Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Monday, July 30, 2018

Start Point - Chapter 13 : White (Vol.1 END)

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

Yak, dengan begini, berakhir sudah vol.1 dari novel ini. Minggu depan vol. 2 chapter 1 akan dimulai.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Start Point


Sisa waktu : 2 menit 40 detik.
“Sial, padahal dia sudah terluka seperti itu, tapi kenapa dia kuat sekali.” Aku mencoba berdiri dengan bertumpu pada pedangku. Meski aku dan Kak Indra sudah mengerahkan segala yang kami bisa, kami tetap tak sanggup memberi luka yang fatal kepada Dent. Bahkan nampaknya anggota-anggota Divisi 6 dan 7 sudah kelelahan.

“Sudah waktunya ya....” Dent melihat arloji di lengan kanannya lalu menatapku dan Kak Indra. “Kurasa sudah waktunya kita mengakhiri ini.” Tiba-tiba, seluruh ruangan di area itu bergetar. Bahkan aku bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Tembok-tembok mulai retak, tekanan udaranya begitu terasa, bahkan aku dan yang lainnya tak bisa bergerak sedikitpun.
Namun tiba-tiba semua itu terhenti. Dent yang sebelumnya nampak tenang berubah menjadi kesal. Dia menengok kesana-kemari seakan mencari seseorang. Lalu tak lama kemudian dia berteriak “Keparat kau, Ratu Putih!!!” Tak lama kemudian dia mulai menghela napas lalu kembali tenang.
“Kurasa, cukup sampai disini saja. Kita akan melanjutkannya lain waktu.” Dent menggerakkan lingkarannya mendekati tembok lalu menempelkannya. Tak lama kemudian, tercipta semacam portal berwarna hitam. Dengan santainya, dia berjalan memasuki portal tersebut. Dan entah mengapa, tak ada satupun dari kami yang berani mencegah kepergiannya. Tak ada satupun dari kami yang sanggup bernapas dengan lega setelah apa yang sudah dia lakukan. Bahkan tak ada satupun keringat yang menetes dari tubuh kami.
Setelah kepergiannya, kami semua terjatuh lemas. Kami mengatur napas kami meski masih dihantui oleh perasaan tadi. Tak lama kemudian, Radhika, Zaki, Leila dan seluruh tawananpun tiba. Dia langsung memberitahu keadaan saat ini. Saat itu, secara tidak sengaja aku bertemu dengan kedua orang tua Radhika. Wajah Ibunya sangat mirip dengan wajah seorang wanita yang kutemui waktu itu. Bahkan mereka napak kebingungan saat melihat diriku. Melihat kondisi yang canggung ini, Radhikapun memberi tahu keadaan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Mbak Anna yang sudah siuman langsung memeluk Kak Andri dan menumpahkan seluruh perasaan yang dibendungnya selama ini.
***
Sisa waktu : 45 detik.
“(Ada apa ini... dia bisa dengan mudah membaca seluruh pergerakanku.)” Sindy mengisi ulang amunisi dari pistolnya lalu kembali berlari sembari menembaki Seno, namun Seno dapat dengan mudah menangkis peluru-peluru Sindy menggunakkan sarung tangan batunya, ditambah lagi tak lama kemudian sarung tangan itu kembali menjadi pulih. Tak lama kemudian, Seno melompat dan hendak akan memukul Sindy menggunakkan sarung tangan batu miliknya. Sindy dengan mudah menghindari serangan itu, lalu mengisi ulang amunisi, namun saat dia sadari ternyata itu adalah amunisi terakhir miliknya.
“Apa kau tahu? Elemen tanah lemah terhadap elemen petir?” Sindy menembakkan satu peluru menggunakkan pistol kanannya lalu tak lama kemudian menembakkan satu peluru lagi dengan pistol kirinya.
“Lalu mengapa?” Seno lagi-lagi berusaha untuk menahan peluru itu dengan menggunakkan sarung tangan batunya. Dia berhasil menahan peluru pertama “Percuma saja.”
“Sungguh? Open the Seal : Thunderstorm Bullet” Seketika, peluru kedua yang ditembakkan Sindy berubah menjadi banyak dan berubah menjadi petir. “Awas badai.” Sindy tersenyum.
“Apa?!” Peluru-peluru petir itu langsung menghujani Seno. Aliran listriknya membuat sarung tangan batu milik Seno menjadi tak bisa beregenerasi dan hancur. Kejutan listrik itu terus mengalir ke seluruh tubuh Seno hingga membuat tubuhnya terluka cukup parah. Bahkan membuat topeng batu milik Seno menjadi rusak.
“Aaah.... Sial, kalau begini aku harus membuat topeng baru.” Seno melepas topengnya lalu membuanya dengan santainya. “Dan dengan begini, kau jadi melihat wajahku.”
“Kau....” Sindy terdiam. Dia terjatuh lemas karena tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat. Mulutnya ingin berkata banyak, namun terlalu kaku untuk bisa berkata-kata. Pikirannya menjadi kosong. Matanya tidak berkedip sedikitpun. Bahkan dia tidak bisa bergerak karena syok.
“....Kakak.”
Waktu habis.
Terjadi ledakan di mana-mana. Asap berwarna hitam mulai memenuhi seluruh ruangan di gedung. Suara gemuruh yang memekakkan telinga. Api mulai menjalar kemana-mana, menjilat apapun yang ada di sekitarnya. Ruangan yang gelap langsung menjadi terang karena datangnya si jago merah.
“Nampaknya waktunya sudah habis. Maaf Sindy, aku harus pergi.”
Mendengar itu, Sindy tak bisa berdiam diri saja. Dia ingin berdiri dan mengejar Seno. Namun kakinya tak mau di gerakkan, kakinya terasa kaku seakan menolak untuk bergerak. Sindy mengangkat tangannya dan mengepalkannya seakan menangkap Seno, namun jarak diantara mereka terlalu jauh. “Tidak... kakak... Kak Seno...” Sekuat tenaga, Sindy mencoba untuk berdiri. Dia mencoba menggerakkan kakinya untuk mengejar Seno. Napasnya mulai sesak karena asap, panasnya api sangat menyengat, suara ledakan yang memekakkan telinga begitu terasa. Tiba-tiba, Sindy tersandung sebuah bongkahan batu yang tercipta karena ledakan. Disaat mencoba untuk kembali berdiri, terjadi sebuah ledakan yang membuat jalan antara dirinya dan Seno hancur dan runtuh.
“Sindy, dimana kau?” Aku berlari ke tempat Sindy yang sudah diberitahu oleh Zaki dan Leila. Meski asap sudah memenuhi ruangan dan kadar oksigen yang ada tinggal sedikit, aku tidak peduli.
Aku melihatnya yang terduduk lemas. Aku berniat untuk memanggil namanya, namun aku langsung mengurungkan niatku setelah melihat adanya tetesan air mata. Aku berjalan menghampirinya lalu memegang pundaknya. “Sindy, ayo pergi.” Menyadari keberadaanku, Sindy perlahan menengok. Air matanya yang jernih mengaliri wajahnya dan turun menetes membasahi lantai yang panas.
“Dimo....”
Ini pertama kalinya aku melihat Sindy hingga seperti ini. Sindy yang kukenal adalah seseorang yang selalu tenang dan tak pintar mengekspresikan diri, namun sebenarnya dia adalah orang yang baik dan peduli dengan semua temannya.
Entah apa yang sudah dialaminya hingga sudah membuatnya seperti ini, namun hanya satu hal yang bisa aku lakukan saat ini.
Aku mengulurkan tanganku lalu tersenyum tulus dan mengatakan satu hal “Ayo pulang.”
Dia tertuntuk sejenak lalu mengusap air matanya. Dia angkat wajahnya lalu mempersiapkan hatinya. Setelah cukup tenang, dia tersenyum lalu meraih tanganku “Ayo.”
***
Sebulan telah berlalu sejak saat itu. Hari ini, alat antar dimensi yang akan mengantar Dimo Radhika dan kedua orang tuanya kembali ke dunia asalnya telah jadi. Alat itu begitu kecil dan hanya bisa sekali pakai saja. Untuk membuatnya saja dibutuhkan waktu selama sebulan. Ritual pengiriman kembali Radhika ke dunia asalnya di adakan di ruang turnamen milik Bum Corp. menurut Pak Bum, hanya ruangan inilah yang cukup besar untuk membuka portal menuju ke dunia cermin.
Radhika menaruh alat itu di lantai, lalu tak lama kemudian keluarlah sebuah portal yang ukurannya hampir besar dengan ukuran ruangan ini. Angin yang berhembus kencang keluar dari dalam portal tersebut. Aku hampir tidak mempercayai apa yang kulihat, portal berukuran besar dan berwarna putih itu terhubung langsung dengan dunia cermin—dunia dimana Radhika seharusnya berada. Semuanya menyaksikan proses kepergian Radhika. Bahkan Mbak Anna sekalipun.
“Baiklah, aku pergi ya.” Radhika dan kedua orang tuanya melabaikan tangan kepada kami sesaat sebelum pergi. Namun, saat kedua orang tua Radhika sudah pergi, dia terhenti lalu berbalik.
“Dimo, sebelum aku pulang ada yang ingin kuberitahu padamu.” Mendengar itu, aku langsung berjalan maju mendekatinya. “Ini mengenai seseorang...” Radhika tertunduk sejenak sembari menggigit bibirnya.
“Seseorang? Siapa?”
Radhika memejamkan kedua matanya sembari tersenyum ragu “Ah, tidak. Kurasa tidak sopan jika aku memberi tahu tentangnya tanpa ada persetujuannya.” Lalu dia buka kembali kedua matanya sembari tertawa dan menggaruk-garuk rambutnya.
“Oi, oi, kau mau pergi dengan membuatku penasaran?” Aku mengatakannya dengan kesal sembari mengelus-elus belakang leherku.
“Ya, begitulah.” Radhika menyeringai sembari berbalik dan melambaikan tangan kanannya “Sampai jumpa.” Dia mulai berjalan menuju ke portal.
“Jangan bercanda!!” Balasku dengan kesal. Aku hendak ingin mengejarnya, namun Zaki menahanku dengan mengkunci kedua tanganku.
Karena tingkahku, dia tertawa. Lalu lambaian tangannya berubah menjadi sebuah jempol sebagai ucapan terima kasih kepadaku.
“Berlibur?” Zaki menjilat es krim miliknya sembari memberikan es krim milikku sementara Leila dan Sindy masih mengantri membeli es krim. Sinar mentari yang cerah membuat hari ini terasa panas. Bahkan seakan-akan aku bisa memasak telur di atas meja. Suara jangkrik begitu keras, lebih keras dari biasanya. Saat aku menatap ke atas langit, tak ada satupun awan bisa kulihat. Mungkin, ini adalah hari paling panas di tahun ini. Es krim yang begitu dingin seakan menjadi penawar racun bagi kami. Sekali aku menjilatnya, rasanya seakan panas yang sedang terjadi bukan apa-apa.
“Ya, setelah kami diskusikan, kami memutuskan untuk libur sejenak untuk melupakan semua masalah yang ada.” Mbak Anna memakai sunglass lalu memakai topi musim panas.
“Kami berdua juga ikut lho.” Entah bagaimana Ani dan Eni tiba-tiba muncul dari belakang Mbak Anna dengan pakaian hawainya yang begitu mencolok, ditambah dengan pose mereka saat muncul dari belakangnya.
“Kalian ya... oh ya, kalian masih belum minta maaf karena sudah mengejarku dan sudah menumpahkan minumanku.” Aku berusaha mengejar mereka berdua dan melakukan perhitungan dengan menggelitik mereka, namun mereka malah mencoba berlari menghindariku.
“Ngomong-ngomong, memangnya Kak Anna dan Kak Andri ingin berlibur di mana?” Leila datang sembari menjilat es krimnya.
“Hmmm.....” Mbak Anna berpikir dengan menggaruk pipinya menggunakkan telunjuk lalu tersenyum “ ....Kepulauan Seribu.”
“Wah, romantis sekali....” Leila menggenggam kedua tangan Mbak Anna dengan ekspresi yang begitu senang.
“Aku juga berpikir begitu.” Balas Mbak Anna dengan semangatnnya.
Melihat Leila dan Mbak Anna membuat Sindy terheran-heran. Diapun menghampiri Zaki lalu berbisik kepadanya “Bukankah sudah wajar?”
“Yah, Sindy, kau ini sama sekali tidak mengerti ya.” Zaki menepuk-nepuk pundak Sindy hingga tak sengaja membuat kemeja Sindy terkena es krim. Melihat itu, Zaki langsung terhenti dan bertingkah seakan-akan kejadian tadi tidak pernah terjadi. Sementara Sindy hanya terdiam tanpa kata-kata. Mbak Anna tersenyum melihat tingkah laku kami semua, sampai akhirnya dia teringat satu hal.
“Dimo, kemarilah.” Aku beserta Ani dan Eni terhenti setelah mendengar permintaan Mbak Anna. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya.
“Ada apa?”
Tiba-tiba, dia memukul perutku. Aku memejamkan mataku, karena aku tahu bahwa dia pasti akan melakukan lebih dari hanya memukul perutku.
Eh, tunggu. Apa ini? Kenapa dia tidak memukulku lagi?
Aku membuka kedua mataku. Hal yang tidak pernah kuguda sebelumnya terjadi. “Tu—Apa?!” Rambutnya yang berwarna ungu begitu dekat denganku. Aku bisa mendengar suaranya saat bernapas. Kulitnya yang putih dan jernih. Serta aroma sampo dari rambutnya.

Ditambah lagi wajah Leila yang menjadi merah merona, ekspresi Zaki yang begitu terkejut, dan Sindy yang pipinya menjadi merah merona, lalu Ani yang berusaha menutup mata Eni dengan tangannya.
Saat itu aku tersadar, bahwa dia sedang memelukku.
“Terima kasih.... dan maaf karena sudah melakukan hal buruk kepadamu.” Kata-kata yang diucapkannya begitu terdengar lembut dan tenang. Begitu berbeda dengan saat pertama kali aku dan dia bertemu. Memang saat itu begitu kacau, bahkan kami tidak berkenalan sama sekali. Karena itulah aku sama sekali tidak menyangka ini akan terjadi.
Entah mengapa wajahku memerah, rasa malu dan senang ikut bercampur bersama menjadi sesuatu yang lain “Y-ya, ti-tidak masalah. Ya-yang lalu biarlah berlalu.” Entah mengapa rasa malu ini membuatku menjadi susah berkata-kata.
“Kalau begitu, sampai berjumpa lagi.” Mbak Anna, Ani dan Eni melambaikan tangannya bersama sesaat sebelum memasuki mobil. Aku, Zaki, Leila, dan Sindy yang menyaksikan kepergiannya membalas dengan melambai balik.
Tak lama setelah dia pergi, Zaki dengan santainya menepuk pundakku lalu berbisik “Cie-cie, menang banyak.”
“Ya enggak lah!” Aku membantahnya lalu menangkap tangannya untuk ku pelintir sebagai balasan.
“Jadi ini yang namanya kesempatan dalam kesempitan.” Sindy menunduk kebawah sembari memegang dagu seakan sedang berpikir keras.
Aku melepas tangan Zaki lalu berbalik “Kenapa kau memikirkannya sampai seperti itu?”
“Di-Dimo.... mesum.” Leila membuang pandangannya dariku sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Yah, mesum dari mananya?!”
Melihatku yang selalu membuat tanggapan tajam atas komentar mereka, merekapun tertawa. Entah mengapa, tawa mereka membuat rasa kesalku menghilang begitu saja. Aku tersenyum lalu kututup kedua mataku. Aku mendongkak keatas lalu memandang langit dengan mentarinya yang terik. Setelah kulihat-lihat, langit hari ini begitu biru. Seperti Laut.
***
“Dimo..... Akhirnya kita akan bertemu lagi.” Gadis berambut putih itu menengok ke arah pohon—melihat sebuah ukiran “Dimo dan Ani.”
Rambut putihnya tertiup angin. Dia memandang langit biru cerah tanpa awan.
“Langit hari ini begitu biru ya. Seperti Laut saja.”
~BERSAMBUNG KE VOL.2~

No comments:

Post a Comment