Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Monday, May 28, 2018

Start Point - Chapter 4 : Memory

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773
Untuk pembuka, kurasa aku akan memperkenalkan diri
Keesokan harinya. Entah kenapa, mimpi-mimpi yang menghantuiku itu tak pernah kembali lagi. Namun, dengan menghilangnya suatu masalah pasti akan muncul masalah lainnya karena manusia takkan jauh dari suatu peristiwa yang disebut masalah. Seperti sebuah jerawat yang muncul diwajah para anak remaja, masalah akan selalu muncul bagaimanapun situasinya.
Sejak aku melihat ukiran di pohon itu, aku sering merasakan sakit kepala. Semakin kucoba untuk mengingat ukiran itu, semakin sakit kepalaku. Seakan-akan ingatanku sendiri mencegahku untuk mengingatnya. Semua ini berawal dari tadi malam. Sepulang setelah ditraktir Leila, aku tak langsung kerumah dan memutuskan untuk bersantai ditaman. Menikmati udara malam yang sejuk nan dingin. Duduk disebuah kursi kayu sederhana dibawah naungan pohon. Melihat orang-orang berlalu-lalang. Lampu-lampu taman berwarna kuning menerangi setiap jalan hingga kesisi tergelap sekalipun. Rerumputan dan jalan setapaknya yang sudah diconblok.
Tiba-tiba kepalaku mulai sakit. Seketika, seakan-akan ada sesuatu muncul dipikiranku. Nampak seperti sebuah ingatan, namun sebuah ingatan yang sudah tenggelam didalam lautan memori. Aku melihat seorang perempuan—seorang anak perempuan berambut putih sedang duduk disebuah ayunan. Sebuah ayunan ban yang menggantung disebuah pohon.

Aku duduk santai di kursiku mendengarkan musik. Terus mencoba untuk mengingat setiap detil dari ingatan kemarin. Aku terus dan terus tertelan dalam pikiranku sendiri sampai-sampai tak ada yang bisa kudengar. Didalam larutnya lamunanku, Zaki menarik earphone yang sedang kupakai lalu berteriak memanggil namaku tepat didepan telingaku. Karena reflek, aku langsung menutup telingaku lalu menarik kembali earphoneku “Zaki, apa-apaan kau ini?”
“Apanya yang apa? Kau saja yang dari tadi tak mendengar panggilanku.” Zaki merogoh sakunya lalu memberikanku sebuah amplop tebal berwarna coklat yang tertutup rapat dan nampak sangat rapih. “Ini, ambillah!” Zaki mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam amplop tebal berwarna coklat nan rapih.
“Apa ini?” Aku membuka amplop yang sudah tersegel itu dengan menyobek pembukannya yang sudah menempel dengan tubuh amplop. Tanpa kuduga, aku menarik kumpulan kertas dari dalam amplop itu yang ternyata adalah uang berwarna merah.
“Itu adalah salah satu hadiah juara ke-3 dari turnamen kemarin.” Aku memasukkan kembali uang itu kedalam amplop lalu menaruhnya di meja “Lho, Dimo?”
“Dengar, sebagai teman lamamu, aku memang membantumu. Tapi aku tak pernah memintamu untuk membayarku, bukan?”
“Tapi akulah yang telah mengajakmu.... ini membuatku merasa tak enakan kepadamu. Kau tahu, rasanya sama seperti saat kau memakan sereal disebuah mangkuk tapi tanpa diberi susu.”
Leila memasuki kelas dan melihat kami berdua. Dia sedikit kebingungan melihat kondisi Zaki yang nampak murung dengan tatapan kosongnya terhadap amplop yang ada dimejaku. Tetapi, suasana konyol itu tak bertahan lama. Setelah melihat tawa Leila, aku teringat kembali dengan ukiran di pohon itu. Akibatnya, kepalaku mulai sakit, penglihatanku mulai memudar, dan telingaku tak sanggup menangkap suara. Tak lama kemudian penglihatanku yang mulanya hanya memudar mulai berubah menjadi berwarnah hitam gelap tanpa cahaya sedikitpun.
Cewek berambut putih itu kembali lagi, terduduk santai di ayunan yang sama dan pohon yang sama. Didepannya terdapat sebuah pemandangan kota yang sangat indah. Cewek berambut putih yang awalnya hanya terdiam diayunan menengok kepadaku lalu tersenyum manis.
Aku terbangun. Melihat sebuah plafon berwarna putih yang berbentuk kotak-kotak. Kipas angin yang menyala di sudut ruangan membuat sejuk seluruh ruangan tanpa terkecuali. Aku terbaring disebuah ranjang putih dengan selimut menyelimuti setengah bagian tubuhku. Disebelah kanan dan kiriku terdapat gorden-gorden pembatas yang tertutup rapat “UKS....” Aku mendengar percakapan antara Zaki dan Leila. Percakapan mereka seketika terhenti setelah melihatku yang sudah siuman. Zaki mulai mengeluarkan ekspresi leganya lalu duduk disebuah kursi yang ada di sebelah ranjang dimana aku berada. Sementara itu Leila yang lagi-lagi pipinya memerah, dia terus melirik kesana kemari seakan-akan menghindar untuk bertatap muka denganku.
“...(Apa demamnya kambuh lagi ya....)” tunggu dulu, sakit kepala itu, sudah tidak ada lagi. Aku baru menyadari kalau Leila dan Zaki membawa tas milik mereka. Itu menandakan bahwa sekarang kelas sudah usai. Zaki menaruh sebuah tas berwarna hitam yang sebenarnya milikku. “Tunggu dulu, itu artinya aku sudah pingsan selama 3 jam. Gawat, padahal UN dua minggu lagi....”  Zaki dan Leila langsung membuka tasnya. Leila mengambil sebuah buku catatan dari tasnya lalu dia menyerahkan buku catatan itu kepadaku.
“I-ini, catatan dari materi pelajaran tadi.”
 “Te-terima kasih.”
Meski begitu, Zaki terus-menerus mengutak-atik tasnya. Dia bahkan sampai mengeluarkan seluruh buku dan alat tulis yang ada didalam tasnya. Namun dia tetap tak bisa menemukan barang yang ia cari selama ini. Merasa mengeluarkan seluruh yang ada didalam tasnya tidaklah cukup, Zaki mengecek isi dari setiap buku catatan miliknya. “Dimo, Leila, ayo bantu aku mencari catatanku dikelas.” Zaki memasukkan kembali seluruh catatan dan alat tulisnya kedalam tas miliknya lalu berdiri sambil memakai tasnya.
Aku menyusulnya berdiri dan memakai tas milikku yang dibawa olehnya. Sesaat Zaki membuka pintu UKS, tak sengaja Sindy melintas. Seperti biasa, Sindy selalu disibukkan dengan tugasnya sebagai anggota osis. Namun, dibalik barang-barang yang dibawanya hari ini, ada sebuah buku yang terlihat tidak asing. “Kalian.....” Sindy tak sengaja melirik kearahku. Dia tiba-tiba mengeluarkan ekspresi terkejut sekaligus lega setelah melihatku ”Kudengar Dimo pingsan, jadi kurasa aku akan menjenguknya di UKS setelah menyerahkan ini. Tapi syukurlah, kau tidak apa-apa.” Melihat buku yang mirip dengan buku miliknya, Zaki sedikit berteriak sehingga membuat Sindy dan Leila agak terkejut
“Itu,’kan....”
Sindy menengok kearah buku yang ditunjuk oleh Zaki “Oh iya.....” Lalu dia menarik buku itu dari barang-barang yang dibawanya dan membaca sebuah tulisan (Yang nampaknya nama dari pemilik buku) yang ada di sampul buku tersebut “Tidak salah lagi..... Ini.” Dia menyerahkan buku yang disampulnya tertera nama Zaki. “Aku menemukannya tergeletak dilantai saat aku sedang berjalan kesini.” Zaki langsung menaruh tasnya dilantai, membuka rel sleting tas, lalu menaruh buku itu dan memakai tasnya kembali.
“Te-terima kasih, Sindy. Untung saja kau lewat.”
“Rasanya, kau nampak sibuk sekali.” Sindy tertawa kecil mendengar pernyataanku.
“Ya, ini karena beberapa hari lagi akan diadakan class meeting.”
“...(Class meeting, ya?)”  Suara mobil dan motor yang melintas menjadi musik tersendiri yang mengiringi pejalanan kami menuju ke rumah. Sementara Leila dan Zaki yang sedang asik mengobrol, aku terus berusaha mencerna apa maksud dari mimpiku yang aneh itu. Seakan menutup kuping kepada dunia, aku terus dan terus mencoba mengartikan mimpi itu.
“Dimo!” Zaki memukul pundakku. “Kau kenapa? Akhir-akhir ini kau terlalu sering melamun.” Seketika langkah kakiku terhenti, berpikir apakah aku harus memberi tahunya atau tidak. Aku mengangkat wajahku yang tertundu. Mulai menatap kepada wajah Zaki dan Leila yang nampak penasaran dengan tingkah lakuku. Aku mulai membuat senyum palsu lalu berpura-pura menggaruk pipiku untuk meyakinkan mereka akan senyum palsuku itu.
“Tidak kok, tidak ada apa-apa.” Zaki dan Leila menengok kearah satu sama lain, lalu Zaki menghampiriku dan lagi-lagi menepuk-nepuk pundakku.
“Kau ini.... jika ada masalah, bicaralah temanmu ini.”
“Ma-Maulana benar Dimo, tak baik memendam masalah sendirian.”
“Y-ya... (Ternyata aku memang tak pandai berbohong.)” Tak lama kemudian, kami kembali berjalan. Leila berjalan kedepan kami. Dia berjalan mundur menghadap kearah kami. Sambil berjalan mundur, kedua tangannya memegang kedua pegangan tasnya.
“Oh iya, daripada tidak ada yang dibicarakan.....” tangan kanan Leila yang bertumpu kepada tangan kirinya memegang dagu seakan-akan dia sedang mencari bahan pembicaraan yang menarik. Nampak ada kesungguh-sungguhan yang ditampilkan diwajahnya yang sedang sibuk berpikir itu “.....Bagaimana jika kita membicarakan alamat dan penampilan rumah masing-masing?”
***
Hari Sabtu.
Ketua murid di kelas kami mengumumkan bahwa akan ada class meeting yang akan diadakan beberapa hari lagi. Keheningan kelas sangat terasa, sesaat ketua murid mengumumkan event class meeting ini. Namun, tak lama setelah dia selesai, seisi ruangan langsung ramai akan percakapan antar murid yang mendiskusikan class meeting. Dalam class meeting kali ini, terdapat sangat banyak event. Seperti tarik tambang, liga olah raga, musik band, teater drama, dan masih banyak lagi. Dikelasku, semua itu sudah terisi dengan peserta masing-masing. Terkecuali E-Sport. Entah kenapa tidak ada yang berani mengajukan diri untuk menjadi wakil E-Sport.
Mungkin ini disebabkan kerena E-Sport baru saja ditetapkan sebagai salah satu olah raga resmi, sehingga membuat semuanya kurang percaya diri untuk menjadi perwakilan kelas. Disaaat ketua murid menanyakan siapa yang bersedia untuk mewakili E-Sport, seluruh kelas yang awalnya ramai karena percakapan antar murid langsung menjadi sepi tanpa ada suara sedikitpun. Suasana yang sangat tegang dan sepi itu semakin mengurangi kepercayaan diri dari semuanya. Pada awalnya, aku tak berniat untuk mengikuti aktivitas apapun disaat class meeting.
Yang kurindukan dari class meeting adalah saat-saat dimana ada banyak murid yang membuka sebuah kedai makanan. Disaat seperti itu, aku merasa seperti sedang melakukan sebuah wisata kuliner yang memanjakan lidah.
Namun disaat yang lainnya tak tertarik untuk mengajukan diri, berdirilah salah seorang murid sambil mengangkat tangan kananya. Dengan gagah berani, dia berdiri tegak dimejanya—diantara murid-murid yang terduduk diam. Seketika, murid tersebut menjadi pusat perhatian dari seluruh kelas, semua mata terfokus kepadanya. “Aku bersedia! Aku, Zakarya Maulana, beserta Dimo Ramadhan dan Leila Fitriyani akan mewakili kelas ini dibidang E-Sport!” Tegasnya. Kantukku langsung hilang, yang tersisa hanyalah rasa terkejut yang bercampur aduk dengan rasa kesal. Entah apa tujuannya kali ini, tapi aku akan menolaknya. Yang harus kulakukan adalah meyakinkan Leila untuk menolak juga. Jika dia menolak, Zaki tak punya pilihan lain untuk membatalkannya. Awalnya sih kupikir begitu.
Melihat kesungguhan Zaki, Leila ikut berdiri dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi “Be-benar, aku, Di-Dimo dan Maulana akan berusaha semaksimal mungkin.” Hancur sudah rencanaku. Pada awalnya, kupikir Leila juga akan keberatan karena Zaki tak pernah mengajak atau diberitahunya untuk ikut dengan event seperti ini, namun aku sudah salah perkiraan. Entah apa alasan mengapa dia bisa setuju dengan Zaki, namun aku bisa melihat dia diam-diam melirik kearahku dengan pipinya yang memerah seperti biasa. Seakan-akan memberi sinyal kepadaku untuk ikut berdiri.
Dengan begini, kurasa aku tak punya pilihan lain.
Walau terpaksa, aku perlahan mulai berdiri dan mengangkat tangan kananku walau aku tak mengangkatnya setinggi Leila dan Zaki. Sepulang sekolah, sesaat sebelum Zaki keluar kelas, aku menarik kerahnya dan menyeretnya masuk kembali ke ruang kelas untuk menegurnya. Aku membuatnya duduk disebuah kursi yang bersebelahan dengan tempat dimana Leila sedang duduk, lalu aku menarik kursi lainnya dan duduk didepan mejanya “Zaki, kenapa kau mengajakku?” Zaki mengangkat kedua tangannya lalu membarikan dua pasang jempol, seakan dia mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Tenanglah Dimo. Kita pasti bisa. Lagipula, acara class meeting adalah sebuah ajang untuk memperoleh ketenaran dan kesempatan untuk membuat diri kita menjadi populer.” Dengan semangatnya yang membara, Leila ikut Zaki memberikan dua jempol kepadaku.
“Ma-Maulana benar Dimo, kita pasti bisa!”
Aku menghela nafas lalu bersender kemeja “Lalu, bagaimana kau akan melaksanakan—game apa yang akan kau tampilkan nanti, ke-tu-a?” Zaki menanggapi pertanyaanku yang cukup serius itu dengan bersandar kekursinya lalu menatap ke plafon kelas.
“Entahlah, ding.”
Aku langsung memakai tasku, kembali berdiri, dan berjalan kepintu keluar “Baiklah, aku menyerah.” Sebelum aku sempat melangkahkan kakiku, Zaki menarik tasku dan tak membiarkanku pergi. Dengan gaya bicara yang terdengar agak menyedihkan, dia berusaha meyakinkanku untuk tidak pergi.
“Tunggu dulu, Dimo.... Aku punya rencana....” Aku berbalik, dan kembali duduk.
“Jadi, apa rencanamu?”
Zaki memegang dagunya, dia lalu menggerakkan tangannya seakan-akan ada janggut yang panjang didagunya, lalu menunjukku “....kita akan mempromosikan game Start Point!” Aku melepas tasku lalu menaruhnya disamping kursiku.
“Itu mungkin bisa dilakukan. Tapi, tanpa kaca mata khusus itu, penonton takkan bisa melihat kita.” Zaki yang awalnya semangat, langsung terlihat kebingungan setelah mendengar pernyataanku sementara aku kembali bersandar kemeja. Taka lama kemudian, Leila mengangkat tangannya. Sepertinya dia sudah menemukan penyelesaian dari masalah ini.
“Ba-bagaimana jika kita pinjam saja kacamatannya?”
Sore harinya, aku dan Zaki datang ke perusahaan Bum Corp. untuk meminta izin untuk menggunakkan game Start Point sebagai acara di class meeting kami dan sekaligus meminjam kacamata khusus. Sementara Leila akan meminta izin keibunya untuk menggunakkan halaman belakangnya yang cukup luas untuk latihan kami. Ternyata, Pak Bum sedang tidak ada, dan kami harus mencari Indra. Setelah memakai alat pengenal, kamipun mulai berjalan menelusuri lorong-lorong besar berwarna putih dengan ACnya yang mendinginkan ruangan. Menurut petugas yang menyambut kami, Indra seharusnya sedang ada di ruangan turnamen kemarin.
Setelah mencari beberapa menit, akhirnya kami bisa menemukannya. Indra terlihat sedang duduk di sebuah sofa, mengobrol dengan Dinda. Setelah kami menjelaskannya, kami beruntung karena Indra menyetujuinya dan dengan senang hati akan meminjamkan kacamata ksusus dan arena turnamen kemarin. Sebelumnya, kami sudah setuju untuk menyimpan kacamata itu dirumah Leila.
***
Hari senin, sore harinya, aku dan Zaki mendatangi rumah Leila untuk berlatih. Dengan membawa plastik berisi kubus yang dapat berubah menjadi sofa khusus untuk login. Tak kusangka, ternyata rumah Leila sangatlah besar dengan desain modernnya. Dihalaman depan, terdapat sebuah tembok pagar yang tingginya sama seperti tinggi orang dewasa. Tanaman hias yang mengiasi jalan setapak yang menuju ke pintu depan menambah kesan indah dan anggun. Pohon-pohon menambah suasana sejuk di teras rumah. Dan kolam ikan yang ada didekatnya dipenuhi dengan ikan hias yang sangat banyak. Airnya sangat jernih sampai-sampai aku bisa melihat ikan-ikan tersebut.
“Dimo, Zaki, sini.” Dari depan pintu rumah, Leila memanggil kami. Dia melambaikan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang pintu, mencegah agar pintu itu tidak tertutup kembali. Aku dan Zaki langsung berjalan menghampirinya. Aku dan Zaki akhirnya masuk kedalam rumahnya yang besar itu. Sesaat setelah kami masuk, ibunya Leila menyambut kami dengan ramah dengan sedikit candaan. Dia menengok kepadaku lalu sedikit tertawa. Entah kenapa dia tertawa, apa mungkin ada yang salah dengan penampilanku.
“Jadi ini Dimo, cowok yang sering dibica—”
”Du-duh ibu, tolong hentikan. (Ibu membuatku malu....)” Potong Leila. Tak hanya pipi, kali ini seluruh wajahnya memerah.
Apa dia lupa meminum obat demam ya.
Tak lama setelah itu, ibunya tetap tertawa melihatku. Melihat reaksi ibunya, Leila langsung memegang tanganku dan Zaki lalu membawa kami berdua ke halaman belakang. Halaman belakangnya sangat luas, luasnya seperti setengah dari luas lapangan bola. Disitulah kami berlatih melaksanakan game Start Point di acara class meeting. Aku dan Zakipun menekan sebuah tombol yang ada dikubus tersebut lalu menaruhnya direrumputan yang letaknya dibawah sebuah pohon. Kamipun duduk di sofa itu dan login kedalam game. Sementara aku dan Zaki login, Leila masuk kedalam kamarnya untuk login.
Walau game Start Point belum dirilis, namun server dari game sudah sepenuhnya aktif sehingga kita sudah bisa login walau game belum sepenuhnya dirilis. Pada awalnya kami hanya berencana untuk mempertunjukkan sebuah pertarungan dua lawan satu. Dilihat dari jobku yang ada dua, ini merupakan pertarungan yang cukup adil. Namun, Leila mendapat ide untuk menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari setiap job yang ada beserta sistem doble job yang dirahasiakan.
Untuk mendapat semua informasi itu, aku mencari web resmi dari game Start Point lalu memprint seluruh informasi mengenai job yang ada. Walau begitu, nampaknya informasi mengenai double job yang ada didiriku ini masihlah terbatas. Setiap hari, kami terus berlatih mengeluarkan skill dan menghafal job-job yang ada. Disaat beristirahat, ibunya Leila biasa menyuguhkan kami es lemon yang sangat segar dan menyegarkan tubuh. Membuat seluruh rasa lelah dan letih tak pernah ada sebelumnya.
***
Hari yang dinanti-nantipun akhirnya tiba. Suasana sekolah yang biasanya serius, seketika berubah menjadi menyenangkan. Semuanya bersuka ria menyambut class meeting. Entah mereka senang karena event class meeting, atau hanya senang karena ditiadakannya jam pelajaran. Sesuai dengan perkataanku sebelumnya, class meeting adalah saat-saat dimana kau melaksanakan wisata kuliner. Dari gorengan sampai ke masakan kelas atas ada.
Tentu saja ini tidaklah gratis, aku harus menyiapkan isi dompet yang tebal untuk melaksanakan wisata kuliner ini. Disaat aku sedang memakan potongan buah semangka di kursi depan kelasku, aku melihat Sindy yang terlihat sangat sibuk melakukan lomba tanding basket. Aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa cewek pendiam sepertinya bisa jago dalam bidang olahraga seperti ini. Aku menonton pertandingan itu sampai-sampai aku lupa dengan buah semangka yang sedang kumakan.
Tak lama setelah pertandingan usai, muncul sebuah pengumuman bahwa acara olahraga E-Sport akan segera dilaksanakan. Sesaat setelah itu, aku langsung menghabiskan buah semangka yang kumakan, lalu membuang biji beserta kulitnya ke tempat sampah.
“Kurasa aku harus segera bersiap.”
Kalau tidak salah, kubus atau sofa dan alat untuk login tersimpan rapih di pelastik yang sudah kusimpan ditasku. Dengan santainya aku membuka tasku dan langsung memasukkan tanganku kedalamnya untuk mencari pelastik berisi kubus itu. Namun, tanpa kuduga, ternyata aku lupa untuk memasukkan pelastik itu kedalam tasku “Ga-gawat.....!” Aku langsung berlari meninggalkan kelas. Berlari diantara kerumunan murid yang sedang melintas. Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju keluar sekolah.
Leila dan Zaki datang memasuki kelas untuk mencariku, mereka mengira bahwa aku ada didalam kelas, namun yang mereka temukan hanyalah tasku yang terbuka lebar tanpa adanya kubus itu. Merekapun mulai bertanya kepada murid-murid lainnya dikelas, apa mereka melihatku pergi atau tidak. Jawabanya yang mereka dapatkan hanya satu.
“Aku melihatnya pergi keluar kelas dengan sangat tergesa-gesa.”
 Setelah beberapa menit, Zaki menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil dengan kepergianku. Zaki dan Leila terduduk mencari tahu kemana perginya aku “Tasnya yang terbuka lebar tanpa tertutup sedikitpun, keperiannya yang tergesa-gesa, dan waktu yang menipis... jangan-jangan....” Zaki mendapat sebuah kemungkinan dari kepergianku ini “Leila, kau cari Dimo disekitar sekolah, ada yang harus kupastikan. Jika aku tidak menemukannya, Dimo mungkin masih ada di sekolah. Jika tidak ketemu, kau langsung pergi ke lokasi dimana E-Sport kelas kita akan diadakan, yaitu lapangan olahraga. Kau bagikanlah kacamata-kacamata khusus itu kepada penonton.” Zakipun kembali berdiri dan berlari keluar sekolah. Tak ingin membuang waktu, Leilapun mencariku keseluruh sekolah.
Zaki mengetukkan tangan kanannya kepintu besi yang dingin dari container dimana aku tinggal. Merasa tak ada respon, diapun kembali mengetuk. Walau dia sudah berkali-kali mengetuk namun tak mendapat respon sama sekali, diapun langsung membuka pintu dan masuk kedalam rumahku. Zaki langsung melihatku yang sudah dalam keadaan hibernasi disofa dan dalam keadaan login. Menyadari rencanaku, Zaki langsung bergegas kembali keluar, menutup pintu rumahku, dan berlari kembali kesekolah.
Sementara itu, Leila yang tak bisa menemukanku di sekolah, diapun langsung pergi kelapangan olahraga untuk membagikan kacamata khusus itu. Diperjalanan, Leila tak sengaja bertemu dengan Sindy yang baru saja selesai berganti pakaian dari seragam tim basket menjadi seragam sekolah. Leila langsung berinisiatif untuk meminta bantuan kepada Sindy untuk membantunya membagikan kacamata-kacamata khusus. Leila dapat bersyukur karena Sindy dengan senang hati bisa membantunya. Diapun menceritakan situasi kepada Sindy.
Beberapa menit setelah kacamata selesai dibagikan, Zakipun tiba membawa kubus miliknya “Ma-Maulana, dimana Di-Dimo?” Zaki menjelaskan keadaan lalu dia menekan tombol dari kubus, dan menaruhnya ditengah-tengah lapangan yang berada tepat didepan sebuah panggung. Sebuah lokasi dimana semua penonton bisa melihatnya dengan mudah ”Semoga firasatku benar... Dimo beberapa menit lagi akan segera muncul.” Dia duduk disofa tersebut lalu mengscan jarinya untuk login. Melihat itu, Leila langsung menghampirinya dan mengikuti apa yang dilakukan Zaki. Namun, sebelum Leila sempat mengscan jarinya, ada salah seorang penonton yang sudah memakai kacamata berteriak bahwa dia melihat ada sesuatu yang sedang jatuh dari atas langit. Akibatnya, seluruh penonton yang awalnya hanya terfokus kearah Leila dan Zaki langsung menengok keatas, termasuk Leila.
Sementara Sindy yang awalnya hanya terdiam menonton didepan sebuah kelas, langsung berlari kesuatu tempat. Namun, dia tak melihat siapa-siapa. Menyadari bahwa yang sedang terjatuh itu adalah bagian dari game Start Point, Leila langsung mengscan jarinya dan login kedalam game.
Dia melihat Zaki yang sudah dalam bentuk avatar terus menengok keatas dengan mulutnya yang terbuka seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Leila menengok keatas sekali lagi untuk memastikan siapa atau apa yang sedang jatuh tersebut. Setelah beberapa menit memperhatikan, dia menyadari bahwa yang sedang jatuh itu adalah seseorang. “Apa ini....?! Apakah ini bug.....?!” Zaki langsung menyadari bahwa suara yang keluar dari orang itu adalah suara dari seseorang yang sangat dikenalnya.
“Di-Dimo?!” setelah mendengarnya, Leila langsung reflek menengok ke Zaki. Angin berhembus kencang meniup rambut dan tudung jaketku, membuatnya bergerak tak karuan mengikuti arah angin. Yang kubisa hanyalah melihat kebawah, tak ada satupun skill yang bisa kugunakan untuk memuluskan pendaratanku, dan aku tak bisa menggunakkan teleportasi karena ada cooldown yang cukup lama.
“Gawat, gawat, gawat, gawat....! Bagaimana ini? Jika aku terjatuh, aku akan terkena fall damage. Fall damage itu sudah cukup untuk membuat hpbarku habis. Jika begitu, aku akan terespawn disebelah tubuh asliku kembali. Karena teleportasi tidak bisa, maka aku harus berjalan dari rumah ke sekolah. Itu saja sudah cukup menguras waktu dan mengacaukan semuanya.” Sementara aku mengomel sendiri, ternyata jarakku dengan dataran sudah cukup dekat. Aku mencoba mencari cara dengan memperhatikan seluruh pakaianku. Pada awalnya aku berniat untuk menggunakkan jaketku sebagai parasut.
“Open the seal : Tornado Explosion Level Low!”
Leila menembakkan salah satu anak panahnya ditanah yang berada tepat dibawahku lalu perlahan pusaran angin berwarna hijau mulai keluar dan mengarah kepadaku. Aku terbawa oleh angin itu beberapa meter. Namun, akibat dari itu, aku berhasil dihindarkan dari fall damage dan mendarat dengan agak mulus. “Terima kasih, Leila. Untung saja ada kau.” Aku menggaruk-garuk belakang rambutku sembari bangun setelah terjatuh tadi.
“Y-ya, tak masalah....” Leila menyimpan busurnya kedalam inventorinya sementara Zaki yang menghela nafas lega. Zaki maju beberapa langkah, mendekati penonton untuk memulai
“Kami adalah perwakilan E-Sport dari kelas 3B. Kami akan mempertunjukkan game terobosan baru dari Bum Corp. yang bernama Start Point. Sesuai dengan apa yang kalian lihat, game ini dapat beradaptasi dengan dunia nyata.” Tak lama, salah seorang penonton mengangkat tangannya sambil berdiri.
“Jika game ini benar-benar di dunia nyata, bukankah ini berbahaya?”
“Pertanyaan bagus. Sebenarnya, game ini tidak sepenuhnya berada di dunia nyata. Contohnya....” Zaki menarik pedangnya lalu menghancurkan lantai panggung yang ada di belakangnya dengan satu ayunan bagian tumpul dari pedangnya lalu dia menyarungkan kembali pedangnya. Akibatnya, penonton yang melihat melalui kacamata khusus langsung panik. Namun, sebelum kepanikan mulai diluar kendali, Zaki langsung memerintahkan semua penonton untuk melepas kacamata mereka.
Betapa terkejutnya mereka, lantai panggung yang awalnya hancur remuk karena hantama logam itu sudah pulih kembali seakan-akan tak pernah ada serangan sedikitpun. Bahkan ada beberapa penonton yang terus menerus memakai dan melepas kacamatanya secara bergantian hanya untuk memastikan apa yang dilihatnya nyata. Tak lama setelah semuanya memakai kembali kacamatanya, Zaki langsung memberikan penjelasan atas apa yang terjadi “Disaat kalian melepas kacamata kalian, kalian akan melihat bentuk nyata dari benda tersebut yang tidak hancur. Lantai hancur yang kalian lihat tadi, hanyalah salah satu bagian dari game Start Point. Lagipula, lantai yang hancur ini akan pulih kembali dalam beberapa menit. Kami—para player, takkan bisa menyentuh tubuh manusia asli tanpa adanya persetujuan dari manusia tersebut. Tanpa adanya persetujuan itu, tubuh avatar hanya akan menembus tubuh dari manusia asli tanpa bisa menyentuhnya sedikitpun.”
Tahap selanjutnya adalah pengenalan login dan logout, kami menunjukkan bagaimana cara untuk login dan logout yang benar. Sempat ada beberapa kendala, namun akhirnya kami berhasil menjelaskan tata cara untuk login dan logout. Yang bertugas untuk menjelaskan tahapan-tahapan untuk login dan logout adalah aku. Sampailah kami pada tahap yang terakhir, namun bukan yang paling akhir. Yaitu menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari seluruh job yang ada, termasuk sistem double job yang rahasia.
Awalnya, akulah yang ditunjuk untuk menjelaskan job-job ini. Namun, akhir-akhir ini aku punya masalah dengan ingatanku sehingga membuatku payah dalam hal menghafal. Untungnya, Leila dengan senang hati mengajukan diri untuk mengemban tugas ini. “Na-namaku adalah Le-Leila Fitriyani. Di-Disini aku akan menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing job yang ada.” Seakan-akan sedang menghitung, Leila setengah mengangkat tangan kirinya dan mengangkat jari telunjuknya. Menciptakan sebuah angka satu.
“Sa-satu, Sword Master. Sword master adalah seorang ahli pedang yang menjunjung tinggi agility dan strengh.  Elemen dari job ini adalah cahaya, sehingga membuat seorang sword master yang sudah ahli sebagai seorang kesatria cahaya. Jo-job ini cocok untuk seorang player yang menyukai kecepatan tanpa mengurangi kekuatannya.”
Leila lalu mengangkat jari tengahnya mengikuti jari telunjuknya, membuat angka dua. “Du-dua, Gunner. Gunner adalah sebuah job yang mengandalkan strengh dan intelegent. Elemen dari job ini adalah listrik atau petir. Hanya orang dengan pikiran yang tenang dan pengendalian emosilah yang bisa disebut sebagai seorang Gunner sejati. Ti-tiga, Archer. Walau cara menyerangnya sama dengan Gunner, Archer memiliki agility dan intelegent yang lebih tinggi. Ini membuat Archer menjadi sangat cepat dan lincah serta memiliki keakuratan yang lebih tinggi dari pada Gunner. Empat, Wizard. Witch/Wizard adalah sebuah job yang unik. Mana dan skill yang dimiliki oleh Witch/Wizard lebih banyak dari job-job lainnya. Witch/Wizard juga bisa berteleportasi tanpa harus mengatakan mantra. Walau kekuatan fisiknya lemah, namun serangan magisnya diatas rata-rata dan tak bisa diremehkan. Li-Lima, Alchemist. Alchemist adalah sebuah job yang bisa menyerang menggunakkan dua cara, yaitu jarak dekat dan jarak jauh. Alchemist juga memiliki intelegent yang tinggi dengan agilitynya yang tak main-main. Enam, Healer. Healer adalah sebuah job yang sebenarnya tak dikhususkan untuk bertarung. Job ini adalah sebuah job yang mendukung dari belakang, menyembuhkan anggota tim atau teman dan memberikan buff-buff yang dapat meningkatkan kekuatan fisik ataupun magis.” Jari-jari di tangannya terus naik mengikuti nomor dari job yang sedang dia sebutkan. Dan pada akhirnya, dia sampai kepada titik ini. Walau begitu, hanya ini informasi yang bisa kami dapat mengenai double job.
“Ya-yang terakhir.... Double Job. Double job adalah sebuah sistem rahasia yang hanya bisa didapatkan dari random job saat pembuatan karakter. Kesempatan untuk mendapatkan job ini sangatlah tipis. Sesuai namanya, Double job adalah sistem yang membuat dua job yang berbeda untuk menyatu menjadi satu job yang baru. Namun, Dari kedua job itu, terdapat job yang aktif dan job yang pasif. Mi-misalkan dalam ka-kasus temanku ini, Di-Dimo. Jobnya yang aktif adalah job Sword Master, dan jobnya yang pasif adlah job  Gunner. Job pasif itu membuatnya dapat menggunakkan dua senjata secara bersamaan. U-umumnya, seorang Sword master hanya bisa menggunakkan satu senjata, yaitu pedang. Na-namun, dengan job pasifnya ini, di-dia dapat menggunakkan pistol dan pedang secara bersamaan.” Kamipun sampai pada tahap yang paling akhir dari pertunjukkan ini. Yaitu pertandingan antara aku melawan Zaki dan Leila. Pertarungan dua lawan satu yang menurutku cukup adil ini akan segera dimulai beberapa menit lagi.
Untuk pertandingan ini, kami sudah memutuskan untuk melaksanakannya di tempat yang lebih luas, yaitu arena turnamen kemarin. Sebelumnya, kami sudah menyiapkan sebuah tv yang besar dipanggung yang ada dibelakang kami sehingga para penonton dapat menontonnya dengan mudah. Di arena, sudah disiapkan 5 robot cctv yang akan berputar mengelilingi hutan tanpa henti. Melalui robot itulah, pertandingan akan disiarkan.
Aku, Zaki, dan Leilapun berbaris menghadap kearah penonton. Bersiap untuk melakukan teleportasi menuju ke arena. Serentak, kami bertiga meneriakkan kata teleportasi untuk membuka tabel teleportasi. “Tunggu dulu....!” Dari samping kami, datanglah Sindy yang sudah siap dalam wujud avatarnya yang nampak agak kelelahan akibat berlari kesini dikarenakan teleportasi yang tak bisa digunakkan untuk kesini. Seketika seluruh perhatian langsung terpusat kepada cewek berambut panjang berwarna hitam itu. Setelah mengatur pernafasan, Sindy berjalan ketengah-tengah kami.
“Aku ikut! Bukankan tidak adil jika dua lawan satu?”
Dia membawa sebuah senjata api ditangan kirinya yang dia sandarkan dipundaknya sementara jempol di tangan kanannya menunjuknya. “Tapi, aku memiliki dua job. Kurasa ini sudah cukup adil.” Aku menutup tabel teleportasi lalu menengok kearahnya sembari menggaruk-garuk belakang rambutku.
“Tetap saja, dua lawan satu tidaklah adil. Lalu, apa aku salah jika aku ingin membantumu?”
“Ti-tidak salah sih.....” Aku menutup mulutku yang sudah kehabisan kata-kata untuk membalas perkataanya. Aku tak bisa menemukan satu patah katapun untuk membalasnya sehingga membuatku terpaksa harus menurutinya “Ba-baiklah.... Kau menang.” Aku kembali menghadap kearah penonton dan membuka tabel teleportasi. Sementara Sindy datang kesampingku dan membuka tabel teleportasinya. Tak lama setelah itu, kami berempat berteleportasi ketempat masing-masing. Terpisah dikarenakan lokasi kordinat yang berbeda-beda. Lagi-lagi, aku dihadapkan dengan hutan yang lebat ini. Rumput-rumput yang kuinjak, dan daun-daun yang berguguran dari pohon-pohon yang ada disekitarku melengkapi suasanaku kali ini. Hewan-hewan seperti tupai dan rusa yang melintas menambah kesan alami yang ada. Aku bahkan dapat menghirup aroma dari kayu-kayu yang basah karena hujan tadi malam. Saat ini, Sindy menjadi teman setimku sementara Zaki dan Leila adalah musuhku.

Cukup merepotkan mencari 3 orang dihutan yang lebat, mereka juga bisa dimana saja. 
~Bersambung~

No comments:

Post a Comment