Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Saturday, March 7, 2020

Bagaimana Perasaan Buruk Mengubah Otak Kita

Hai hai semua . Ketemu lagi sama aing, Admin K yang ceria lagi keyen . Tentu saja, masih di blog kesayangan qta yang penuh dengan kedamaian ini, KnK Land. Di postingan kali ini, aing akan membahas tentang emosi atau perasaan serta bagaimana pengaruh perasaan terhadap otak kita bahkan lingkungan qta. Baiklah, daripada banyak ngebacot, qta langsung aja cekidoot .











Pernahkah kalian membaca novel? Terkadang, perasaan yang terkandung dalam novel bisa dirasakan pula oleh para pembaca. Seperti yang terkandung dalam novel dystopia karya Margaret Artwood, A Handmaid's Tale. Banyak kejadian buruk yang menimpa Offred membuat sebagian pembaca menjadi jengkel. Ketika dia diserang dengan alat penyengat hewan ternak (cattle prod), kita seolah-olah bisa merasakan rasa sakitnya, serta tersentak karena ketidakadilan penuh teror yang menimpanya dalam kurungan.

Hal ini tentu saja sangat mengganggu mengingat bahwa kita tahu kalau setiap skenario dalam karya fiksi tersebut dipengaruhi oleh berbagai unsur sejarah di kehidupan nyata. Artwood menulis mengenai karyanya dalam New York Times, "If I was to create an imaginary garden I wanted the toads in it to be real," yang artinya "Seandainya saya ingin membuat sebuah taman khayalan, aku ingin katak-katak di dalam taman itu menjadi nyata".

Hal ini kemudian membuat kita mampu membuat diri kita seakan-akan berada di posisi Offred dan merasakan empati terhadapnya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan manusia yang dapat berbagi perasaan yang dirasakan orang lain. Bahkan, ketika kita melihat orang lain yang terluka, area otak yang terhubung dengan rasa sakit kita sendiri juga akan ikut aktif.

Akan tetapi sepertinya keadaan emosional kita dapat mempengaruhi seberapa besar rasa empati yang kita rasakan. Emosi kita benar-benar dapat mengubah respon otak kita kepada orang lain, bahkan saat mereka menderita. Secara khusus, pada saat kita memiliki perasaan buruk lah yang dapat memberikan dampak kepada kehidupan sosial kita.

Jelas bahwa mood atau suasana hati kita dapat mempengaruhi perilaku kita dalam berbagai hal, misalnya saat kita memilih makanan -kita cenderung memakan makanan yang kurang sehat saat mood kita sedang buruk- bahkan dalam hubungan pertemanan. Saat teman kita terlihat murung dan sedih, perasaannya dapat menular sehingga kita juga merasa lebih tidak senang. Perasaan buruk bahkan bisa menyebar melalui sosial media, menurut studi pada tahun 2017.

Bahkan emosi kita sangatlah kuat ketika berada dalam suasana hati yang positif, sehingga bisa meredam rasa sakit yang kita rasakan saat terluka. Efeknya mirip seperti efek obat analgesik. Adapun, ketika emosi negatif muncul, yang terjadi malah sebaliknya: perasaan kita terhadap rasa sakit akan terasa lebih dibesar-besarkan.

Lebih buruk lagi, studi baru-baru ini yang dipublikasikan pada bulan Desember 2017 menunjukkan bahwa perasaan buruk dapat mempengaruhi kapasitas kita dalam menanggapi orang lain yang menderita. Hal ini benar-benar dapat meredam rasa empati kita. Emilie Qiao-Tasserit dari Universitas Geneva bersama timnya telah mencari tahu bagaimana dampak emosi kita terhadap cara kita menanggapi orang lain ketika dalam penderitaaan. Beberapa orang dibuat merasakan sedikit rasa sakit dengan menggunakan alat pemanas suhu yang dipasang pada kaki mereka. Tim tersebut juga menampilkan sebuah klip film yang benuansa positif maupun negatif terhadap para partisipan selagi dalam pemindaian otak, sebagai tambahan agar mereka merasa lebih menderita, atau ketika mereka menyaksikan klip yang berisi orang-orang yang menderita. Apakah para parsitipan akan merasa empati terhadap mereka yang mereka tahu sedang dibuat menderita, tim tersebut bertanya-tanya.

Tenyata mereka yang menonton klip bernuansa negatif lalu kemudian melihat orang lain kesakitan hanya  menunjukkan sedikit aktivitas otak di area yang berhubungan dengan rasa sakit: anterior insula dan cingulate cortex tengah. Area ini biasanya aktif ketika kita melihat orang yang kesakitan serta dapat memberikan rasa sakit ke diri kita sendiri. "Dengan kata lain, emosi negatif dapat menekan kapasitas otak kita untuk peka terhadap rasa sakit orang lain," jelas Qiao-Tasserit.

Penelitian ini ini pun menunjukkan bahwa emosi benar-benar dapat mengubah "keadaan otak" kita, dengan begitu, perasaan kita sendiri dapat mengubah cara kita memandang orang lain.

Sejalan dengan itu, penelitian lain oleh Qiao-Tasserit dan rekan-rekannya menemukan bahwa setelah menonton klip negatif, orang cenderung menilai emosi netral lebih negatif.

Hasil ini jelas memiliki implikasi dalam kehidupan nyata. Jika seorang-seorang yanb punya jabatan tinggi, misalnya seorang bos, telah menyaksikan berbagai macam hal negatif dalam hidup mereka - bahkan sesuatu yang sesederhana film negatif -, mereka dapat menjadi kurang peka terhadap bawahannya yang sedang menderita bahkan melihatnya lebih negatif. Suasana hati kita yang buruk membuat kita kurang bisa menerima perasaan orang lain.

Kurangnya empati memiliki akibat yang lain juga. Temuan menunjukkan bahwa kurangnya empati akan mengakibatkan seseorang mengeluarkan uang sedikit untuk amal. Hasil-hasil brain scan (pindai otak) juga menunjukkannya dan kekurangan empati ini juga muncul pada orang-orang yang di luar lingkaran sosial langsung kita, misalnya rekan dalam klub olahraga.

Jadi kenapa emosi negatif bisa menurunkan empati? Bisa jadi suatu jenis empati tertentu yang disebut tekanan empati berperan. Hal ini dijelaskan oleh Olga Klimecki yang juga berasal dari Universitas Geneva, "suatu perasaan kewalahan" dimana saat sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang, membuat kita ingin melindungi diri sendiri daripada merasakan perasaan buruk yang dialami orang tersebut. Jenis empati ini bahkan menunjukkan aktivasi otak yang sangat berbeda dibandingkan empati pada umumnya. Tekanan semacam ini juga dapat mengurangi rasa belas kasih.

Mungkin saja segala seituasi yang memunculkan emosi negatif mendorong kita untuk lebih fokus pada diri kita sendiri dan masalah apapun yang kita hadapi. "Pasien yang cemas dan merasa tertekan dengan kelebihan emosi negatif cenderung lebih fokus terhadap masalahnya sendiri dan terisolasi", kata Qiao-Tasserit.

Pada studi tahun 2016 oleh Klimecki beserta kolega-koleganya juga menemukan bahwa tekanan empatik meningkatkan sifat agresi. Para partisipan diposisikan pada suatu skenario yang tidak adil kemudian mereka diberikan kesempatan untuk menghukum atau memaafkan lawan saing mereka. Terlebih lagi, para partisipan dalam studinya diminta untuk melakukan tes kepribadian sebelum masuk lab. Dia menemukan bahwa mereka yang lebih alaminya berbelas kasih lebih sedikit bereaksi dengan perilaku yang kurang menghinakan.

Bagi Klimecki, ini adalah hal yang benar. Dalam penelitiannya yang luas mengenai empati, dia telah menunjukkan bahwa ada kemungkinan untuk menumbuhkan sikap yang lebih berbelas kasih. Dia menemukan bahwa perasaan empati yang penuh belas kasih dapat dilatih. Oleh karena itu, respon emosi kita kepada orang lain jelas tidak dibuat-buat.

Ini menunjukkan bahwa kita semua dapat melibatkan kembali empati dalam diri kita, bahkan dalam menghadapi kesusahan yang dialami orang lain. Selanjutnya ketika kita berpikir sedikit lebih positif, ini dapat membantu memperluas perhatian kita terhadap kebutuhan orang lain. "Ini dapat berkontribusi terhadap hubungan antar sesama yang lebih besar, faktor kunci dari kebahagiaan," kata Qiao-Tasserit.

Jadi, lain kali kalau mood kalian lagi buruk, pertimbangkan efeknya yang dapat ditimbulkan pada orang yang kalian ajak bicara sehari-hari. Kalian juga disarankan mengatur waktu membaca novel-novel seram atau menonton film horor dengan bijak. Kalau kalian membaca atau menontonnya dengan mood yang buruk, itu adalah waktu yang tepat untuk menjaga empati kalian, sehingga menjadi merasa sedikit kurang tertekan pada rasa sakit - secara nyata atau fiksi - dari orang lain.

Postingan ini adalah hasil translate dari artikel di link ini:
http://www.bbc.com/future/story/20180115-how-feeling-bad-changes-the-brain
Kalau ada kesalahan translate, atau mau diperbaiki, silakan sampaikan di kolom komentar. Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Bye~

No comments:

Post a Comment