Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Sunday, November 3, 2019

Beberapa Sisi


Terjadi lagi, malaikatku terlambat datang. kebanyakan dandan, wajahnya mustahil telanjang.   - Jason Ranti

Rasanya senja kali ini paling sedap untuk mengungkapkan rasa, entah rasa atau resah lebih tepatnya. Ingin mengungkapkan tapi tak mau rahasia terpecahkan. Ingin menjalaskan tetapi takut diketahui banyak orang. Ingin mengakhiri paceklik tapi ragu untuk memetik. Ingin sekali tapi masih ada tapi-tapi. Ingin tapi tak ingin. Begini saja, kita runtun kejadiannya:
Pertama, aku memandangimu.
Kedua, kamu sudah mengenalku.
Ketiga, aku tak berani mendekatimu. Keempat, aku hampir menyerah.
Kelima, masih ada celah.
Keenam, aku benar-benar menyerah.
Ketujuh, sudahlah, kau saja yang bahagia.
Kedelapan, ada kabar untuk berperang.
Kesembilan, ada sabar untuk seseorang.
Kesepuluh, perang tetap berlanjut.
Kesebelas, aku sedikit pengecut.
Kedua belas, kau mulai terpincut.
Ketiga belas, area resmi ditutup.
Keempat belas, resmi kau milik musuh.
Kelima belas, aku kehabisan peluru.
Keenam belas, cari tempat untuk menjauh.
ketujuh belas, belum waktunya membalas.
kedelapan belas, waktunya beres-beres.

Selamat! Hati-hati di jalan, akan banyak batu yang menghadang. Hati-hati di jalan, banyak rambu yang menyesatkan. Hati-hati di hati, banyak dendam yang belum terselesai. Sekali lagi, hati-hati!

Kapan pertama kali kamu merasakan aku memiliki perasaan kepadamu? Lupa atau tak pernah?

Satu buah cerita yang terjadi mungkin memiliki banyak versi. Variasi mungkin terjadi karena perbedaan persepsi. Ada baiknya kau memilah-milah, mana yang paling mengena sebab banyak sekali cerita yang pada akhirnya menimbulkan efek samping karena kekhilafan dalam menyaring. Tetap jaga prasangka agar tidak terjerembab lebih jauh, tetap jaga pikiran agar bisa benar-benar utuh, tetap jaga tangan agar tidak berbuntut ricuh dan tetap jaga mulut agar tidak banyak orang tahu. Beberapa orang menganggap satu berita tidak begitu penting untuk dijaga kerahasiaannya. Disebarlah, ditelaah dan dibicarakan ke penjuru arah. Timur membicarakan A, Barat membicarakan A, Utara membicarakan A, Selatan membutakan A lalu menutupnya dengan semangat menggugah. A tidak melakukan pembelaan tapi merasakan adanya perbedaan. Makin hari makin seru. Tiap hari populasi rubah semakin tak menentu, berkumpul membicarakan hal yang sama. Si rubah mungkin kelaparan, tidak mendapatkan mangsa yang benar-benar bisa membuatnya kenyang dalam beberapa hari ke depan. Kawanan rubah berdiskusi untuk mematikan mangsanya malam ini. Sayang, si rubah tidak begitu bersih dalam menyiapkan strategi. Bocorlah rencananya ke publik tapi dengan nalurinya yang sangat kuat, si rubah masih bisa mengelak dan beralasan jika tadi malam mereka hanya berdiskusi perihal masalah kawanannya. Berdalih untuk berbohong tapi selalu bisa selamat tanpa meminta tolong. Si rubah memang seperti itu adanya, lukanya saja belum bisa diobati dengan ramuan apapun. Si rubah tidak pernah menyesal mempunyai cacat itu, bagi dia lukanya lah yang membuatnya beringas dari waktu ke waktu. Si rubah, hewan yang memiliki kelebihan untuk melakukan kecurangan secara bersama-sama. Hati-hati masih banyak pendengki diantara kita. Hati-hati!

Satu hal yang perlu kau tau.
"Kita selalu benar menurut cerita versi kita"
- yajugaya

Sudah berapa kali kamu terbangun dari sebuah mimpi yang kamu tidak sukai?
Sudah berapa kali kamu menyesal tak bisa melanjutkan mimpi yang kamu sukai?
Sudah berdoa sebelumnya? Sudah meminta lindungan Tuhan sebelumnya? Apa jangan-jangan setan sudah menyukaimu sebelumnya? Tidurlah malam ini dengan tenang, aku beserta doaku akan menjagamu dari kejauhan. Berharaplah.

Ketegangan bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Kamu pernah merasakan ketenangan seperti apa? Ketegangan saat menaiki kora-kora? Ketegangan saat melihat seorang bersimbah darah? Ketegangan karena lupa matikan listrik saat kau berada di luar rumah? Atau ketegangan saat dia tidak mencintaimu sepenuhnya? Perasaanmu memang biasa saja tapi nampak ada yang tidak biasa. Aku memiliki beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab untuk meringankan kegetiran yang kamu dapat dari situasi tegang tadi:
1. Seperti apa aku?
2. Kenapa kamu tak seperti aku?
3. Dimana aku di saat kamu menjauh?
Terakhir, kau mau tidak sepertiku?!!
Waktu yang terus berputar atau takdir yang tertukar. Pertanyaan-pertanyaan yang tak seharusnya mendapat jawaban "Gatau/ya gitu/terserah/gapapa/yaudah lah". Belajarlah untuk memiliki prinsip agar nantinya kau bisa menyelsaikan dan bersikap. Tidak dipandang sebelah mata. Untuk apa kamu memiliki body goals jika otakmu masih bloon. Belajarlah semampumu, waktu ada ditanganmu, jika lelah istirahatlah yang cukup, jika jenuh buka pesan dariku, jika kau hilang tolong jangan kabari aku. Sebab aku tau kau dimana, pasti di sebuah tempat yang kau rasa aman dan jauh dari jangkauanku. Hati-hati, ada aku di tanganmu. Hati-hati, akan tercipta banyak puisi. Hati-hati, masih banyak rasa peduli. Pergi, jangan lupa bawa hati. Hati, bawa sekalian dia pergi.

Tuhan hanya memberikan kita sedikit ujian dan tak akan melebihi batasan yang kita punya. Percayalah dengan sungguh-sungguh, tanamkan sekarang juga. Kau tidak pernah sendirian!!

Tak seharusnya kau ikut campur dalam masalah orang lain, cukup menjadi pendengar yang baik dan katakanlah semoga bisa cepat selasai. Adalah penggalan kalimat dari seseorang yang selalu mengajariku bagaimana cara berpandangan, walau dirasa tidak begitu menyakinkan manusianya tapi rasanya cukup lumayan HAHAHAHAHAA. Setelah dipikir-pikir memang seharusnya seperti itu, toh, Tuhan memberikan ujian untuk setiap hambanya dan diselesaikan dengan kemampuannya, bukan untuk dikerjakan secara bersama-sama. Sejatinya setiap manusia itu sama, hanya rasa syukur saja yang membedakan setiap insan. Tuhan mencukupkan rezeki dan tidak pernah membuat hambanya kekurangan. Semiskin-miskinnya manusia pasti rezekinya sudah dicukupkan. Jangan banyak menengok atas, coba sesekali menjadi tanah dan susah, lalu bayangkan sejauh mana kalian bisa melangkah, jika tidak adanya pertolongan dan usaha, kalian bisa apa! Materi membutakan, sedekah mengurangkan, dan glamor merupakan kenikmatan. Hapus sekarang statusmu tentang "Nikmat mana lagi yang kau dustakan" Untuk kesekian kali! Belajarlah menjadi orang, bahkan seseorang yang menulis cerita panjang seperti ini pun belum tentu menjadi orang. Semua tentang beribadah kepada Tuhan, tak usah berdebat mengenai Tuhan mana yang paling hebat. Kepercayaanmu cukup kau saja yang percaya, jika masih kurang percaya, pecahkan masalah itu sendiri, kelak aku hanya akan menjadi pendengar yang baik dan berkata semoga bisa cepat selesai.

Tak semua urusan kau harus mengetahuinya.
Tak semua urusan kau harus didalamnya.
Dan tidak semua urusan kau harus memecahkannya.

Si rubah kembali datang untuk memanaskan keadaan. Si rubah dengan tekad besi, kini sudah seperti babi, memakan tainya sendiri, kotor dan lapar. Kebengisan dan keegoisannya muncul ketika datang mangsa. Nampak dari kejauhan mangsanya, terlihat tetap tegar walau sendirian. Dia memiliki kawanan tapi kali ini dia tertinggal dari kawanannya, tertinggal atau memang dipaksa ditinggalkan, yang pasti kini dia hanya sendirian. Tak ada jalan lain selain melawan. Dengan semangat berapi-api dia mencoba menghadapi si babi. Si babi memiliki kawanan tapi dipaksa sendiri agar lebih dihormati. Belum sempat pertempuran berjalan, Tuhan berhasil menghentikan. Bagaimana tidak, Mereka berdua tak ada yang mendahulukan Tuhan. Kebencian sudah tertanam sejak lama, terlebih saat ditambah dengan bumbu-bumbu khusus untuk memanaskan persaingan. Tak ada jalan lain, perseteruan ini nantinya hanya akan terhenti dititik jenuh dan bosan. Si Rubah tak lagi menjadi babi dan akan mencari mangsa lain. Si mangsa akan tetap hidup tenang dan mencari kawanan yang meninggalkannya tadi. Tidak ada kepastian jika si rubah dan si mangsa akan hidup bahagia. Kebencian akan terus membara di keduanya, mungkin suatu saat akan mereda atau akan semakin menjadi-jadi. Tak ada yang tau! Tapi selama mereka taat pada Tuhannya. Mereka pasti tau. Tuhan tidak menyukai pertikaian mulu. Tuhan tidak menyukaimu, mereka dan aku. Tuhan tidak suka namanya dijadikan bahan melulu. Tuhan ingin bukti shahih, bukan dalil untuk mengelabui.


Kebencian di sana-sini, apalagi di organisasi -Efek Rumah Kaca

Sembah Tuhan tiap minggu, tapi masih lempar batu - .feast

Kemanusiaan itu seperti terang pagi. Merekahkan harapan, menepis kabut kelam - Efek arumah Kaca

Beberapa orang memaafkan lagi, walau sudah ditindas habis berkali-kali - .feast

Tak pernah terlambat jika kau ingin berubah, hanya dirimulah yang menghambat segalanya - Nosstress


Kapan pertama kali kalian belajar tersenyum? Masih ingat pertama kali kalian meminta dan menerima maaf? Kapan pertama kali kalian mencoba memberi? Masih ingat pertama kali kalian mengasihi? Kapan pertama kali kalian mengikhlaskan? Masih ingat pertama kali kalian diajarkan tentang kemanusiaan? Kamana nilai kebaikan yang sudah diajarkan?! Sudah lupa atau sengaja dilupakan! Dilupakan atau tidak mau melakukan?! Bukannya tidak mau tapi gengsi untuk melakukan! Dan kau, takkan mau disalahkan!!

Kesembilan belas, Si rubah berubah
kedua puluh, Si mangsa terus berdoa
kedua satu, mereka nampak di dunia
kedua dua, jelma manusia.


Hati-hati/Harapan

  Terjadi lagi, malaikatku terlambat datang. Kebanyakan dandan, wajahnya mustahil telanjang.   - Jason Ranti

 Rasanya senja kali ini paling sedap untuk mengungkapkan rasa, entah rasa atau resah lebih tepatnya. Ingin mengungkapkan tapi tak mau rahasia terpecahkan. Ingin menjalaskan tetapi takut diketahui banyak orang. Ingin mengakhiri paceklik tapi ragu untuk memetik. Ingin sekali tapi masih ada tapi-tapi. Ingin tapi tak ingin. Begini saja, kita runtun kejadiannya;
Pertama, aku memandangimu.
Kedua, kamu sudah mengenalku.
Ketiga, aku tak berani mendekatimu. Keempat, aku hampir menyerah.
Kelima, masih ada celah.
Keenam, aku benar-benar menyerah.
Ketujuh, sudahlah, kau saja yang bahagia.
Kedelapan, ada kabar untuk berperang.
Kesembilan, ada sabar untuk seseorang.
Kesepuluh, perang tetap berlanjut.
Kesebelas, aku sedikit pengecut.
Kedua belas, kau mulai terpincut.
Ketiga belas, area resmi ditutup.
Keempat belas, resmi kau milik musuh.
Kelima belas, aku kehabisan peluru.
Keenam belas, cari tempat untuk menjauh.
ketujuh belas, belum waktunya membalas.
kedelapan belas, waktunya beres-beres.

Selamat! Hati-hati di jalan, akan banyak batu yang menghadang. Hati-hati di jalan, banyak rambu yang menyesatkan. Hati-hati di hati, banyak dendam yang belum terselesai. Sekali lagi, hati-hati!

 Kapan pertama kali kamu merasakan aku memiliki perasaan kepadamu? Lupa atau tak pernah?

Satu buah cerita yang terjadi mungkin memiliki banyak versi. Variasi mungkin terjadi karena perbedaan persepsi. Ada baiknya kau memilah-milah, mana yang paling mengena sebab banyak sekali cerita yang pada akhirnya menimbulkan efek samping karena kekhilafan dalam menyaring. Tetap jaga prasangka agar tidak terjerembab lebih jauh, tetap jaga pikiran agar bisa benar-benar utuh, tetap jaga tangan agar tidak berbuntut ricuh dan tetap jaga mulut agar tidak banyak orang tahu. Beberapa orang menganggap satu berita tidak begitu penting untuk dijaga kerahasiaannya. Disebarlah, ditelaah dan dibicarakan ke penjuru arah. Timur membicarakan A, Barat membicarakan A, Utara membicarakan A, Selatan membutakan A lalu menutupnya dengan semangat menggugah. A tidak melakukan pembelaan tapi merasakan adanya perbedaan. Makin hari makin seru. Tiap hari populasi rubah semakin tak menentu, berkumpul membicarakan hal yang sama. Si rubah mungkin kelaparan, tidak mendapatkan mangsa yang benar-benar bisa membuatnya kenyang dalam beberapa hari ke depan. Kawanan rubah berdiskusi untuk mematikan mangsanya malam ini. Sayang, si rubah tidak begitu bersih dalam menyiapkan strategi. Bocorlah rencananya ke publik tapi dengan nalurinya yang sangat kuat, si rubah masih bisa mengelak dan beralasan jika tadi malam mereka hanya berdiskusi perihal masalah kawanannya. Berdalih untuk berbohong tapi selalu bisa selamat tanpa meminta tolong. Si rubah memang seperti itu adanya, lukanya saja belum bisa diobati dengan ramuan apapun. Si rubah tidak pernah menyesal mempunyai cacat itu, bagi dia lukanya lah yang membuatnya beringas dari waktu ke waktu. Si rubah, hewan yang memiliki kelebihan untuk melakukan kecurangan secara bersama-sama. Hati-hati masih banyak pendengki diantara kita. Hati-hati!

Satu hal yang perlu kau tau.
"Kita selalu benar menurut cerita versi kita"
- yajugaya

Sudah berapa kali kamu terbangun dari sebuah mimpi yang kamu tidak sukai?
Sudah berapa kali kamu menyesal tak bisa melanjutkan mimpi yang kamu sukai?
Sudah berdoa sebelumnya? Sudah meminta lindungan Tuhan sebelumnya? Apa jangan-jangan setan sudah menyukaimu sebelumnya? Tidurlah malam ini dengan tenang, aku beserta doaku akan menjagamu dari kejauhan. Berharaplah.

Ketegangan bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Kamu pernah merasakan ketenangan seperti apa? Ketegangan saat menaiki kora-kora? Ketegangan saat melihat seorang bersimbah darah? Ketegangan karena lupa matikan listrik saat kau berada di luar rumah? Atau ketegangan saat dia tidak mencintaimu sepenuhnya? Perasaanmu memang biasa saja tapi nampak ada yang tidak biasa. Aku memiliki beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab untuk meringankan kegetiran yang kamu dapat dari situasi tegang tadi;
1. Seperti apa aku?
2. Kenapa kamu tak seperti aku?
3. Dimana aku di saat kamu menjauh?
Terakhir, kau mau tidak sepertiku?!!
Waktu yang terus berputar atau takdir yang tertukar. Pertanyaan-pertanyaan yang tak seharusnya mendapat jawaban "Gatau/ya gitu/terserah/gapapa/yaudah lah". Belajarlah untuk memiliki prinsip agar nantinya kau bisa menyelsaikan dan bersikap. Tidak dipandang sebelah mata. Untuk apa kamu memiliki body goals jika otakmu masih bloon. Belajarlah semampumu, waktu ada ditanganmu, jika lelah istirahatlah yang cukup, jika jenuh buka pesan dariku, jika kau hilang tolong jangan kabari aku. Sebab aku tau kau dimana, pasti di sebuah tempat yang kau rasa aman dan jauh dari jangkauanku. Hati-hati, ada aku di tanganmu. Hati-hati, akan tercipta banyak puisi. Hati-hati, masih banyak rasa peduli. Pergi, jangan lupa bawa hati. Hati, bawa sekalian dia pergi.

Tuhan hanya memberikan kita sedikit ujian dan tak akan melebihi batasan yang kita punya. Percayalah dengan sungguh-sungguh, tanamkan sekarang juga. Kau tidak pernah sendirian!!

Tak seharusnya kau ikut campur dalam masalah orang lain, cukup menjadi pendengar yang baik dan katakanlah semoga bisa cepat selasai. Adalah penggalan kalimat dari seseorang yang selalu mengajariku bagaimana cara berpandangan, walau dirasa tidak begitu menyakinkan manusianya tapi rasanya cukup lumayan HAHAHAHAHAA. Setelah dipikir-pikir memang seharusnya seperti itu, toh, Tuhan memberikan ujian untuk setiap hambanya dan diselesaikan dengan kemampuannya, bukan untuk dikerjakan secara bersama-sama. Sejatinya setiap manusia itu sama, hanya rasa syukur saja yang membedakan setiap insan. Tuhan mencukupkan rezeki dan tidak pernah membuat hambanya kekurangan. Semiskin-miskinnya manusia pasti rezekinya sudah dicukupkan. Jangan banyak menengok atas, coba sesekali menjadi tanah dan susah, lalu bayangkan sejauh mana kalian bisa melangkah, jika tidak adanya pertolongan dan usaha, kalian bisa apa! Materi membutakan, sedekah mengurangkan, dan glamor merupakan kenikmatan. Hapus sekarang statusmu tentang "Nikmat mana lagi yang kau dustakan" Untuk kesekian kali! Belajarlah menjadi orang, bahkan seseorang yang menulis cerita panjang seperti ini pun belum tentu menjadi orang. Semua tentang beribadah kepada Tuhan, tak usah berdebat mengenai Tuhan mana yang paling hebat. Kepercayaanmu cukup kau saja yang percaya, jika masih kurang percaya, pecahkan masalah itu sendiri, kelak aku hanya akan menjadi pendengar yang baik dan berkata semoga bisa cepat selesai.

Tak semua urusan kau harus mengetahuinya.
Tak semua urusan kau harus didalamnya.
Dan tidak semua urusan kau harus memecahkannya.

Si rubah kembali datang untuk memanaskan keadaan. Si rubah dengan tekad besi, kini sudah seperti babi, memakan tainya sendiri, kotor dan lapar. Kebengisan dan keegoisannya muncul ketika datang mangsa. Nampak dari kejauhan mangsanya, terlihat tetap tegar walau sendirian. Dia memiliki kawanan tapi kali ini dia tertinggal dari kawanannya, tertinggal atau memang dipaksa ditinggalkan, yang pasti kini dia hanya sendirian. Tak ada jalan lain selain melawan. Dengan semangat berapi-api dia mencoba menghadapi si babi. Si babi memiliki kawanan tapi dipaksa sendiri agar lebih dihormati. Belum sempat pertempuran berjalan, Tuhan berhasil menghentikan. Bagaimana tidak, Mereka berdua tak ada yang mendahulukan Tuhan. Kebencian sudah tertanam sejak lama, terlebih saat ditambah dengan bumbu-bumbu khusus untuk memanaskan persaingan. Tak ada jalan lain, perseteruan ini nantinya hanya akan terhenti dititik jenuh dan bosan. Si Rubah tak lagi menjadi babi dan akan mencari mangsa lain. Si mangsa akan tetap hidup tenang dan mencari kawanan yang meninggalkannya tadi. Tidak ada kepastian jika si rubah dan si mangsa akan hidup bahagia. Kebencian akan terus membara di keduanya, mungkin suatu saat akan mereda atau akan semakin menjadi-jadi. Tak ada yang tau! Tapi selama mereka taat pada Tuhannya. Mereka pasti tau. Tuhan tidak menyukai pertikaian mulu. Tuhan tidak menyukaimu, mereka dan aku. Tuhan tidak suka namanya dijadikan bahan melulu. Tuhan ingin bukti shahih, bukan dalil untuk mengelabui.

Kebencian di sana-sini, apalagi di organisasi -Efek Rumah Kaca

Sembah Tuhan tiap minggu, tapi masih lempar batu - .feast

Kemanusiaan itu seperti terang pagi. Merekahkan harapan, menepis kabut kelam - Efek arumah Kaca

Beberapa orang memaafkan lagi, walau sudah ditindas habis berkali-kali - .feast

Tak pernah terlambat jika kau ingin berubah, hanya dirimulah yang menghambat segalanya - Nosstress

Kapan pertama kali kalian belajar tersenyum? Masih ingat pertama kali kalian meminta dan menerima maaf? Kapan pertama kali kalian mencoba memberi? Masih ingat pertama kali kalian mengasihi? Kapan pertama kali kalian mengikhlaskan? Masih ingat pertama kali kalian diajarkan tentang kemanusiaan? Kamana nilai kebaikan yang sudah diajarkan?! Sudah lupa atau sengaja dilupakan! Dilupakan atau tidak mau melakukan?! Bukannya tidak mau tapi gengsi untuk melakukan! Dan kau, takkan mau disalahkan!!

Kesembilan belas, Si rubah berubah
kedua puluh, Si mangsa terus berdoa
kedua satu, mereka nampak di dunia
kedua dua, jelma manusia.

Hati-hati/Harapan




Raihan Immadu
Pamulang, 2 November 2019
Selamat menikmati. 
Semoga mengerti. 


No comments:

Post a Comment