Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Wednesday, May 23, 2018

Start Point - Chapter 3.5 : Bersama.

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point

Untuk pembuka, kurasa aku akan memperkenalkan diri
Diperjalanan pulang, aku sempat mampir ke mini market untuk membeli mie instan, tapi saat kurogoh kantungku, rasanya ada yang aneh. Seharusnya, dikantung belakangku biasanya ada sebuah benda berbentuk persegi yang terlipat dan berisi kertas-kertas bernilai, namun aku tak bisa menemukannya. “Yang benar saja....” aku terus menerus mengecek kantungku, namun aku tetap tak bisa menemukan dompetku itu.

Akibatnya, aku menghambat antrian dan penjaga kasir mulai curiga kepadaku. Sialnya, aku tetap tak bisa menemukannya sampai pada akhirnya aku diusir. Aku langsung berjalan menuju ke rumahku mengikuti jalan setapak. Aku harus segera mencari jalan pulang sebelum hari mulai gelap.
Tetapi, saat kusadari ternyata aku sampai di sebuah tempat—sebuah komplek perumahan yang rasanya tak kukenal. Namun aku merasakan sesuatu, aku merasa sebuah keterikatan dengan suatu tempat di area ini “Gawat, aku tersesat.” Kurasa tempat ini adalah sisi lain kota yang tak pernah kukunjungi di kota Rempah. Aku melihat sebuah gang sempit yang berada diantara dua rumah besar yang nampak mewah. Entah kenapa, aku tertarik untuk memasuki gang sempit yang nampak sedikit tak terurus itu.
Di ujung gang, aku melihat sebuah cahaya berwarna kekuningan yang sangat indah. Keluarnya dari gang, aku melihat sebuah taman kecil yang sangat hijau dengan rumputnya yang tinggi. Ditengah-tengah terdapat sebuah pohon tinggi, dengan rantingnya yang panjang dan banyak. Disalah satu ranting, aku melihat sebuah ayunan yang terbuat dari ban menggantung yang tersusun dengan rapi. Angin berhembus kencang dan sangat sejuk. Daun-daun di pohon terus bergoyang terdorong oleh angin seakan-akan mereka menari menyambut kedatanganku.
Warna oranye yang dipancarkan oleh mentari di sore hari melengkapi atmosfir dan suasana yang ada. Cahaya itu menciptakan sebuah bayangan dari daun-daun pohon yang bergoyang. Rerumputan tak ingin kalah saing, terus menggoyangkan diri mereka. Diujung taman terdapat sebuah pagar yang terbuat dari logam yang nampak agak berkarat. Dari situ, aku bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Aku bisa melihat hampir seluruh area kota Rempah. Refleksi cahaya dari gedung-gedung yang sangat tinggi mencengkram langit, aktifnya lalu lintas kota yang dipenuhi oleh kendaraan, namun lancar tanpa macet sedikitpun. Orang-orang berlalu lalang melintas melengkapi kota dan pemandangan yang ada.
Disaat aku sedang menikmati pemandangan yang indah nan permai itu, secara tak sengaja aku melirik sebuah tulisan yang terpahat di tubuh pohon. Sebuah tulisan yang nampaknya seperti nama seseorang “Ani dan Dimo....” setelah membaca itu, seketika kepalaku mulai merasa sakit. Rasanya seperti ingatan dan semua yang ada dikepalaku dicampur aduk. Namun, rasa sakit itu tak bertahan lama.
“Di.... Dimo....” Aku mendengar suara seseorang yang terdengar sangat kelelahan dibelakangku. Kurasa aku mengenal suara itu. Suara dari seseorang yang sangat familiar. Rambut berwarna oranyenya semakin berkilau karena cahaya matahari di sore hari. Angin yang kencang membuat rambut pendeknya terlihat panjang.
Aku berbalik dan melihat Leila membawa dua kantung plastik. Dia nampak kelelahan, wajahnya berkeringat, nampak sibuk mengatur nafasnya, dan kedua tangannya yang berpegangan kepada lutut kakinya untuk menopang tubuhnya yang lelah. “Le-Leila? Kenapa kau ada disini?” Leila mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah bungkus pelastik berisi sebuah kubus yang nampak sangat canggih.
“Ini adalah.... alat untuk login kedalam game Start Point.... semua peserta diberikan alat ini secara gratis.....”
Aku meraih tangan Leila dan menerima kantung plastik itu “Te-terima kasih. Oh ya, bagaimana dengan hadiah utamanya?” Leila mengusap keringatnya lalu tersenyum
“Y-ya, hadiahnya sudah kudapatkan. Te-terima kasih, sudah bertanya.” Aku mengusap rambutku karena lega.
“Syukurlah.” Leila yang nampak kelelahan, seketika semua itu terlihat menghilang. Pipinya merona dan matanya berbinar seketika. Kurasa, ini dikarenakan pancaran sinar matahari di sore hari yang berwarna kekuning-kuningan dan indah.
“A-apa kau.... mau aku traktir makan?”
Disebuah warung makan yang sederhana, aku dan Leila makan. Aroma dari masakan menyatu dengan dinginnya malam. Menciptakan suatu suasana yang menambah nafsu makan. Warung makan tersebut penuh dengan pelanggan yang lapar. Sang koki sibuk memasak, pelanggan berebut kursi untuk makan, pelayan yang sibuk mengantar makanan dan kendaraan yang terus datang dan pergi. Aroma masakan menyebar keseluruh meja makan, dan suara kendaraan yang terus berdatangan menghiasi makan malam.
“Di-Dimo....”
Seusai makan, dalam perjalanan pulang, Leila menegurku dengan pipinya yang memerah. “Ada apa?” Pipi Leila yang memerah yang tak kunjung hilang membuatku khawatir.
Kurasa dia terkena sebuah demam.
Mungkin hawa dingin di malam hari ini membuat dirinya agak demam sehingga pipinya memerah seperti ini. Apa lagi kami berjalan di sebuah jalan trotoar yang bersebelahan dengan sebuah jalan raya. “Tunggu dulu, wajahmu memerah. Apa kau demam?” Aku melirik kesana kemari mencari sebuah toko obat untuk membeli obat demam. Melihat reaksiku yang tak biasa membuatnya tak sanggup menahan tawa. Tawanya membuat keadaan lebih santai dan tak kaku.
Leila menutup matanya lalu mengeluarkan sebuah senyum yang tulus “Tenang saja, kau tak perlu sekhawatir itu. Ini hanya sebuah demam”
Entah kenapa, senyum tulusnya itu membuat tubuhku terasa  hangat. Dinginnya udara malam tak terasa lagi, yang tersisa hanyalah perasaan hangat yang tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.
Aku menatap wajah Leila lalu membalas senyumannya “Baiklah...”

No comments:

Post a Comment