Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.




Monday, July 9, 2018

Start Point - Chapter 10 : Alasan Dibalik Tindakan

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.
Yak, arc ini semakin mendekati akhirnya.
Sekitar 3 atau 4 chapter lagi, Vol.1 dari novel ini bakalan tamat dan akan di lanjutkan di vol.2 nanti yang akan diberi judul Arc White.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point


Dua hari kemudian.
Aku baru saja pulang sekolah dan hendak akan melepas seragamku lalu menggantinya dengan kaos yang biasa kukenakan. Disaat aku sedang merapihkan seragam pramukaku dan hendak akan menggantungnya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Dia terus mengetuk pintu rumahku sampai aku merespon dengan berkata “Ya, tunggu sebentar.”

Aku membuka pintu. Leila berdiri tertunduk dengan ekspresi yang nampak campur aduk. Nampak dari seragam pramuka yang masih dia kenakan, dia sepertinya langsung datang kemari sesaat setelah pulang sekolah. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, tak biasanya Leila datang kerumahku dengan masih mengenakkan seragam seperti ini. Mungkin ada sesuatu yang penting yang ingin dia sampaikan. Sesekali dia melirik kearahku sembari membuka sedikit mulutnya, namun dia langsung mengurungkan niatnya dan kembali menunduk. Kugaruk rambutku sembari melangkah keluar rumah dan kututup pintuku lalu kuhampiri Leila “Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Wajahnya kembali terangkat sesaat setelah mendengar pertanyaanku. Leila membuang pandangannya dengan wajah yang sedikit memerah lalu duduk di teras depan rumahku. Melihatnya membuatku semakin penasaran. Akupun berjalan menghampirinya dan duduk disampingnya “A-anu, Dimo... Sebenarnya, ada yang ingin kuberitahukan padamu.”
“Sesuatu yang ingin diberitahukan padaku?”
“Ya... ini, mengenai apa yang Dimo Radhika beritahukan padaku.”
Angin yang berhembus kencang membawa daun-daun. Langit yang mendung sejak pagi. Serta suasana taman yang sepi. Tanpa kusadari, aku langsung menengok kearahnya.
“Dimo Radhika!?”
“Sebenarnya, aku sempat ragu untuk memberitahumu ini. Tapi, sekarang aku sudah memutuskan untuk memberitahumu. Saat itu—saat aku sedang ditawan olehnya, dia memberitahuku sesuatu.” Leila mengangkat wajahnya lalu menatap langit yang mendung.
“Saat itu, dia berkata bahwa dia—”
Tiba-tiba smartphonekupun bergetar dan berdering. Membuat Leila menengok kearahku dan terhenti. Setelah kuambil dari kantungku, ternyata itu adalah panggilan yang berasal dari Kak Indra.
“Leila, tunggu sebentar, Kak Indra meneleponku.” Aku berjalan menjauhi teras sembari menekan tombol untuk mengangkat telepon darinya. Sementara itu, Leila kembali tertunduk. Dia meremas rok berwarna coklat itu sembari menunjukkan ekspersi masamnya. “....baiklah, aku akan segera kesana.” Aku menutup telepon dari Kak Indra lalu mengantungi kembali smartphone itu sembari berjalan menghampiri Leila.
Menyadari kedatanganku, wajah Leila kembali terangkat mendongkak menatapku “Dimo, tadi itu....?”
“Ya, lagi-lagi Dimo Radhika tak mau angkat bicara terkecuali aku ada di sana.” Aku berjalan menghampiri pintu dan menutupnya lalu menguncinya “Kali ini, kurasa tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaannya.”
Setelah mendengar penjelasanku, Leila berdiri dan menghampiriku lalu menggenggam kedua tanganku “Dimo, bolehkah aku ikut denganmu?” Tatapannya yang serius membuatku tak punya alasan untuk menolak, terlebih lagi, Leila sudah terlibat terlalu jauh dengan Dimo Radhika.
“Y, ya tak masalah..... dan juga um, bolehkah kau lepaskan tanganku?” Aku tersenyum lalu menengok kekedua tanganku yang digenggam olehnya. Menyadari itu, wajahnya langsung berubah memerah dan merona dan langsung melepaskan tanganku.
Leila mundur dua langkah dan mengayun-ayunkan kedua tangannya serta menggelengkan kepalanya “Ma, maaf... aku tidak bermaksud...” Melihat Leila yang sudah kembali seperti biasanya membuatku tertawa. Melihat tawaku membuat Leila menjadi tersipu malu. Aku menggaruk tambutku lalu tersenyum lega.
“Syukurlah, kau sudah kembali seperti biasanya. Nah, ayo kita berangkat.”
***
Dimo Radhika dikurung di sebuah sel khusus yang letaknya ada di lantai 2 gedung Bum Corp. selama ini, sejak dia dikurung, dia tak pernah mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Itulah, yang kudengar dari Kak Indra. Sel tersebut dibuat khusus untuk orang-orang pengikut dari Shadow Player. Sel itu dapat menetralisir energi dan membuat player takkan bisa melakukan login disaat sedang berada diwilayah sel tersebut.
Saat ini, aku, Leila dan Kak Indra sedang berjalan menuju ke sel milik Dimo Radhika. Melewati koridor-koridor dengan tembok berwarna putih dengan lampu yang begitu terang. Lantai yang memantulkan refleksi dari apapun yang ada diatasnya, serta suhu ruangan yang begitu dingin.
“Ngomong-ngomong, sekarang ada dimana dia?”
“Siapa?”
“Zaki lho, Zaki. Tadi sepulang sekolah dia terlihat terburu-buru sekali.”
“Oh ya, tadi saat aku sedang berjalan menuju ke rumahmu, aku melihat Maulana sedang mengendarai motor menuju ke suatu tempat.”
“Dasar, dia itu...”
“Maaf menyela pembicaraan kalian, tapi sepertinya aku tahu dimana Zakarya berada.” Kak Indra tersenyum kecut sembari memegang rambutnya.
“Sungguh...?”
“Yah, itu....”
Tanpa kami sadari, kamipun telah tiba di depan sel milik Dimo Radhika. Namun, ada sesuatu yang lebih membuatku terkejut. Aku mendengar suara tawa seseorang dari dalam sel tersebut. Suara yang nampaknya sangat kukenal “Suara ini, jangan-jangan....” Aku menengok kearah Kak Indra yang masih tersenyum. Senyumnya membuatku semakin yakin dengan seseorang yang ada dibalik pintu ini. Aku menelan ludahku lalu menggenggam gagang pintu. Kubuka pintu tersebut dengan penuh keyakinan.
“Dimo, kau terlalu payah bermain ini. Tak seperti Dimo yang satu lagi.” Zaki menyeringai puas sembari menunjuk Dimo. Dia mengangkat-angkat kartunya dengan ekspresi yang nampak begitu puas. “Lihat, aku dapat full house.” Zaki menaruh kartu-kartu di tangannya keatas meja. Dimo yang merasa sudah kalah langsung menghambur-hamburkan kartu miliknya.
“Aduh, ini sudah yang keempat kalinya.” Dimo menggaruk-garuk rambutnya karena kesal sudah kalah berkali-kali saat melawan Zaki. Kekalahan itu sangat tertera diwajahnya yang penuh dengan coret-coretan berwarna hitam.
Zaki mengambil sebuah spidol yang tergeletak diatas meja lalu membuka tutupnya “Hayo, sini. Aku akan menggambar kumis Naruto diwajahmu.”
Aku menghampiri Zaki lalu menendang kursinya hingga membuatnya terjatuh “Makan nih full house.” Semuanya hanya terdiam melihat apa yang sudah kulakukan kepada Zaki. Mereka bingung harus membela siapa.
“Kenapa kau ada disini, Zaki?!”
“Apa maksudmu? Tentu saja untuk bermain poker.” Zaki berdiri sembari membersihkan kausnya lalu merapihkan kartu poker yang berserakkan dilantai dan meja. Tanpa memperdulikan situasi, Zaki kembali duduk lalu mengocok kartu dan membagikannya kepada Dimo dan dirinya.
“Bukan itu yang kumaksud!” Aku memukul meja. “Maksudku adalah, kenapa kalian bisa bermain poker dan seakrab ini?” Aku menunjuk mereka berdua dan kartu poker yang masih Zaki bagikan.
“Sudah, sudah. Ayo, kau juga ikut bermain sini.” Zaki tersenyum lebar lalu mulai membagikan kartu kepadaku.
“Mana sudi! Dan sekarang bukanlah waktunya untuk bermain poker.”
Leila menghampiriku dengan senyuman polosnya lalu memegang pundakku untuk membuatku tenang. “Dimo, tenanglah. Zaki hanya bermain poker dengannya, dan lagi, Dimo Radhika tidak sejahat yang kau pikirkan.” Bisiknya.
“Kau juga?!”
Aku menghela napas lalu menarik Zaki keluar dari dalam sel sementara Kak Indra tinggal untuk mengawasi gerak-gerik Dimo. “Zaki, dengar, kenapa kau bisa ada disini dan bermain poker dengannya?”
“Tak ada alasan khusus sih....” Zaki melirik keatas lalu bersiul seakan tidak mempermasalahkan pertanyaanku sama sekali. Aku sangat ingin menghajarnya, tapi Leila menahanku. “Kau tahu, Dimo dan aku sudah sangat akrab. Dan bahkan dia lebih mengasikan daripada Dimo yang disana itu.” Zaki mendekati Dimo Radhika dan bersender padanya lalu menunjukku dengan ekspersi menyeringai sementara aku yang sedang mengangkat kursi dan siap untuk melemparkannya namun ditahan oleh Kak Indra.
Disaat sedang menurunkan kursi, tiba-tiba aku teringat dengan apa yang sebelumnya Leila katakan. Aku menengok kearah Leila lalu memanggilnya. “Oh ya Leila, sebelumnya, apa yang ingin kau beritahu saat sedang dirumahku?”
“Ah, itu....”
“Semuanya dengar!” Tiba-tiba semuanya tertegun dan menengok kepada Dimo Radhika bersamaan. Dia bangun dari kursinya lalu berjalan menghampiri kami “Selagi semuanya ada disini, dan nampaknya mereka tidak mengawasiku. Aku akan memberitahu kalian semua.”
“Apa maksud—” Leila menarik kausku, seakan mengisyaratkan kepadaku untuk percaya pada apa yang akan dikatakan Dimo. Aku menengok kearah Leila, lalu dia mengangguk dengan tatapan yang sangat meyakinkan.
Jika Leila seyakin itu, maka aku akan percaya dengan apa yang akan dia katakan.
Aku berjalan menghampiri pintu lalu menutup pintu sel lalu kembali “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”
“Sebelum itu, sebenarnya aku sudah memberitahu hal ini kepada Leila.” Seketika, semuanya langsung menengok kearah Leila, dan Leila hanya menunduk dan mengangguk. “Selama ini, menurut kalian keberadaanku disini itu apa?”
“Keajaiban alam.” Jawabku.
“Sihir.” Jawab Zaki.
“Sebuah kesalahan.” Jawab Kak Indra.
“Ke-kembarannya Dimo.” Jawab Leila.
“Apa kalian serius menjawab seperti itu?” Dimo menghela napas setelah mendengar jawaban dari kami semua. Dia bingung ingin tertawa atau malah kesal atas jawaban tersebut. “Baiklah, tentu kalian pernah melihat diri kalian saat bercermin bukan?” Aku dan yang lainnya mengangguk. “Aku berasal dari dunia cermin, dengan kata lain bisa kalian sebut dunia paralel.”
“Tunggu dulu, kalau begitu kau adalah aku, namun dengan pikiran yang berbeda?”
“Ya benar. Awalnya, kedua orang tuaku menghilang tiba-tiba saat sedang berlibur. Lalu, saat aku selidiki, ternyata Shadow Player sudah membawanya kedunia ini. Tak lama setelah aku mengetahui kenyataan ini, Shadow Player langsung membawaku ke dunia sini juga. Monster licik itu menawan kedua orang tuaku dan mengancam akan membunuh mereka terkecuali aku ikut bergabung dengannya.” Dimo mengepalkan tangannya. Wajahnya terlihat kesal dan putus asa. Kurasa, bergabung dengan mereka adalah keputusan yang paling masuk akal. Jika aku jadi dia, aku pasti akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Zaki dan yang lainnya juga hanya tertunduk terdiam, tak tahu apa yang seharusnya mereka katakan. “Tapi, saat ini aku punya secercah harapan untuk menyelamatkan mereka.” Dimo berlutut lalu bersujud dihadapan kami berempat “Kumohon, bantu aku menebus semua kesalahanku dan menyelamatkan kedua orang tuaku!!”
“Tapi, meskipun kau berkata seperti itu. Kau sudah membunuh banyak orang. Kami tak bisa begitu saja mempercayaimu.” Kak Indra menghampirinya lalu membantunya berdiri.
“Aku mungkin sudah lancang sampai berkata seperti ini, tapi.... semua orang yang sebelumnya kuhabisi, masih hidup!! Kita masih bisa menyelamatkan mereka!” Tiba-tiba pintu terbuka, Mbak Anna langsung menerjang menghampiri Dimo dan menarik kerahnya. Dia dorong Dimo sampai dia menabrak tembok dibelakangnya. Aku langsung berlari menghampiri Mbak Anna untuk menghentikannya, namun Kak Indra bergeleng seakan memintaku untuk tidak ikut campur.
“Apa-apaan kau?! Setelah apa yang sudah kau lakukan, setelah semuanya..... kau pikir kami akan memaafkanmu dan membantumu begitu saja?!!” Tangan Dimo yang sebelumnya mengepal mulai melemas, sementara genggaman tangan Mbak Anna yang menarik kerah Dimo semakin kencang. “Apa kau pikir.... apa kau pikir....” Suara Mbak Anna yang sebelumnya tegas mulai berubah menjadi suara yang lemas diikuti dengan suara terisak-isak. Kemejanya mulai basah. Air itu terus menetes turun dari matanya membasahi kemeja Dimo. Mbak Anna terus mencoba menahan agar suara tangisannya tidak terdengar. Namun dia tak kuasa menahan tangisannya “Apa kau pikir.... Andri masih hidup.....?”
Dengan wajahnya yang terlihat memelas karena melihat Mbak Anna. Namun, Dimo tak ingin menjawabnya dengan ekspresi yang menyedihkan itu. Maka, dia bulatkan niatnya lalu tersenyum tulus.
“Ya.”
Sebuah jawaban yang begitu sederhana, namun dapat menciptakan secercah harapan dihati seorang gadis. Suara tangisannya menggema keseluruh ruangan, begitu penuh dengan rasa bahagia, dan begitu penuh dengan rasa syukur. Mbak Hana melepaskan kerah Dimo, lalu berlutut lemas dihadapannya. Air matanya mengalir deras menuruni wajahnya. Membasahi lantai dan membasahi wajahnya.
Hari itu, pertama kalinya aku melihat Mbak Anna seperti itu. Tangisannya terdengar seperti seorang gadis kecil.
***
Sejak saat itu, kami setuju untuk mempercayai Dimo Radhika dan bersiap untuk menyerang markas dimana anggota ERASER yang masih hidup ditawan. Selagi proyek ini sedang dijalankan, kami setuju untuk memanggil Dimo dengan nama belakangnya yaitu Radhika. Karena terdapat dua Dimo dengan penampilan yang sama persis, maka nama belakang ini dapat mempermudah orang-orang dalam membedakan kami berdua.
Namun, sebelum hari penyerangan dilaksanakan, aku, Radhika, Zaki, Kak Indra dan Mbak Anna berniat untuk meng-observasi tempat yang menurut Radhika adalah tempat dimana anggota ERASER ditawan.
“Disinilah lokasinya. Mereka menangkap anggota-anggota ERASER yang sudah kukalahkan dan menawannya disini, termasuk kedua orang tuaku.” Radhika melepas teropong lalu memberikannya kepada Zaki. Setelah menerimanya, Zaki menggunakkan teropong itu dan melihat tempat yang sebelumnya disebut oleh Radhika.
Gedung itu adalah sebuah tempat bekas les yang sudah tidak terpakai dan agak terbengkalai. Gedung dengan total lantai 4 lantai ini sudah berdiri sejak 6 tahun yang lalu, namun entah mengapa sejak 2 tahun yang lalu tempat les ini menjadi terbengkalai dan sudah tidak digunakkan lagi.
“Tunggu dulu, lokasi tempat ini’kan tak jauh dari sekolahku dan Dimo. Aku dan Dimo sering pulang melintasi tempat itu, namun tak ada yang mencurigakan selagi kami melintasinya.” Zaki melepas teropong dan berdiri karena terkejut. Aku menarik celananya dan memintanya untuk kembali tiarap, karena ada kemungkinan musuh bisa melihatnya. Saat ini, kami sedang berada diatap sebuah gadung yang letaknya cukup jauh dari gedung tersebut. Kami juga mengenakkan jaket berwarna hitam agar bisa berkamuflase dengan langit di malam hari. Walau begitu tak menutup kemungkinan bahwa musuh juga bisa menemukan kami.
Mbak Anna mengulurkan tangannya “Bisa kupinjam sebentar?” Zaki yang sebelumnya mengalungi teropong tersebut melepasnya dan menyerahkannya kepada Mbak Anna. “Apa kau yakin ini tempatnya, Radhika?” Dia melepas teropong lalu menengok kearah Radhika.
“Ya, tidak salah lagi. Aku bertugas di tempat tersebut, jadi tidak salah lagi.” Radhika mengambil sebotol air mineral dan hendak membuka tutupnya, namun tiba-tiba ada sebuah pedang cahaya meluncur kearahnya dari arah serong kanannya. Untungnya, Kak Indra menyadari hal tersebut dan berhasil menahan pedang tersebut menggunakkan tembok es miliknya yang tercipta dari air mineral yang digenggam Radhika. Karena terkejut, secara tak sengaja botol air mineral tersebut terlepas dari tangannya “Te, terima kasih....”
“Siapa disana!?” Kak Indra yang sudah dalam keadaan terlogin langsung berdiri dan menengok kesana kemari mencari pelaku dari serangan ini diikuti olehku dan yang lainnya. Dari sebuah gedung yang lebih tinggi dari gedung kami muncul seseorang dengan lingkaran berwarna biru bercahaya dibelakangnya diikuti dengan pedang-pedang bercahaya. Rambutnya yang pirang, dan tatapannya yang dingin menciptakan sebuah tekanan yang mencekam. Pedang-pedang dibelakangnya bercahaya dimalam hari bagaikan rembulan.
“Di.... Dia....” Radhika melakukan login. Tatapannya yang serius menatap orang tersebut, lalu tangannya yang mengepal karena geram. “Begitu, jadi kaulah yang menggantikanku bertugas disana.” Dia meneriakkan kata-kata tersebut lalu berjalan menuju kearah dimana orang tersebut berada.
Aku yang melihatnya melewatiku dengan tatapan yang serius seperti itu, membuatku merasakan firasat buruk. Aku menghampirinya lalu memegang pundaknya “Ada apa, Radhika?”
“Dia adalah salah satu dari anggota dari kelima anggota besar.”
“Lima anggota besar?”
“Ya, Lima anggota besar adalah lima orang pengikut Shadow Player yang menjadi orang kepercayaannya. Termasuk aku, maka sekarang hanya tersisa 4 orang.” Radhika melangkah dua langkah lalu menunjuk orang tersebut “Kukira sang Ratu Putihlah yang akan datang kemari, tapi ternyata itu malah kau, Dent si Ahli Seribu Pedang.” Selagi melakukan gertakan, Radhika sedikit melirik kearahku lalu berbisik kepadaku “Dimo, beritahu yang lainnya untuk bersiap untuk kabur. Saat ini, percuma saja melawannya, kita takkan bisa mengalahkannya dengan jarak yang jauh seperti ini. Dialah yang akan diuntungkan karena jaraknya dalam melemparkan pedang-pedang tersebut sangatlah luas.”
Aku mengangguk lalu perlahan berjalan mundur dengan tenang agar Dent tidak mencurigai gerak-gerikku. Aku menghampiri Zaki dan yang lainnya satu-persatu dan memberi tahu mereka siapa orang itu sebenarnnya. “Kenapa pengkhianat sepertimu berani menampakkan diri di sini?” Dent mengangkat kedua tangannya kedepan, seketika pedang-pedang yang melayang dibelakangnya terbang kedepan mengikuti perintah dari Dent. Radhika menengok kebelakang, lalu aku mengangguk, menandakan bahwa kami sudah siap untuk pergi dari tempat itu. Aku melihat dua buah bom asap yang digenggam tangan kirinya yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
“Sekarang!!”
Radhika melemparkan kedua bom asap itu ke lantai. Asap berwarna putih keluar bersamaan dengan ledakan dari bom tersebut, menutupi kami semua dan membuka celah bagi kami untuk kabur. “Percuma saja!!” Dent melemparkan setengah dari pedangnya menuju ke pintu yang terarah langsung kepada tangga darurat. Akibatnya, pintu tersebut terkunci dan takkan bisa dibuka dikarenakan oleh pedang-pedang tersebut. Namun, tanpa dia duga, kami berlari keluar dari asap yang arahnya berlawanan dengan pintu tersebut. Kami melompat terjun dari atas gedung sembari mengscan jari kami semua dan login kedalam sistem Start Point. Kami melompat dari gedung tinggi yang memiliki 4 lantai ini.
Melihat kami yang melakukan tindakkan tidak terduga tidak membuat konsentrasi Dent hancur. Dia memperhatikan kami dengan tenang dan tidak terpengaruh sama sekali dengan tindakkan kami berlima. Dia bahkan mengumpulkan energi lebih untuk menciptakkan lebih banyak pedang cahayanya. Walau samar, aku bisa melihatnya. Pedang-pedang cahaya itu tercipta dari kumpulan energi yang keluar dari lingkaran berwarna biru dibelakangnya. Sungguh energi yang besar, aku tak percaya dia bisa mengendalikan pedang sebanyak itu. Saat 12 pedang sudah tercipta, dia meluncurkan pedang-pedang itu kearah kami berlima. Kak Indra tidak tinggal diam saat menyadari serangan yang akan muncul selanjutnya. Dia langsung menarik pedangnya dari dalam sarungnya lalu mengubah pedang itu menjadi air. Dia pisahkan pedangnya dari airnya lalu melemparkan air tersebut ke tembok.
Keluarlah sebuah tembok air yang besar dan berbentuk persegi dari dalam tembok tersebut. Lalu, Kak Indra melemparkan pedangnya ke tembok air itu dan mengubahnya menjadi tembok es yang keras dan dingin. Berkat tembok es tersebut, 9 pedang cahaya milik Dent berhasil dihalau, namun 3 pedang sisanya berbelok dan berhasil menghindar.
“Open the seal : Dark Moonlight Shard!” Radhika melemparkan Dark Moonlight Shard dan berhasil mengenai serta menghancurkan ketiga pedang cahaya milik Dent. Namun, tanpa diduga, puluhan pedang cahaya berhasil menghancurkan dan menerobos tembok es milik Kak Indra. Aku juga tak bisa tinggal diam melihat jumlah pedang yang terarah kepada kami.
Walau ini hanya bantuan kecil, namun ini lebih baik dari pada tidak melakukan apapun sama sekali!
Aku menarik pedangku dan mengumpulkan energi “Open the seal : Moonlight Shard - Moonlight Speed!” Setelah energi dari Moonlight Shard sudah tersebar keseluruh tubuhku, aku membuka inventori lalu tangan kiriku mengambil pedang ogre sword yang sudah dimaksimalkan oleh sistem Start Point yang baru. “Open the seal : Super Moonlight Shard!” Kedua pedangku bercahaya. Dengan energi dari Super Moonlight Shard yang sudah tersebar rata dikedua pedangku, dan juga dukungan dari Moonlight Speed, aku melemparkan Super Moonlight Shard sebanyak dan secepat yang kubisa kearah pedang-pedang milik Dent.
Namun, beban yang diterima tubuhku terlalu berat, aku bisa merasakan tulang-tulangku berderit, otot-ototku terasa nyeri, dan penglihatanku mulai memudar, namun aku tidak bisa berdiam diri melihat kondisi kami yang sedang tersudut seperti ini “Zaki, apa masih belum?!”
“Sebentar lagi, aku sedang mengumpulkan energi!” Kedua tangannya menggenggam perisai miliknya dan menyalurkan seluruh api yang tercipta ditubuhnya kedalam perisai tersebut sementara kami berempat melindunginya.
Tubuhku terasa sakit. Terasa sakit dan terasa nyeri sampai aku tidak tahu lagi.
“Open the seal : Light Hand.” Tiba-tiba, Mbak Anna meluncur kearahku dengan menggunakkan Light Boost miliknya lalu membutakkan penglihatanku untuk sementara waktu menggunakkan Light Hand. Akibatnya, pergerakkankupun terhenti dan skill Moonlight Speed dan Super Moonlight Shard milikku ikut terhenti. Tak lama kemudian, dia memukul perut dan pundakku dengan sangat kencang sehingga membuatku pingsan.
“Kak Anna, apa yang kau lakukan?!” Protes Zaki
“Jika dia terus kubiarkan menggunakkan skill itu, dia hanya akan membebani tubuhnya sendiri dan menghancurkan dirinya sendiri! Pokoknya, kau fokus saja menciptakkan pelindung itu!” Mbak Anna mengangkat dan menggendongku yang sudah pingsan dan secara otomatis terlogout dari dalam Start Point.
“Sip, semuanya minggir! Open the seal : Fire Element – Fire Shelter.” Zaki melemparkan perisai api miliknya keatas kami semua, lalu perisai itu membesar dan menjadi pelindung diatas kami dari pedang-pedang milik Dent. Bentuk dari pelindung tersebut dapat diubah Zaki sesuka hati seperti di saat insiden duri saat melawan Radhika. Pelindung itu juga akan terus mengikuti Zaki dan yang lainnya sampai durasi dari skill tersebut habis.
“Semuanya bersiap! Kita akan segera mendarat!” Kak Indra mengambil pedang baru dari inventorinya dan mengubahnya menjadi pedang air. Dia berbalik menghadap kebawah lalu melemparkan pedang tersebut ke tanah. Tak lama kemudian tanah disekitar pedang tersebut berubah menjadi sebuah kolam air yang cukup dalam. Yang membuat air ini berbeda dari air biasa, air ini takkan membuat kami cidera saat kami mendarat di dalamnya.
Setelah mendarat dan berhasil kembali ke permukaan tanah, kolam tersebut kembali menjadi tanah biasa setelah Kak Indra mencabut pedang miliknya. Setelah itu, entah mengapa Dent tidak menyerang kami lagi dan membiarkan kami kabur.
***
Kedua tangan Dent tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku dan seakan membeku karena tatapan dari orang itu “Kenapa kau menghentikanku, Ratu Putih?” Dent menghilangkan lingkaran dibelakang punggungnya. Tak lama kemudian tubuhnya bisa kembali digerakkan, diapun berbalik menghadap seorang gadis berjubah dan bertudung putih.
“Kenapa? Karena mereka masih bisa dimanfaatkan.” Ratu Putih menunduk lalu menarik tudung miliknya kebawah sehingga semakin menutupi wajahnya. Dia berjalan ketepian lalu melihat kami yang sedang berusaha kabur.
Dent memejamkan kedua matanya lalu merapihkan kembali jasnya. Dia berjalan berpapasan dengan Ratu Putih lalu berhenti “Entah apa tujuanmu yang sebenarnya, aku tidak peduli. Namun, jika kau menghalangiku lagi, maka aku takkan tinggal diam.” Dent kembali berjalan lalu meninggalkan tempat itu dengan terbang kembali ke markas. Ratu Putih yang hanya terdiam membisu terus menatap seseorang diantara kami.
Dia melepas tudungnya. Membiarkan rambut putihnya kembali tertiup oleh angin malam yang dingin. Tiba-tiba rintik-rintik air jatuh. Ratu Putih menengok keatas, awan mendung diatasnya yang mulai menurunkan airnya. Hujan dimalam hari yang perlahan semakin deras itu membuat udara malam semakin menjadi dingin. Hujan deras, dengan aroma khasnya.

“Dimo....”
~Bersambung~

No comments:

Post a Comment