Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Monday, July 2, 2018

Start Point - Chapter 9 : Dimo vs Dimo

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.
Oke, oke oke...
akhirnya arc panjang ini mencapai salah satu klimaksnya juga.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point



Characters and Story

Perlahan mulai muncul sebuah suara. Suara tersebut semakin jelas dan semakin jelas seiring berjalannya waktu. Dimo menghampiri sumber suara tersebut yang letaknya nampak dari samping gedung. Dia berpegangan ke pagar beton lalu menengok ke bawah. Kedua matanya langsung terbuka lebar, pelipis yang berwarna hitam itu menunjukkan rasa tidak percaya dan rasa terkejutnya. Tepat di hadapannya, ada aku. Aku meluncur kearahnya lalu mengambil pedangku dari dalam inventori “Leila!” Aku tancapkan pedangku ke pagar dan meraih pagar tersebut. Dengan gravitasi yang seakan menarik kakiku, aku memanjat pagar tersebut dan sampai ditempat yang selama ini kutuju.

Aku menarik kembali pedangku yang tertancap di pagar lalu berbalik dan melihat Leila yang bersama dengan peniruku “Leila, apa kau baik-baik saja?” Leila nampak tak berdaya dan terikat di sebuah tiang. Aku langsung berlari kearahnya dan berniat memotong ikatannya, namun peniruku menghalangiku dan akan menebasku. Aku menepis pedangnya dan melompat ke belakang “Sial, siapa kau sebenarnya?” Dia menyeringai lalu merapihkan rambutnya yang sama seperti rambutku.
Dimo

“Aku adalah kau, dan kau adalah aku.” Dia mengangkat pedangnya dan menunjukku dengan pedangnya.
“Jangan bercanda!” Aku berlari kearahnya lalu melafalkan skill Moonlight Sword. Dengan pedangku yang bercahaya yang lebih kuat dari pedang pada umumnya, aku mengayunaknnya dengan segenap kekuatanku. Namun, dengan mudah dia menangkis pedangku. Pedangnya yang berwarna hitam, berkebalikan dengan pedangku, dengan mudahnya menangkis seranganku.
“Bukan hanya kau yang bisa menggunakkan skill ini.”
Aku menendang kakinya dan berhasil merusak keseimbangannya, lalu mendorongnya dan membuatnya terjatuh. Aku langsung memanfaatkan momen itu untuk menyelamatkan Leila. Namun sesaat aku melintas melewatinya, dia menebas kakiku dan membuatku terjatuh.
Luka akibat serangannya nampak berbeda dengan serangan pada umumnya. Biasanya, luka pada tubuh sebuah avatar akan mengeluarkan cahaya, namun pada serangannya, luka yang diakibatkan mengeluarkan sebuah asap berwarna hitam pekat. “Apa kau bingung? Tenang saja, perlahan luka tersebut akan menyebar keseluruh tubuhmu.” Dimo menancapkan pedangnya ke lantai untuk membantunya kembali berdiri tegak sementara aku yang bangun dan mundur secara perlahan menghampiri Leila. Aku melirik sebentar kearah Leila lalu menyembunyikan tangan kiriku ke belakang tubuhku. Sebelum aku mendarat, atau sesaat setelah Mbak Anna mendorongku, aku menyempatkan diriku untuk mengambil revolver milikku dan menyimpannya di saku belakang celanaku. Dengan jaket milikku, revolver dan saku belakang tersebut takkan nampak dan diketahui olehnya.
Dengan cepat, kuambil revolver tersebut lalu menembakkannya. Namun, dengan mudahnya dia menepis peluru tersebut dengan pedangnya “Kau kira aku takkan menduga serangan tersebut?” Dia menyeringai lalu mengangkat pedangnya “Seharusnya kau melakukan lebih dari itu.” Perlahan, energi mulai terkumpul didalam pedangnya. Energi tersebut terkumpul dengan sendirinya tanpa dia harus lafalkan terlebih dahulu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kuda-kuda “Open the Seal : Moonlight Shard!” Sebelum dia selesai mengisi energi, aku melemparkan satu serangan penuh Moonlight Shard kearahnya. Dengan santainya, dia menatap moonlight shard milikku. Energi yang sudah terkumpul di pedangnya membuat pedangnya menjadi berwarna hitam pekat dengan aura berwarna merah darah.
“Open the Seal : Dark Moonlight Shard.”
Dengan cepat dan tanpa ragu dia mengayunkan pedangnya—melempar moonligh shard miliknya. Cahaya berwarna hitam dengan aura merah tersebut terlempar dari pedangnya dengan cepat.
Moonlight Shard miliknya nampak lebih kuat dan lebih cepat dari milikku dan dengan mudahnya mengalahkan Moonlight Shard milikku. Aku menyadari Leila yang sedang berada di belakangku takkan mampu menghindari serangan yang tepat mengarah kearahku itu “(Gawat!) Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Sword.” Aku menahan serangan tersebut dengan pedangku sekuat yang kubisa. Moonlight Shard miliknya terasa berat sampai-sampai membuatku sempat terdorong ke belakang. Apalagi dengan kondisi luka di kakiku yang nampaknya mulai menyebar. Kakiku mulai mengeluarkan efek samping, meski hanya sesaat, tadi aku sempat hampir kehilangan keseimbanganku. Jika aku terus menahannya seperti ini, aku mungkin akan terjatuh sungguhan.
Dengan sekuat tenaga aku langsung menepis serangan itu. Akibatnya serangan tersebut berbelok kearah lain dan menghilang. Setelah mengatur napas dan memastikan kondisi Leila yang baik-baik saja, aku melompat mundur menghampiri Leila.
Dimo dan Ceweknya

“Leila, apa kau baik saja?”
“A, aku baik-baik saja. Yang lebih penting, kalian harus menghentikan pertarungan kalian.”
“Bertahanlah, aku akan segera melepaskan ikatanmu setelah mengatasinya.” Tanpa mendengarkan perkataan Leila, aku langsung berlari kearahnya. Aku melirik kesana kemari, mencari cara untuk mengatasi lemahnya moonlight shard milikku. Namun, nampaknya dia sudah mempersiapkan tempat ini sehingga membuatku tak bisa memanfaatkan apapun.
“Melihat apa kau?” Tanpa kusadari dia sudah berada di belakangku dan siap untuk menebasku kapan saja. Saat dia mengayunkan pedangnya, aku langsung menahannya dengan segenap kekuatanku. Namun, tiba-tiba kepalaku terasa sakit tak lama setelah pedang kami beradu. Sakit kepala ini juga nampaknya dialaminya, akibatnya dia langsung mundur menjauh dariku. Saat sakit kepala itu menerjang, muncul beberapa ingatan yang sangat asing di kepalaku seakan ingatan tersebut mencoba untuk mendobrak memasuki otakku.
“(Apa itu tadi...?)” Sembari memegang kepalaku yang masih terasa agak sakit, aku berbalik menghadapnya. Tanpa menghiraukan sakit kepala itu, Dimo mulai tersenyum dan tertawa lepas. “Apa yang kau tertawakan?” Dia tertawa lepas sampai-sampai matanya mengeluarkan air mata. Setelah menyeka air mata dan tawanya mereda dia mulai tersenyum.
“Tidak, hanya saja, aku tidak menduga bahwa kau dulu tak bisa membaca strawberry.”
Mataku langsung terbelalak, rasa malu bercampur rasa sedih langsung menghampiri diriku. Tak lama kemudian mulai muncul rasa kesal, rasa kesal dan rasa sedih yang tak tertahankan. Aku menatap tajam dia “Dari mana kau tahu itu?” Aku langsung berlari menerjang kearahnya dengan cepat. Melihat reaksiku, senyum itu langsung terhapus dari wajahnya dan mulai muncul tatapan serius dari matanya. Aku menyimpan kembali revolver milikku lalu menggenggam pedangku dengan kedua tanganku. “Open the Seal : Moonlight Shard” Aku mengayunkan pedangku secara vertikal untuk melempar skill tersebut. Akibatnya, Moonlight Shard yang tercipta tegak lurus dan lebih tinggi dariku.
“Kau tidak belajar dari pengalaman, ya.” Dengan mudah Dimo menepisnya menggunakkan pedangnya yang sudah berubah menjadi hitam, namun tanpa dia duga, aku akan muncul dari balik Moonlight Shard yang kulempar dan sudah siap untuk menebasnya.
“Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Sword.” Tebasan tersebut berhasil mengenai pundak kirinya. Disaat tangan kirinya siap menebasku dengan pedangnya, kulepas genggaman tangan kiriku dari pedangku lalu mengambil kembali revolver dan langsung menembak tangan kirinya. Akibatnya, pedangnya terlepas dan terlempar dari tangan kirinya.
“Boleh juga.”
Tangan kanannya mulai berubah menjadi hitam lalu mencengkram pedang milikku yang tertancap di pundaknnya. Cahaya berwarna perak yang terdapat di pedangku perlahan mulai padam seakan terhisap kedalam tangan kanannya. Setelah seluruh cahaya yang ada di pedangku terhisap sepenuhnya, dia dengan mudah mengangkat pedang tersebut dari pundak kirinya. Rasa sakit lagi-lagi muncul dari luka yang mulai menyebar di kaki kiriku—membuatku mulai kehilangan keseimbangan dan tenaga.
“Ada apa? Apa lukamu mulai menyebar?” Sembari menahan rasa sakit, perlahan aku menodongnya dengan revolver milikku dan berniat untuk menembaknya, namun dia menendang perutku dengan begitu kencang dan membuatku terjatuh. Setelah mengambil pedangnya, dia langsung mengalirkan energinya ke pedangnnya dan menyerangku. Aku yang masih dalam kondisi terjatuh, menghindarinya dengan menggulingkan tubuhku ke belakang lalu melompat untuk berdiri.
Sesaat tak lama setelah aku kembali berdiri, dia berhasil menusuk pundakku dan mendorong mundur diriku. Karena efek terkejut sehabis tertusuk, secara tak sengaja pedangku terlepas dari tangan kananku. Dia terus mendorongku sampai aku menabrak pagar pembatas, tak cukup sampai disitu, dia terus mendorongku sampai membuatku hampir terjatuh.
“Dimo!” Leila yang khawatir atas kondisiku terus mencari cara untuk melepas ikatannya, tetapi tali yang mengikat kedua tangannya terlalu kencang sampai-sampai membekas ditangannya.
Sembari terus mencoba untuk menarik keluar pedang tersebut dari pundakku, perlahan warna hitam yang terdapat di pedang tersebut merambat menyebar ke tangan dan pundakku “Gawat...... gawat.....” Gumamku.
Aku menendang kakinya lalu membenturkan kepalaku dengan kepalanya. Akibatnya, aku berhasil terlepas dari genggamannya. Aku mencabut pedangnnya dari pundakku, namun terasa sebuah sensasi yang sangat tak mengenakkan saat aku menggenggam pedang tersebut. Pedang tersebut terasa seperti hidup dan seperti menghisap energiku. Warna hitam yang terdapat di pedang tersebut juga semakin menyebar di tangan kananku. Entah mengapa, instingku mengatakan untuk segera melepas pedang tersebut. Maka kutancapkan kelantai pedang tersebut lalu berlari mengambil pedangku. Dimo kembali berdiri lalu menarik kembali pedang miliknya yang tertancap di lantai. Aku melihat kembali kedua tangan dan pundakku, warna hitam yang sebelumnya menyebar ditangan dan pundakku mulai menghilang sejak kulepaskan pedang tersebut.
“Kurasa sudah cukup bermain-mainnya.”
“Kau benar.” Aku kembali menyimpan revolver milikku setelah mengisi ulang pelurunya lalu menggenggam pedangku dengan kedua tanganku sambil mengambil kuda-kuda. Sementara dia yang mengangkat pedangnya ke samping dan kembali membuat pedangnya menjadi hitam. “(Kurasa, satu-satunya pilihan untuk menghadapi pedang tersebut adalah dengan menggunakkan Super Moonlight Shard atau Super Moonlight Sword.) Open the Seal......” Pedangku mulai bercahaya, cahayanya yang samar-samar karena cahaya matahari yang begitu cerah. Bersamaan pedangnya yang mulai mengeluarkan cahaya berwarna hitam dengan aura merah yang sangat mencolok. Perlahan, kami berdua mengangkat pedang kami berdua, lalu mengayunkannya secara bersamaan.
“.....Super Moonlight Shard.”
“Super Dark Moonlight Shard.”
Cahaya raksasa berwarna perak yang kulemparkan dari pedangku melesat dengan cepat bersamaan dengan cahaya berwarna hitam dengan aura berwarna merah miliknya. Kedua cahaya tersebut beradu, antara hitam dan putih, antara ada dan tiada, menciptakan sebuah warna baru yang merupakan perpaduan dari keduanya. Kedua cahaya tersebut tercampur dan berubah menjadi sebuah bola enerji berwarna abu-abu yang perlahan semakin membesar. Tak lama kemudian, cahaya tersebut meledak. Suara ledakannya terdengar sampai ke telinga anggota ERASER yang terdapat di bawah. Getaran akibat ledakan tersebut terasa sampai ke bawah. Bahkan asap yang tercipta akibat ledakan sangat besar dan padat. Akibat ledakan tersebut, Dimo terlempar terjatuh dari atas gedung. Namun, seakan belum kehabisan ide, dia mencoba menghentikan tubuhnya yang sedang terjatuh dengan menancapkan pedangnya ke tembok gedung lalu mengambil pistol dari dalam inventorinya.
Dia tembak kaca jendela yang berada di sebelah tembok dimana dia menancapkan pedangnya. Setelah melancarkan beberapa tembakkan dan membuat kaca tersebut rentan akan kerusakan, dia mengayunkan tubuhnya dan melompat. Dia tendang kaca tersebut hingga pecah menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuatnya berhasil masuk kembali ke dalam gedung. Dengan pedangnya yang masih tertancap diluar dia mengalirkan energinya keseluruh tubuhnya dan menciptakan sebuah koneksi akan dirinya dengan pedangnya.
Pedang itu bereaksi dengan energinya dan mulai terlepas dari tembok. Setelah terlepas, pedang tersebut berayun masuk kedalam gedung dimana Dimo berada seakan menjawab panggilannya.
***
Aku tersadar. Aku terbatuk karena asap yang memenuhi tempat ini. Aku mengayunkan tanganku untuk menghilangkan asap yang ada disekitarku lalu mencari Leila “Leila, apa kau baik-baik saja?” Karena tak ada tanggapan sama sekali, aku langsung berlari ke lokasi dimana dia berada. Saat kutemukan, Leila ada dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tiang yang menimpa kakinya. Tubuhnya sedikit lecet dan kemeja putihnya kotor karena debu. Setelah menyingkirkan tiang yang menimpa kakinya aku menghampiri Leila yang tak sadarkan diri. Untuk membangunkannya, aku mengelus pipinya dan sedikit mengayunkan tubuhnya “Leila, hei! Sadarlah!”
“Di...mo....”
Tak lama kemudian Leilapun tersadar. Aku bisa bernapas lega dibuatnya. Rasa khawatir yang sebelumnya sangat membuatku cemas langsung hilang seketika. “Apa kau sanggup berdiri?” Aku memegang pundak Leila lalu mencoba membantunnya untuk berdiri, namun nampaknya kakinya terkilir akibat tertimpa tiang tadi.
“Dimo, kau harus hentikan pertarungan ini. Dia, dia terpaksa harus melakukan ini. Semua yang sudah dia lakukan kepada kita, itu semua bukan karena dia ingin melakukannya.” Leila memegang pundakku sementara aku yang hanya bisa terdiam seribu bahasa di hadapannya. Entah apa yang dikatakannya itu benar atau hanya sebuah kebohongan, aku tidak tahu. Namun untuk saat ini, aku harus mencari cara untuk pergi dari sini.
Tapi, apakah ada alasan baginya untuk berbohong? Lagipula, dia pasti memiliki alasan untuk mengatakan itu. Dan karena itulah, satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah percaya kepadanya.
Aku mengangkat tangannya dari pundakku lalu mengganggam tangannya dan tersenyum lembut “Tenang saja, aku pasti...... akan menyelamatkannya juga.”
Leila hanya terdiam dengan pipinya yang merah merona.
“Tunggu sebentar, aku akan mencari cara untuk membawamu pergi dari sini.” Aku kembali berdiri lalu berlari menuju ke tangga darurat, namun nampaknya jalan menuju ke tangga darurat terhalang oleh puing-puing akibat ledakan tadi. “Tak ada pilihan lain.” Aku menampilkan kembali sarung pedangku lalu menyarungkan pedangku dan berlari kembali ke Leila. Aku berdiri membelakanginya lalu jongkok. Namun, nampaknya dia masih tidak mengerti apa maksudku dan hanya terdiam “Ayo, kita tidak bisa melewati tangga darurat dan kau sedang tidak bisa berjalan, jadi tak ada pilihan lain selain menggendongmu dan mencari cara lain untuk turun dari atas sini.” Setelah mendengar penjelasanku, pipinya yang merah merona semakin menjadi-jadi.
“Ayo, kita tidak punya banyak waktu.” Aku menengok kebelakang, entah kenapa, melihat wajahnya yang memerah membuatku merasa sedikit malu. Leila mengangguk lalu mendekatiku.
Tiba-tiba Leila terhenti. “Tu-tunggu sebentar....” Setelah melihat luka dikaki kiriku yang semakin menyebar, dia langsung menyobek bagian bawah roknya dan mengikatkannya ke luka yang ada di kaki kiriku. “Aku tak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi..... kuharap ini bisa menunda penyebaran yang ada.” Leila tersenyum manis. Ikatannya yang begitu kencang bisa kurasakan di kakiku, entah mengapa, aku enggan untuk menengok ke belakang karena tersipu malu.
Setelah berhasil kugendong, aku berjalan menghampiri pagar pembatas, aku melompat ke atasnya lalu menengok ke bawah. Aku bisa mendengar suara napasnya yang bercampur dengan suara angin. Asap akibat ledakan tadi juga sudah mulai menghilang. Aku sedikit melirik ke belakang dan tersenyum “Apa kau siap?”
“Y,Ya.... aku siap.” Suaranya yang pelan terdengar jelas di telingaku, membuatku sedikit merasa merinding. Gawat, aku berpikiran yang aneh-aneh.
Aku kembali memfokuskan diriku dan menengok ke bawah “Baiklah..... aku akan melompat!” Aku mengambil napas dalam-dalam lalu melompat. Leila sontak berteriak bersamaan denganku yang melompat. Angin kencang bisa kurasakan di sekujur tubuhku. Mengibarkan rambutku dan rambut oranye miliknya. Leila memejamkan matanya dan semakin berpegangan erat kepadaku. Dia berteriak karena sudah tak sanggup menahan rasa takutnya, suara teriakkannya terdengar sangat kencang sampai-sampai aku tak bisa mendengar suara gesekan udara. Namun, tiba-tiba aku teringat bahwa aku lupa untuk mencari cara untuk mendarat. Disaat kami yang semakin dekat dengan daratan, aku mencari cara yang aman untuk mendarat.
Asap yang masih menutupi daratan membuatku tak tahu seberapa dekat kami dengan daratan, namun membuatku teringat kembali dengan insiden dimana aku terjatuh dari langit saat class meeting.
“Log out....” Setelah kembali kewujud asliku, aku melihat alat login device yang sudah kugenggam ditangan kananku yang sedang menggendong Leila. Aku sedikit melirik ke belakang—melihat Leila yang sedang memejamkan kedua matanya sembari berteriak. “Leila, tenanglah!” Mendengar panggilanku, Leila kembali membuka kedua matanya. Leila nampak bingung setelah melihatku yang sudah kembali ke wujud asliku, namun aku akan segera menjelaskannya dengan singkat, padat, dan jelas. “Aku ingin kau menggunakkan skill yang kau gunakkan kepadaku saat class meeting untuk mendaratkan kita berdua. Tetapi, untuk itu aku harus melepasmu, apa kau sanggup?”
“Y, ya. Aku akan berusaha sebaik mungkin.” Sembari menolak untuk melihat kebawah, Leila mengangguk penuh percaya diri.
“Baiklah, ayo mulai.” Aku melepas Leila yang sebelumnya kugendong, lalu melemparkannya login device untuk log in. Setelah menangkapnya, Leila langsung mengscan ibu jarinya lalu mengambil busur dan dua anak panah. Dia arahkan busur dan kedua anak panah itu kebawah, lalu menariknya sekuat yang dia bisa. “O-Open the Seal : Tornado Explotion Level High.” Kedua anak panahnya mulai bercahaya, cahaya berwarna hijau yang sangat terang. Dia tembakkan kedua anak panah tersebut ke daratan. Keduanya menembus asap berwarna kelabu, menjadi satu-satunya cahaya di dalam asap yang kelam itu. “Di-Dimo, bersiaplah!” Leila menyimpan busurnya lalu mulai memejamkan matanya, sementara aku yang dengan polosnya tetap menatap kearah dimana kedua anak panah yang dia tembakkan berada.
Tak lama kemudian, mulai muncul dua buah tornado raksasa. Keduanya menghisap habis asap yang berada didaratan bagaikan mesin penyedot debu. Kedua tornado itu juga menarik setiap benda yang ada di daratan untuk menjadi salah satu bagiannya.
Dari atas, aku bisa melihat jelas anggota-anggota ERASER yang sedang berlindung dari tornado tersebut. Tetapi, nampaknya kedua tornado raksasa tersebut tak terlalu berpengaruh kepada monster singa raksasa namun cukup untuk menghentikan pergerakannya karena membuatnya harus menancapkan kuku-kukunya yang tajam kedalam tanah. Juga ada beberapa anggota ERASER yang memasang penghalang berupa sihir di hadapan Bum Corp. untuk mencegah tornado dari merusak gedung tersebut.
Tak butuh waktu yang lama bagiku dan Leila untuk terhisap ke dalam tornado tersebut. Kepalaku terasa sangat pusing, aku langsung memejamkan mataku karena tak tahan dengan perpuataran dari tornado yang sangat kencang. Lama kelamaan, perasaan ini semakin membuatku mual. “(Gawat, aku sudah tak tahan lagi....)” Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku lalu menelan kembali muntahku.
“Ba-batalkan!” Sembari memejamkan kedua matanya, Leila merapatkan kedua telapak tangannya. Tak lama kemudian, tornado mulai mereda dan akhirnya mengecil. Aku dan Leilapun berhasil mendarat dengan selamat berkat tornado tersebut. Tak lama kemudian, kedua anak panah yang ditembakkan oleh Leila kembali bercahaya dan terbang masuk kembali kedalam arrow rest miliknya.
Aku kembali membuka mataku, untungnya aku mendarat di semak-semak sehingga rasanya tak terlalu sakit saat aku mendarat. Setelah kembali bangun dan membersihkan kemeja putih serta celana abu-abu milikku aku melihat Leila yang mendarat dengan aman berkat kemampuannya sebagai seorang Archer. Walau begitu, luka dikakinya tetap membuatnya tak sanggup untuk berdiri ataupun berjalan. Tapi, nampaknya berkat tornado tadi, asap yang sebelumnya menyelubungi daratan sudah menghilang. Aku tersenyum sesaat lalu berlari kearahnya yang sudah melakukan log out.
“Leila, apa kau baik-baik saja?”
“Y-ya, te-terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
“Yah, ini semua berkatmu. Jika saja kau tidak mempunyai kemampuan itu, entah bagaimana jadinya.” Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi merah padam, pipinya berubah menjadi merona dan matanya berbinar. Dia langsung mengalihkan pandangannya dariku sementara aku duduk di sebelahnya.
“Dimo.... Leila..... apa kalian baik-baik saja?” Zaki dan Sindy berlari kearah kami. Tangan Zaki yang sedang memegang pedang dan perisai melambai. Melihanya, aku kembali berdiri dan melambai balik.
“Ya, kami baik-baik saja. Tapi nampaknya kaki Leila terkilir.” Leila langsung menengok kearahku dengan tatapan penuh kegelisahan. Mungkin dia khawatir dengan luka yang terdapat dikaki kiriku “Tenanglah, luka ini nampaknya bukan luka yang bisa disembuhkan dengan perawatan medis biasa. Sekarang, aku lebih mengkhawatirkanmu dibandingkan dengan luka yang ada di kakiku ini.”
Mendengar jawabanku mengenai kondisi kami berdua Zaki langsung berbalik dan meminta bantuan kepada tim medis dari ERASER sementara Sindy yang memberi Leila pertolongan pertama.
Setelah menjauh beberapa meter dari mereka, aku menggulung celanaku lalu melepas perban yang sebelumnya diberikan Leila. Berkat perban darinya, sepertinya penyebaran luka berhasil diperlambat. Jika saja dia tidak berinisiatif melakukan ini, mungkin luka ini sudah menyebar kesebagian kaki kiriku. Tetapi, walau aku sudah ada dalam keadaan log out, luka ini tetap menyebar.
Setelah mengikat kembali kaki kiriku, aku kembali menghampiri Leila yang sudah diberi perawatan dari tim medis. Zaki dan Sindy juga nampaknya sudah pergi karena monster singa tersebut belum berhasil dikalahkan. “Syukurlah. Untung saja mereka punya pasukan medis.” Aku tertawa kecil sembari mengelus belakang leherku.
Tak lama kemudian Leila menarik celanaku, lagi-lagi dia memunculkan ekspersi penuh kekhawatirannya “Tapi, lukamu.....” Aku kembali duduk lalu memegang pundak Leila dan tersenyum lebar untuk mencairkan suasana.
“Sudah kubilang bukan, kau tak perlu khawatir.” Wajahnya kembali berubah menjadi merah padam, dia kembali menatap lurus seakan aku tak berada disampingnya.
“Oh ya, Dimo......”
“Ada apa?”
“I-ini.....” Seakan menolak untuk memandangku, Leila mengulurkan tangannya yang menggenggam login device milikku.
“Oh iya, aku hampir saja lupa.” Setelah menerimanya, aku kembali mengantunginya. Tak lama kemudian, terjadi kehebohan. Monster singa raksasa yang sedang dilawan oleh pasukan dari ERASER tiba-tiba berhenti bergerak dan wujudnya mulai berkedip lalu memudar. Aku berlari menghampiri Zaki dan Sindy yang mematung setelah melihat kejadian tersebut. Tak ada satupun anggota ERASER yang berani mendekati monster tersebut, mereka lebih memilih diam dan bersiap daripada memanfaatkan kejadian ini untuk menyerang.
“Apa yang terjadi?”
“Entahlah.... tadi tiba-tiba ada sebuah pedang yang terlempar, lalu monster itu mulai berhenti bergerak dan menjadi seperti ini.” Zaki menyarungkan kembali pedangnya dan menggantungkan perisainya ke punggungnya.
“Pedang?” Aku berlari mendekati monster tersebut lalu berlari mengitarinya untuk mencari pedang yang dikatakan Zaki. Sebuah pedang, pedang yang kukenal, menancap tepat di tubuh dari monster singa tersebut. “Pedang ini....” Tak lama kemudian, angin mulai berhembus kencang, monster yang memudar tersebut kembali menjadi padat dan mulai terhisap kedalam pedang yang tertanam ditubuhnya. Perlahan demi perlahan, tubuh besar monster itu terhisap kedalam pedang bagaikan pedang tersebut melahapnya.
Sesaat setelah monster tersebut sepenuhnya dilahap oleh pedang tersebut, pedang itu mulai bercahaya. Setelah cahaya dipedang tersebut sudah meredup, pedang tersebut mulai terjatuh.
Tanpa pikir panjang, aku langsung log in dan berlari untuk menangkap pedang tersebut, namun pedang itu mulai terbang saat aku melompat untuk menangkapnya. Seperti anjing yang mencari majikannya, dengan cepat pedang tersebut mulai bergerak dengan sendirinya. Aku kembali bangun dan membersihkan pakaianku sembari melihat kemana pedang itu menuju. Semua orang, tanpa terkecuali, pandangannya tertuju kepada pedang tersebut.
Dengan mudahnya, Dimo menangkap pedang miliknya itu. Aku tertegun, aku hampir saja lupa dengan dirinya. Dihadapannya, terdapat Mbak Anna yang sudah dalam keadaan log out terkapar tak sadarkan diri dengan luka yang cukup parah. Semua orang menjadi geram melihatnya, apalagi anggota Divisi yang dipimpin oleh Mbak Anna. Mereka langsung berlari dan bersiap untuk melawan Dimo, namun dihentikan oleh Kak Indra. “Pilihan yang bijak. Kau pasti mengerti apa yang akan terjadi dengannya jika kalian berani melawanku.” Dimo menancapkan pedangnya tepat didepan kepala Mbak Anna sebagai gertakan kepada kami.
Aku menengok kebelakang untuk memastikan kondisi Leila dan yang lainnya. Leila yang terduduk lemas sembari menengok kearahku sementara Sindy dan Zaki yang mundur untuk melindungnya “(Saat ini, Leila sedang dalam kondisi dimana dia takkan bisa bergerak, sementara Zaki dan Sindy yang sepertinya akan melindunginya, jadi aku tak perlu khawatir.)” Aku kembali menghadap kedepan, lalu berjalan menghampiri Kak Indra yang letaknya tak jauh dari Dimo.
“Tolong hentikan ini, dan menyerahlah.” Sembari memberi kode kepada anggotanya untuk bersiap menyerang, Kak Indra sepertinya mencoba cara negoisasi. Bila negosiasi yang dia lakukan tidak berhasil, maka anggotanya akan berusaha untuk menangkap Dimo. “Sebenarnya siapa kau dan apa tujuanmu?” Perlahan, mereka sedikit demi sedikit melangkah maju mendekati Dimo. Namun, sebagai orang yang baru saja melawannya, kurasa Dimo menyadarinya dan sudah memprediksi pergerakkan mereka.
“Siapa aku dan kenapa aku melakukan ini tidaklah penting.”
“Apa maksudmu?”
“Sudah cukup basa-basinya.” Dimo mengumpulkan energi keseluruh telapak tangannya, lalu dia genggam pedangnya yang sudah tertanam. Akibatnya, seluruh energi yang sudah terkumpul ditelapak tangannya langsung tersalurkan kedalam pedangnya dan menyebabkan ledakan energi. Tanah mulai bergetar, Kak Indra langsung memerintahkan seluruh anggotanya untuk menyerang Dimo, namun telah terlambat.
Dari dalam tanah, mulai bermunculan duri-duri berwarna hitam dengan aura berwarna merah yang sangat tajam. “Gawat!” Aku langsung melompat mundur menghindari duri-duri yang terus bermunculan dari dalam tanah.
“Dimo, kemarilah!” Aku melirik kebelakang, Zaki, Leila, dan Sindy yang nampaknya sudah berlindung di dalam perisai api milik Zaki. Zaki membuat perisai api tersebut dengan megkolaborasikan pengendalian apinya dengan perisai miliknya sehingga perisai tersebut menyatu dengan api dan membentuk sebuah bungker bulat yang luarnya tercipta dari api yang tahan dari serangan apapun.
Sembari mengulurkan tangannya dari lubang besar yang sengaja dia sisakan dibungker tersebut, Zaki memanggilku dan menungguku untuk ikut berlindung bersamanya. Aku langsung berlari kearahnya dan melompat untuk meraih tangannya. Setelah berhasil meraih tangannya, Zaki langsung menarikku masuk kedalam  bungker milikknya. Setelah berhasil naik, Zaki dan aku langsung mundur dan dia menutup lubang tersebut.
“Astaga, yang tadi itu apa?”
“Kurasa itu salah satu kekuatannya.”
“Yang benar saja?!” Zaki terduduk lemas dengan nafasnya yang berat. Kami berempat berlindung di bungker berbentuk bulat yang terasa sempit dan gelap ini. Aku sedikit penasaran dengan apa yang Leila katakan sesaat sebelum aku dan dia melompat dari atas gedung. Namun, dilihat dari kondisi Leila, kurasa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan itu.
“Zaki, apa kau bisa membuka sedikit celah untukku melihat?” Aku kembali berdiri lalu mendekat kedinding bungker.
“Oke....”
Zaki berdiri lalu menyentuh dinding bungker. Seketika, terciptalah sebuah lubang lingkarang oval yang horisontal yang cukup besar untuk melihat dengan kedua mata. Melalui lingkaran itu, aku melihat kondisi diluar. Pertumbuhan duri nampaknya sudah berhenti, Dimo juga sudah tidak menggenggam pedangnya dan terduduk. Syukurlah, walau duri terdapat dimana-mana, namun tak ada satupun duri yang mengenai Mbak Anna yang masih tak sadarkan diri. Anggota ERASER juga nampaknya baik-baik saja, dengan penyihir yang mereka punya, mereka menciptakan semacam medan pelindung dari duri-duri tersebut.
“Kurasa waktu bermain sudah berakhir. Tak kusangka, hanya segini energi yang kudapatkan setelah menghisap monster itu.” Dimo kembali berdiri lalu menyentuh tanah. Tak lama, duri-duri kembali memasuki tanah seakan terhisap kedalam. Setelah semua duri sudah menghilang, Zakipun membatalkan skill perisai apinya dan menurunkan kami. Dimo kembali menarik pedangnya lalu dia angkat pedangnya dan menunjukku menggunakkannya “Dimo Ramadhan, jika kau peduli dengan orang ini, maka aku menantangmu untuk melanjutkan pertarungan kita!”
“Baiklah, aku menerimanya. Tapi, kau harus melepaskannya terlebih dahulu!”
“Cukup adil. Baiklah, aku akan melepaskannya.” Dimo berjalan melewati Mbak Anna sembari menyarungkan kembali pedangnya. Kemudian, Kak Indra segera memerintahkan anggotanya untuk segera mengevakuasi Mbak Anna.
“Ada satu hal lagi yang kuinginkan.” Aku yang awalnya ingin menarik pedangku, namun aku langsung mengurungkan niatku setelah teringat dengan perkataan Leila sesaat sebelum melompat bersamaku “Siapa kau sebenarnya?”
Dia terhenti. Dirinya langsung mematung seketika setelah aku menanyakan hal itu “Oke, kali ini akan kujawab pertanyaanmu. Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Apa kau ingat? Namaku adalah Dimo Radhika, begitu juga dirimu, Dimo Ramadhan.”
Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya. Namun, setelah mendengarnya berkali-kali dan dengan ingatan yang kudapatkan darinya, akhirnya aku mengerti apa maksudnya. Aku mengambil kuda-kuda dan bersiap untuk memukul “Ayo lawan aku, Dimo Radhika!”
Kamipun berlari menuju satu sama lain, dia menghunuskan pedangnya dan hendak berniat menebasku. Namun, aku langsung menunduk lalu memukul perutnya. Tetapi, dia sudah mengantisipasi hal itu sehingga pukulanku tak membuatnya goyah sedikitpun. Setelah membalik pedangnya dan hendak menusukku, aku menendang kakinya dan membuatnya tergelincir sehingga serangannya luput dariku. Disaat aku hendak akan melompat menjauh darinya, sebuah duri keluar dalam tanah dan menusuk kaki kiriku. Duri tersebut muncul bersamaan dengan pedangnya yang tertancap di dalam tanah dari serangannya yang luput tadi.
Akibat duri itu, lompatankupun gagal dan akupun terjatuh. Disaat aku terjatuh, dia melompat kearahku dengan pedangnya yang sudah dilapisi dengan cahaya berwarna hitam. Aku menghindar dengan berguling kearah yang berlawanan dari serangan itu berasal.
“Open the seal : Dark Moonlight Shard!” Dimo melemparkan cahaya-cahaya itu kearahku yang sedang bergelindung. Melihat serangannya, aku langsung bangun dan menarik pedangku. Kuaktifkan skill Moonlight Sword dan menepis serangan-serangan itu. Dia muncul dibalik Dark Moonlight Shard terakhir miliknya, lagi-lagi dengan pedangnya yang sudah menghitam. Aku menepis pedangnya dengan sisa-sisa akhir dari Moonlight Swordku lalu kubenturkan kepalaku dengan kepalanya. Akibatnya, kami berduapun terjatuh. Disaat aku hendak akan bangun dengan bertumpu pada pedangku, Dimo sudah berada dihadapanku. Tanpa pikir panjang, tanganku langsung bergerak dengan sendirinya menepis serangannya. Aku terdorong beberapa meter setelah menerima serangannya.
“(Ada apa ini.... serangan dan kecepatannya lebih kuat dari  sebelumnya.)” Aku menyarungkan kembali pedangku dan melompat mundur lalu berlari menghampirinya “Open the seal : Moonlight Shard.” Karena aku menyarungkan pedangku, energi dari moonlight shard dengan sendirinya terkumpul kedalam kedua kepalan tanganku. Disaat energi itu sudah terkumpul sepenuhnya, cahaya yang ada dikedua tanganku mulai berubah menjadi seperti sarung tinju. ”Moonlight Fist!” Aku mengepalkan kedua tanganku lalu memukulnya. Tetapi, dia berhasil menghindari seranganku dengan  mudah. Dia kumpulkan seluruh energi kedalam pedangnya yang kemudian berubah menjadi hitam lalu hendak memotong tangan kananku. Dengan sigap aku langsung menangkap pedangnya dengan tangan kiriku. Untungnya, cahaya yang ada ditangan kiriku melapisi tanganku sehingga tak terluka saat menangkap pedang miliknya.
Tak butuh waktu lama, warna hitam yang terdapat dipedangnya mulai mengalir kedalam cahaya di tangan kiriku bagaikan limbah yang mencemari sungai. Aku langsung melepaskan genggamanku dari pedang tersebut sebelum kegelapan itu semakin melahap cahayaku. Meskipun begitu, kegelapan itu semakin menyebar sama seperti luka yang ada dikaki kiriku. Sebagai tindakkan pencegahan, aku menonaktifkan skill moonlight shard milikku sebelum kegelapan melahap seluruh cahaya di tangan kiriku.
Dimo tak berdiam diri melihatku, diapun menancapkan pedangnya kedalam tanah, lalu keluarlah duri-duri yang mengincar kakiku. Aku melompat mundur menghindari duri-duri itu. Tetapi, rasanya itu saja tidaklah cukup. Seberapa kalipun aku menghindar, duri-duri tersebut akan terus mengejarku. “Kalau begitu....” Aku mengambil revolverku dan menembak tangan Dimo yang menggenggam pedangnya. Setelah genggamannya terlepas, duri-duripun berhenti bermunculan dan aku berhenti melompat. “Sudah kuduga. Duri-duri tersebut bukan berasal dari pedangmu, namun berasal dari energi yang disalurkan oleh tanganmu kedalam tanah dengan pedang sebagai media untuk menyalurkannya.”
Dimopun tertawa dan menarik pedangnya yang tertancap. Peluru yang kutembakkan perlahan keluar dari luka yang ada ditangannya bersamaan dengan tangan tersebut yang pulih kembali. Tangannya yang pulih tersebut nampaknya akibat dari energi hitam yang mengalir di tangannya. “Kau benar. Tetapi bukan itu saja yang kupunya......” Setelah menarik pedangnya, tiba-tiba Dimo sudah berada dihadapanku dan menebasku. Karena terkejut aku langsung menarik pedangku dan menepis pedangnya meski agak terlambat dan melompat mundur. Namun, berkat itu aku berhasil mencegahnnya melukaiku lebih parah lagi. Serangannya berhasil mengenai pundak kiriku.
“(Tadi itu apa...?! Jika saja aku tidak menepisnya tadi, mungkin tebasannya juga bisa mengenai dadaku.)” Sembari menekan luka akibat tebasannya, aku melirik luka tersebut. Aku beruntung luka yang berada dipundakku tidak menyebar seperti yang ada dikaki kiriku.
“Apa kau terkejut karena kecepatanku? Biar kujelaskan, kecepatan dan kekuatan untuk mengeluarkan duri ini kudapatkan setelah aku menyerap monster tadi.”
“Cih, apa kau berpikir bahwa aku akan percaya kepadamu?”
“Mau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Aku memberitahumu karena sebentar lagi kau akan kuhabisi.”
“Coba saja kalau bisa.” Aku menyimpan revolverku kembali kedalam inventory lalu mengambil kuda-kuda untuk menahan serangannya. Dengan tangan kiriku yang menggenggam pedang, dan tangan kananku yang siap untuk memukul kapan saja. Saat ini, sangatlah tidak mungkin bagiku untuk bisa mengimbangi kecepatannya, yang bisa kulakukan hanyalah bertahan dan mencari celah untuk menyerang.
Dimopun mulai menyerang. Dengan kecepatannya yang tinggi, dia terus memojokkanku dan tak memberiku celah untuk menyerang balik. Aku terus menepis serangannya sebanyak yang kubisa meski kutahu sangat mustahil untuk menghalau seluruh serangannya. Luka yang kudapatkan terus bertambah, dan aku sama sekali tak bisa memberikan satu seranganpun padanya. Tapi, aku tak bisa terus seperti ini. Jika terus seperti ini, aku akan kehabisan Hpbar dan kalah darinya. Aku harus mencari cara untuk mengimbangi kecepatannya.
“Ada apa? Kenapa kau tak ingin menggunakkan pedangmu dan menyerangku?”
“Aku tidak perlu menggunakkan pedangku untuk bisa mengalahkanmu.”
“Kalau begitu, akulah yang akan menggunakkan pedangku untuk mengalahkanmu.” Dimopun berhenti di belakangku dan sudah siap untuk menusuk punggungku dengan pedang miliknya. Pedangnya yang sudah berwarna hitam dan aura merah, akan menusuk punggungku.
“Dimo!” Tanpa pikir panjang, Zaki langsung berlari kearahku untuk menghentikan Dimo. Namun, Sindy langsung memegang tangannya dan mencegah Zaki untuk menghampiriku.
“Tunggu dulu.”
“Tapi....” Zaki menengok kebelakang dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari Sindy.
“Wah, Tadi itu bahaya sekali.” Mendengar suaraku, Zaki kembali menatap lurus kearahku yang sudah berada dibelakang Dimo. Betapa terkejutnya Dimo, pedangnya yang ditujukkan kepadaku hanya menusuk udara kosong. Aku lalu memukul punggung Dimo dengan gagang pedangku hingga terjatuh.
“Bagaimana mungkin....?!”
“Mudah saja. Selama ini, aku selalu mengalirkan energi Moonlight Shard ke satu titik saja. Tapi, bagaimana jika aku mengalirkannya keseluruh tubuhku? Aku akan mendapat kecepatan yang sama dengan kecepatan milikmu.”
“Maksudmu....”
“Ya benar, yang tadi itu, Open The Seal : Super Moonlight Shard – Moonlight Speed. Bahkan, karena terlalu cepat.... aku sempat mengira bahwa aku telah memperlambat waktu. (Meski begitu, skill ini terlalu membebani tubuhku dan aku hanya bisa bertahan selama 4 detik menggunakkannya.)”
Dimo kembali bangun dan lagi-lagi tertawa. Suara tawanya bahkan begitu kencang. Setelah tertawa, dia mengangkat dan membalik pedangnya. Lalu kedua tangannya menggenggam erat pedang tersebut. Pedangnya kembali berubah menjadi hitam. Namun, ada yang berbeda kali ini. Aura berwarna merah yang dipancarkannya begitu terang dan energi yang dipancarkan terasa menusuk kedalam tulang-tulangku. Begitu terangnya, sampai-sampai membuat area disekitarnya berubah menjadi berwarna merah. Kaca-kaca gedung Bum Corp. bergetar karena energi yang dipancarkannya. “Ku akui, kau membuatku kagum. Tapi, kau salah akan satu hal. Pedang ini bukanlah pedang biasa!” Dimo menancapkan pedangnya kedalam tanah dengan sangat dalam. Saking dalamnya, beton yang berada disekitar pedang tersebut retak.
“(Tunggu dulu, jangan-jangan....)” Tanpa pikir panjang Kak Indra berlari menerjang kearah Dimo dan berniat untuk mencabut pedang miliknya. Namun, sebelum tangan Kak Indra sempat meraih pedang tersebut, sebuah duri muncul dan menusuk kaki Kak Indra sehingga membuatnya terjatuh. Sesaat setelah terjatuh, Kak Indra berniat menarik pedangnya keluar dari sarung pedangnya lalu mengubahnya menjadi pedang air. Namun, lagi-lagi Dimo berhasil mengantisipasi itu dan menusuk kedua  tangannya dengan duri yang keluar dari dalam tanah. Melihat kondisi Kak Indra, seluruh anggota dari ERASER yang sebelumnya mengikuti perintah untuk tidak ikut campur langsung berlari menerjang untuk menyelamatkan Kak Indra. Tetapi, duri-duri yang besar bermunculan di hadapan mereka seakan memang ditujukkan untuk menghalangi mereka.
“Berhentilah, jika kalian mendekat lebih dari ini, maka akan ada sebuah duri yang menembus tengkorak kepala dari orang yang bernama Indra ini.” Dimo menyeringai puas sembari menengok perlahan kearah mereka.
Mendengarnya, Mbak Dinda langsung memerintahkan kepada mereka untuk diam dan menuruti apa permintaan dari Dimo. Dimopun sedikit bertepuk tangan lalu kembali menggenggam pedang miliknya. “Baiklah, sekarang.... it’s show time. Open the Seal : Sword of Fog.” Dengan cepat, pedangnya bercahaya dan mengeluarkan kabut dari dalam tanah dimana pedang itu tertanam. Kabut itu menelan suara dan menutupi cahaya untuk masuk kedalamnya. Semuanya seakan dalam mode senyap. Aku bahkan hanya bisa mendengar suaraku dan tak bisa mendengar suara orang lain. Sudah lebih dari lima kali aku berusaha memanggil yang lainnya, namun sama sekali tidak ada tanggapan.
“(Gawat.... kabut ini, kabut yang sama dengan yang dia keluarkan saat di gua.)” Aku menghunuskan pedangku dan mengambil posisi bersiap akan serangan. Dengan posisiku yang sama sekali tidak diuntungkan, sangat rentan bagiku untuk bisa menerima serangan.
Tiba-tiba, ada sebuah kilatan cahaya berwarna hitam yang menerjang kearahku. Kilatan cahaya berwarna hitam itu berasal dari pedang milik Dimo yang menyerangku. Untungnya, aku berhasil menepis serangan itu karena reflek. Tapi, aku sama sekali tidak tahu apakah aku bisa menerima serangannya yang selanjutnya atau tidak. Ditambah lagi, saat ini sepertinya luka di kaki kiriku sudah menyebar ke seluruh betis kaki kiriku sehingga sangat sulit bagiku untuk bisa menghindar.
“Kau pasti sudah tahu mengenai kabut ini bukan? Namun, setelah aku menghisap energi dari monster tadi, kabut ini telah naik ke tingkatan yang berbeda.” Sembari dia menjelaskan, dia terus menyerangku bertubi-tubi dengan membabi buta. Namun, aku tidak bisa terus seperti itu. Aku tidak bisa terus bertahan. Aku juga tidak bisa selalu bergantung kepada skill Moonlight Speed karena skill itu terlalu membebani tubuhku. Aku menarik pedangku keluar dan membuka inventory lalu mengambil pedang ogre sword dan menggunakkannya di tangan kiriku. Aku mengambil posisi dan mulai menepis serangan-serangan itu sembari berjalan mundur. Walau masih ada beberapa serangan yang tak bisa kutepis, namun aku bisa meminimalisir serangan yang kuterima.
Dengan kabut yang tebal seperti ini, aku tak tahu saat ini aku sedang berada di mana. Aku juga tidak tahu apakah ada tembok yang menanti di belakangku atau tidak. Saat ini, aku hanya bisa berharap ada tembok di belakang tubuhku. Dengan adanya tembok dibelakangku, maka serangan yang akan dilancarkannya hanya akan berasal dari depanku dan kemungkinan besar aku bisa menepis serangan-serangannya. Aku terus mundur dan terus mundur, sampai akhirnya aku menabrak tembok dari gedung Bum Corp.
“(Sip!) Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword.” Aku alirkan energi moonlight shardku kekedua pedang milikku. Dengan kekuatan dari Moonlight Swordku, aku berhasil menepis setiap serangan yang diberikannya. Tak lama setelah semua serangannya berhasil kutepis, diapun berhenti menyerang.
“Ada apa?” Aku menyeringai.
Namun, tiba-tiba aku teringat. Seharusnya disaat aku sedang tersudut seperti ini, dia pasti akan menggunakkan duri-durinya untuk menterangku. Namun sejak kabut ini mulai menyebar, dia sama sekali tidak menggunakkan duri-duri itu untuk menghentikan pergerakkanku. Padahal, saat ini dia bisa saja menyerangku dengan duri-duri miliknya dan membalikkan keadaan.
“(Durasi Moonlight Swordku juga sudah mulai habis. Tunggu dulu, pedang. Untuk mengeluarkan kabut ini, dia menancapkan pedangnya kedalam tanah. Dia juga menggunakkan metode yang sama untuk mengeluarkan duri. Pedangnya.... disaat dia menarik pedangnya, maka duri akan menghilang. Berarti itu juga berlaku untuk kabut ini. Tapi kenapa... kabut ini sama sekali tidak menghilang? Padahal, tadi jelas-jelas dia menggunakkan pedang yang sama untuk menyerangku. Jangan-jangan.....)” Skill Moonlight Swordkupun habis, dan aku menyarungkan pedangku serta menyimpan Ogre Swordku kedalam inventory.
Walau harus menghancurkan tubuhku, selagi aku bisa mengakhiri situasi ini, maka ini patut dicoba.
“Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Speed.”
“(Dengan kondisi tubuhku yang tidak baik, aku hanya bisa bertahan selama 2 detik saja. Jika lebih dari segitu, maka tubuhku takkan bisa menahannya dan malah akan merusaknya.)” Aku berlari dan terus berlari mengitari kabut mencari pedang miliknya. Walau begitu, kabut ini benar-benar membutakkan arahku. Walau kecepatanku sudah mencapai batasnya, aku tetap tak bisa menemukannya. Padahal aku sangat yakin.
“Itu dia!”
Sesuai dugaanku, pedang miliknya yang asli masih tertanam dan pedang yang dia gunakkan untuk melawanku tadi hanyalah imitasi. Itulah mengapa dia tak bisa mengeluarkan duri. Sebelum Super Moonlight Speedku habis, aku langsung berlari menuju kepedang itu tanpa pikir panjang dan berniat untuk mencabutnya. Namun, tiba-tiba kaki kiriku mati rasa dan membuatku terjatuh sebelum berhasil meraih pedang itu.
Dengan terjatuhnya aku, durasi dari Moonlight Speedkupun habis. Padahal aku hampir saja berhasil meraih pedang tersebut. Jarak antara jari-jariku dengan pedang itu hanyalah beberapa senti. Aku benar-benar lupa dengan luka di kaki kiriku ini sampai-sampai aku tidak menduga hal ini akan terjadi. Luka di kaki kiriku nampaknya sudah menyebar sepenuhnya ke seluruh kaki kiriku.
Tapi sekarang bukanlah saatnya untuk memikirkan itu. Aku merayap dengan menyeret diriku menuju ke pedang tersebut dan akan mencabutnya. Tiba-tiba, disaat tangan kananku akan meraihnya, sebuah pedang menusuk punggung tangan kananku dan menancapkannya kedalam tanah. “Selanjutnya, akan kupastikan bahwa kepalamulah yang akan kena.”
Dimo mengambil pedang lainnya dari dalam inventorinya dan menodongkannya kewajahku. Aku berusaha menahan rasa sakit dari tangan kananku dan mencoba meraih pedang itu dengan tangan kiriku, namun dia menginjaknya terlebih dahulu. Tanpa kusadari, aku berteriak karena tak kuasa menahan rasa sakit di tiga titik dari tubuhku. Suara teriakanku menggema di kesunyian kabut. Walau aku tahu, takkan ada yang bisa mendengar suaraku, namun aku tetap berharap ada yang mendengarnya walau hanya sedikit saja dan bergegas untuk membantuku.
“Dengan begini, aku akan menepati kata-kataku sebelumnya.” Dimo membalik pedangnya dan mengangkatnya setinggi mungkin. “Mati kau!!” Dia genggam erat-erat lalu mendorongnya menuju kearah kepalaku. Saat itu, aku bahkan tak menyadari, bahwa aku menutup kedua mataku dengan sendirinya.
“Ketemu!!” Kak Indra menepis pedang Dimo dengan menggunakkan pedang es miliknya lalu menendang Dimo untuk menjauh dariku. Dia menarik pedang yang tertancap di tangan kananku lalu berniat untuk menarik pedang Dimo.
“Takkan kubiarkan!” Dengan kecepatannya yang luar biasa, Dimo berlari menerjang Kak Indra. Tentu saja, Kak Indra sudah mengantisipasi itu dan langsung mengurungkan niatnya untuk menangkis serangan Dimo. Dengan kondisi Dimo yang lebih diuntungkan, dia berhasil mendorong mundur Kak Indra sehingga menjauh dari pedang tersebut.
Sementara Dimo sibuk mengatasi Kak Indra, aku memanfaatkan momen itu untuk menarik pedangku dan berusaha berdiri dengan bertumpu pada pedang tersebut. Dimo yang menyadariku langsung berbalik dan berlari kearahku. Kak Indra menancapkan pedangnya kedalam tanah dan menghentikkan Dimo dengan membekukkan kedua kakinya “Dimo, sekarang!!!”
Tangan kiriku bertumpu pada pedangku, aku pegang pedang miliknya lalu menariknya sekuat tenaga. Namun, tanganku terlalu lemah akibat serangan tadi sehingga takkan kuat menarik pedang tersebut. “Kalau begitu....” Aku membuka inventori dan mengulurkan tangan kananku untuk menangkap Ogre Sword “Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword!” Aku mengayunkan pedangku yang bercahaya perak dengan sekuat tenaga.
“....jika aku tak bisa menariknya, maka aku hancurkan saja!”
Pedang tersebutpun patah menjadi dua, serpihan-serpihan pedang perlahan mulai bercahaya dan pedang itupun menghilang bersamaan dengan menghilangnya kabut tersebut. Perlahan, aku bisa merasakan kembali kaki kiriku dan akupun bisa kembali berdiri dengan normal. “Ini sudah berakhir....” Aku melepas Ogre Sword lalu tertawa sejenak sebelum terjatuh karena tak kuasa menahan lelah.
Kak Indra semakin menancapkan pedangnya kedalam tanah dan es yang sebelumnya hanya membekukkan kaki Dimo perlahan merambat kesetengah tubuh Dimo “Dimo Radhika, ini sudah berakhir. Kau sudah tertangkap.”
~Bersambung~

No comments:

Post a Comment