Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Sunday, September 8, 2019

Caramelt - Chapter 17 (IQ 666)

Chapter 16 (Bar di Penjara)

Di sisa reruntuhan rumah Shelly, Drip dan Inteo sedang bermain pistol mainan.

Inteo : "Kena kau!! chuu chuu!!" (menembak Drip dengan pistolnya)

Drip : "Aaagh!! sakit!!" (Drip berakting sakit terkena tembakan pada anak kecil)

Inteo : "Hahaha, rasakan, hahaha."

Drip : "Rasakan pembalasanku! Drihihihi" (Drip menembak balik Inteo tapi sengaja tidak kena)




Inteo : "Hahaha, tidak kena, wee. (Apa-apaan ini? Kok dia tidak mati? Padahal di peluruku sudah kuracuni dengan sarin.)"

Inteo menyadari kalau mainan pertamanya tidak bisa digunakan untuk mengalahkan Drip.

Inteo : "Waah, aku bosan main tembak-tembakan terus. Kita main yang lain saja. (Oke, kali ini aku akan menggunakan Glavel)."

Drip : "Waah, yu punya banyak mainan yah dek Inteo."

Inteo : "Lihat, Kak. Aku bawa kotak musik. Aku suka musiknya lo. Mau dengar, gak?"

Drip : "Hmm, baiklah."

Inteo : "(Hahaha, ini adalah kotak musik penyerap kekuatan, Re-cubey. Siapapun yang mendengar musik yang keluar dari kotak ini, akan kehilangan kekuatan. Dengan kotak musik ini, Drip akan kehilangan kekuatan elemen airnya.)"

Inteo pun memutar kotak musik Re-cubey tersebut. Kemudian keluar suara yang indah dari kotak itu.

Drip : "Drihihi, musik yang sangat indah."

Inteo : "(Dengan begini kekuatannya akan hilang. Selanjutnya tinggal menunggu Roby bangun.)"

Telilit.. telilit.., suara Phone Card di kantong celana Inteo berbunyi. Inteo langsung melihat layar Phone Cardnya. Terlihat tulisan "Roby". Inteo langsung menolak panggilan telpon tersebut.

Inteo : "(Inilah saatnya). Kak Drip!!" (Sambil memegang stun-gun)

Drip : "Ada apa, dek? Mainan apa yang yu pegang itu? Mirip stun-gun."

Inteo : (Inteo berlari ke arah Drip lalu langsung menempelkan ujung stun-gun ke perut Drip) "Kak Drip, Hmm, maksudku, Drip si Air, rasakan ini, hahaha."

Inteo langsung menyalakan stun-gun di tangannya. Kemudian, Drip langsung terkena serangan listrik kejut dari stun-gun tersebut.

Drip : "Ugege?? Stun-gun asli? Mana mungkin membawa barang berbahaya ini? Aagghh!!"

Inteo : "Kau lupa satu hal, Drip si Air. Anak kecil harus selalu membawa stun-gun karena di luar sana ada banyak penjahat. Hmm, gimana cara ketawanya? Drihihi."

Drip pun langsung pingsan. Robson kemudian muncul dari kamar Shelly.

Inteo : "Kau lama sekali, Roby pecundang!"

Robson : "Diam kau anak kecil!! Aku tau kau juga tidak bisa mengangkat tubuh orang ini dengan tubuh kecilmu itu. Jangan mentang-mentang punya IQ 666, kau seenaknya berlagak sebagai bos Justice Party!!"

Inteo : "Hmmfh, tanpa aku, Justice Party tidak bisa apa-apa. Akulah otak dari Justice Party. Jadi, pantaslah aku berlagak sebagai manager. Lagipula kerjamu tidak becus, harusnya kau bisa mengalahkan orang ini dengan mudah dengan laser di mulut busukmu itu, Roby."

Robson : "Cih, kau tidak tahu seberapa kuatnya bocah ini. Kau bisa menang karena dia lengah berhadapan dengan anak kecil."

Inteo : "Hahaha, itulah kekuatanku. Orang-orang dewasa seperti kalian tidak akan bisa bertahan dari keimutanku, hahahaha."

Robson : "Cih, baiklah, ayo kita kembali ke markas, anak kecil!!"

Inteo : "Panggil aku Tuan Inteo!!"

Robson : "Cih, baiklah, Tuan Inteo yang sok menggemaskan."

Inteo dan Robson pun kembali ke markas mereka, Black Pegasus. Sementara itu Drip pingsan di atas pundak Robson.

Bersambung...

Chapter 18 (Rencana Pelarian)

No comments:

Post a Comment