Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Monday, June 18, 2018

Start Point - Chapter 7 : Perubahan Besar

Yak, akhirnya kita mencapai titik ini juga. Phase 2 dari novel Start Point, yaitu Arc Pararel. Salah satu arc paling panjang yan pernah saya buat.
Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point


Satu tahun sudah berlalu sejak saat itu dan dua bulan sudah berlalu sejak perilisan game Start Point keseluruh penjuru dunia
Satu tahun sudah berlalu sejak saat itu dan dua bulan sudah berlalu sejak perilisan game Start Point keseluruh penjuru dunia. Game Start Point mendapat sambutan hangat dari pemain dan kritikus. Dengan gameplaynya yang unik dan memuaskan, game ini langsung menjadi salah satu game paling populer di seluruh dunia. Servernya yang lancar dan juga banyak membuat meledaknya jumlah pemain yang ada di dalam game. Bahkan, sudah beberapa minggu berlalu dan Start Point tetap menjadi topik hangat di media sosial. Bahkan saat di sekolah.
Ngomong-ngomong, sekarang aku, Zaki, Sindy, dan Leila sudah menjadi seorang murid SMA. Di kota ini, hanya terdapat tiga sekolah SMA sehingga membuat kami berempat lagi-lagi satu sekolah. Tapi berbeda dari sebelumnya, kali ini kami menjadi satu kelas.
Kembali ke topik utama, dengan kacamata khusus— tidak, dengan GFP atau Google For Player, aku bahkan bisa melihat banyak pemain dimana-mana. Bahkan aku bisa melihat salah satu dari mereka yang sedang bertarung di lapangan sekolah. Melawan seekor monster singa raksasa.
Tetapi itu bukanlah urusanku.

Aku melepas kacamata GFP, lalu berjalan menuju ke kantin. Aku menaiki anak-anak tangga menuju ke lantai tiga. Melangkahkan kakiku melewati kerumunan murid-murid yang sedang asik membicarakan game Start Point.
“(Dimana-mana, topiknya selalu saja sama. Apa mereka tidak bosan?)” Omelku dalam hati. Sesampainya dikantin, aku tak menyangka bahwa aku akan dihadapkan dengan sebuah antrian panjang. Antrian ini disebabkan oleh roti-roti isi yang rasanya sangat enak yang dijual di kedai kantin. Namun bukan itu yang menjadi masalah, tetapi jumlah dari roti tersebut yang terbatas. Akibat dari rasanya yang enak, membuat para murid berbondong-bondong untuk membelinya. Untuk menghindari suatu hal yang tak diinginkan, pihak kantin terpaksa membuat sebuah sistem antrian. Setelah beberapa menit mengantri, akhirnya aku mendapat giliranku untuk membeli roti tersebut. Namun, ternyata roti yang enak tersbeut sudah terjual habis. Aku menghela nafasku lalu mengambil satu kantung plastik berwarna putih yang agak transparan. Aku isi kantung plastik itu dengan roti isi coklat yang kubeli.
Setelah membayar roti ini, aku langsung keluar antrian untuk mencari meja untukku memakan roti-roti ini. “Dimo, disini!” Dari sebuah meja yang letaknya tepat disebelah jendela, Zaki melambaikan tangannya memanggilku. Sementara itu, Sindy dan Leila yang sedang asik memakan bekalnya langsung menengok kearahku seketika setelah Zaki memanggilku. Zaki dan Leila yang duduk di sebelah jendela dan Sindy yang duduk bersebelahan dengan Zaki. Aku menghampiri mereka dan duduk di sebelah Leila. Seketika pipi Leila langsung memerah, dia langsung meminta kepadaku untuk bertukar posisi dengannya yang bersebelahan dengan jendela. Tentu saja, dengan senang hati aku akan menerima permintaannya. Aku menaruh kantung plastik itu ke atas meja, lalu mengeluarkan roti isi coklat yang ada di dalam kantung plastik dan membuka bungkus plastik yang membungkus roti isi coklat punyaku ini.
Sesuai dengan apa yang kuduga, Zaki, Sindy, dan Leila akan membicarakan game itu. Tetapi, aku sama sekali tak punya niatan untuk bergabung dengan pembicaraan mereka.
Aku lebih memilih untuk diam dan memakan roti isi coklatku ini sembari melihat aktivitas sekolah melalui sebuah jendela berbentuk kotak. Walau agak berkabut, aku tetap menikmati aktivitas sekolah seakan-akan kaca jendela yang agak berkabut ini bukanlah sebuah masalah. Tetapi, walau begitu, aku merasa kesepian. Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak menikmati kesendirianku ini. Tak biasanya aku merasakan perasaan ini. Sebuah perasaan yang hampa, dan sangat tidak mengenakkan. “(Apa sebaiknya, aku kembali bermain saja, ya?)"
68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773
Seketika, penglihatanku mulai memudar, dan kepalaku terasa sangat sakit. Saat kukedipkan mataku, tepat dihadapanku, muncul sebuah mata dari monster raksasa dari balik jendela. Sebuah mata yang besar tepat menatap kearahku seakan-akan menyadari keberadaanku. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku tak bisa berpikir jernih dan kepalaku terasa sangaat sakit. Aku melirik ke arah Zaki dan Leila, namun nampaknya mereka tak merasakannya. Tetapi, saat aku menengok Sindy, nampaknya dia juga mengalami sakit kepala ini. Sindy terus menerus memegangi kepalanya sembari menengok ke arah jendela, ketempat dimana monster itu berada.
“Dimo?” Zaki menyadari gerak-gerikku yang aneh.
“Sindy juga....?!” Leila juga nampaknya mulai menyadarinya.
Setelah beberapa menit mengalami sakit kepala yang tak tertahankan, akhirnya keadaan kembali menjadi seperti semula. Rasa sakit yang ada di kepalaku mulai hilang, dan penglihatanku kembali normal. Monster besar yang kulihat dari balik jendela juga sudah menghilang. Sindy juga nampaknya sudah kembali seperti biasa. “A-aku tak apa-apa,’kok. (Tadi itu, apa?)”
***
Sepulang sekolah.
Seperti biasa, aku, Zaki, dan Leila pulang bersama-sama sepulang sekolah. Namun, nampak masih ada rasa penasaran yang muncul dari Zaki. Dahinya terus menerus berkerut, dan dia terus saja melamun sampai pada akhirnya Leila mengajaknya ngobrol.
Awalnya, Zaki tak menyadarinya, tapi dia mulai menyadari itu disaat Leila menepuk pundaknya. Leila mencoba mengajak Zaki untuk membicarakan game Start Point, namun nampaknya Zaki agak tidak peduli karena rasa penasaran yang dimilikinya saat ini. Dia sesekali menanggapi pembicaraan itu, namun nampak sekali dia tak peduli. Leila yang menyadari tingkah Zaki langsung meminta maaf dan berhenti mengajaknya mengobrol. Akibatnya, Zaki mulai merasa bersalah dan berbalik meminta maaf. “Maaf, Leila. Hanya saja, ada sebuah pertanyaan yang terus mengganjal dipikiranku sejak tadi.” Zaki berhenti berjalan dan menengok kearahku “Dimo, sebenarnya, tadi itu apa?” Mengikuti Zaki, langkahku dan Leila serentak ikut berhenti.
Aku menggaruk rambutku, lalu kembali berjalan. Aku melangkahkan kakiku seakan-akan aku sendiri tidak peduli dengan sakit kepala tadi, namun sebenarnya, akulah yang paling penasaran dengan apa yang terjadi tadi “Entahlah...”
Aku, Zaki, dan Leila melanjutkan perjalanan. Sebuah perjalanan yang tenang dan sunyi tanpa adanya sepatah katapun yang keluar. Namun, seketika perjalanan yang tenang itu menjadi berubah menjadi sesuatu yang tak terduga sama sekali. Lagi-lagi, perasaan yang sama dengan apa yang terjadi tempo hari. Kepalaku mulai sakit, dan penglihatanku mulai memudar. Tubuhku terasa lemas, dan berat. Aku tak sanggup menggerakkannya, sampai-sampai aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Dimo?!” Zaki dan Leila langsung menaruh tasnya dan menghampiriku yang terkapar lemas di jalan. Walau samar-samar, aku melihat seorang pemain dan seekor monster yang sedang bertarung tepat di seberang jalan. Tak lama, semuanya mulai menjadi hitam, aku tak bisa melihat apa-apa.
Apakah aku pingsan? Atau hanya imajinasiku saja?
Aku terbangun. Melihat sebuah atap besi yang dingin yang biasa kulihat dipagi hari. Dengan kasur yang empuk dan selimut yang hangat menutup sekujur tubuhku. Aku menengok ke laci yang tepat ada di sebelah kasur. Di atasnya, terdapat semangkuk bubur yang dibungkus oleh plastik transparan. Di sampingnya, terdapat sebuah secarik kertas—sebuah catatan. Dari gaya tulisannya yang berantakan, tak salah lagi, ini adalah tulisan Zaki.
“Dimo, semoga kau baik-baik saja. Oh ya, ini ada semangkuk bubur ayam hangat yang aku dan Leila beli. Kami patungan untuk membelinya, jadi aku dan Leila berharap kau memakannya sampai habis. Temanmu, Zaki dan Leila.”
Aku tersenyum lalu menaruh kembali secarik kertas itu ke atas laci “Dasar mereka itu... Terima kasih.” Aku berjalan menghampiri lemari, lalu aku mengambil pakaian biasaku. Aku melepas kancing-kancing kemeja sekolahku, lalu aku menggantungkannya di samping lemari. Aku mengganti celana abu-abu sekolah dengan celana biasa, lalu aku pakai pakaian biasa. Aku memakai sepatu, lalu keluar dari rumah containerku. Berjalan menyeberang jalan menuju ke taman.
Kurasa, lebih baik aku mencari udara segar di taman.
Udara dingin yang ada, keadaan taman yang sepi, dan lampu-lampu taman yang menerangi jalan. Bintang-bintang dan bulan yang menghiasi langit malam sekan menjadi kesan tersendiri.
Tak lama kemudian, angin mulai berhembus kencang. Membuat satu persatu daun yang ada di pohon mulai berguguran. Sebuah angin kencang yang nampak tak normal. Tiba-tiba, sebuah dentuman besar mulai muncul. Sebuah suara yang sangat kencang dari tempat yang jauh. Aku yang awalnya berjalan langsung menghentikan langkahku dan mengengok kearah dimana suara dentuman itu berasal. Seketika, putih menjadi hitam, dan hitam menjadi putih. Warna-warna yang ada berubah menjadi warna inverse.
Rambut hitamku berubah menjadi putih, langit malam yang berwarna hitam berubah menjadi putih, bulan dan bintang yang memancarkan cahayanya berubah menjadi berwarna hitam. Daun-daun dan rerumputan yang berwarna hijau berubah menjadi berwarna merah muda, celana dan sepatuku yang berwarna coklat berubah menjadi biru. Terjadi dentuman kembali, dan seluruh warna yang ada kembali menjadi normal.
68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773
Untuk mencari jawaban, aku langsung berlari menuju ke rumah. Aku menengok kesana kemari, semua orang mulai keluar dari rumahnya, dengan satu pertanyaan yang sama.
“Apa itu tadi?”
 Lalu lintas menjadi kacau, kemacetan terjadi dimana-mana. Keadaan sangatlah bising. Suara dari klakson mobil dan motor dimana-mana. Tak hanya itu, makhluk-makhluk dan monster mulai bermunculan dimana-mana. Masyarakat yang panik mulai berlarian kemana-mana. Untuk menghilangkan kepanikan publik, polisi mulai mengerahkan pasukannya untuk memberantas monster-monster yang muncul. Tanpa kusadari, muncul seekor monster ular di belakangku. Monster itu mengibaskan ekornya kearahku, namun aku langsung menunduk dan berlari bersembunyi dibalik pohon.
“(Gawat, jika terus begini...)” Aku mengambil sebuah batu bata, lalu melemparkannya kearah yang berlawanan dengan arah kemana aku akan pergi. Suara dari benturan antara rumput dan batu bata itu menarik perhatian monster ular. Monster itu langsung menghampiri sumber suara. Sementara aku langsung berlari menuju kearah rumah. Walau terjadi kemacetan dimana-mana, aku beruntung karena tidak terjadi kemacetan di jalan yang terdapat di depan rumahku. Aku menekan tombol untuk menyalakan televisiku. Di saluran manapun, berita yang disampaikan hampir sama.
“Selamat malam pemirsa. Malam ini, terjadi sebuah ledakan di perusahaan Bum Corp. keadaan perusahaan yang baru-baru ini mengeluarkan gamenya yang berjudul Start Point sangat mengkhawatirkan. Akibat dari ledakan ini, seluruh server dari permainan itu terputus dan membuat seluruh pemain di seluruh dunia terputus dari game. Berikut video amatir detik-detik sebelum ledakan terjadi.”
Sebuah video diputar. Di video itu, terjadi sebuah gempa di area sekitar perusahaan selama beberapa menit. Tak lama kemudian, keluar sebuah bola berwarna hitam dari dalam gedung. Bola hitam itu terus menerus membesar seakan-akan melahap gedung itu. Warna dari area gedung yang sudah terlahap bola hitam itu berubah menjadi warna inverse. Bola tersebut semakin membesar dan semakin membesar. Merasa terancam, sang perekampun mulai berlari menjauhi bola hitam yang perlahan-lahan semakin besar. Disaat bola hitam itu sudah berukuran dua kali lebih besar daripada gedung Bum Corp. bola hitam itupun meletus dan membuat efek inverse menyebar keseluruh dunia. Semakin merasa terancam, sang perekam semakin mempercepat langkahnya sembari merekam seluruh kejadian sebisa mungkin. Tak lama setelah semuanya kembali seperti semula, sang perekampun berhenti berlari dan berbalik. Namun, sesuatu yang tak diharapkannya muncul tepat di hadapannya. Sebuah makhluk berwarna hitam yang menyerupai manusia menyergapnya dan melemparkan sebuah bola hitam kearah kamera. Membuat seluruh layar kamera menjadi berwarna hitam tanpa setitik cahaya.
“Tak salah lagi, itu ulahnya....”
“Untungnya, tak ada korban jiwa. Bum Rahmatullah, selaku pemilik perusahaan Bum Corp. diketahui mengalami luka-luka. Walau begitu, sampai sekarang masih belum diketahui pe—” Aku langsung mematikan televisi dan tidur. Ada sesuatu yang harus kuhadiri besok.
Sejak malam itu, keadaan telah berubah. Menurut komentar Pak Bum diawak media, ledakan yang terjadi menyebabkan dimensi game dan dimensi dunia nyata menyatu menjadi satu. Sekarang, orang-orang dapat melihat pemain dan monster tanpa harus menggunakkan GFP. Namun, Pak Bum sudah menjamin bahwa dia akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Beliau berjanji akan mencari cara untuk mencegah adanya korban dengan menciptakan sebuah tim khusus bernama Eraser. Sebuah tim yang bertugas untuk melindungi warga sipil dari ancaman monster. Hari ini, sehari setelah malam itu, aku berniat untuk menanyakan kebenaran yang ada kepada Pak Bum.
***
Kaca-kaca pecah, tembok beton yang tebal nan kokoh menjadi hancur, sebuah gedung paling tinggi yang pernah kulihat sebelumnya, sekarang berubah menjadi sebuah gedung yang berbeda. Sebuah keadaan yang sangat kacau.
Aku membuka pintu berwarna cokelat, memasuki gedung Bum Corp. menurut berita, aku yakin bahwa Pak Bum baik-baik saja. Akibat insiden semalam, pegawai yang bekerja diliburkan sehingga membuat gedung sangat sepi. Insiden itu juga membuat server dari game Start Point menjadi kacau. Apalagi monster yang mulai bermunculan dimana-mana. Aku berharap bisa menemui Pak Bum sehingga aku bisa menanyakan secara langsung mengenai apa yang terjadi semalam.
Di lorong-lorong yang sepi aku berjalan melangkahkan kakiku menuju keruangan Pak Bum. Lampu yang menerangi terkadang mati dengan sendirinya, namun lampu akan menyala kembali tak lama setelahnya. Ruangan turnamen yang kemarin bahkan sampai hancur. Sampai-sampai aku tak bisa memasuki ruangan tersebut dikarenakan puing-puing yang memenuhi ruangan.
“Dimo?” Suara seorang perempuan muncul dari belakangku. Suara yang nampaknya kukenal. Membuatku harus menghentikan langkah kakiku untuk menengok kebelakang. Sindy berdiri memegang sebuah buku novel yang nampak sangat baru, menatapku dengan tatapannya yang seperti biasa seakan-akan dia sudah tahu bahwa aku akan pergi kesini.
“Ha, Halo...”
Aku memasukkan koin-koin uang kedalam mesin penjual minuman kaleng. Memasukkannya sesuai dengan harga minuman coklat yang kubeli.
“Jadi, apa yang kaulakukan disini?” Aku mengambil kedua minuman kaleng yang kubeli, lalu duduk disebuah kursi yang tepat bersebelahan dengan mesin penjual minuman. Aku membuka salah satu minuman kaleng dan memberikan yang satunya kepada Sindy. Dia berterima kasih, menerimanya, lalu lanjut membaca novel yang dibawanya.
“Sama dengan apa yang ingin kau lakukan disini.” Dengan suara yang pelan dia berkata, membuka minuman kaleng lalu meminumnya perlahan-lahan. Aku tersenyum kecut. Sebenarnya aku tahu bahwa dia akan berkata seperti itu, namun aku malah menanyakan hal yang sudah jelas seperti itu
“Benar juga...”
Sindy menaruh minuman kaleng itu di kursi, lalu membuka kembali novelnya “Kau juga menyadarinya bukan?”
Aku menyeruput minuman kaleng yang sedang kupegang sampai habis lalu melemparnya kearah tempat sampah yang letaknya tak jauh dari kami berdua “Ya....”
Disaat yang bersamaan, Kak Indra keluar dari sebuah ruangan yang letaknya tepat bersebelahan dengan tempat sampah itu. Menyadari ada kaleng minuman yang baru saja masuk kedalam tempat sampah, dia langsung menengok kearah asal dari minuman kaleng itu berasal—kearah kami “Kalian.....”
“.... Jadi begitulah...”
Mendengar penjelasan Sindy, Pak Bum hanya terdiam. Duduk diatas kursi rodanya menatap mejanya dengan tajam melalui kacamatanya, tak lama, dia melepas kacamatanya lalu mengusap wajah “Baiklah, aku akan menceritakan semuanya.” Dia meminta kepada Kak Indra untuk mengambil sebuah benda, dengan cepat, Indra mengangguk dan pergi keluar ruangan Pak Bum.
“Semua ini bermula dari kemarin sore. Tiba-tiba, terjadi sebuah error yang tak wajar didalam server Start Point. Entah kenapa, error ini mengakibatkan beberapa orang pemain mulai mengalami sebuah sakit kepala yang amat sangat.”
Sindy terdiam, sedikit menggigit bibirnya. Tangannya mulai mengepal dan alisnya mulai mengkerut, seakan-akan dia masih teringat dengan rasa sakit itu.
“Lalu, apa bapak tahu apa penyebab dari semua itu?” Aku mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan itu, tapi nampaknya itu tidak membantu.
Pak Bum kembali memakai kacamatanya dan melanjutkan penjelasannya “Beberapa jam kemudian, terjadi sebuah error yang sangat besar di arena bertarung. Error itu mengakibatkan para pemain tak bisa memasukinya. Untuk memperbaikinya, kami terpaksa harus membuat seluruh pemain log out. Seusai diperbaiki, aku meminta Indra dan Dinda untuk masuk ke dalam game dan mengecek arena. Dari situlah, keadaan mulai kacau.” Entah kenapa Pak Bum berhenti dan menghela nafas. Tak lama kemudian Kak Indrapun tiba. Membawa sebuah tablet, tablet yang sama dengan sebelumnya.
“Pada awalnya, semua berjalan lancar. Sampai dia muncul.” Kak Indra membuka sebuah file video yang terdapat di tablet yang dipegangnya, lalu menyerahkannya kepada kami “Video itu kami dapatkan dari salah satu drone. Sampai saat ini, kami belum menunjukkan video tersebut kepada pihak kepolisian.”
Didalam video rekaman tersebut, Shadow Player tepat berdiri didepan drone tersebut, mengacungkan pedang hitamnya yang panjang kearah drone. Dari wajahnya yang kosong, muncul sebuah lekukan berwarna merah, sebuah lekukan yang nampak seperti sebuah mulut. Lekukan tersebut mulai membesar sampai seukuran dengan setengah wajahnya “Mulai sekarang, rencanaku akan segera dimulai. Akan ada perubahan besar! Dan kalian, manusia, bukan bagian dari rencana tersebut.” Dengan suaranya yang berat dan mengerikan, dia mengayunkan pedangnya dan menghancurkan drone tersebut bersamaan dengan berakhirnya video.
“Menyadari kejadian itu, aku langsung memerintahkan Dinda dan Indra untuk segera keluar dari dalam game. Namun, Shadow Player berhasil meretas sistem dan membuat mereka berdua tak bisa keluar dari dalam game. Dia juga meretas sistem teleportasi dan merusaknya, membuat sistem tersebut tak berfungsi kembali. Aku langsung berinisiatif dengan mematikan server untuk mengeluarkan mereka berdua, namun disaat yang bersamaan, aku terlambat. Shadow Player seketika tepat berdiri di belakangku.”
***
Kemarin
“Ba-bagaimana mungkin?” Pak Bum membalik kursi rodanya, dengan perlahan-lahan dia memundurkan kursi rodanya mendekati tombol evakuasi yang tertempel di tembok yang ada di belakangnya. Sesekali dia sedikit menengok kebelakang untuk memeriksa apakah arah yang ditujunya sudah benar. Tanpa menyadari maksud tersembunyi dari Pak Bum, Shadow Player berjalan mendekatinya. Dia menarik pedang hitam keluar dari dalam tubuhnya, disaat bersamaan Pak Bum sudah tiba di depan tombol.
Tangan kirinya meraba ke belakang mencari tombol tersebut, sementara matanya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Shadow Player untuk memastikan bahwa dia tak menyadari niatan tersembunyi itu. Shadow Player mengangkat pedangnya keatas, setinggi yang dia bisa, lalu membaliknya.
“Dimensi bukan masalah lagi bagiku!” Dia menancapkan pedangnya ke dalam lantai, tancapan pedangnya itu mengguncangkan area disekitarnya. Mencipatkan sebuah gempa. Menyadari situasi yang semakin genting, Pak Bum langsung berbalik dan menekan tombol evakuasi. Suara nyaring mulai muncul, lampu-lampu berwarna merah mulai keluar dari plafon ruangan. Memancarkan cahaya merahnya keseluruh gedung. Menandakan kepada seluruh orang untuk segera pergi meninggalkan gedung.
Dari dalam lantai yang tertancap pedang, muncul sebuah bola berwarna hitam. Bola tersebut mulai membesar, seakan-akan memakan semua yang ada disekitarnya. Sementara itu, Pak Bum menyadari bahwa Shadow Player sudah menghilang dari tempat itu. Dia langsung menggerakkan kursi rodanya untuk masuk kedalam elevator, namun, akibat gempa jalan yang akan dilaluinya terhalang oleh puing-puing akibat runtuhnya lantai atas. Dia mencoba untuk mencari jalan lain, tetapi seketika ada sebuah puing-puing yang jatuh diatasnya. Pak Bum langsung melompat menuruni kursi rodannya untuk menghindar.
Bola hitam itu semakin membesar, sampai akhirnya berukuran lebih besar dari gedung Bum Corp. saat mencapai puncaknya, bola hitam itupun meletus dan mengakibatkan seluh warna di seluruh dunia berubah menjadi warna inverse selama beberapa detik.
“Pak Bum...?”
“Pak Bum??”
Indra menggeser puing-puing yang sedikit menimpa Pak Bum. Pak Bum beruntung puing-puing yang berat dan dingin itu tak memberinya luka berat. “Apa anda baik-baik saja?” Dinda mengambil sebuah kubus dan menekan tombol lalu menaruh kubus tersebut.
Seketika, kubus itu berubah menjadi sebuah kursi roda. Indra mengangkat Pak Bum dan membuatnya duduk kembali di atas kursi roda. “Ya, aku baik-baik saja. Yang lebih penting, kita harus segera mencari biang keladi dari semua ini, yaitu Shadow Player.” Pak Bum membersihkan pakaiannya lalu menepuk pundak Dinda. Tak lama kemudian, datang salah seorang pegawai. Berlari dengan tergesa-gesa seperti habis baru saja melihat hantu. Dia membawa sebuah tablet, dan menunjukkan berita yang terdapat ditablet tersebut.
“Dunia gempar! Teror monster di mana-mana.”
Headline isi dari berita tersebut membuat Kak Indra, Mbak Dinda dan Pak Bum tak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Dengan refleks, Kak Indra langsung berlari mendekati jendela dan membukanya. Lagi-lagi dia semakin tak bisa mempercayai matanya sendiri. Karena apa yang dia lihat saat ini, sesuai dengan apa yang tertera didalam berita. Monster ada dimana-mana, sejauh mata memandang, selalu ada monster. Dia menyadari, walaupun server dari Start Point sudah terputus, itu tak berpengaruh sama sekali.
***
Saat Ini
Aku menaruh kembali tablet ke meja. Aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan mengenai semua ini. Semuanya benar-benar kacau. Aku menunduk karena tak tahu lagi apa yang harus aku katakan atau aku lakukan.
“Ada satu hal lagi.... yang ingin kutanyakan....” Suara lantangnya membuatku kembali mengangkat wajahku untuk menengok kearahnya. Sindy menatap Pak Bum dengan tatapannya yang fokus seperti biasa. Nampak tangannya terus menutup buku novel yang dia baca sebelumnya seakan-akan menolak untuk menyentuh selembar halaman dari novel tersebut “....lebih tepatnya apa, yang akan anda lakukan setelah ini?”
Pak Bum lagi-lagi melepas kacamatanya lalu membersihkannya. “Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas insiden ini. Aku akan membuat sebuah asuransi gratis bagi yang terkena dampak dan serangan dari monster-monster tersebut dan membentuk sebuah komisi penanggulangan khusus yang bertugas untuk menumpas monster-monster dan menghentikan Shadow Player. Aku akan membuat seluruh player yang terdaftar sebagain anggota kesatuan khusus itu menjadi level maksimal sehingga mereka dapat mengeluarkan sepenuhnya kemampuan mereka. Aku takkan membiarkannya merenggut lebih banyak nyawa lagi menggunakkan permainan yang sudah kuciptakan dengan susah payah ini.”
Untuk mencegah monster-monster yang terus-menerus bermunculan dimana-mana, Pak Bum akan menciptakan sebuah komisi penanggulangan khusus bernama ERASER. Komisi itu bertugas untuk melindungi penduduk sipil dari serangan monster dan tidak hanya itu, ERASER juga bertugas untuk menupas monster-monster yang ada dan menghapus titik-titik dimana monster ter-respawn
Kelompok ini terdiri dari para pemain-pemain yang handal dan sangat mahir dalam bermain game. Pak Bum juga memperbarui sistem log in dari game dan menyesuaikannya dengan kondisi saat ini. Untuk log in, sekarang sudah tidak membutuhkan sofa atau kursi lagi. Sekarang ada sebuah alat portabel berbentuk persegi. Bentuknya seperti sebuah tablet, namun lebih kecil sampai-sampai benda tersebut bisa muat di dalam kantung celana. Untuk log in, pemain hanya tinggal menempelkan salah satu jarinya di salah satu sisi dari benda tersebut. Benda itu akan meng-scan jari pemain selama beberapa saat. Setelah itu, tubuh pemain akan mulai bercahaya dan berubah menjadi avatar dan terlogin sepenuhnya kedalam game. Di minggu pertamanya, ERASER melakukan pekerjaan yang cukup memuaskan, mereka berhasil menumpas hampir seluruh monter yang ada di Kota Rempah.
Akibat hasil yang memuaskan ini, ERASER disambut hangat oleh pemerintah dan ditetapkan sebagai lembaga resmi milik pemerintah dunia. Akibatnya, mulai muncul organisasi kecil seperti KPM atau Komisi Penanggulangan Monster. Organisasi milik kepolisian itu beranggotakan para gamer-gamer yang handal dan sudah teruji keahliannya. Dampak dari keputusan pemerintah itu juga menjalar ke dunia pendidikan. Pemerintah memutuskan untuk membuat mata pelajaran dan metode belajar yang baru. Didalam mata pelajaran tersebut, pelajar akan diajarkan dasar-dasar dari permainan Start Point dan informasi mengenai monster yang ada. Para pelajar juga diwajibkan untuk memiliki satu akun Start Point sebagai perlindungan diri dari monster.
Aku sempat diajak oleh Zaki untuk ikut masuk kedalam ERASER sepertinya, namun aku menolaknya mentah-mentah.
***
Di sekolah.
Kelas sangat ramai akibat tugas matematika. Apalagi karena guru di kelas kami sedang dipanggil ke ruang guru karena suatu urusan. Disaat aku baru saja mendapatkan salah satu jawaban dari kelima soal yang ada, tiba-tiba Zaki menepuk pundakku dari tempat duduknya yang tepat berada di belakang tempat dudukku.
Awalnya, aku memutuskan untuk mengabaikannya dan tetap fokus kepada soal-soal ini, tetapi dia terus-menerus menepuk pundakku. Semakin aku mengabaikannya, semakin kencang dia menepuk pundakku. Dia juga mulai memanggil namaku melalui bisikan-bisikannya “Dimo... hei....” Lagipula, kenapa pula dia berbisik? Padahal tak ada guru di ruangan ini.
Semakin lama, tingkah lakunya semakin menjadi. Aku menangkap tangan kanannya yang terus saja menepuk pundakku dan mencengkramnya sekencang yang kubisa. Aku perlahan menengok kebelakang, walau tetap mencoba untuk menahan rasa kesalku akibat ulahnya, rasanya aku tetap tak bisa melakukannya. Aku terlalu kesal untuk bisa berpura-pura tenang. Dengan tatapan penuh kekesalan dan alis yang mengkerut keatas, aku mencoba menggigit bibirku untuk mengurangi rasa kesal yang ada “Apaan....?”
“Aduduh, sakit, sakit....” Zaki mencoba menarik tangan kanannya dari cengkramanku, bahkan dia mencoba dengan menggunakkan kedua tangannya. Dia terus menarik sekencang yang dia bisa, sampai-sampai kursinya terus bergonyang dan hampir jatuh.
“(Kurasa, dia sudah menariknya cukup kencang.)”
Aku melepas tangan Zaki bersamaan saat dia menariknya sekuat yang dia bisa, mengakibatkannya terdorong kebelakang akibat daya tarik yang dia buat sendiri. Akibatnya, dia terjatuh ke belakang bersama dengan kursinya.
Aku memutar kursiku berlawanan dengan mejanya, membuatku lebih mudah berkomunikasi dengan manusia sepertinya “Kali ini apa? Game lagi?” Zaki merapihkan kembali kursinya dan membersihkan seragam putihnya. Dia mengambil pulpennya dan mengambil buku catatan miliknya. Entah untuk apa dia melakukan itu.
Dia berbalik, seakan-akan sedang menulis sesuatu yang penting. Setelah selesai, dia menutup kembali pulpennya dan membantingnya kemeja lalu mengulurkan tangan kirinya yang memegang buku catatan miliknya yang terbuka lebar membuka sebuah halaman yang baru saja dia isi.
“Ini.... Ini.....” Aku tak bisa mempercayai apa yang sedang kulihat saat ini. Tulisan itu....
Zaki tertawa, suara tawanya yang kencang lebih kencang dari murid-murid lainnya, lalu dia menunjuk kearah tulisan yang baru saja dia tulis. Seketika perhatian seluruh kelas langsung tertuju kearahnya. Bahkan Leila dan Sindy yang menyadari tingkah laku Zaki ini, menolak untuk tidak melewatkannya. Sebuah tulisan kramat yang tertulis di bukunya mengambil alih seluruh kelas. Tulisan yang berisikan :
Dimo, jawaban dari no. 1 sampai no. 5 dong....
Aku langsung menarik buku tersebut dan melemparkannya kearah Zaki. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku tak percaya aku bisa mempunyai teman sepertinya.
Sungguh.... Memalukan....
Maka, aku kembali memutar kursiku menghadap kembali ke posisi awal, lalu kembali melanjutkan tugas matematika ini. Tak lama kemudian, Pak guru kembali memasuki kelas. Membuat suasana kelas yang sebelumnya ramai, kembali menjadi tenang. Tapi, kali ini dia membawa tamu bersamanya. Kak Indra dan Mbak Dinda memasuki ruang kelas bersamaan dengan Pak guru. Dengan pakaian jas yang rapih nan formalnya, mereka memasuki ruang kelas. Seluruh kelas langsung tertuju kepada mereka berdua.
Banyak yang bertanya-tanya siapa mereka sebenarnya, namun aku, Zaki, Leila, dan Sindy tahu betul siapa mereka “(Kak Indra dan Mbak Dinda, apa yang sebenarnya mereka lakukan disini?)” Aku memutuskan untuk tidak memperhatikan dan kembali melanjutkan tugasku. Namun, isi dari pensil mekanikku yang terus patah sepertinya bukanlah pertanda baik. Tetapi aku rasa aku hanyalah berlebihan. Selagi aku masih memiliki cadangannya, itu bukanlah masalah sama sekali.
“Dimo Ramadhan.”
Aku langsung mengangkat wajahku menatap lurus kearah depan. Kurasa lagi-lagi aku mematahkan isi pensilku “Y-ya...?” Perhatian seluruh kelas yang awalnya hanya tertuju kepada Kak Indra dan Mbak Dinda langsung berpindah kearahku.
“Dipersilahkan untuk maju!”
“Ba-baiklah....” Dengan firasat buruk, aku berdiri—bangun dari kursiku. Melangkahkan kakiku secara perlahan melintasi kursi dan meja. Aku menengok kepada semuannya, satu-persatu. Tatapan-tatapan yang aneh mulai dikeluarkan. Sebuah tatapan yang tak menyenangkan. Mereka juga mulai berbisik diam-diam. Aku memutuskan untuk diam dan tak menegur mereka seakan-akan aku tak melihat apa-apa. Semua itu menggangguku, sampai akhirnya aku menengok kepada Sindy, Leila, dan Zaki.
Berbeda dengan yang lainnya, ekspresi yang mereka keluarkan adalah ekspresi kekhawatiran. Menunjukkan betapa pedulinya mereka kepadaku. Tatapan itu menghilangkan rasa tak nyaman yang dari tadi terus menghantuiku. Sekarang, yang harus kulakukan adalah, mencari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi disini.
Kami menaiki sebuah mobil dan pergi menuju Bum Corp. yang saat ini adalah salah satu markas besar dari ERASER. Aku masih tidak mengetahui alasan mengapa mereka membawaku kesana. Disaat aku bertanya, Kak Indra dan Mbak Dinda hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Setelah beberapa menit mengalami perjalanan, akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang Bum Corp.
Akibat insiden tahun lalu, membuat gedung Bum Corp. harus direnovasi. Sekarang, Bum Corp. sangatlah berbeda dengan yang dulu. Sekarang ini adalah sebuah markas besar, yang mengemban tugas besar yaitu menyelamatkan masyarakat dari seluruh monster yang ada. Setiap hari, pintu gerbang tak pernah tertutup. Hampir setiap jam, setiap menit, dan setiap detik, orang berlalu lalang melintasi pintu gerbang yang besar dan megah ini. Dari pekerja kantoran, sampai anggota ERASER selalu melintas melaluinya. Tetapi, walau begitu, dengan sistem keamanan yang baru, membuat tempat ini tak bisa dilalui sembarang orang begitu saja.
Aku keluar dari dalam mobil. Menapakkan sepatuku dari mobil, kejalan setapak. Sudah lama sejak aku terakhir kali ketempat ini. Walaupun banyak yang sudah berubah, namun rasanya tempat ini selalu membuatku takjub. Aku tahu bahwa Pak Bum memanglah seorang milyuner, tapi, aku tak menyangka dia sampai bisa membuat tempat semegah dan seluas ini.
Sementara aku sedang melihat sekeliling, Kak Indra menghampiriku dan menepuk pundakku “Kemarilah.” Aku langsung menuruti perintah Kak Indra dan Mbak Dinda untuk masuk kedalam gedung. Dengan statusnya sebagai pegawai lama, Kak Indra dan Mbak Dinda sangat dipercaya sampai-sampai mereka tak harus melewati sistem keamanan terlebih dahulu.
Walau begitu, ekspresi muram yang terus mereka tunjukkan dari tadi, tak pernah berubah. Disaat aku sudah melalui gerbang, seketika firasat tak enakku muncul kembali. Orang-orang dari ERASER yang melintas dan melihatku langsung berhenti dan menatapu dengan tatapan penuh kebencian. Bahkan mereka sampai melupakan aktivitas mereka dan melihatku dengan tatapan penuh kebencian. Aku berhenti dan menengok kearah sekitar. Aku menyadari bahwa seluruh orang yang berada disana sudah berhenti melangkahkan kakinya dan menatapku dengan tatapan yang sama. Tatapan kebencian.
Menyadari aku yang berhenti berjalan, Mbak Dinda menghampiriku dan mencoba menghiburku “Dimo, jangan pikirkan mereka. Ayo.” Aku menuruti perkataan Mbak Dinda dan kembali melanjutkan langkah kakiku menuju kedalam Bum Corp. tetapi aku tak mengerti sama sekali.
Kenapa mereka menatapku dengan tatapan seperti itu.
Sesampainya didepan pintu, kami dihadapkan dengan salah seorang ketua Divisi dari ERASER yang sedang bertugas menjaga pintu. Kak Indra dan Mbak Dinda berdiri dengan tegak dihadapannya, lalu memberi hormat. Ketua Divisi itu membalas hormat mereka, lalu Kak Indra dan Mbak Dinda melaporkan diri mereka sebagai ketua dan wakil ketua  Divisi 7 kepadanya. Ketua Divisi itu melirik kearahku lalu mengambil sebuah foto dari kantung celananya. Dia lalu melirik lagi kearahku dan kearah foto yang dipegangnya secara bergantian seakan-akan dia sedang membandingkanku dengan foto itu. Tak lama setelah dia mengantungi kembali foto itu, mereka mengangguk satu sama lain dan mempersilahkan kami untuk masuk.
Setelah melewati pintu, mataku langsung ditutupi oleh sebuah kain berwarna hitam yang diikatkan kekepalaku.
Dengan mata yang tertutup, mereka menuntunku berjalan menuju ke sebuah tempat yang kurasa cukup jauh dari pintu depan. Tanpa tahu kearah mana aku menuju, aku melangkahkan kedua kakiku secara perlahan. Sampai akhirnya, mereka memintaku untuk berhenti berjalan. Kak Indra melepas kain yang menutup mataku ini, lalu memintaku untuk duduk di sebuah kursi yang ada di hadapanku. Aku berada disebuah ruangan yang cukup gelap. Satu-satunya penerangan adalah lampu yang ada diatas kursi itu. Aku memeriksa sekitar, tetapi aku tak bisa menemukan pintu keluar karena gelapnya ruangan. Setelah melepas kain penutup mata, Kak Indra mundur memasukki bayang-bayang.
Aku memutuskan untuk menuruti apa kata mereka dan duduk di kursi tersebut. Tak lama, Pak Bum menghampiriku. Beliau memegang pundakku dan berkata “Dengar, Nak Dimo. Katakan yang sejujurnya.” Setelah itu, beliau kembali menggerakkan kursi rodanya memasuki bayang-bayang. Beberapa menit kemudian, muncul sebuah cahaya di hadapanku. Sebuah video rekaman.
***
Isi video.
Suatu hari, ERASER mendapat informasi mengenai keberadaan Shadow Player. Informasi itu menuntun mereka ke sebuah gua yang ukurannta lebih luas dari luas sebuah lapangan sepak bola. Berdasarkan informasi itu, ERASERpun membuat serangan berskala besar demi menangkap akar permasalahan dari ini semua, yaitu Shadow Player. Sesuai informasi, banyak monster yang keluar menghadang dari dalam gua tersebut. Membuat ERASER semakin yakin dengan informasi tersebut. Panah-panah ditembakkan, pedang-pedang ditarik dari sarangnya, peluru-peluru berjatuhan, perisai dihadapkan dengan segala yang ada, bahkan sihir yang paling kuatpun dikerahkan demi menangkap monster itu.
Kak Indra yang memimpin regu penyergap memimpin pasukan dengan berani dan semangat juang yang tinggi. Sementara Mbak Dinda yang memimpin regu penembak siap mendukung serangannya dari belakang. Mereka terus menekan monster-monster sampai mereka masuk kedalam titik dimana cahaya tak sanggup memasuki gua. Penyerangan yang berjalan mulus itu berjalan terlalu mulus sampai-sampai tak jatuh satupun korban dipihak ERASER. Seakan-akan mereka memang mengundangnya untuk makan malam.
Setelah beberapa menit beristirahat, merekapun melanjutkan penelusuran lebih dalam. Mereka sampai di sebuah persimpangan. Membuat kedua regu yang ada harus membelah menjadi dua untuk menelusuri persimpangan tersebut. Pilihan ini dianggap pilihan yang paling tepat karena bisa menghemat waktu. Sebelum berpisah, mereka menyiapkan dua drone untuk masing-masing tim. Drone tersebut digunakan untuk dokumentasi, dan juga sebagai perantara untuk melakukan video call jika diperlukan. Regu penyergap dan penembak yang bersama Kak Indra menelusuri terowongan bagian kanan sementara Mbak Dinda sebaliknya.
Saat ditelusuri lebih dalam, Kak Indra mulai merasakan keganjilan. Mulai dari menghilangnya monster-monster, sampai sekan-akan mereka terus menerus berputar-putar. Akibat keanehan ini, Pak Bum menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dan disengaja. Dari radio, muncul suara panggilan dari markas pusat yang memerintahkan mereka untuk segera mundur. Namun, sebelum perintah selesai diucapkan, komunikasi terputus. Tiba-tiba komputer-komputer di markas pusat mengalami error. Membuat sistem komunikasi terputus. Tentu saja ini bukanlah pertanda baik. Komunikasi sangatlah dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Kak Indra terus-menerus mencoba memanggil kantor pusat melalui radio, namun dia tetap tak bisa menghubunginya. Sistem teleportasi juga rusak akibat insiden saat itu sehingga mereka harus menggunakkan kaki mereka untuk pergi dari tempat itu.
Kak Indra langsung memerintahkan regu yang bersamanya untuk segera pergi keluar dari dalam gua. Namun, saat mereka berbalik, jalan yang mereka cari sudah tak ada lagi. Semua jalan yang mereka lalui sebelumnya, berubah menjadi sebuah jalan buntu dari gua. Bahkan tak terdapat celah sekecilpun. Kak Indra berusaha menghancurkannya menggunakkan pedang airnya, namun itu percuma. Mereka berbalik dan mencari jalan lain, namun setiap jalan yang mereka lalui selalu menuntun mereka ke jalan buntu lainnya.
“Sial...!” Kak Indra melampiaskan kekesalannya dengan menendang sebuah batu yang terdapat di pinggir gua “Apa yang harus kita lakukan?!” Tak lama, kabut mulai bermunculan dari celah-celah yang ada di gua. Kabut yang awalnya tipis itu mulai menebal dan menyebar keseluruh gua. Menyadari itu, Kak Indra langsung memerintahkan regu yang bersamanya untuk tetap tenang dan berkumpul di satu titik untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
“Semuanya, tetap tenang dan tetap bersama!” Tetapi semuanya terlambat. Saat dia sadari, kabut sudah memenuhi gua dan menghalangi penglihatannya “(Gawat. Aku terlambat.)” Di gua yang pada awalnya sunyi tersebut, mulai bermunculan suara-suara teriakkan. Sebuah suara yang tak pernah diinginkan. Suara kesakitan dari para anggota regu.
Suara tersebut satu persatu bermunculan. Suara teriakkan yang memekakkan telinga itu semakin dekat dan semakin kencang mendekati Kak Indra. Kak Indra menghitung jumlah dari teriakkan yang muncul dan menyesuaikannya dengan jumlah anggota regu yang ada.
Walau tak bisa mempercayainya, jumlah yang dia hitung dan jumlah dari anggota regunya, sama. Satu-satunya yang tersisa hanyalah dia. Suara yang memekakkan telinga itu menghilang seketika. Tergantikan dengan suara langkah kaki yang menggema di seluruh gua. Merasa terancam, Kak Indra langsung menarik pedangnya keluar dari sarung pedang, lalu dia memanipulasi pedang tersebut, mengubahnya menjadi pedang air yang sanggup membelah batu sekalipun.
“Siapa kau sebenarnya?” Bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan, suara dari langkah kaki itu terhenti.
“Siapa aku? Kau tahu dengan pasti siapa aku.” Langkah kaki yang terhenti itu muncul kembali dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.
Dari serong kiri Kak Indra, pedangnya membelah kabut dengan cepat. Namun dengan sigap Kak Indra langsung menepisnya. Pedang itu kembali menghilang tertelan kabut. Menyadari itu, Kak Indra langsung menebas pedangnya kearah dimana pedang itu berasal, namun dia tak bisa menemukkan siapa-siapa disitu. Walaupun begitu, dia tetap tak mengurangi pengawasannya. Kak Indra menengok kesana kemari, mewaspadai area disekitarnya, menghitung kemungkinan dari arah mana serangan berikutnnya akan dilancarkan.
“Apa yang sudah kau lakukan kepada rekan-rekanku?” Ada sebuah pedang dilemparkan kearahnya, pedang yang berbeda dari yang sebelumnya. Kak Indra langsung menunduk dan tiarap. Saat dia sadari, ternyata itu hanya pengalih perhatian. Pedang yang sama dengan serangan sebelumnya tepat sedang diayunkan di atas kepalanya. Dengan tergesa-gesa, Kak Indra menggelindingkan tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut. Akibat tindakannya yang tergesa-gesa, membuatnya menabrak dinding gua. Serangan itu menyusulnya. Lagi-lagi dari dalam kabut, pedang-pedang dilemparkan kearahnya. Kak Indra melompat menjauhi serangan tersebut “Jawab aku!”
“Bagaimana ya.... singkatnya sih...”
“....Mem-bu-nuh-nya....!” Dari belakang, sebuah ayunan penuh dikerahkan kearahnya. Ayunan penuh yang membelah kabut dan membuatnya semakin memudar. Membuat sebuah sayatan besar dipunggunya. Akibat serangan itu, Kak Indra langsung reflek melompat menjauhi lokasi serangan itu berasal.
Kak Indra memeriksa luka dipunggungnya “Oi, oi, ini gawat....”
“Open the seal : Focus eye.” Mata Kak Indra berubah menjadi berwarna biru, lalu bersinar. Membuatnya bisa melihat setiap gerakkan yang ada disekitarnya. Bersamaan dengan kabut yang semakin menipis, serangan terus menerus dikerahkan kearahnya. Dengan pedang airnya, Kak Indra terus-menerus menepis serangan yang terus diarahkan kepadanya. Terus menunggu celah muncul dari serangan tersebut. Tak lama kemudian, diserangannya yang kesekian kali ini, celahpun muncul. Kak Indra langsung menepis serangan tersebut dan menebas penyerang dicelah yang ada. Serangan itupun berhasil dilancarkan. Membuat penyerang terluka dan harus mundur. Saat Kak Indra sadari, kabut sudah menghilang sepenuhnya. Dia menyadari, inilah saatnya untuk melihat siapa penyerang sebenarnya.
Dengan senyuman liciknya dan tatapannya yang fokus kepada satu tujuan, yaitu membunuh, dia mengayunkan pedangnya kesamping. “Kau....” Kak Indra tak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Luka yang baru saja dia berikan kepada penyerang, sembuh begitu saja. Bahkan jaket yang seharusnya sobek akibat serangan tadi, seakan-akan tak pernah sobek sekalipun. Rambut dan wajah yang dikenalnya, tepat berdiri didepannya “Apa sekarang kau sudah kenal denganku?”
“Dimo...?!”
"Kenapa kau melakukan ini?" Kak Indra mengangkat pedang airnya, menunjuk Dimo yang berdiri tepat didepannya
“Kenapa kau melakukan ini?” Kak Indra mengangkat pedang airnya, menunjuk Dimo yang berdiri tepat di hadapannya. Dengan santai, Dimo menyarungkan kembali pedangnya.
“Apa masih belum jelas? Sudah pasti untuk menghabisi kalian.” Dia membuka inventori miliknya, mengambil sebuah pistol dan menembakkannya kearah Kak Indra.
Namun, dengan mudahnya Kak Indra menangkap peluru-peluru tersebut menggunakkan pedang airnya. Sementara Kak Indra yang sedang sibuk mengatasi peluru-peluru itu, Dimo langsung melesat kearahnya. Sambil menembakkan peluru-peluru dari pistol di tangan kirinya, tangan kanannya menarik pedang dan mengayunkannya dengan cepat kearah Kak Indra.
Serangan kombinasi itu membuat Kak Indra harus melompat mundur menjauhi ayunan pedangnya. Akibatnya, satu peluru bersarang dipundak kanan dan kaki kirinya. Disaat Kak Indra baru saja mendarat, Dimo sudah tepat berada di hadapannya. Ayunan pedang dari Dimo langsung ditahan oleh Kak Indra. Sementara serangannya tertahan, Dimo langsung menembakkan peluru kearah kaki kanan Kak Indra untuk menghancurkan keseimbangannya. Menyadari itu, Kak Indra langsung berbalik menendang tangan kiri Dimo dan membuat pistol yang digenggamnya terlepas dan terlempar kesisi lain dari gua. Setelah itu, Kak Indra langsung mendorong pedang Dimo yang dia tahan dengan pedang airnya. Dengan segenap kekuatannya dia mendorong Dimo sampai punggungnya menabrak dinding gua “Keparat, siapa kau sebenarnya?”
“Lho, apa kau tidak mengenalku? Aku ini Dimo.” Pedangnya langsung bercahaya. Cahaya berwarna merah gelap seperti darah. Cahaya berwarna merah itu menerangi seluruh gua sampai ketempat gelap sekalipun. Kak Indra langsung menyadari bahwa pedang air yang dipegangnya mulai mendidih akibat menahan cahaya berwarna merah itu.
“(Pedangnya....)”
Kak Indra mengubah pedangnya menjadi pedang biasa lalu melompat menjauh. Dengan sigap, Dimo merespon gerakan Kak Indra dengan mengayunkan pedangnya yang sudah bercahaya. Cahaya yang terdapat di pedangnya langsung terlempar setelah dia mengayunkan pedangnya. Cahaya berwarna merah itu mulai berubah menjadi seperti pecahan-pecahan kecil dari bulan itu melesat dengan kecepatan tinggi. “(Itu... Moonlight Shard?!) Open the seal : Water Sword.” Pedang yang Kak Indra pegang di tangan kanannya kembali berubah menjadi air. Lalu, dia menancapkan pedangnya kedalam tanah. Seketika, air yang terdapat di pedangnya langsung mengalir masuk kedalam tanah.
Tak lama kemudian, air yang sebelumnya terserap kedalam tanah mulai keluar di depan pedang. Air tersebut memancur keluar dari dalam tanah, menciptakan sebuah tembok air yang besar. Kak Indra menarik kembali pedangnya dari dalam tanah lalu menusukkannya kedalam tembok air kokoh yang tepat didepannya.
Air yang dingin itu langsung berubah menjadi es yang dingin dan keras yang cukup kuat untuk menahan serangan Moonlight Shard. Es itu meledak. Dari balik asap akibat ledakan es, Dimo sudah siap mengayunkan pedangnya. “Gawat....!” Akibat ledakan yang terjadi sebelumnya, pedang yang tertancap di tembok es langsung terlempar ketempat dimana Kak Indra tak bisa menggapainya. Kondisi ini membuatnya harus menunduk menghindari ayunan serangan dari Dimo. Dia beruntung, itu adalah detik-detik terakhir sebelum kemampuan fokusnya habis sehingga membuatnya dapat selamat dari serangan tersebut.
Namun, efek samping dari kemampuan fokus mulai muncul disaat yang tak diinginkan. Efek samping dari kemampuan itu membuat penglihatan Kak Indra mengalami rabun selama beberapa menit.
Keadaan gua yang gelap saja sudah menyulitkannya, apalagi kondisi seperti ini.
Kak Indra kehilangan keseimbangannya dan terjatuh akibat terpeleset setelah menginjak salah satu bongkahan es. Disaat penglihatannya yang mulai memburuk, Kak Indra melihat pedangnya tepat ada di belakangnya. Dengan segenap tenaga yang tersisa, Kak Indra langsung bangun dan berlari untuk menggapai pedang tersebut.
Tetapi Dimo sudah mendahuluinya dan menendang pedang tersebut menjauh dari Kak Indra. Dia mengangkat pedangnya—mengacungkannya kearah Kak Indra lalu berjalan perlahan mendekatinya “Ini sudah berakhir...!” Dimo mengayunkan pedangnya kearah Kak Indra tanpa ragu sedikitpun.
Besi dingin berwarna perak itu diayunkannya tanpa adanya rasa ragu sedikitpun. Tetapi, tiba-tiba Kak Indra melihat sebuah cahaya berwarna merah terpantul dari pedang tersebut. Dia sadar bahwa refleksi tersebut berasal dari suatu tempat yang tak jauh darinya.
“Open the seal : Fire punch.”
Mbak Dinda mendarat disampingnya. Dengan kepalan tangannya yang membara, dia memukul wajah Dimo. Dorongan dari api ditangannya yang panas itu membuat Dimo terlempar sejauh beberapa meter dan menabrak dinding gua. Mbak Dinda langsung memanfaatkan momen tersebut dengan mengambil pedang milik Kak Indra lalu mengambil bom asap dari inventorinya. Dari jari telunjuknya keluar kobaran api seperti sebuah pemantik. Dia menyalakan sumbu dari bom asap tersebut menggunakkan api yang muncul dari jari telunjuknya lalu melemparkan bom asap tersebut ke tanah. Dia membantu Kak Indra untuk berdiri, lalu langsung pergi dari tempat itu sebelum asap yang dihasilkan bom asap mulai habis.
Setelah berhasil meloloskan diri dan beberapa menit berjalan menelusuri gua yang gelap, Kak Indra dan Mbak Dinda memutuskan untuk beristirahat selama beberapa saat. Mereka berhenti berjalan dan duduk di pinggiran gua. Sempat terjadi kesunyian sesaat diantara mereka. Udara di gua yang dingin menambah kesan tersendiri dikesunyian itu. Tetasan air menetes dari langit-langit gua, melubangi batu yang ada di bawahnya sehingga menciptakan sebuah lubang besar yang penuh dengan genangan air. Mbak Dinda yang mulai merasa canggung dengan kesunyian ini mulai mencari cara untuk memulai obrolan. Dia melirik kearah Kak Indra, dan tak sengaja melihat luka yang ada di punggungnya. “I-ini, ambillah! Walau ini takkan mengobati luka di tubuh aslimu, setidaknya ini bisa menghilangkan rasa sakitnya untuk sementara waktu.” Mbak Dinda mengambil sebuah botol ramuan penyembuh dari inventorinya.
“Terima kasih...” Kak Indra membalasnya dengan senyuman hangat lalu menerimanya lalu meminum ramuan berwarna merah tersebut.
“Te-tetapi, apa tadi itu benar-benar Dimo?”
Kak Indra selesai meminum ramuan itu, lalu melihat kepada refleksi dari dirinya yang terpantul di botol kaca ramuan tersebut. “Aku tidak yakin....” Tak lama, ramuan yang sudah selesai diminumnya mulai bercahaya lalu menghilang. Walau hanya sebentar, cahaya itu menerangi seluruh area gua. “Ngomong-ngomong, Dinda.... kemana perginya anggota regu yang sebelumnya bersamamu?”
“Aku memerintahkan mereka untuk pergi keluar terlebih dahulu.”
“Tunggu dulu, maksudmu kau pergi sendirian hanya untuk menyelamatkanku? Kenapa? Kau seharusnya pergi bersama mereka.” Kak Indra langsung menengok kearah Mbak Dinda. Dengan suaranya yang lantang dan kencang, dia mengatakan semua itu.
Mendengar teguran itu, Mbak Dinda langsung tertunduk dengan pipinya yang agak memerah “Maaf, hanya saja.... aku ingin menyelamatkanmu....” Melihat reaksi Mbak Dinda yang tak diduganya, Kak Indra tersadar bahwa yang sudah dikatakannya sudah berlebihan. Dia menghela nafas dalam-dalam dan memalingkan wajahnya.
“Maafkan aku.... Kurasa aku sudah terlalu berlebihan.” Lagi-lagi, keheningan tercipta diantara mereka berdua. Tak ada satupun dari mereka yang tahu bagaimana cara untuk memulai kembali pembicaraan. Yang ada hanya suara tetesan air.
Tak lama, mulai muncul suara dari radio. Seketika, Mbak Dinda yang sebelumnya hanya terdiam tertunduk menatap ketanah, langsung terangkat bersamaan dengan munculnya suara itu. Begitu pula dengan Kak Indra, dia langsung melupakan apa yang sebelumnya sudah terjadi seakan-akan itu tak pernah terjadi sama sekali. “Halo? Apa ada yang mendengar?” Suara panggilan dari markas mulai muncul. Dengan sigap, Kak Indra langsung membalasnya, memberitahu kondisi mereka, dan meminta bala bantuan secepatnya.
***
“(Apa-apaan.....)”
Sebuah video rekaman dari insiden penyerangan yang diduga dilakukan olehku. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatnya. Aku melihat seseorang yang nampak sama sepertiku sedang bertarung melawan Kak Indra.
“Itu adalah rekaman dari insiden penyerangan yang terjadi tiga hari yang lalu. Kami berhasil merekam insiden tersebut dengan sebuah drone.” Kak Indra mematikkan rekaman tersebut lalu menghampiriku. “Dimo, jawab sejujurnya. Apakah benar, orang yang dilawanku itu adalah kau?” Sontak, aku langsung berdiri dan membantah pertanyaannya.
“Te-tentu saja bukan aku!”Aku menjawabnya dengan penuh terbata-bata. Saat itu aku begitu panik. Tiba-tiba dihadapkan dengan tuduhan seperti ini benar-benar membuatku kacau. “Aku bahkan sama sekali tak tahu mengapa bisa ada sosok yang menyerupai diri—”
Tiba-tiba, kursi yang berada di belakangku menjadi hancur. Hancurnya kursi itu langsung membuatku sepenuhnya bungkam. Aku menengok ke belakang, dan menemukan seorang wanita yang membelah kursi itu dengan pedang besarnya. 
“Anna?! Apa yang kau lakukan disini?” Kak Indra langsung berjalan ke depanku, dan mendorongku ke belakangnya.
“Menuntut keadilan!”
“Dimo, lari!” Kak Indra mengscan jarinya lalu mendorongku menjauh dari tempat itu. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi aku memutuskan untuk menuruti perintah dari Kak Indra dan pergi menjauh. Lampu-lampu menyala kembali, ruangan yang awalnya gelap berubah menjadi penuh penerangan. Aku melihat ada sebuah pintu di sudut ruangan, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke pintu tersebut.
“Takkan kubiarkan!”
Dari belakangku, muncul dua orang berjubah dan bertudung berlari mengejarku. Mereka melompat lalu menembakkan bola-bola api kearahku. Aku menghindar dengan melompat menjauh saat bola api tersebut ditembakkan kearahku.
Aku menengok ke belakang dan melihat lantai-lantai yang gosong akibat terkena bola api yang panas itu “Hampir saja... (Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku terkena bola api itu...)”  Namun, walau aku bisa menemukan lantai yang gosong, aku tak bisa menemukkan kedua orang bertudung yang menyerangku tadi. Aku kembali menengok ke depan, dan menemukkan mereka yang sudah berada didepan pintu—bersiap untuk menembakkan laser kearahku “Gawa—” Aku menunduk sesaat laser itu ditembakkan sehingga aku berhasil menghindarinya.
Sambil menunduk, aku merangkak menghampiri mereka lalu kutendang kaki mereka. Setelah mereka terjatuh, aku langsung berlari mememasukki pintu. Aku berlari dari satu lorong ke lorong lainnya tanpa tahu arah kemana aku pergi. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah persimpangan. Aku menengok kebelakang dan tak menemukan dua orang berjubah yang mengejarku. Aku rasa aku sudah berhasil melarikan diri dari mereka.
“Kenapa mereka mengejarku?”
Aku mengatur nafasku lalu membeli sebuah minuman kaleng rasa jeruk dari mesin penjual minuman yang terdapat di pinggir lorong. Sambil meminum es jeruk, aku melanjutkan perjalananku melalui salah satu persimpangan dari dua persimpangan yang ada.
Namun, disaat aku sedang meneguk es jeruk, tiba-tiba kaleng dari es jeruk tersebut terlempar dari genggamanku. Air jeruk tertumpah dari dalam kaleng tersebut. Saat aku sadari, terdapat sebuah lubang besar di tubuh kaleng. Perlahan, aku menengok ke belakang sambil berharap bahwa dugaanku ini salah.
Bola api ditembakkan, aku langsung menunduk menghindar dari serangan yang berbahaya tersebut. Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku langsung mengambil langkah seribu.
***
“Apa yang terjadi?” Zaki berhenti berlari sesaat setelah dia melihat para anggota ERASER yang terus berlarian kesana kemari. Perilaku mereka yang nampak sangat kewalahan membuat pertanyaan bermunculan dibenak Zaki.
“Ada apa, Zaki?” Leila dan Sindy ikut menghentikan langkah kakinya seketika setelah Zaki berhenti berlari. Pertanyaan itu membangunkan Zaki dari lamunannya, membuatnya kembali teringat dengan tujuan awal mereka kesana.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Ayo!” Zaki yang awalnya terhenti kembali melangkahkan kakinya menghampiri pintu depan dari Bum Corp. Kondisi didalam gedung yang tak jauh berbeda dengan kondisi diluar tak membuat Zaki terkejut. Diapun merogoh saku celananya, mengambil smartphone miliknya lalu mencoba menelponku. Namun, telephone tersebut tak kunjung mendapat tanggapan. Diapun mencoba cara lain dengan mencari Kak Indra dan Mbak Dinda. Untuk itu, Zaki bertanya ke salah satu ketua Divisi mengenai lokasi Kak Indra saat iini.
“Kalian....” Disaat Zaki sedang bertanya kesalah satu anggota, Kak Indra tak sengaja melintas melaluinya. Dia langsung terhenti seketika setelah melihat kedatangan Zaki, Leila, dan Sindy.
“Kak Indra?!” Zaki yang awalnya hendak akan bertanya langsung mengurungkan niatnya. Namun, dia menyadari satu hal penting yang menghilang “Tunggu dulu, dimana Dimo?”
Kak Indra menghela nafas lalu kembali berjalan “Ayo, ikut aku. Akan kujelaskan semuanya di jalan.” Tanpa pikir panjang, Zaki, Leila, dan Sindy langsung pergi mengikuti Kak Indra tanpa tahu kemana mereka akan pergi. Diperjalanan, mereka bertemu dengan Mbak Dinda yang juga sedang hendak mencariku.
“Apa kau sudah menemukannya?”
“Belum, tapi mereka mungkin bisa membantu kita.” Kak Indra menengok kearah Zaki, Leila dan Sindy. Zaki langsung berjalan menengahi mereka lalu memotong pembicaraan.
“Tunggu dulu, sebenarnya apa atau siapa yang sedang kita cari?”
Tetapi, Kak Indra dan Mbak Dinda tak kunjung menjawab pertanyaan itu. Melihat reaksi mereka berdua semakin membuat Zaki merasa bahwa ada yang tak beres. Tak lama kemudian, Sindy yang awalnya diam, mulai berjalan menghampiri Zaki “Zakarya benar, kita tak bisa begitu saja mengikuti kalian tanpa tahu apa yang sedang terjadi.” Kata-kata itu langsung membuat Kak Indra dan Mbak Dinda tersadar bahwa tak ada pilihan lain selain menjelaskan seluruh situasi yang terjadi.
“Baiklah, akan kujelaskan....”
“Gaswat, gaswat, gaswat, gaswat, gaswat.....!!! Kapan ini akan berakhir?” Aku berlari menyusuri gedung tanpa tahu arah sebenarnya aku pergi. Bagaikan domba yang tersesat di hutan yang penuh dengan serigala dimalam hari. Sambil berlari, aku menengok kebelakang. Berharap bahwa aku sudah berhasil melarikan diri dari mereka. Tetapi, kedua orang berjubah dan bertudung tersebut masih saja mengejarku. Mereka melemparkan dua bola api berukuran raksasa kearahku, namun aku menyadari itu dan langsung berbelok kekoridor disebelah kananku. Hasilnya, kedua bola api itu berhasil kuhindari. Namun, tanpa kuduga, aku melihat seorang perempuan di ujung koridor. Perempuan yang nampaknya pernah kujumpai sebelumnya. Aku terus berlari dan terus berlari tanpa menghiraukannya sampai pada akhirnya aku teringat. Dia adalah perempuan yang menghancurkan kursi dimana aku duduk saat diinterogasi tadi. “Gaswat.....” aku langsung menghentikan langkah seribuku dan berbalik, mencoba untuk menghindari perempuan itu. Tapi nampaknya aku lengah, aku lupa bahwa dua orang berjubah dan bertudung itu masih mengikutiku. Kurasa takkan ada yang membantuku dikarenakan mereka menghancurkan setiap kamera pengawas yang mereka lalui. Tak ada pilihan lain selain menghadapi mereka.
Akupun berhenti berlari, mencoba mencari cara untuk mengecoh mereka bertiga. Dengan penuh percaya diri, aku mulai kembali berlari kearah dua orang berjubah tersebut.
Disaat mereka melafalkan mantra dan mengumpulkan energi untuk membuat bola api, aku tetap berlari kearah mereka. Sejak berlari tadi, aku terus menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mengisi energi bola api dan waktu yang dibutuhkan untuk meluncurkannya, dan tentu saja, membawa bola api berenergi tinggi seperti itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Lalu, aku melihat efek yang terjadi kepada tembok ketika bola api tersebut mengenainya. Tembok akan mulai terkikis dan hancur dengan sendirinya karena tak kuat menahan energi dari bola api yang amat panas. Dengan data yang sudah kukumpulkan itu, aku terus berhasil menghindar dari serangan tersebut.
“Kalau begitu....” Aku berlari melintas diantara mereka berdua, membuat mereka harus berbalik untuk mengejarku.
Tetapi, disaat mereka berbalik, mereka tak menemukanku. Tanpa mereka duga, aku berada ditengah-tengah mereka. Menunduk diam dan menunggu waktu yang tepat. Aku menarik kaki mereka, membuat mereka terjatuh dan membuat mereka kehilangan konsentrasi. Akibatnya, bola api yang awalnya mereka bawa tertembak ke plafon koridor, membuatnya mulai runtuh. Tentu saja aku sudah menduga itu dan segera berlari mundur. Sementara puing-puing mulai berjatuhan, mereka mencoba untuk berdiri dan berlari menghindar.
Namun, mereka tak sanggup berdiri maupun berlari karena kaki mereka yang kuikat satu sama lain dengan sabukku saat aku menunduk tadi. Dengan begitu, mereka tertimpa puing-puing dan tak sadarkan diri. Kondisi mereka itu membuat sistem memutus koneksi dan membuat mereka terlog-out dengan sendirinya. Tapi, aku yakin mereka akan baik-baik saja karena sistem Start Point yang akan meminimalisir luka yang terjadi terhadap tubuh asli. Yah, kurasa aku harus membeli sabuk baru.
Dengan begini, runtuhnya plafon tadi membuat salah satu jalan kaburku menjadi terhalang oleh puing-puing yang ada.
“Kurasa tinggal kita berdua.” Aku berbalik dan melihat perempuan yang sejak tadi terus-menerus terdiam di ujung koridor. Perempuan berambut ungu sepanjang pundak itu terus terdiam menatapku dengan tatapannya yang penuh kebencian kepadaku. Entah apa yang sudah kulakukan sehingga membuatnya membenciku seperti itu. “Kenapa kalian mengejar dan menyerangku?” Aku berjalan menghampirinya sembali membersihkan seragam putihku dari debu.
“Jawablah!” Aku mencoba membentaknya sampai-sampai membuat suaraku bergema di seluruh koridor, namun dia tak menjawab maupun mengeluarkan suara sama sekali.
Aku terus mengulang pertanyaanku, sampai akhirnya dia mulai angkat bicara “Diamlah....” Tetapi volume suaranya yang kecil membuatku tak sanggup mendengarnya.
“A-apa? Apa kau bisa mengulanginya lagi?”
“Diam kau!!” Dia meneriakkan kata-kata itu dengan sangat kencang sembari berlari kearahku dengan kecepatan yang tak biasa. Kakinya bercahaya begitu terang.
“Ap—” Tanpa kuduga, perempuan itu sudah berada di hadapanku. Kecepatannya yang luar biasa membuatku tak berkutik dan tak sanggup menghindar. Dia menarik pedang dari sarungnya, lalu mengayunkannya kearahku dengan cepat. Serangan itu nyaris saja mengenaiku, untungnya, serangan itu hanya menggores baju putih dan dasi abu-abuku. Aku melirik kearah bajuku sebentar, lalu dengan cepat kembali melihat kearah perempuan tersebut. Namun, dengan cepat dia sudah disampingku dan siap mengayunkan pedangnya. Dengan kedua tanganku, aku langsung menahan tangan kanannya yang memegang pedang tersebut.
“Te-tenanglah..... Ma-maafkanlah apapun yang sudah kulakukan kepadamu sehinga membuatmu marah seperti ini.” Aku terus menahan tangan kanannya yang memegang pedang, tetapi dia terus memusatkan energinya ke pedang tersebut sehingga membuatku semakin kewalahan menahan serangan itu. Pedangnya yang kutahan sedikit demi sedikit semakin mendekati leherku “Ki-ki-kita bisa membicarakan ini baik-baik....” Kataku terbata-bata. Aku langsung menendang kaki kanannya dan membuatnya setengah berlutut, sehingga pedang tadi berhasil dijauhkan dari leherku. Tetapi, dengan cepat dia membalikkan keadaan dengan memukul perutku menggunakkan gagang pedangnya.
“Open the seal : Light Hand.” Telapak tangan kirinya mulai bercahaya, cahaya berwarna putih yang sangat terang. Dia mengarahkan telapak tangannya kedepan mataku, menggunakkan cahaya tersebut seperti efek flash yang timbul dari kamera saat memotret.
“Mataku—”
Cahaya tersebut langsung membuatku tak bisa melihat apa-apa. Aku langsung terjatuh kebelakang akibat tersandung salah satu puing-puing.
“Menyerahlah! Tenang saja, aku pasti akan memberimu kematian yang cepat!” Tak lama kemudian, penglihatanku mulai kembali. Tetapi, itu hanyalah kabar baik sementara. Hal pertama yang kulihat adalah mata pedang dari perempuan itu yang menghadap langsung kearahku. Saat kusadari, kedua tanganku sudah diikat dengan tali.
“A-anu..... Apakah ada pilihan yang lain?” Perlahan, aku mencoba berdiri sementara mata pedang tersebut terus-menerus diarahkan keleherku. Aku melangkah mundur perlahan-lahan sampai akhirnya aku menabrak tembok dibelakangku. Perempuan itu tak mendengarkan kata-kataku dan dengan perlahan mengangkat pedang. Kedua tangannya memegang pedang itu dengan sangat erat, matanya tepat tertuju kearahku sampai-sampai tak ada keraguan sedikitpun terpancar. Sampai akhirnya pedangnya mencapai puncak. Aku memejamkan kedua mataku, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi dan aku akan terbangun setelah aku membuka kembali mataku.
“Dimo!” Aku mendengar suara Zaki. Entah kenapa aku mendengar suara  manusia seperti dia. Aku memberanikan diriku untuk membuka kedua mataku. Tak ada yang berubah dari yang kulihat. Perempuan itu masih saja berdiri di hadapanku dengan mengangkat kedua tangannya yang siap untuk menebasku.
Tunggu dulu, kenapa dia tak melakukannya?
Perlahan, aku menengok kearah pedang yang dia genggam. Pedang tersebut tertahan oleh sebuah aliran air. Seakan-akan air tersebut menahan pedang itu untuk tidak diayunkan. Aku melihat aliran panjang air tersebut yang berasal dari koridor dimana perempuan itu berasal. Dari salah satu belokan, Kak Indra datang dengan kondisi log in. Saat kusadari, aliran air tersebut berasal dari pedang miliknya “Sudah cukup, Anna!” Dari belakang, Mbak Dinda, Zaki, Leila dan Sindy datang mengikutinya.
Zaki langsung berlari kearahku dan melepas tali yang mengikat tanganku “Apa kau tidak apa-apa, Dimo?” Melihat Zaki yang kesulitan melepas tali yang mengikatku, Sindy dan Leila langsung membantunya.
”Ya, berkat kalian, aku masih utuh.” Aku tertawa kecil, merasa lega karena mereka datang menyelamatkanku. Sementara Kak Indra menarik pedang itu dari genggaman Mbak Anna dan melemparnya menjauh dari dia.
“Kenapa kau menghentikanku, Indra si Hantu Air?“
“Kau harus tenang, bocah ini tidak tahu ap—”
“Tidak tahu apa-apa?” Anna berbalik dan membentak Kak Indra. “Tidak salah lagi, dialah pelakunya! Kenapa kau menghentikanku untuk membunu—”
“Membunuhnya? Apa dengan membunuhnya akan membuat Andri kembali?” Samber Indra dengan tegasnya. Kak Indra menyarungkan kembali pedangnya, lalu memegang pundak Mbak Anna. “Apa kau yakin ini yang diinginkan Andri? Apa kau yakin, dia akan senang melihat dirimu menjadi seorang pembunuh berdarah dingin?” Seketika, Mbak Anna langsung tertunduk. Rasa benci yang terpancar dari kedua matanya langsung sirna. Dia menjatuhkan lututnya, lalu mengusap wajahnya. Tanpa dia sadari, air mata mulai mengalir jatuh dari matanya. Perasaan sedih yang selama ini terbendung oleh rasa bencinya langsung tertumpah.
“Sebenarnya, apa yang terjadi.....?” Aku berbisik ke Zaki, Leila dan Sindy. Mbak Dinda yang tak sengaja mendengar pertanyaanku langsung menghampiriku.
“Dia adalah Anna Nirmawati, ketua dari Divisi ke-4. Dua hari yang lalu, wakil divisinya sekaligus tunangannya yang bernama Andri, telah dibunuh oleh orang yang berpenampilan mirip denganmu.” Aku tertegun. Sekarang aku mengerti, mengapa dia menatapku dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Sekarang aku mengerti mengapa dia sangat ingin menghabisiku. Aku menghampiri Mbak Anna, lalu mengulurkan tanganku. Mbak Anna yang menyadarinya, langsung mengusap wajahnya lalu menengok kearahku.
“A-anu, mungkin ini terdengar lancang tapi..... Aku akan membuktikan bahwa diriku tidaklah bersalah, dan aku berjanji, aku akan membantumu menangkap pelaku sebenarnya.” Mbak Anna meraih tanganku, lalu membantingku.
“Kau tidak perlu repot-repot jika kaulah pelakunya.” Dia lalu pergi meninggalkanku dan yang lainnya “Sampai jumpa lagi. Tuan penangkap pelaku sebenarnya.”
Setelah itu, aku, Kak Indra, Mbak Dinda, Zaki, Leila, dan Sindy kembali kedalam ruang interogasi. Setelah dilakukan beberapa tes, terbukti bahwa aku berada di tempat yang berbeda saat penyerangan di gua terjadi. Tetapi, tetap dilakukan pengawasan terhadapku. Selama 12 jam sehari, aku akan diawasi oleh salah satu ketua Divisi dan divisinya. Orang yang bertugas mengawasiku adalah Mbak Anna, kurasa dia mengajukan diri untuk menjadi sukarelawan dalam misi ini. Dan karena kondisi yang terjadi, aku terpaksa harus menjadi salah seorang anggota ERASER di Divisi yang dipimpin oleh Mbak Anna, karena itulah dia yang bertugas menjadi pengawasku. Berbeda denganku, Zaki, Leila, dan Sindy berada di Divisi 7 yang diketuai oleh Kak Indra.
***
Mulai saat itu, setiap hari, selama 12 jam, Mbak Anna akan terus mengawasiku. Dari pagi, hingga sore hari. Mau di sekolah, di rumah, di toko swalayan, di jalan, di manapun, dia akan terus mengawasiku.
“Anu.... kurasa sudah lebih dari 12 jam deh.” Aku memergoki Mbak Anna yang sedang membuntutiku di taman di jam 8 malam. Saat itu sudah melampaui waktu pengawasan. Dia yang sedang terduduk di sebuah kursi yang bersebelahan dengan mesin penjual minuman. Sembari meminum sebuah es jus lemon, dia langsung berpura-pura bahwa dia tak mendengar pernyataanku tadi dan bersiap untuk pergi meninggalkanku.
Penampilannya yang mencoloklah yang membuatku mudah menemukannya. Bayangkan saja, orang macam apa yang mengenakkan mantel tebal, berkacamata hitam, memakai masker, dan memakai topi dimalam hari yang dingin seperti ini. Sebelum dia sempat meninggalkanku, aku menarik mantelnya “Kau mau pergi kemana, Mbak Anna?” Dia berbalik lalu berprilaku seolah-olah tidak pernah mendengar nama itu dengan berpura-pura mengingat lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ti-tidak, sepertinya kau salah orang.”
“Oh, begitu ya...” Aku langsung menarik kacamatanya, lalu melepas topinya “....sekarang, apa aku masih salah orang?”
Karena sudah tidak punya cara untuk mengelak, Mbak Anna melepas masker dan mantelnya lalu duduk kembali di kursi ”Baiklah, kau menang.”
“Kenapa kau masih mengikutiku? Bukankah ini sudah lewat jam pengawasan?” Aku membeli dua buah jus dari mesin penjual minuman lalu memberikan satu kepada Mbak Anna.
“Terima kasih....”
Aku membuka minuman kaleng itu lalu meminumnya sementara Mbak Anna yang terus terdiam—enggan meminumnya dan menaruh kaleng itu di sebelahnya. Sebuah lampu jalan menjadi satu-satunya penerangan di tempat itu, aku melihat sebuah serangga ngengat yang terus terbang mengitari lampu itu tanpa tahu kapan akan berhenti. Cahaya berwarna putih kekuningan yang dipancarkan oleh lampu yang nampak seperti matahari-lah yang membuat ngengat itu begitu tertarik dengan cahayanya.
Aku melirik kearah Mbak Anna yang terus terdiam—menunduk menatap kearah genangan air yang memantulkan pancaran cahaya dari lampu dan cahaya bulan yang berwarna perak terang “Hei, mengenai seseorang yang telah... kau tahu.... membunuh tunanganmu..... Bagaimana penampilan orang itu...?” Wajahnya langsung terangkat dan menengok kearahku, seketika dia terbangun dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan dariku. Tetapi, ekspresinya yang kosong langsung berubah menjadi ekspresi kekesalan. Kurasa aku telah menekan tombol yang seharusnya tak pernah kutekan.
“Wajah yang sama dengan wajah yang sedang kutatap saat ini.” Mendengar jawabannya dan ekspresinya saat ini membuat diriku merasa sedikit tidak nyaman.
“Be-begitu ya....” Aku membuat senyum palsu dan langsung mundur beberapa meter menjauh darinya, namun dia terus mendekatiku dengan ekspresi kesalnya yang menyeramkan. Aku terus-menerus mundur sampai akhirnya aku menabrak mesin penjual minuman di belakangku. Aku kembali menengok kearah ngengat tadi yang rupanya sudah tidak mengitari lampu dan berhinggap di tiangnya. Aku kembali melihat kearah Mbak Anna yang sudah tepat berada dihadapanku.
Aku memejamkan mataku, karena aku tak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pluk
Aku mendengar sebuah suara pembuka kaleng yang terbuka. Aku buka kedua mataku dan melihat Mbak Anna yang sedang meneguk minuman kaleng yang kubeli tadi. Dia meneguk habis seluruh jus dan melemparnya kearah tempat sampah yang terletak tak jauh dari kursi dimana kami berada. “Yah, begitulah. Sampai nanti, Dimo.”
Mbak Anna berdiri dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku menghela nafas lega atas kepergian Mbak Anna, lalu meneguk minuman kaleng yang sedang kugenggam. Tetapi, tanpa kusadari, itu hanyalah sebuah kaleng kosong. Seluruh isi dari minuman tersebut sudah tumpah sesaat aku mundur tadi. Akupun melirik kembali ke arah tiang. Kusadari bahwa ngengat yang hinggap tadi sudah menghilang. Kulihat tempat sampah tadi, lalu kulempar kaleng minuman ini kearahnya. Tetapi, lemparanku meleset sehingga kaleng minuman itu membentur tubuh dari tempat sampah dan terjatuh di depannya. Kuambil kaleng minuman tersebut, lalu memasukkannya kedalam tempat sampah.
***
“Dimo, hari ini pergi berburu monster bersamaku, yuk.” Aku menengok ke belakang, melihat Zaki yang seperti biasa bersandar di kursinya yang menghadap terbalik.
Sudah kuduga akan begini jadinya. Saat aku sedang mencari alasan, aku tak sengaja melirik ke luar jendela—melihat awan mendung yang menutup langit. Membuatku teringat dengan ramalan cuaca tadi pagi. “Tidak, aku tidak ikut. Ramalan cuaca hari ini mengatakan bahwa hari ini akan turuh hujan deras.” Aku utarakan kata-kata menjadi alasanku untuk menolak ajakanannya. Aku kembali menengok kedepan untuk merapihkan buku-buku dan alat tulisku dan bersiap untuk pulang.
“Sungguh?! Gawat, aku tidak membawa payung.” Zaki langsung berlari keluar ruang kelas dan melihat langit yang nampak mendung. Tak ada satupun awan putih yang menyelimuti langit, hanya terdapat awan berwarna hitam kelam yang menyelimuti langit tanpa ada celah sedikitpun.
Aku sedikit menjitak kepala Zaki menggunakkan payung yang kupegang. Setelah Zaki berbalik, dia melihat payung milikku yang kupegang.
“Ambil ini....”
“Apa kau yakin? Lalu, bagaimana denganmu?”
“Hari ini aku membawa dua payung.” Aku menunjuk kearah payung yang tersimpan di dalam tas milikku. Zaki tersenyum lega lalu meraih payung yang kugenggam.
“Sip, terima ka—”
“Tetapi, dengan satu syarat. Selama seminggu ini, jangan sekali-sekali kau mengajakku untuk bermain game online maupun offline.” Aku memotong kata-katanya, lalu menarik mundur payung yang hendak akan kupinjamkan.
Zaki mengangkat jempolnya lalu mengambil payung milikku “Oke.”
Tak lama kemudian, hujan turun. Di perjalanan menuju ke gerbang sekolah, aku melihat Leila yang sedang berteduh  di depan pos satpam. Walau begitu, nampak pakaiannya sudah sedikit basah karena hujan. Sesekali dia mengulurkan tangannya kedalam hujan untuk memeriksa tingkat kederasan hujan. Disaat dia sedang memeriksa kederasan hujan, tiba-tiba tak ada satupun air hujan yang menetes di telapak tangannya. Diapun menengok keatas dan melihat ada sebuah payung yang menaungi dirinya. Perlahan, Leila menengok kearah payung itu berasal dan menemukanku yang tersenyum ramah kepadanya “Mau pulang bareng?”
Suara dan aroma hujan yang menyelimuti, serta orang-orang dan kendaraan yang melintas terus menghiasi perjalanan kami. Apalagi suara khas dari air hujan yang dihasilkan dari perbenturannya dengan payung. Wajah Leila yang memerah sepanjang perjalanan membuatku merasa khawatir.
Kenapa wajahnya selalu memerah? Apa dia demam?
Sebuah perjalanan yang sangat canggung, dimana tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Aku kembali menengok kearah Leila, namun aku tak bisa menemukannya.
“Dimo....”
Aku mendengar suaranya dari belakang. Aku berbalik dan melihatnya yang nampak dalam keadaan hampir basah kuyup karena hujan. Tentu saja, aku langsung berjalan menghampirinya.
“A-apa yang kau lakukan, kalau kau kehujanan, nanti kau bisa terkena demam—”
“A-apa ada.... o-orang yang kau suka?” Seketika, langkahku terhenti. Pertanyaan yang baru saja dia ajukan, membuatku diam seribu bahasa. Rambutnya yang basah menutupi matanya, membuatku tak bisa melihat bagaimana ekspresinya saat ini.
Tetapi, wajahnya yang semakin memerah. Apa dia baik-baik saja?68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773
“A-anu... so-soal itu..... ba-bagaimana ya menjawabnya....”
“Ka-kalau begitu..... Ba-bagaima pendapatmu mengenai Sindy?”
“Sindy? Ku-kurasa dia itu baik, hebat, dan seorang pemberani. Ba-bahkan mungkin kemampuannya dalam bermain game lebih hebat dibanding diriku. A-aku tidak membenci tipe perempuan sepertinya.”
“Be-begitu ya....” Suaranya yang kecil dan uap yang dikeluarkan darinya saat bernapas menunjukkan betapa dinginnya suasana saat itu. Akupun menghampirinya dan menaunginya menggunakkan payung milikku tanpa berpikir panjang.
“Me-memangnya ada apa, tiba-tiba kau bertanya hal seperti ini.”
Leila menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis “Ti-tidak, aku hanya iseng.”
***
“Dimo, terima kasih karena mau mengantarku.” Leila mengambil handuk yang tergantung sembari membuka pintu depan rumahnya lalu mengeringkan rambutnya.
Aku memberinya jempol lalu tersenyum “Ya. Tak masalah.” Leila tertawa kecil melihat tanggapanku, lalu tersenyum ramah.
“Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah.”
~Bersambung~

4 comments:

  1. Mantap ngarang novel juga ternyata.
    Boleh saya copas bawa ke word? terus dibaca lewat hp?

    Thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan mas. Bdw, bukan aing yang nulis sih tapi admin laen.

      Delete
    2. Yang penting ijin dulu kang. Kl ga ijin kan namanya mencuri :D

      Delete
    3. Kalo baca doang sih gak perlu minta ijin gan :D Kalo repost baru harus minta ijin.

      Delete