Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Monday, June 25, 2018

Start Point - Chapter 8 : Teka-Teki

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point

Satu tahun sudah berlalu sejak saat itu dan dua bulan sudah berlalu sejak perilisan game Start Point keseluruh penjuru dunia
Aku berhenti di sebuah lampu merah. Menunggu saat dimana pejalan kaki diperbolehkan untuk menyebrang. Sepatuku yang sudah penuh dengan air mulai membuatku merasa tak nyaman. Suara dari mobil-mobil dan motor yang terus saja melintas menyatu dengan suara hujan.
Diseberang jalan, aku melihat ada seorang perempuan yang berpenampilan sangat mencolok. Dengan mantel tebal, masker, serta kacamata yang dia pakai membuatnya menjadi pusat perhatian. Diantara orang-orang yang berkumpul untuk menunggu lampu merah, dialah yang berpenampilan paling mencolok. Aku tahu siapa dia, tak lain dan tak bukan adalah Mbak Anna. Entah mengapa dia berpikir dengan penampilannya yang mencolok itu dapat membuatku tak menyadari keberadaannya. Kenapa dia tak belajar dari pengalaman sebelumnya?
Lampupun menjadi merah, kendaraan-kendaraan yang melintas mulai berhenti dan pejalan kaki mulai melangkahkan kakinya menyebrangi jalan. Kehadiran Mbak Anna membuatku mengurungkan niatku untuk menyebrang. Sementara pejalan kaki yang lainnya mulai menyebrang, aku berbelok dan mengambil jalan memutar. Melihat tingkahku, Mbak Anna langsung menyebrang berlari mengejarku.
Aku mempercepat langkahku—menyamakan kecepatanku dengan langkah kaki Mbak Anna. Aku tahu bahwa ini adalah salah satu kesepakatan dengan ERASER, tetapi entah mengapa aku mempunyai firasat buruk disaat aku melihat Mbak Anna. Aku terus berlari dan terus berlari, dengan sepatu yang basah dan nafas yang mulai terasa berat, kulangkahkan kedua kakiku menuju rumah. Namun, tiba-tiba aku tersandung sebuah batu. Akibatnya, payungku terlepas dari genggamanku dan aku terjatuh. 

Seluruh seragamku basah kuyup karena aku terjatuh di sebuah genangan air, dan tas beserta isinya juga akan segera menyusul jika aku tidak segera kembali memakai payung. Setelah bangun, aku langsung berlari mengambil payungku yang terlempar beberapa meter dari tempatku terjatuh “Mau kemana kau? Dan kenapa kau lari dariku?” Suaranya yang berasal dari belakangku langsung membuat bulu kudukku berdiri. Dengan tergesa-gesa, aku mencoba berbalik. Namun itu malah membuat keadaan menjadi lebih buruk. Aku terpeleset dan terjatuh.
Dengan senyuman pahit aku mencoba menyapanya “Yo.... Halo.....”

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau lari dari—” Tiba-tiba, seekor monster singa langsung menabraknya. Memotong pembicaraan dan membuat Mbak Anna terlempar ke sebuah lapangan luas yang penuh dengan rerumputan yang setinggi pinggang.
“Mbak Anna....!” Melihat ada salah seorang monster singa yang hendak akan mencakarku, aku langsung menangkap payungku dan menahan cakaran itu menggunakkannya. Aku tak bisa terus berada di posisi seperti itu karena semakin lama aku menahannya, semakin lebar sobekan yang ada di payung akibat cakarnya. Namun, saat aku sedang mencari cara untuk melawannya, muncul satu monster singa lainnya di belakangku.
“(Gawat.....)”
Sebuah pedang cahaya yang terlempar kearah kakinya yang hendak akan mencakarku. Dengan cepat pedang tersebut membelah dan memotongnya. Tak lama setelah pedang tersebut tertancap di tanah, pedang cahaya tersebut mulai menguap dan menghilang. Aku menengok kearah asal dari pedang tersebut, yaitu lapangan dimana Mbak Anna berada “Jangan berani-berani menyentuhnya. Dia milikku!” Dengan kondisi yang sudah ter log in kedalam Start Point, Mbak Anna melempar pedang cahaya itu kearah monster singa yang hendak akan mencakar punggungku. Pedang tersebut tepat menembus tubuhnya bagaikan pisau yang membelah tahu.
“Open the seal : Light Boost.” Dia menghentakkan kakinya yang mulai bercahaya ke tanah, lalu mendorong tanah tersebut sekuat yang dia bisa. Dorongan tersebut membuatnya bergerak dengan sangat cepat. Saat aku sadari, Mbak Anna sudah tepat berada di belakangku. “Open the seal : Light Sword.” Dia menarik sebuah cahaya keluar dari dalam pedangnya. Sebuah cahaya yang bentuknya nampak menyerupai pedangnya. Perlahan, pedang tersebut mulai menggandakan dirinya menjadi banyak dan berkumpul di belakang Mbak Anna. Dengan cepat, Mbak Anna berpindah ke belakang monster singa yang sedang kutahan, lalu menusukkan pedang-pedang cahaya ke tubuh sang monster singa. Tubuh monsterpun mulai bercahaya lalu menghilang.
“Terima kasih. Lalu, apa kau baik-baik saja?” Masih dalam kondisi panik, aku menutup payungku.
“Kau bisa tanyakkan itu nanti.”
Seakan tak memberikan waktu untuk bernapas, monster singa lainnya datang sesaat setelah monster singa sebelumnya menghilang. Aku menyimpan payungku kedalam tasku lalu memindai sidik jariku untuk log in kedalam Start Point. Kutarik pedangku dan aku keluarkan pistol dari dalam inventori, lalu kuberlari kearah salah satu monster. Meyadari seranganku, monster tersebut berinisiatif untuk menyerangku terlebih dahulu dengan mencakarku, namun aku menunduk dan merosot di bawahnya. Jalan yang basah karena hujan menjadi nilai plus tersendiri karena membuatku lebih mudah dan lebih cepat merosot di bawah cakar tajam monster singa itu. Sembari merosot, aku menebas kaki-kaki dari monster singa tersebut. Sampai akhirnya aku terhenti di bawah tubuhnya. Agar tak tertimpa tubuh singa yang sudah tak kuat berdiri, aku langsusng menggelindingkan tubuhku ke samping—menjauhinya. Namun, aku telah menggelindingkan tubuhku kearah yang salah.
Seekor monster singa telah menungguku dan siap menerkamku kapan saja. Karena jarakku dengannya yang cukup dekat, monster tersebut mulai melompat untuk menerkamku. “Gawat...!” Sebelum monster itu berhasil menerkamku, aku berhenti dan menancapkan pedangku kedalam tanah sebagai pegangan untuk membantuku berdiri. Tetapi sudah terlambat, jarak antara aku dengan terkaman monster singa tersebut sudah sangat dekat sehingga tak memungkinkanku menghindar.
Mbak Anna melemparkan pedang-pedang cahayanya kearah monster singa yang akan menerkamku, membuatnya terbawa oleh pedang tersebut dan berhasil dijauhkan dariku. Mbak Anna berlari kebelakangku seakan melindungiku.
“Jangan lengah! Dasar bodoh.” Bentak Mbak Anna
“Terima kasih. Tapi kenapa lagi-lagi kau melindungiku....? Bukankah kau membenciku?”
“Jangan salah paham dulu. Aku terpaksa melindungimu karena itu salah satu tanggung jawabku. Memangnya kau kira, siapa disini yang begitu ingin menghabisimu selain aku....?”
Aku tertawa geli “Benar juga.... Kalau begitu, mohon bantuannya ya, Kak Anna.” Aku menarik kembali pedangku yang tertancap dari dalam tanah. Air hujan yang terus turun membasahi pedangku—membersihkannya dari lumpur-lumpur yang tersisa akibat ditancapkan tadi. Aku menembakkan pistolku kearah monster-monster singa tersebut, namun nampak tak terlalu berdampak kepada mereka. “(Kalau begini....) Open the seal : Moonlight Shard.” Aku menyalurkan seluruh energi yang dihasilkan oleh moonlight shard kedalam pistolku. Membuat pistol tersebut menjadi bercahaya. Cahaya peraknya bersinar di cuaca yang mendung dan gelap ini. Aku mulai menembakkan pistolku yang sedang dilapisi oleh energi dari moonlight shard. Peluru yang dikeluarkan berbentuk seperti sebuah cahaya yang amat terang. Peluru cahaya tersebut kutembakkan kearah monster-monster singa. Peluru tersebut menembus tubuh mereka—menyisakan sebuah titik atau lubang di tubuh mereka. Menghabisi mereka hanya dengan satu peluru.
***
“Gawat.... mereka tak ada habisnya.....” Nafas kami terasa berat, mana kami tersisa sedikit, tubuh kami yang basah karena air hujan juga sudah mulai lelah. Peluru dari pistol yang kumiliki juga sudah habis. Namun, monster-monster singa ini terus menerus berdatangan. Mereka terus saja berdatangan bagaikan air hujan. Aku mendongkak kearah langit yang masih dipenuhi oleh awan hitam. Tak ada tanda sama sekali bahwa hujan akan reda.
Kami bersembunyi di antara rerumputan di lapangan dimana Mbak Anna terlempar tadi. Rumput yang cukup tinggi membuat kami mudah untuk bersembunyi dari monster-monster singa itu. Untungnya, hujan yang nampaknya takkan reda ini menghapus bau kami dari penciuman mereka “Dimo, apa kau masih sanggup...?”
“Tidak bisa dibilang begitu sih.... tapi dengan manaku yang tersisa, aku masih bisa bertarung.”
“Bertahanlah, aku sudah menghubungi anggota divisiku, mereka pasti akan tiba beberapa menit lagi.”
Oh iya, hari ini aku hanya menemui Mbak Anna. “Kenapa mereka tak bersamamu.....? Bukankah divisimu yang bertugas mengawasiku?”
Mbak Anna terdiam sesaat lalu sedikit membuang pandangan “Karena hujan, aku meminta mereka untuk mengambil hari libur.”
“Lalu kau bisa mengawasiku sendirian?”
“Tak sopan sekali, padahal kau sudah kuselamatkan.” Mbak Anna menjitak kepalaku.
“Sakit, kenapa kau ini....?!” Aku menekan bagian kepalaku yang barusaja dia jitak. Aku ingin membalas perbuatannya, namun aku sadar bahwa itu hanya akan memperburuk suasana hatinya. “Hei....”
“Apa...?”
“Mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya tapi, aku turut berduka.... mengenai tunanganmu.....” Mendengar itu, ekspresi yang ditunjukkan wajahnya langsung berubah menjadi tenang. Nampak ada kesedihan yang dipancarkan, namun nampaknya dia tak ingin menunjukkannya.
“Begitu..... Terima kasih.....” Mbak Anna menggeser beberapa rerumputan agar membuatnya dapat melihat sekitar. Nampak monster-monster singa masih mencari keberadaan kami. “Gawat...”
“Ada apa?” Aku ikut menggeser rerumputan untuk melihat alasan mengapa Mbak Anna terkejut. Aku berharap bahwa yang dia lihat bukanlah hal yang berbahaya dan dapat mengancam kami berdua. Namun, yang kulihat adalah situasi yang tak diharapkan yang bahkan lebih buruk dari dua kemungkinan tadi. Seorang anak perempuan melintas membawa boneka beruangnya. Dengan polosnya anak tersebut melintas tanpa mengetahui bahaya yang mengancamnya. Aku langsung menengok kesana kemari mencari orang tua dari anak tersebut namun aku tak bisa menemukannya. Tak lama kemudian, anak perempuan itu jatuh terpeleset. Akibat suara cipratan air yang tercipta akibat dirinya yang jatuh, monster-monster singa menyadari keberadaan anak tersebut. Mereka mulai melupakan kami dan mulai berlari menuju keanak tersebut.
“(Apa yang harus kulakukan....? Light boostku takkan bisa menggapai jarak yang cukup dekat untuk menyelamatkan anak itu.)” Mbak Anna berdiri lalu menyiapkan Light Sword dan hendak akan menembak monster-monster singa. Tapi akankah dia sempat melakukan itu? Apakah tak ada yang bisa aku lakukan? Apakah aku hanya bisa menunggu di sini tanpa melakukan sesuatu?
“Dimo, kau tunggu di sini—”
Melihat salah satu singa yang sudah siap mencakar anak itu, tubuhku tergerak dengan sendirinya. Berlari secepat mungkin, secepat yang kubisa “(Sial.... Aku terlalu lambat. Kalau begini terus, aku takkan sempat....)” Dengan kecepatan ini, aku takkan bisa mencapai dirinya. Apalagi rumput-rumput yang tinggi ini yang membuat lariku semakin lambat. Sial, andai sistem teleportasi tidaklah rusak.
“Open the seal : Light Boost.” Wajahku terdongkak seketika. Mendengar mantra yang dilafalkan oleh Mbak Anna, aku sontak menengok ke belakang. “Bersiaplah, Dimo!” Dengan kecepatan tinggi, Mbak Anna melesat menuju kearahku.
“Eh?!”
Apa maksudnya dengan bersiap? Dengan kecepatan yang tinggi, Mbak Anna mendorongku. Membuatku terlempar dengan kecepatan yang cukup untuk mengejar monster-monster singa tersebut. Aku langsung menarik pedangku keluar dari sarungnya dan menghadap lurus kedepan—kearah monster-monster singa yang sedang berlari mendekati anak perempuan itu. Merasa di dorong seperti ini benar-benar terasa aneh, angin berhembus dengan kencang, tetesan hujan mengenaiku seraya aku terlempar. Aku bahkan merasa agak mual karena ini.
Namun, situasi ini mirip dengan adegan-adegan yang ada di komik. Kira-kira, apa yang biasa tokoh utama dalam komik lakukan dalam kondisi seperti ini? Benar, berteriak sekeras mungkin.
“Kalian.... menjauh dari anak itu!!!” Mendengar suaraku, monster-monster singa itu langsung menghentikan larinya dan berbalik menghadangku. Termasuk monster yang hendak menyerang anak itu. “Open the seal : Super Moonlight Shard - Super Moonlight Sword.” Aku mengangkat pedangku setinggi yang kubisa lalu kutebas monster-monster tersebut saat aku melesat melewati mereka. Pedangku yang sudah dipertajam dengan super moonlight shard menebas mereka satu persatu tanpa terkecuali. Lalu kubalik pedangku, mengarahkan mata pedang kebawah dan kutancapkan pedang tersebut ketanah untuk menghentikan tubuhku yang masih terlempar.
Monster-monster singa yang sudah kutebas mulai bercahaya dan menghilang—berubah menjadi butiran-butiran cahaya kecil bersamaan dengan hujan yang mulai berhenti. Kutarik keluar pedangku, menyipratkan sisa lumpur yang menempel di pedang ke tanah, lalu menyarungkannya kembali. Langit mulai memancarkan cahayanya kembali. Awan-awan hitam yang selama akhir-akhir ini menaungi langit mulai menghilang dan cahaya mentari yang hangat kembali bersinar. Aku berbalik dan menghampiri anak perempuan yang terjatuh tadi. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya kembali berdiri. Walau malu-malu, anak perempuan yang masih polos tersebut menerima bantuanku dan kembali berdiri tanpa tahu bahaya yang baru saja mengancamnya. Dan itulah yang terbaik. “Apa kau baik-baik saja.” Dengan lugu, anak itu mengangguk-angguk bersamaan dengan senyum polosnya.
“Apa kalian baik-baik saja?” Tak lama, Mbak Anna berlari menghampiri kami.
Aku tersenyum lebar lalu mengacungkan jempolku “Ya, kami berdua ok.” Melihatku, anak perempuan itu menirukan tingkahku dengan polosnya.
Tak lama kemudian, anggota Divisi Mbak Annapun tiba. Setelah menjelaskan situasi, Mbak Anna memerintahkan mereka untuk mengantar anak perempuan itu kembali kerumah sementara dia akan mengantarku—mengawasiku sampai ke rumah.
***
Keesokan harinya, aku mengalami demam tinggi karena hujan deras kemarin. Berbeda dengan kemarin, cuaca saat itu sangat cerah dan mendukung untuk melaksanakan aktivitas. Andai saja tak ada penyerangan kemarin, mungkin aku takkan mengalami demam ini dan tetap bersekolah. Gejala ini mulai muncul saat tengah malam. Awalnya aku menganggap enteng demam ini dan kembali tidur, tetapi aku terbangun jam 3 pagi dan demamku semakin parah. Aku mengecek kotak obatku yang terdapat di atas kulkas, namun aku tak menemukkan adanya obat demam. “Gawat.....” Aku mengambil smartphoneku dari atas meja belajarku, lalu aku langsung menelpon Zaki untuk memintanya membeli obat demam.
“Halo, ada apa Dimo? Tumben sekali kau menelfon pagi buta begini.”
“Ah, halo Zaki.... maaf, apa kau bisa belikan aku obat demam.....?” Tanyaku dengan nada suara yang bergetar karena kedinginan. Aku berjalan menghampiri kasurku lalu menarik selimut dan kututup seluruh tubuhku.
“Lho Dimo, kenapa kau?”
Aku terdiam sejenak lalu kubuka selimut untuk memeriksa jam dinding. Kututup kembali selimutku lalu kudekatkan smartphoneku ke telingaku “Jadi, bisa tidak?”
“Oke, kau sakit demam. Baiklah, tunggu saja, aku akan segera belikan.” Zaki menutup telepon tak lama setelah dia membalas.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara ketukan dari pintu containerku. Dengan tubuh yang tertutup selimut yang tebal nan hangat, aku berjalan menghampiri pintu. Karena merasa tak ada tanggapan sama sekali dari dalam rumah, ketukan di pintu semakin kencang dan semakin cepat. Mendengar ketukan itu membuat kepalaku semakin menjadi sakit. Ya ampun, sekarang masihlah pukul 3 pagi dan dia sudah membuatku kesal. “Ya, ya, sabar.” Aku mengambil kunci dari dalam sakuku lalu membuka pintu yang masih terkunci. Ketukan itu terhenti setelah mendengar suara crek yang berasal dari pintu yang kuncinya telah dibuka. Aku kantungi kembali kunci itu lalu kubuka pintu. Zaki terdiam sesaat setelah melihat kondisiku. Kulitku pucat, tubuhku lemas dan menggigil kedinginan, serta aku yang menggunakkan selimut seperti kura-kura menggunakkan tempurungnya. Zaki menguap karena masih merasa mengantuk, dia menutup mulutnya yang masih menguap dengan tangannya lalu dia mengusap wajahnya. Rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur, matanya juga masih nampak merah karena kantuk. Bahkan pakaiannya masih rangkap dengan pakaian tidurnya.
“Ah, maaf. Ini obat demamnya.” Zaki mengangkat tangan kanannya yang membawa sebuah kantung plastik yang berisikan obat demam yang kuminta. Aku menerimanya dan sempat memeriksa isinya.
Aku merogoh kantung belakang celanaku dan mengambil dompetku “Ini semuanya berapa? Biar kuganti.” Zaki dengan santainya tersenyum dan menggaruk-garuk rambutnya.
“Tidak, tidak perlu Dimo.”
“Apa kau yakin?”
“Ya, tenang saja.” Zaki mengangkat jempolnya lalu berbalik. “Sampai jumpa.” Dia mulai berjalan pergi meninggalkan rumahku.
Aku memang merasa tak enakan, tapi mau bagaimana lagi? Aku kantungi kembali dompetku dan baru saja menyadari hal penting yang sudah kulupakan “Zaki, tunggu dulu.” Mendengar panggilanku, Zaki berhenti berjalan dan berbalik lalu kembali menghampiriku. Aku mengambil sebuah surat izin dari meja belajarku yang sebelumnya sempat kutulis lalu kuserahkan kepada Zaki “Ini, surat izin tak masuk sekolahku. Aku masih butuh tanda tangan dari Paman Tedi sebagai waliku.” Zaki menerimanya lalu tersenyum.
“Oke, tenang saja, aku pasti akan menemuinya sesaat sebelum berangkat ke sekolah”
“Aku mengandalkanmu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi.”
“Ya, sampai jumpa lagi.” Zaki kembali berbalik sambil melambaikan tangannya dan kembali berjalan pulang. Aku membalas lambaiannya dengan melambai balik lalu menutup pintu dan menguncinya kembali.
Setelah meminta tanda tangan dari Paman Tedi, Zaki sampai disekolah. Zaki menggantung tasnya di samping mejanya. Lalu dia buka rel sleting dari tasnya dan hendak mengambil surat izin milikku.
Tetapi, tiba-tiba ada tangan yang menangkap tangan kananya yang hendak akan mengambil surat izin itu seakan-akan melarangnya untuk melanjutkan lebih jauh lagi. Perlahan Zaki melihat ke atas—melihat wajah dari orang yang menghentikannya itu “Di-Dimo?! Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau demam?” Dimo tersenyum lalu melepaskan genggaman tangannya dari Zaki. Dia kembali berjalan menuju ke mejanya lalu menggantung tasnya di samping mejanya. Lalu dia memutar balik kursinya menghadap kearah Zaki dan duduk.
“Tenang saja, aku sudah sembuh, kok.”
Sindy terus memperhatikan mereka dari mejanya sejak Dimo memasuki kelas. Dia merasa ada suatu hal yang berbeda dari Dimo kali ini. Mungkin banyak yang tak terlalu memperdulikannya, namun Sindy sadar kalau seragam, tas dan segala sesuatu yang berasal dari Dimo nampak baru.
Diam-diam, Sindy terus memperhatikan gerak-gerik Dimo. Tetapi sejauh ini, belum ada hal yang mencurigakan yang nampak dari Dimo. Zaki mulai membuka bekal miliknya, begitu pula dengan Leila. Sementara Sindy yang sejak awal jam istirahat terus terdiam memperhatikan Dimo. Roti yang dia beli dari kantin sekolah juga terus dia genggam “(Ini aneh.... apa hanya perasaanku saja? Zaki dan Leila sepertinya tak merasakan hal yang aneh dari Dimo.)”
“Sindy, ada apa?” Pertanyaan yang diajukan oleh Leila membangunkan Sindy dari lamunannya. Sindy menengok kearah Zaki, dan Leila yang nampak terdiam melihat kearahnya. Diapun tersadar bahwa tanpa dia sadari, dia telah meremas roti yang sejak tadi digenggamnya. Dia kembali menengok kearah Dimo yang ada di hadapannya. Reaksi yang dimunculkannya sama dengan Zaki dan Leila, dia berhenti memakan rotinya dan memperhatikan Sindy dengan ekspresi penuh tanya.
“(Ada yang aneh...)”
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Sindy melihat Dimo yang keluar kelas sendiri seakan menghindar untuk pulang bersama Zaki dan Leila. Dia melirik ke Zaki dan Leila yang nampak tak menyadari Dimo yang baru saja keluar kelas. Sindy berkemas dan memakai tasnya, lalu pergi membuntuti Dimo. Sesekali, Dimo menengok kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya, disaat itu Sindy langsung bersembunyi di balik tembok atau masuk kedalam kelas lainnya yang sudah kosong. Sindy terus mengikuti Dimo sampai akhirnya dia memasuki sebuah ruangan “Perpustakaan...?” Sindy melihat label yang tertera di plakat yang ada di atas pintu ruangan yang dimasuki Dimo. “(Kenapa dia ke sini....?)”  Sindy melepas sepatunya lalu mengikat rambutnya. Dia taruh tasnya lalu mengambil kacamata komputer miliknya dari dalam tas. Setelah memakai kacamata, Sindy kembali memakai tas lalu mengikuti Dimo memasuki perpustakaan.
Dia melihat Dimo yang terduduk meminum sebuah minuman kaleng yang dibelinya sesaat sebelum memasuki perpustakaan. Dimo nampak sedang membaca sebuah buku. Sebuah buku yang nampak sudah agak tua dilihat dari warna kertasnya yang sudah agak kekuningan. Sindy mengambil sebuah buku dan duduk di meja yang letaknya tak jauh dari Dimo sembari berharap bahwa penyamarannya tidak ketahuan. Sembari berpura-pura membaca, Sindy memperhatikan Dimo dengan tajam. Matanya melihat dengan detil setiap gerak-gerik yang dikeluarkan Dimo.
Merasa tak cukup, Sindy mengambil smartphonenya lalu membuka kamera. Dia mengsenyapkan smartphonenya sehingga tak menimbulkan suara saat dia memotret Dimo. Pertama dia memotret buku yang dibaca Dimo, lalu memotret wajah Dimo dan yang terakhir memotret keduanya. Setelah memeriksa hasil potretan, Sindy kembali mengalihkan pandangannya kearah Dimo, tetapi, tanpa dia duga Dimo sudah pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Anehnya, dia meninggalkan buku yang dibacanya begitu saja. Sindypun menutup bukunya dan menaruhnya kembali ke dalam rak. Dia hampiri meja sebelumnya diduduki Dimo dan melihat sampul buku yang dibacanya “Teori Dunia Paralel.... Apa ini....? Kenapa dia membaca ini?” Sindy duduk dan membuka buku tersebut. Sindy bertanya-tanya mengapa Dimo membaca buku yang nampak tebal dan agak tua ini. Dia melihat daftar isi dan menyadari suatu hal yang ganjal. Ada beberapa huruf yang dilingkari dengan pensil “(Mungkin dia melingkarinya saat aku sedang memeriksa hasil foto tadi.)” Sindy mengambil buku catatan dan pulpen lalu dia tulis dan urutkan setiap huruf yang sudah dilingkari dibuku tersebut.
“GRZNAZH NQN CNQNXH.... apa maksudnya?” Sindy menutup buku yang itu lalu memperhatikan setiap huruf yang dia dapat dibuku catatannya ini. Disaat dia sedang berpikir dan sedikit bermain-main dengan pulpennya, Sindy tak sengaja melihat Mbak Anna yang hendak akan keluar dari perpustakaan “Dia....” Sindy mendapat ide untuk memberitahu ini kepada Mbak Anna, orang yang sedang bertugas untuk menjaga dan mengawasi Dimo. Disaat Mbak Anna akan keluar, dia memanggil Mbak Anna dan meminta bantuannya secara blak-blakkan.
“Jadi begitu....” Mbak Anna menarik mundur kursi lalu duduk. Dia tarik buku yang dibaca Dimo dan melihat daftar isi yang diberitahu oleh Sindy.
“Apa Kak Anna tahu, apa maksud dari huruf-huruf ini?” Sindy mendorong buku catatannya mendekati Mbak Anna yang sedang sibuk menelaah buku tentang teori dunia paralel tersebut. Tak lama kemudian, Mbak Anna menutup buku tersebut dan melirik buku catatan milik Sindy.
Setelah beberapa menit menatap buku tersebut, Mbak Anna mengambil handphonenya lalu memotret huruf-huruf tersebut “Maaf, aku tak tahu. Tapi aku akan mencari tahu lebih lanjut.” Setelah memotret, Mbak Anna berdiri dan merapihkan kembali kursi yang dipakainya.
Sindy menarik kembali bukunya dan menutupnya “Begitu ya....”
Mbak Anna tersenyum lalu memegang pundak Sindy “Tenang saja, aku akan beritahu kau jika sudah mengerti maksud dari tulisan tersebut.” Mbak Anna lalu merapihkan pakaiannya, menaruh sebuah secarik kertas berisikan nomor hanphonenya. “Lagipula, jika yang kau katakan benar—jika ada yang aneh dengan Dimo, aku takkan berdiam diri begitu saja.” Tegas Mbak Anna sambil menatap lurus kearah pintu keluar. “Jadi begitulah, sampai jumpa lagi.” Dia tersenyum kecil lalu berjalan keluar sembari melambaikan tangan. Sindy membalasnya dengan tersenyum dan melambaikan tangan juga.
Keesokan harinya, Akupun sembuh. Setelah sampai ke sekolah aku langsung berjalan ke kelas untuk menanyakan tugas-tugas kepada Zaki, namun aku sama sekali tidak menemukannya. Padahal, dia biasa tiba terlebih dahulu ke sekolah dibandingkan aku.
Aku berjalan ke mejaku dan menggantung tasku. Sembari menunggu Zaki tiba, aku mengeluarkan buku catatan dan sebuah pensil dari dalam tasku. Namun, disaat aku melihat mejaku, terdapat sebuah coret-coretan yang sebelumnya tidak ada. Sebuah coret-coretan yang tidak biasa. Sebuah tulisan. “Pecahkan teka-tekiku, atau kau takkan bertemu lagi dengannya. (Apa maksudnya...?)” Aku menganggap tulisan itu hanyalah tulisan iseng dan segera menghapusnya.
“Hei, Dimo. Hari ini seragam dan tasmu tak baru ya.” Zaki menepuk pundakku lalu menaruh tasnya di atas meja. Tunggu dulu, ada yang aneh dari perkataannya barusan. Apa dia mengejekku?
“Kau ini, yang aneh-aneh saja. Oh ya, Zaki, boleh aku pinjam catatanmu?”
“Oke.” Zaki membuka rel sleting tasnya dan mengambil buku catatan miliknya. “Ngomong-ngomong, kemana saja kau kemarin? Aku mencarimu saat pulang sekolah.”
“Apa katamu?!” Aku tertegun, aku bahkan tak bisa percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Perkataannya semakin aneh saja, sebelumnya mengenai seragam dan tas baru, sekarang perihal ini. Ada apa ini?
Tanpa kusadari, tubuhku langsung berdiri dengan cepat dan mendorong kursiku hingga terjatuh. Seketika, seluruh kelas terdiam, semuanya menatap kearahku karena apa yang sudah kulakukan. Bahkan Zaki yang letaknya paling dekat denganku tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Gawat, aku terlalu menarik perhatian. Dengan tenang, aku langsung memperbaiki kursiku lalu menarik Zaki keluar dari dalam kelas.
“Tunggu dulu Dimo, kau ini kenapa?” Zaki menarik tangan kanannya— melepaskan cengkramanku dari tangannya.
“Baiklah Zaki, jelaskan secara rinci aktivitasku kemarin!” Aku merapihkan pakaianku lalu duduk dis ebuah kursi yang terdapat di depan kelas. Zaki yang masih bingung dengan maksudku, langsung duduk di sebelahku dengan polosnya.
“Apa maksudmu....?”
“Aku—tidak, orang yang mirip aku, yang kau temui kemarin bukanlah ak—”
“Bukanlah Dimo.” Sindy datang memotong kata-kataku.
Dia keluar dari kelas sambil membawa sebuah buku catatan lalu duduk di sebelahku. “Bagaimana kau tahu?” Aku dan Zaki menengok kearahnya.
“Sejak awal, aku memang sudah curiga kepadanya, jadi aku mengawasi dia sampai akhirnya aku mendapatkan ini.” Sindy membuka buku catatannya, lalu dia menunjuk beberapa huruf yang tertulis dengan tinta hitam dari pulpennya.
Zaki meminjam buku tersebut lalu memperhatikan setiap kata yang ada “GRZNAZH NQN CNQNXH.... Apa ini...?”  
Melihat tulisan yang terdapat dibuku catatan itu membuatku teringat dengan tulisan yang terdapat di mejaku “(Teka-teki.... Jangan-jangan....) Sindy, bisa pinjam pulpenmu?” Aku mengulurkan tanganku sementara Sindy menarik pulpennya yang tergantung di saku kemejanya. Setelah menerima pulpen itu, aku langsung menerjemahkan setiap huruf yang ada. Kalau dugaanku ini benar, maka huruf-huruf ini adalah Rot13. Jangan tanya mengapa aku bisa mengetahui ini, oke? Aku hanya kebetulan menemukannya di internet dan kupikir ini cukup menarik.
Jadi ininya, ini adalah sebuah algoritma enkripsi sederhana sandi abjad-tunggal dengan pergerseran huruf A diganti dengan N, huruf B dengan O dan seterusnya. Dan jika ini benar, maka huruf G yang ada di sini adalah T.
“Selesai.” Aku menutup pulpen milik Sindy lalu menyerahkannya kembali.
“Ini.....”
Temanmu ada padaku.
Itulah, kata-kata yang kudapat dari susunan huruf tersebut. Tapi, apa maksudnya?
“(Temanku? Tapi siapa?)” Aku menyerahkan kembali buku catatan milik Sindy lalu mengambil smartphoneku dari dalam kantung celanaku untuk memeriksa jam. “Jam 7:03” Aku kembali berdiri lalu menengok kedalam kelas melalui jendela. “(Hampir semuanya sudah hadir, Zaki dan Sindy juga ada bersamaku..... Tunggu dulu.....)” Aku langsung berlari meninggalkan Zaki dan Sindy.
“Dimo, tunggu!” Zaki dan Sindy langsung ikut berlari mengejarku. Aku terus berlari keluar dari sekolah dan tiba di depan rumah Leila. Dengan nafas yang masih terasa berat, aku bersandar di pagar beton depan rumah Leila. Tak lama kemudian, Zaki dan Sindy tiba. Dengan napasnya yang masih terasa berat, Zaki langsung memegang pundakku dengan erat lalu mendorongku ke pagar beton “Dimo, jelaskan dulu kepada kami!”
Setelah mengatur pernapasan, Sindy menyadari bahwa mereka tepat berada di depan rumah Leila, dia menghampiriku dan memegang tangan Zaki yang mencengkram pundakku. “Zaki, tenanglah. Dimo pasti punya alasan yang kuat mengenai semua ini.”
Zaki melemaskan cengkramannya lalu melepaskan pundakku. Tanpa memperdulikan pernapasanku yang masih terasa berat, aku langsung menjelaskan kepada mereka.
“Jadi begitu, dengan ancaman itu, kau merasa bahwa Leilalah targetnya.”
“Ya, sekarang sudah pukul 7 lebih dan Leila belum tiba di sekolah. Sudah lagi catatan itu menyatakan bahwa dia memiliki temanku—teman kita.” Aku memeriksa jam di smartphoneku lalu menengok kearah rumah Leila. “Kurasa aku harus memeriksa apakah Leila ada di rumah atau tidak.” Aku mengantungi kembali smartphoneku dan berjalan menuju pintu gerbang rumah Leila.
Tiba-tiba, Sindy berjalan melewatiku dan menghentikanku “Biar aku saja. Kau telepon saja Kak Anna dan beri tahu dia situasi saat ini.”  Sindy menyerahkan smartphonenya yang sedang menelpon Mbak Anna, setelah itu dia mulai memasuki gerbang untuk menanyakan kondisi Leila kepada ibunya. Setelah kudekatkan smartphone itu ketelingaku, Mbak Annapun menjawab panggilan dari Sindy.
Setelah menjelaskan situasi, aku meminta bantuan kepada Mbak Anna dan divisinya untuk mencari Leila dan memberitahu situasi kepada Kak Indra, Mbak Dinda dan Pak Bum. “Ibunya bilang bahwa dia sudah pergi berangkat ke sekolah dengan Dimo tadi pagi.” Sindy menutup kembali pintu gerbang lalu menghampiri kami.
“Bagaimana ini, Dimo?” Zaki menggaruk-garuk rambutnya seakan bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
“Aku sudah memberitahu situasi kepada Mbak Anna, dia dan divisinya akan mencari Leila ke seluruh kota. Tentu saja, kita juga tidak tinggal diam.” Aku tersenyum lalu memberikan kembali smartphone milik Sindy. Setelah itu, kamipun berpencar dan mencari ke seluruh kota.
Setelah mencari selama berjam-jam, aku dan yang lainnya masih belum bisa menemukan Leila. Walau banyak anggota ERASER yang sudah dikerahkan, rasanya masih kurang cukup untuk mencarinya. Wajar saja, ini adalah kota yang besar dengan penduduk yang padat. Mencari Leila saat ini sama saja seperti menari jarum di tumpukan jerami, aku butuh magnet untuk mendapatkan jarum itu.
Aku menelpon Zaki, Sindy dan yang lainnya untuk menanyakan situasi, tetapi hasilnya nihil. Mereka juga masih belum bisa menemukan keberadaan Leila. “Sial, kenapa dia menculik Leila? Sebenarnya, apa maunya?” Omelku geram. Aku tersadar, bahwa untuk melawan orang sepertinya, aku membutuhkan alat login device untuk log in kedalam Start Point. Setelah kuperiksa seluruh kantung celanaku, aku sama sekali tidak bisa menemukan alat untuk log in itu. Aku memeriksa kantung di kemejaku, namun tak ada juga. Aku teringat bahwa aku lupa untuk membawanya karena terburu-buru ke sekolah untuk mencatat pelajaran yang sudah kulewati dan mengerjakan PR yang ada.
***
Setelah sampai di rumah, aku terkejut bahwa pintu rumahku yang seharusnya sudah terkunci malah tidak terkunci. Aku menelan ludahku dan menyeka keringatku lalu perlahan memasuki rumahku. Walau begitu, tak ada banyak perubahan yang terjadi di dalam rumahku. Lampu masih mati, sprei dan selimutku juga masih tertata rapi. Tak lama, aku mendengar sebuah suara getaran dan suara lantunan musik. Setelah kunyalakan lampu, aku melihat sumber dari suara tersebut. Suara itu berasal dari sebuah telepon genggam yang tergeletak di atas meja belajarku. Handphone tersebut tergeletak begitu saja bersebelahan dengan alat login device untuk log in. Seakan dia tahu bahwa aku akan kembali untuk mengambil alat itu. Aku mengambil handphone itu lalu kudekatkan ketelingaku. Dengan keringat yang terus bercucuran, aku memberanikan diriku untuk menekan tombol untuk menjawab panggilan.
“Akhirnya, kau menjawabku juga.” Suara yang sama dengan suaraku langsung muncul tak lama setelah aku menjawab panggilan itu. Aku langsung menarik kursi belajarku dan duduk.
“Apa maumu dan siapa kau sebenarnya? Dan dimana kau menyembunyikan Leila?”
“Kukira aku akan mendapat sambutan hangat darimu, tetapi yang kudapatkan hanyalah pertanyaan yang menyusahkan.”
“Jawab pertanyaanku!” Bentakku.
“Baik, baik. Pertama, kau harus ingat ini. Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Kedua, mauku? Maaf sekali, tetapi aku tak bisa menjawab itu. Ketiga, temui aku diatas gedung Bum Corp.”
Aku langsung mengambil alat login device untuk log in dan mengantungi handphone tersebut lalu langsung berlari menuju ke Bum Corp. Sembari berlari, aku langsung menghubungi semuanya untuk memberitahu lokasi dalang dari semua ini dan Leila.
“Dimana..... ini?”
Leila terbangun, dia melihat tas miliknya dan tas milik Dimo yang tergeletak di sudut lantai “(Apa yang sebenarnya terjadi?)” Angin berhembus dengan kencang mengibarkan rambutnya, suara dari angin yang bergesekan dapat didengarnya dengan jelas, cahaya matahari yang terik seakan membakar kulit, langit biru yang luas membentang seakan tak ada batasnya. Leila menyadari bahwa kedua tangannya sudah terikat kepada tiang di belakangnya.
Dia menengok kesana kemari, mencari cara untuk membuka ikatan kencang yang mengikat kedua tangannya. Tak sengaja, dia melihat Dimo yang sedang berada di pinggir—berpegangan kepada pagar sembari menatap ke bawah “Oh, kau sudah bangun? Tenang saja, kita ada di Bum Corp.” Dia menatap kearah langit lalu berbalik sembari mengscan jarinya. Setelah ter-log in, Dimo berjalan secara perlahan menghampiri Leila. Dia sedikit menyeringai lalu menarik napas dalam-dalam “Disini sangat tenang ya.” Setelah menghampiri Leila, diapun duduk di sebelahnya.
“Dimo— tidak, siapa kau sebenarnya?”
“Tenang saja, aku adalah Dimo, tetapi bukan Dimo yang kalian kenal.”
“Apa maksudmu dan apa maumu?”
“Tenang saja.” Dia kembali berdiri lalu berjalan menuju ke pagar, dia membuka inventori miliknya dan mengambil sebuah telur berukuran bola sepak “Nanti, kau juga akan tahu.” Telur tersebut dia jatuhkan, lalu setelah pecah, asap langsung keluar dari dalamnya. Asap tersebut semakin membesar dan semakin membesar sampai-sampai menutupi seluruh area di sekitar Bum Corp.
Karena kejadian itu, lalu lintaspun menjadi padat. Kemacetan terjadi dimana-mana karena adanya kecelakaan yang diakibatkan oleh asap tersebut. Dan akibat kemacetan ini juga, angkutan kota yang sedang kutumpangi tak bisa bergerak lebih jauh lagi. Setelah keluar dan membayar ongkos, aku langsung berlari menuju Bum Corp. untungnya, tempat dimana aku turun dan gedung Bum Corp. tidak terlalu jauh “(Sebenarnya, berasal dari mana asap itu?)”
Diperjalanan, aku bertemu dengan Sindy dan Zaki. Sindy baru saja mendapat informasi dari Mbak Anna bahwa tiba-tiba telah muncul sebuah monster tak dikenali di halaman depan gedung Bum Corp. Tak lama kemudian, kami tiba. Asap yang menyelimuti tempat itu berangsur-angsur mulai memudar dan menghilang. Betapa terkejutnya aku melihat wujud dari monster tersebut.
Monster tersebut nampak seperti monster singa yang menyerangku dan Mbak Anna kemarin, namun kali ini ukurannya berkali-kali lebih besar dan lebih kuat. Bahkan anggota-anggota ERASER yang sudah tiba ditempat tersebut tak sanggup untuk melawannya. Aku tersadar, bahwa semua ini sudah direncanakannya. Begitu pula dengan serangan monster dua hari yang lalu. Monster tersebut terus mengamuk dan memporak-porandakan Bum Corp. serta semua yang ada disekitarnya. Untungnya, para pegawai di Bum Corp. sudah di evakuasi. Melihat itu, Zaki dan Sindy langsung log in kedalam Start Point dan segera membantu anggota ERASER yang ada. Tiba-tiba, telepon genggam yang kukantungi mulai bergetar. Aku langsung mengambilnya dan mengangkat telepon tersebut.
“Keparat........ Siapa kau sebenarnya?”
“Kalau kau ingin tahu, tunggu apa lagi? Kemarilah, lawan aku!” Dia langsung memutus telepon. Dengan rasa kesal yang tak tertahankan, aku langsung berlari memasuki Bum Corp. namun, aku tak bisa menggunakan lift dikarenakan sistemnya yang rusak. Akibatnya, aku harus memutar balik dan pergi melalui tangga darurat.
“Sial, kalau terus begini.... bisa-bisa aku kehabisan tenaga sebelum menyelamatkan Leila.” Aku mengatur napasku yang terasa berat. Sembari berpegangan ke pagar tangga, aku menengok ke atas—melihat jumlah lantai yang masih harus aku lewati.
Tiba-tiba, ada seseorang yang menjitak kepalaku dari belakang “Jika semangatmu hanya bisa sampai disini saja, sebaiknya kau tak perlu melakukan apapun dari awal.”
Sembari menengok kebelakang, aku menekan kepalaku yang baru saja terkena jitakan “Mbak Anna, toh.” Aku menghela nafasku lalu berdiri tegak.
“Bukan hanya kau saja yang memiliki urusan disini.” Mbak Anna memegang pundakku lalu berjalan melewatiku. Dia berjalan menaiki anak-anak tangga tanpa adanya rasa ragu sedikitpun. Aku tersenyum lalu kutelan ludahku dan menatap lurus ke anak-anak tangga yang akan kulalui. Aku mulai kembali berjalan menaiki anak-anak tangga menyusul Mbak Anna.
Setelah melewati beberapa lantai, tiba-tiba kami diserang oleh sekumpulan monster singa yang muncul dari koridor lain yang terhubung dengan tangga dimana kami berada. Sama seperti kemarin, monster-monster tersebut tak mudah untuk dikalahkan dan terus-menerus bermunculan. “Sial, lagi-lagi monster singa ini.” Sambil melafalkan kemampuan Moonlight Shard, aku menghunuskan pedangku lalu menebas beberapa monster bersamaan. Tetapi, beberapa monster singa menerkam kearahku.
“Open the seal : Light Sword.” Mbak Anna melemparkan pedang-pedang cahaya kearah monster-monster yang hendak menerkamku. Pedang-pedang tersebut berhasil menikam monster-monster itu dan membunuhnya.
“Te-terima kasih.” Aku melompat menghampiri Mbak Anna.
“Berterima kasihlah nanti. Sekarang, kita harus mencari cara untuk menghentikan monster-monster ini bermunculan seperti kemarin.” Akibat sempitnya koridor di tangga, aku dan Mbak Anna berlari ke sebuah ruangan yang lebih luas dan lebih memudahkan untuk bertarung.
“Gawat, kalau begini terus....” Aku menutup pintu dan mendorong sebuah lemari yang berada di sebelah ke depan pintu. Walau tak terlalu membantu, namun ini cukup untuk mengulur waktu.
“Dimo, bersiaplah, aku akan melemparmu dengan menggunakkan Light Boost milikku.” Mbak Anna menghampiri sebuah jendela dan menengok kebawah dan keatas—memeriksa jarak antara lantai yang paling atas dan yang paling bawah dengan lantai dimana kami berada. Setelah yakin, dia menggunakkan skill Light Swordnya dan menghancurkan jendela tersebut. Angin kencang langsung menerpa dari luar, seakan menarik kami untuk keluar dari gedung. “Ayo, kemarilah.” Mbak Anna bersiap dengan mengikat dirinya dengan sebuah pilar di ruangan tersebut menggunakkan sebuah tali yang cukup panjang dan berjalan ke jendela yang sudah dihancurkannya untuk melompat keluar dan melafalkan Light Boost miliknya, namun aku tak bergerak sedikitpun dari tempatku berada.
“Tidak, kita tidak bisa menjamin kau akan selamat setelah kau mendorongku keatas.” Aku menyimpan kembali pedangku kedalam inventoriku dan bersiap di hadapan lemari yang menghalang pintu.
“Apa yang kau lakukan? Kita tak punya pilihan lain, bukan?” Tak lama kemudian, pintu yang terhalang oleh lemari itu mulai terdobrak. Nampaknya monster-monster singa tersebut sudah mulai mencoba mendobrak memasuki ruagan dimana kami berada. Aku mendorong lemari tersebut agar tidak terjatuh dengan seluruh tubuh dan tenagaku.
“Dimo, cepatlah!” Karena bingung, aku terus menerus menengok kearah pintu dan Mbak Anna secara bergantian.
“Persetaaaaan!!”
Aku langsung melepaskan diriku dari lemari yang kudorong dan berlari kearah jendela yang sudah dihancurkannya lalu melompat keluar. Mbak Anna langsung tersenyum dan ikut melompat keluar. “Raih tanganku!” Dia mengulurkan tangannya kearahku yang tepat berada di bawahnya. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
“Oke, Open the Seal : Light Boost.”
Seketika, tangannya yang sedang berpegangan dengan tanganku mulai bercahaya. Cengkramannya semakin menguat bagaikan cakar elang yang mencengkram mangsanya. Dia menarikku dan melemparku ke atas dengan kecepatan yang luar biasa.
***
“Dimo, tolong hentikan semua ini!” Dengan tangannya yang masih terikat, Leila mengdongkak menghadap kearah Dimo yang hendak berjalan kearahnya.
“Tenang saja, semuanya akan berakhir sebentar lagi.”
Dimo memegang pundak Leila lalu tersenyum. Dia menengok kesana kemari, seakan sedang memastikan sesuatu lalu kembali menatap dalam Leila. Dia mendekatkan wajahnya kesamping Leila lalu berbisik “Leila, dengar ini.... aku akan memberitahumu semuanya....” Leila memejamkan matanya, seakan tak mau mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulutnya, ingin dia tutup telingannya, namun tangannya yang terikat tak mengizinkan itu. Tapi, perlahan matanya terbuka kembali karena semua yang dikatakannya. Dimo kembali menjauhkan kepalanya lalu tersenyum kaku. Dia dekatkan jari telunjuknya ke depan bibirnya lalu mengubah senyum kakunya menjadi sebuah senyum yang hangat “Tolong.... rahasiakan ini ya.” Suaranya yang sebelumnya terkesan kasar dan berat langsung berubah menjadi suara yang halus dan lembut. Setelah itu, Dimo kembali berjalan pergi.
“Kenapa.... kau menceritakan ini kepadaku?” Mendengar pertanyaan Leila, Dimo langsung terhenti dan berbalik.
“Entahlah..... mungkin, karena aku suka padamu.” Angin kembali berhembus kencang, meniup rambut Leila dan rok abu-abunya, di langit yang cerah dengan sedikit awan ini, Leila tak dapat mempercayai apa yang sudah didengarnya.
~Bersambung~

No comments:

Post a Comment