pisau, namun Leila dapat mudah menghindarinya dengan kelincahan yang dia miliki.
“Mau sampai kapan kau akan menghindar?”
Leila menendang tangan yang memegang pisau itu, namun itu sesuai dengan apa yang diharapkan Sindy. Dia menembakkan pistol yang ada ditangan kanannya dan berhasil menggores pundak Leila. Untuk mengantisipasi serangan selanjutnya, Leila langsung melompat menjauh dari Sindy. Leila mengambil dua anak panah, mengaktifkan skill wind arrow, dan menembakkannya kearah Sindy.
Efek dari skill wind arrow membuat kedua anak panah tersebut menjadi transparan. Membuat Sindy menjadi sulit untuk menghindar. Saat dia sadari, salah satu anak panah tersebut sudah menancap dikaki kanannya. Sindy langsung menarik keluar anak panah itu dan melompat kesungai. Air dari sungai yang tak terlalu dalam itu menguntungkan baginya. Leila melompat keatas pagar dari jembatan, dan menembakkan tiga anak panah yang sudah diberi efek wind arrow.
Sebelum anak panah tersebut sepenuhnya transparan, Sindy menyiram anak-anak panah tersebut dengan air sungai. Bekas air yang ada dianak panah tersebut membuatnya tetap terlihat walau dalam wujud transparan. Dengan begitu, Sindy dapat menghindarinya dengan aman. Sindy kembali mengganti pisau yang ada ditangan kirinya dengan pistol, lalu dia tembakkan kedua pistol tersebut secara bergantian kepada Leila. Untuk menghindarinya, Leila melompat turun dari pagar jembatan, kembali kejembatan dan menunduk dibalik pagar kayu untuk menghindari peluru. Namun, disaat dia sedang menunduk, dia mendengar suara dari cipratan air yang tercipta akibat langkah kaki yang ada tepat dibawah jembatan tersebut.
Tak lama, lantai kayu yang ada disebelahnya (Dipojokan yang dekat dengan pagar jembatan) tiba-tiba berlubang. Lubang tersebut tercipta akibat tembakkan peluru yang dikeluarkan dari pistol milik Sindy yang ada dibawah jembatan. Menyadari bahwa tembakkannya meleset, Sindy kembali menembakkan pelurunya kearah yang lebih kesamping (Mendekati tengah jembatan) dari tembakkannya tadi. Untuk menghindarinya, Leila kembali melompat kepagar jembatan, namun Sindy sudah mengantisipasinya dan menunggu dibelakang Leila, sedang mengganti amunisi dan siap untuk menembak. Sindypun menembakkan peluru dari pistol kanannya. Leila melompat kesungai dengan harapan berhasil menghindari peluru Sindy, tetapi, Sindy ikut melompat tak lama setelah Leila melompat. Dia menembakkan storm bullet keair sungai, menyebabkan air sungai menjadi beraliran listrik untuk sementara waktu. Menyadari itu, Leila langsung mengambil satu anak panah dan menancapkannya kejembatan kayu tepat sebelum dia mengijakkan kakinya di air. Dia berhasil selamat dari aliran listrik tersebut karena dirinya yang berpegangan kepada anak panah tersebut, membuatnnya tak jatuh kesungai dan menggantung disampaing jembatan.
Leila memanjat menaiki jembatan menggunakkan anak panahnya, sementara Sindy yang sudah keluar dari sungai, berlari keatas jembatan. Leila kembali berdiri diatas jembatan, sementara Sindy yang ada dijembatan. Mereka saling mengacungkan senjata mereka. Namun, walau begitu, tak satupun dari mereka yang menembak.
Sebuah cahaya berwarna hitam merambat dari kejauhan. Meluncur dengan kecepatan tinggi, diatas air sungai yang jernih. Cahaya tersebut nampak seperti pecahan-pecahan dari bulan, namun dengan cahayanya yang kehitam-hitaman. “A-apa itu?!” Leila menurunkan busur dan anak panahnya yang awalnya menunjuk kearah Sindy.
Tatapannya yang awalnya terfokus ke Sindy, seketika langsung teralihkan oleh cahaya berwarna hitam itu. Sindy yang menyadari tingkah aneh dari Leila, ikut menurunkan kedua pistolnya dan berbalik untuk melihat cahaya berwarna hitam tersebut. Sindy merasa bahwa dia sudah pernah melihat skill itu sebelumnya, namun dengan warna yang berbeda. Warna yang dia ingat, berwarna perak dan indah seperti bulan. Namun, warna yang dia lihat kali ini sangatlah berbeda. Sangatlah gelap, dan mengerikan, warna kematian. Cahaya hitam itu melesat dengan cepat, mendekati mereka
“Leila, melompatlah!”.
“Apa—”
“Sudah, lakukan saja!” Sindy berlari keluar dari jembatan, sementara Leila melompat kearah yang berlawanan dari Sindy. Cahaya itu membelah air dan jembatan kayu. Saat Leila sadari, jembatan yang barusaja dia naiki, sudah tidak ada lagi. Seakan-akan cahaya hitam itu melahap habis jembatan kayu itu tanpa tersisa. Dia bahkan tak bisa menemukan sedikitpun serpihan kayu berserakan.
Leila berhasil menghindari serangan tersebut, namun tidak untuk Sindy. Dia nampak terkapar lemas tak sadarkan diri, dengan tangan kanannya yang terluka akibat serangan tadi. Hampir seluruh lengan pakaiannya sobek tak tersisa, sama seperti dengan apa yang terjadi dengan jembatan tadi. Leila langsung berlari menyeberangi sungai, menghampiri Sindy yang tak sadarkan diri disamping sungai “Hei Sindy, sadarlah!” Leila menyadari, bahwa serangan yang tadi sangatlah berbeda. Ada sesuatu yang sangat berbahaya, yang terdapat di serangan tadi.
            Lagi-lagi, firasat yang sama dengan yang tadi. Leila menengok kearah dimana serangan itu berasal, dan firasatnya benar. Lagi-lagi, serangan yang sama mendekat dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Leila tak tahu apakah dia akan berhasil menghindar dari serangan tersbeut. Namun, dia tak punya waktu untuk memikirkan itu. Leila langsung menyimpan seluruh anak panahnya kedalam inventorinya, dan menggendong Sindy yang sedang tak sadarkan diri. Leila berusaha untuk menghindari serangan itu dengan masuk kedalam hutan. Namun, tanpa dia duga, serangan tersebut akan membelok dan memotong setiap pohon yang menghalanginya. Seakan-akan, serangan itu memang ditujukan kepada mereka—kepada Sindy. Leila terus dan terus belari kedalam hutan, namun, cahaya hitam itu, tak kunjung hilang. Cahaya itu muncul tepat dihadapannya. Tanpa pikir panjang, Leila langsung melempar Sindy yang digendongnya untuk menjauh dari serangan ini.
“..... (Itu... Leila...?)” Sindy perlahan membuka kedua matanya. Namun, yang dilihatnya untuk pertama kali bukanlah sebuah berita baik. Tepat dihadapannya, Sindy menyaksikan Leila yang terkena cahaya hitam tersebut. Cahaya hitam tersebut meledak dan warna hitamnya memenuhi hutan bagaikan menelan hutan itu sendiri. Seketika, warna hitam memenuhi penglihatannya. Tak lama setelah kejadian itu, Sindy akhirnya bisa kembali melihat. Namun, yang dia lihat sekarang dengan apa yang dia lihat sebelumnya, sangatlah berbeda.
Pepohonan lenyap, hutan dimana dia berada sebelumnya, sekarang sudah tidak ada lagi. Pohon-pohon itu tak tersisa sedikitpun, yang ada hanyalah akar-akar dari pohon yang sudah lenyap dan daun-daun yang gugur dari pohon itu serta ranting-ranting pohonnya yang patah “Apa, yang sudah terjadi....?”. Berbeda dengan serangan yang biasa, pohon tersebut napak menghilang sepenuhnya didalam game ini, maupun didunia nyata. Tak lama setelah kembali bangun, Sindy menyadari, bahwa kaki kanannya terasa mati rasa akibat kejadian tadi. Rasanya seperti tubuhnya tahu, bahwa serangan tadi, tidaklah main-main. Sindy menengok kesana-kemari, namun, hutan dimana dia berada sebelumnya sekarang sudah menjadi sebuah tempat kosong. Dia bahkan bisa melihat sungai dimana dia berada sebelumnya dari tempat dia berada sekarang.  
Tak lama, dia melihat Leila yang tak sadarkan diri disamping sungai. Sebuah jarak yang cukup jauh dari lokasinya saat ini. Dengan kaki kanannya yang mati rasa, Sindy berusaha untuk berlari sekuat mungkin untuk menghampiri Leila. “Leila, hei... Leila!” Sindy mencoba untuk membangunkan Leila yang terluka itu. Namun cewek berambut oranye tersebut tak kunjung siuman. Luka yang ada ditangan kanannya dan lecet-lecet yang dialami Leila saat ini, terasa sangat berbeda dengan luka yang didapatkannya dari pemain lainnya. Entah kenapa, luka ini terasa sangat nyata.
Entah siapa yang sudah mengirim serangan itu, namun Sindy tak bisa berdiam diri saja. Dia harus memberitahu kejadian ini kepadaku, Zaki, dan juga Pak Bum selaku pencipta dari game ini.
Tetapi, disaat dia sedang berpikir, lagi-lagi muncul serangan. Berbeda dengan sebelumnya, serangan kali ini terlihat lebih besar dan lebih cepat. Sindy menyadari, dia dan Leila harus segera pergi dari sana. Dengan luka yang ada ditangan kanannya, Sindy berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tubuh Leila dan menggendongnya. Disaat yang genting seperti ini, Sindy tetap tak sanggup menggendong Leila. Mati rasa dikaki kirinya, dan luka ditangan kanannya seakan-akan tak mengizinkannya untuk menggendong Leila. Diapun mencoba dengan cara menarik tubuh Leila keluar dari jalur serangan dari cahaya tersebut, namun dia tak punya kekuatan yang cukup untuk menariknya. Meski begitu, Sindy tetap berusaha mencari cara. Tiba-tiba dia mendapat ide untuk membawa pergi Leila menggunakan sistem teleportasi.
Disaat cahaya hitam itu mendekat, Sindy berusaha untuk membuka tabel teleportasi. Namun, entah kenapa tabel tersebut tak kunjung muncul. Sekeras apapun dia berteriak, seulet apapun dia berteriak, dia tetap tak bisa membuka tabel tersebut. “Kenapa ini? Kenapa tak kunjung terbuka?” Sindy mencoba untuk meneriakkan mantra untuk membuka tabel teleportasi, namun suara itu tak terjawab. “Ayolah! Kenapa tak mau muncul..... kenapa?” Sindy sudah tak tahu lagi, apa yang seharusnya dia lakukan saat ini. Yang tersisa hanyalah harapan kosong. Kakinya menjadi lemas, dia berlutut dan tak melakukan apapun. Satu hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah, hanyalah berharap.
Sindy memejamkan matanya, dan memeluk Leila yang sedang pingsan, berharap akan munculnya sebuah keajaiban. Untuk bisa selamat dari warna kematian itu, untuk bisa selamat dari, cahaya yang dingin itu. Sindy tak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya terus memejamkan matanya, tanpa tahu lagi harus berbuat apa. Namun, tiba-tiba, terasa sesuatu, suatu cahaya yang sangat hangat. Warna dari cahaya tersebut sangatlah indah. Walau itu hanyalah sebuah cahaya hasil refleksi dari cahaya matahari.... namun, walau begitu, cahaya itu akan selalu siap untuk menerangi malam yang gelap. Sebuah cahaya berwarna perak, sebuah cahaya bulan.
“Open the seal! Super Moonlight Shard!” Aku melemparkan serpihan-serpihan cahaya bulan tersebut kecahaya gelap berwarna hitam yang tak terjamak oleh cahaya sedikitpun. Dengan harapan, cahaya berwarna perak yang kulempar itu dapat berhasil menerangi cahaya berwarna hitam itu. Seranganku itu berhasil menghadang cahaya hitam yang gelap itu. Mencipatakan sebuah warna baru yang merupakan sebuah hasil dari pergabungan kedua warna itu. Sebuah warna yang tak bisa dibilang gelap, juga tak bisa dibilang terang.
“Di... Mo...?”
Sindy membuka kedua matanya, berbeda dari keputus asaan yang sebelumnya dia lihat, kali ini dia melihat sebuah harapan. Sindy melihatku yang sedang mengeluarkan skill super moonlight shard untuk menghentikan serangan hitam tersebut dan menyelamatkan mereka berdua.
“Apa kalian baik-baik saja?” Aku menyarungkan kembali pedangku dan berbalik menghampiri Sindy dan Leila. Zaki keluar dari hutan sebelah, membawakan dua buah ramuan penyembuh bersamanya. Sebelumnya, aku sudah memintanya untuk membeli beberapa ramuan penyembuh dari toko terdekat untuk menghindari hal yang tak diinginkan seperti ini. Namun, walau begitu, nampaknya ramuan saja takkan cukup untuk mengobatinya. Leila tetap tak sadarkan diri, meski sudah kami beri ramuan penyembuh sekalipun. Aku berhasil menemukan mereka karena aku mendengar suara teriakkan dari Sindy disaat aku sedang bertarung dengan Zaki. Aku langsung mendapat sebuah firasat buruk tak lama setelah aku mendengarnya, dan ternyata firasatku benar.
“Maafkan aku....”
Sindy berbisik pelan, sambil berjalan lemas melewatiku. Aku yang mendengar bisikan itu, langsung berbalik dan menghadap Sindy. Aku tak tahu apa yang sedang ada didalam pikirannya saat ini, dan aku juga tidak bisa mengetahuinya. “Sindy...?” Aku mencoba mengulurkan tanganku, mencoba untuk meraih pundaknya. Namun, aku terlambat. Cahaya mulai keluar dari avatarnya, yang perlahan mulai menghilang
“Log... out....”.
“....(Kenapa, dia logout?)” Beberapa menit kemudian, Leilapun tersadar. Disebuah ruangan dengan plafon yang sudah dia kenal sebelumnya.
“Akhirnya, kau sadar juga....” Zaki yang terduduk disebelah kasurnya akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.
“Dimana ak—Dimana Sindy?”
“Saat ini, kau sedang ada di UKS sekolah. Kau sempat tak sadarkan diri tadi. Tetapi, Pak Bum berhasil mengeluarkanmu dari dalam game. Saat ini, aku masih tak tahu dimana Sindy berada, Dimo sedang mencarinya sekarang. Tadi, kami sempat bertemu dengannya, tetapi dia bertingkah aneh dan malah pergi seakan-akan menghindar dariku dan Dimo.” Tak lama, akupun memasuki ruang UKS untuk memastikan kondisi Leila. Aku bersyukur dia sudah siuman, tetapi, aku tak bisa menemukan Sindy dimanapun.
~Bersambung~

No comments:

Post a Comment