Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Tuesday, October 16, 2018

Start Point - Chapter 22 : Penyusupan

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Start Point

 Keesokan harinya.
Hujan masih dengan derasnya mengguyur kota. Airnya yang dingin terus berjatuhan dari langit kelabu yang gelap namun sejuk disaat yang bersamaan. Suara liran air yang deras begitu memekakkan telingaku. Suara yang berasal dari parit dipinggir jalan tersebut bercampur dengan suara tetesan air.

Aku berjalan melewati lorong-lorong rumah. Suara gesekan kunci yang berderit dan juga suara langkah kakiku berpadu dengan suara hujan. Kunaiki anak tangga yang menghubungkan kedua lantai, selangkah demi selangkah. Perlahan namun pasti. Tidak lambat maupun tidak terlalu cepat. Aku menengok. Melihat beberapa lembar kertas—surat milik Anita yang sudah kubaca tempo hari.
Setelah mengambil napas cukup dalam, aku memasukki ruangan tersebut. Kuambil semua surat tersebut dan hendak akan memasukkannya kembali kedalam amplop. Saat aku hendak akan memasukkan surat tersebut, aku mendapati sebuah—selembar kertas yang dilipat di dalam amplop tersebut.  Dikertas tersebut, ada tulisan tangan milik Anita. Tanpa berpikir panjang, aku menaruh kembali surat yang akan kumasukkan kedalam amplop lalu kuambil selembar kertas yang ada di dalam amplop.
Perlahan, kubuka lipatan dari kertas tersebut. Setelah itu, kubaca setiap kata yang tertulis di surat tersebut.
Oh ya, aku minta maaf karena aku lupa untuk menuliskan ini di surat. Sebaiknya kau melakukan login kedalam Start Point. Aku punya hadiah untukmu.
Aku menuruti perintah yang tertera di surat tersebut lalu melakukan login. Saat aku baru saja masuk kedalam permainan, aku langsung disambut oleh sebuah notifikasi. Kutekan menu notifikasi tersebut untuk melihat isinya. Tanpa kuduga, aku mendapat sebuah pesan. Menurut tanggal di kirimnya pesan, aku yakin sekali kalau pesan ini sudah ada sejak aku melawan Seno. Kubuka pesan tersebut. Sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Anita. Pesan singkat yang berisikan beberapa kata.
Kau tahu, pedangmu rusak bukan pada saat kau berusaha untuk menyelamatkanku di sekolah? Aku dan White merasa bersalah karena itu, jadi kami memberikan hadiah ini untukmu. Kami membuatnya dengan segala kemampuan kami agar hadiah ini tak dapat dengan mudah hancur. Dengan ini, semoga kau bisa melindungi dirimu dan juga semuanya.
Dibawah teks dari surat tersebut, terdapat sebuah icon dari sebuah pedang. Aku menekan icon tersebut. Tak lama kemudian, keluar sebuah pedang berwarna hitam dengan sedikit corak berwarna oranye dan hijau. Pantulan cahaya yang dipantulkan dari pedang tersebut begitu cerah dan juga indah. Cahayanya bagaikan cahaya kunang-kunang. Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Meski diluar begitu mendung dan hujan, pedang ini tetap dengan indahnya memantulkan cahaya gemerlap tiada tara. Ditengah pedang tersebut terdapat sebuah berlian berwarna hijau yang nampak begitu jernih dan begitu—sangat indah.
***
Dua hari telah berlalu sejak saat itu. Setelah hujan turun selama beberapa hari, langit hari ini begitu cerah tanpa adanya awan. Hanya ada langit biru cerah nan indah membentang luas seperti lautan. Burung-burung terbang dengan bebasnya di langit. Angin yang berhembus terasa hangat karena cerahnya mentari.
Meski begitu—meski hari ini begitu cerah, tak ada satupun orang yang merasa senang maupun mensyukurinya. Karena hari ini, adalah hari dimulainya kekacauan.
Empat jam sebelum saat yang dijanjikan.
“Terima kasih.”
Zaki menerima item penyembuhan yang diberikan oleh Mbak Anna. “Tapi, apakah Mbak Anna yakin? Bukankah kau adalah salah satu ketua divisi di ERASER?” Tanya Zaki.
“Tidak masalah. Lagipula, aku sudah berhutang banyak kepada kalian.” Mbak Anna tersenyum. “Ngomong-ngomong... dimana Dimo? Aku tidak melihatnya sejak aku tiba di sini.” Dengan penuh penasaran, Mbak Anna menengok kesana kemari serta pergi berkeliling taman yang sudah porak-poranda untuk mencariku.
Melihat tingkah Mbak Anna, Zaki tertawa canggung “Dimo? Dia... kurasa dia takkan ikut.”
“Tidak ikut? Mengapa?” Setelah mendengar jawaban Zaki, Mbak Anna berhenti mencari lalu menghampirinya.
“Yah, banyak hal terjadi dan sekarang keadaannya menjadi sedikit kacau.” Zaki menjawab dengan ragu. Dia memalingkan pandangannya untuk tidak menatap lurus wajah Mbak Anna. Bahkan dia sempat mengeluarkan beberapa senyum yang dipaksakan.
Mbak Anna terdiam sesaat lalu tersenyum. “Begitu ya, tapi kurasa dia pasti akan tiba.” Dia berjalan melewati Zaki sembari sedikit menepuk pundaknya. Zaki yang tak yakin hanya bisa terdiam.
Tapi sesaat sebelum dia akan meninggalkan taman, dia terhenti “Oh ya, ada satu hal yang aku lupa beritahu.” Zaki, Leila dan Sindy yang mendengar itupun, sontak berbalik. “Kemarin, kami—ERASER mendapatkan sinyal aneh dari pusat kota. Kami curiga disitulah Shadow Player dan pengikutnya berada, karena itulah kami mengambil tindakan untuk mengawasi lokasi tersebut.”
“Lalu, apakah kau mendapatkan sesuatu?” Tanya Sindy yang menghampiri Mbak Anna.
“Setelah diselidiki, ternyata lokasi tersebut merujuk pada sebuah gedung pencakar langit yang menjadi objek wisata andalan kota. Dipuncak tertingginya, kami mendapati sebuah bongkahan permata berwarna hijau besar yang berisikan seorang gadis berambut putih. Gadis itu nampak tak sadarkan diri dan kami juga tidak tahu apakah gadis itu masih hidup atau sudah tiada.” Zaki dan yang lainnya begitu tercengang setelah mendengar itu. Apalagi dibagian dimana mereka tak tahu gadis itu masih hidup ataukah tidak.
“Hanya itu yang bisa aku beri tahu. Berhati-hatilah.” Sambung Mbak Anna sembari berjalan meninggalkan Zaki dan yang lainnya. Sementara Zaki dan yang lainnya hanya bisa tertunduk diam tanpa berkata-kata maupun bergerak. Suara angin yang berhembus serta suara kantung plastik yang bergesekan diantara rumput-rumput hijau begitu terdengar dengan jelas.
Namun tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan pendapat.
Hoi, hoi, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba menjadi hening seperti ini?” Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar melalui earphone yang Zaki kenakkan. Suara yang membangunkan mereka dari lamunan mereka. “Halo? Halo? Apa ada orang?
“Ah! Maaf Paman Adi, aku tadi sempat melamun.” Balas Zaki.
Ya ampun, kenapa kau melamun disaat seperti ini? Jadi, bagaimana? Kapan kita akan pergi?
“Ya, kita akan pergi ke pusat kota sekarang juga.”
Waktu terus berjalan, dan saat dimana Shadow Player akan menggunakkan kekuatan mata milik White semakin dekat. Waktu itu akan datang dalam empat jam lagi—lebih tepatnya pukul 6 sore.
Disaat sang mentari mulai tenggelam, saat itu jugalah ia akan memastikan harapan ikut tenggelam bersamanya. Ikut terbawa arus deras dari air yang bernama keputusasaan.
***
“Nampaknya, mereka menjaga gedung itu dengan cukup ketat.” Kak Indra melepas teropong yang baru saja dia pakai untuk melihat sebuah gedung pencakar langit dimana Shadow Player dan pengikutnya berada. Melalui kaca teropong itu dia bisa melihat dengan jelas beberapa monster serta pemain—pengikut Shadow Player yang berjaga di area sekitar gedung tersebut.
“Aku tak bisa percaya kalau hari yang cerah seperti ini adalah hari yang begitu suram.” Mbak Dinda datang menghampiri Kak Indra yang sedang tengkurap mengawasi gedung pencakar langit.
“Memang sulit untuk dipercaya, menilai betapa cerahnya hari ini.” Kak Indra menengok kesana kemari bahkan sempat menengok keatas—menatap mentari beserta langit biru cerah tanpa awan. Angin berhembus kencang, meniup seragam ERASER miliknya. Apalagi saat ini mereka sedang berada di atap dari sebuah gedung tinggi yang letaknya tak jauh dari gedung pencakar langit.
Disaat Kak Indra hendak akan melepas teropongnya lalu pergi, dia tak sengaja melihat sebuah pergerakkan aneh yang mendekat menuju ke gedung tersebut. “Apa yang mereka lakukan di sana?!” Kak Indra melakukan zoom in di teropongnya. Yang dia lihat adalah Zaki, Sindy dan Leila yang secara diam-diam semakin mendekati gedung tersebut dengan melalui gedung di sebelahnya.
Melihat Kak Indra yang dengan seriusnya terus menggunakkan teropong, Mbak Dindapun ikut menggunakkan teropong miliknya lalu melihat kearah yang sama dengan Kak Indra.
“Bukankah mereka seharusnya sudah mengungsi?” Tanya Mbak Dinda. Mendengar pertanyaan tersebut, semua anggota divisi 7 yang sebelumnya sedang mengawasi di sisi lain gedung langsung menghampiri Kak Indra dan Mbak Dinda.
“Kenapa mereka sampai senekat ini?” Dengan cepat, Kak Indra langsung berdiri dan mengambil sebuah alat komunikasi radio dan meminta bantuan serta izin ke markas pusat ERASER untuk terjun ke lapangan sehingga dia bisa menghentikan tindakkan Zaki dan yang lainnya yang menurutnya cukup ceroboh.
Setelah beberapa menit menelpon, Kak Indra akhirnya mendapat izin untuk segera terjun ke lapangan “...Terima kasih, aku dan anggota divisiku akan segera melaksanakannya.”
***
Zaki sedikit mengangkat wajahnya. Melirik melalui jendela kaca yang sedikit retak. Saat ini, dia dan yang lainnya sedang berada di lantai dua dari sebuah gedung yang tepat bersebelahan dengan gedung pencakar langit. Dari yang dia lihat, terdapat sebuah monster ogre dan dua orang pemain yang sedang berpatroli di depan gedung.
“Jadi bagaimana? Apakah ada jalur lain yang memungkinkan untuk meminimalisir pertarungan?” Tanya Zaki kepada Hitter melalui earphone yang dikenakkannya.
Sedang kuusahakan....”
Sementara Adi sedang meretas kamera pengawas di sekitar gedung serta yang ada di dalam gedung, Zaki dan yang lainnya terus berjalan berjongkok agar sosok mereka tak terlihat melalui jendela. “...Ah, akhirnya kutemukan. Belok kanan dari arah sana lalu ada sebuah tangga yang menuju langsung ke lantai satu. Tak jauh dari lokasi itu, keluarlah melalui pintu belakang.” Mengikuti arahan dari Adi, Zaki dan yang lainnya mulai berjalan.
Untungnya, hanya ada satu monster penjaga di area itu. Ditambah lagi, aku sudah meretas kamera pengawas yang ada di tempat itu sehingga hanya memunculkan video dua detik yang terus di ulang.” Tepat saat Adi menjelaskan, Zaki melihat seekor monster ogre yang berjaga. Perlahan tapi pasti, Zaki berjalan mengendap-endap menghampiri monster tersebut lalu menusuknya dengan pedangnya yang sudah dia lapisi dengan skill api miliknya.
Setelah monster tersebut lenyap, Zaki menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah yakin kalau area sudah aman, dia menengok kebelakang dan memberi tanda kepada Sindy dan Leila untuk segera menghampirinya. “Oke paman, selanjutnya kemana pintu masuk paling aman menuju ke gedung itu?” Tanya Zaki sembari menengok kearah gedung pencakar langit.
Setelah menyebrangi jalan raya yang memisahkan kedua gedung tersebut, akan ada sebuah pintu masuk belakang yang lokasinya cukup tersembunyi.” Zaki menengok kesana-kemari, memastikan kalau saat itu tidak ada satupun monster ataupun pengikut Shadow Player yang dekat dengan mereka. Untungnya, saat itu jalanan begitu sepi tanpa ada orang maupun monster sama sekali. Saking sunyinya, Zaki bahkan bisa mendengar suara hembusan angin.
Apa kalian melihat sebuah lorong? Pergilah ke lorong tersebut!” Saat Adi hendak berkata seperti itu, Zaki melihat sebuah lorong sempit yang muat untuk beberapa orang. Lorong yang ada di antara gedung pencakar langit dengan toko toserba di sebelahnya.
Merekapun menyebrang lalu bersembunyi di balik sebuah lorong. “Oke, Didalam lorong tersebut, terdapat sebuah pintu masuk yang dijaga oleh seorang pemain. Untungnya, karena ukuran lorong yang sempit, monster takkan bisa masuk ke tempat itu.” Dengan intruksi dari Adi, merekapun mulai jalan memasukki lorong. Lorong itu begitu gelap karena posisi lorong yang berada diantara dua gedung tinggi.
Setelah berjalan selama beberapa menit, merekapun akhirnya menemukan pintu belakang yang dimaksud. Juga, sesuai dengan apa yang Adi katakan, ada seorang penjaga yang berjaga di lorong tersebut.
Saat itu, Zaki sempat berpikir kalau ini agak aneh. “(Mengapa mereka hanya menurunkan satu penjaga saja di pintu belakang ini? Mencurigakan...)” Tapi, dia tak punya waktu untuk itu. Dia menengok keatas lalu menyadari sebuah kamera pengawas. Tentu saja, sama seperti sebelumnya, kamera pengawas itu sudah di retas oleh Adi sehingga mereka bisa mengalahkan penjaga itu dengan mudah dan aman.
Setelah itu, Zaki dengan cepatnya langsung mencoba membuka pintu belakang tersebut. Namun sesuai dugaan, pintu tersebut terkunci. “Sial... Paman Adi, bisakah paman membuka kunci pintu ini?”
Aku mengusahakannya sejak tadi, tapi.... Sistem keamanan dari gedung ini cukup kuat sehingga aku mungkin butuh waktu cukup lama untuk bisa membuka pintu ini.” Balas Adi dengan cepat.
Hanya keheningan yang ada  disaat mereka sedang menunggu Adi untuk selesai membuka kunci dari pintu tersebut. Semuanya hanya terdiam seribu bahasa. Ini sudah terjadi sejak Mbak Anna berkata kalau mereka—ERASER sama sekali tak tahu kondisi pasti dari Anita.
Melihat keheningan sesaat yang tak nyaman tersebut, Sindy berjalan menghampiri pintu lalu mencoba membuka pintu dengan cara mendobraknya. Sebelum mulai mendobrak, dia mengambil mundur beberapa langkah lalu berlari—mendobrak pintu tersebut. Meski gagal, dia terus mengulanginya. Lagi dan lagi. Sampai akhirnya Zaki dan Leila yang sebelumnya hanya tertunduk diam langsung menatap heran Sindy.
Merasa ditatap, Sindy menengok kearah mereka berdua “Ada apa? Ayo bantu aku.”
“Oh, iya benar juga....” Zaki menghampiri Sindy lalu mencoba mendobrak pintu bersamanya. Tapi, Leila hanya terdiam sembari sedikit menundukkan wajahnya.
“Leila...? Ada apa?” Tanya Sindy yang berhenti mendobrak.
Mendengar pertanyaan Sindy, wajah Leila kembali teragkat “Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja.... kuharap Anita baik-baik saja.” Leila sedikit tersenyum sembari menggeleng. Nampak sedikit paksakan. “Ditambah lagi, Anita pasti sedih jika tahu kalau saat ini Dimo tidak bersama kita.” Lanjutnya. Nada suaranya yang rendah dan juga sedikit lirih begitu menunjukkan betapa pedulinya dia kepada teman-temannya.
“Ya, aku juga memikirkan hal yang sama. Kira-kira apa yang sedang ia lakukan saat ini?” Zaki menghampiri pintu lalu bersandar. “Padahal, Anita adalah teman masa kecilnya, aku masih tidak percaya dia dengan lantangnya mengatakan bahwa ini bukanlah urusannya.” Sambung Zaki dengan sedikit kesal.
Sementara Zaki dan Leila termenung memikirkanku dan Anita. Sindy memejamkan matanya lalu tersenyum. Dia kembali membuka kedua matanya lalu menatap mereka berdua.
“Aku yakin...”
“...Aku yakin, kalau dia pasti datang.” Kata Sindy dengan penuh keyakinan. Suaranya yang lembut saat berkata dan juga tatapan penuh percaya diri yang terpancarkan dari wajahnya yang merona entah mengapa begitu membuat perasaan Zaki dan Leila yang sebelumnya bercampur aduk menjadi tenang.
Kata-kata yang menghapus semua perasaan canggung dan gelisah.
Tak lama kemudian, tiba-tiba pintu dimana Zaki bersandar tiba-tiba terbuka hingga membuatnya jatuh kebelakang.
Yak, maaf sudah membuat kalian menunggu. Aku juga sudah meretas kamera pengawas yang ada di dalam gedung.
“Jika kau ingin membuka pintu, seharusnya kau bilang terlebih dahulu!” Protes Zaki. Sementara Zaki protes, Sindy dan Leila langsung memasukki gedung tanpa memperdulikan protesnya Zaki.
Maaf-maaf, aku sama sekali tidak se—ng—a—j...” Tak lama setelah memasuki gedung, koneksi yang menghubungkan Zaki dengan Adi terputus.
“Halo? Paman Adi? Apa kau mendengarku?” Zaki mencoba menghubungi Adi dengan menggunakkan earphone, namun nampaknya tak mendapatkan tanggapan sama sekali. “Ada apa ini? Apakah karena sinyalnya?” Disaat Zaki mencoba untuk keluar melalui pintu belakang, pintu tersebut langsung tertutup dengan sendirinya. Zaki mencoba untuk membuka pintu itu kembali, namun ternyata pintu tersebut terkunci kembali. Tanpa adanya koneksi dengan Adi, operasi penyelamatan mereka bisa kacau. Karena itulah Zaki, Leila dan Sindy berusaha keras untuk bisa membuka pintu tersebut. Bahkan mereka sempat beberapa kali mencoba mendobraknya. Namun gagal.
“Semuanya mundur!” Sindy mengangkat pistolnya lalu mengarahkannya kearah pintu “Open the Seal—”
“Tunggu dulu.” Zaki langsung berlari menghalangi pintu “Aku tahu kalau saat ini kita memang sedang terdesak, tapi kita tak bisa menggunakkan skill untuk menghancurkan pintu ini karena itu mungkin bisa mengungkap keberadaan kita.” Sambungnya.
“Kau benar...” Sindy menurunkan pistolnya lalu menengok kearah lorong “Ayo kita coba mencari pintu keluar lainnya.”
Sesaat setelah Sindy selesai berbicara, Zaki dan yang lainnyapun mulai berkeliling gedung untuk mencari sinyal dan pintu keluar. Namun, meski mereka sudah berkeliling, yang mereka temukan hanyalah pintu keluar yang terkunci. Keadaan ini membuat Zaki semakin curiga. Anehnya lagi, meski mereka sudah berkeliling lantai satu dari gedung ini, mereka sama sekali tak menemui satupun monster maupun penjaga. Mereka juga tak menemukan satupun tangga maupun elevator—tak menemukan satupun akses menuju lantai selanjutnya.
Juga, meski tidak terlalu memperhatikan, Zaki cukup menyadari bahwa sejak memasuki gedung, mereka sama sekali tidak menemukan satupun jendela. Tentu saja ini membuatnya lebih curiga.
Disaat Leila dan Sindy sedang beristirahat karena lelah setelah berkeliling gedung. Zaki menghampiri tembok lalu menyentuh tembok tersebut. Dia menengok ke kanan lalu ke kiri secara bergantian. Menatap lorong kosong yang terang benderang karena lampu yang menyala di setiap sudut lorong.
“Ini aneh.”
Mendengar pernyataan Zaki, Sindy dan Leilapun langsung menatapnya dengan penuh penasaran. “Apa maksudmu?” Sindy yang sebelumnya duduk langsung berdiri lalu menghampiri Zaki.
“Perhatikanlah baik-baik.” Zaki menengok ke lorong bagian kiri lalu menengok ke bagian kanan. “Jika kau perhatikan baik-baik, kedua lorong ini nampak sama.”
Sindy mengikuti saran Zaki dengan menengok ke dua arah secara bergantian “Kau benar, kedua lorong ini nampak sama. Seperti menatap kearah cermin.”
“Jadi maksudmu selama ini kita berada di dalam semacam ilusi?” Leila berdiri lalu menghampiri Sindy dan Zaki.
“Sepertinya begitu. Leila, bisakah kau menembakkan salah satu panahmu kearah sana?” Zaki menunjuk kearah sebuah pintu yang ada di ujung lorong. Leila mengangguk lalu mengambil sebuah anak panah dari arrow rest miliknya. Dia tarik busur sekuat yang ia bisa lalu menembakkannya kearah pintu yang Zaki tunjuk.
Setelah anak panah tersebut sudah mengenai target, Zaki menghampiri anak panah tersebut lalu berbalik—menatap pintu di ujung koridor yang berkebalikan dengannya. “Ternyata benar. Tempat ini tak merefleksikan makhluk hidup tapi merefleksikan benda mati.” Zaki tersenyum lalu menunjuk pintu yang berkebalikan dengannya.
Sindy dan Leila berbalik menatap pintu yang ditunjuk oleh Zaki. Sesuai dengan apa yang Zaki duga. Dipintu itu juga terdapat sebuah anak panah yang nampak mirip sekali dengan anak panah milik Leila. “Dan ada satu hal yang bisa kita lakukan untuk bisa terbebas dari ilusi ini.” Sambung Zaki.
Sindy dan Leila mengangguk lalu pergi menuju kearah pintu yang lokasinya berkebalikan dengan pintu dimana Zaki berada. Sesaat setelah mereka sudah sampai, mereka genggam anak panah tersebut. “Apa kalian siap? Aku akan mencabut anak panah ini sementara kalian cegah anak panah yang ada di seberang sana tercabut.” Kata Zaki. Karena lorong yang kedap suara, suaranya jadi bisa terdengar hingga lokasi dimana Sindy dan Leila berada meskipun dia tak berteriak.
“Satu, dua, tiga!” Kata mereka bersamaan. Zaki cabut anak panah tersebut sementara Sindy dan Leila menggenggam anak panah dan mencegahnya agar tidak tercabut seperti yang ada di genggaman Zaki. Setelah beberapa menit berlalu, perlahan terdapat retakan yang muncul dari anak panah yang digenggam oleh Sindy dan Leila. Retakan kecil itu perlahan demi perlahan terus merambat ke segala arah. Menjadi besar dan semakin tersebar di mana-mana.
Setelah merambat ke segala arah, retakan tersebut akhirnya terpecah dan berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya kecil yang perlahan lenyap. Saat Zaki, Leila dan Sindy sadari, mereka masihlah berada tepat di tempat dimana mereka masuk—pintu belakang.
“Kita... kembali ke awal lagi.” Leila menengok kesana kemari lalu menghampiri sebuah jendela untuk melihat keluar. Tak lama kemudian, dia melakukan log out dan memeriksa jam di arloji miliknya. Setelah selesai memeriksa, dia kembali login lalu menghampiri Zaki dan Sindy. “Baru 6 menit berlalu sejak kita memasukki gedung ini.”
“Begitu, nampaknya ilusi itu tidak hanya berpengaruh terhadap ruang, namun juga terhadap waktu.” Zaki menghampiri pintu belakang dimana mereka masuk sebelumnya lalu mencoba membuka pintu tersebut namun pintu tersebut masihlah terkunci sama seperti sebelumnya. “Terkunci. Ditambah lagi, kita sama sekali tidak mendapatkan sinyal untuk bisa menghubungi Paman Adi.” Zaki menarik pedangnya dari sarunng pedang lalu mengarahkannya kearah pintu.
“Open the Seal : Fire Element  - Great Sword of Fire.” Dengan cepat, Zaki mengaliri pedangnya dengan api. Sesaat setelah api tersebut sudah melapisi pedang, api dan pedang itupun menyatu dan mata pedangnya berubah menjadi besi panas yang begitu membara. Pedangnya begitu bercahaya dengan terang benderang. Cahaya berwarna merah keemasan tersebut menerangi lorong hingga ke sudut tergelap sekalipun. Uap panas yang dihasilkan pedang milik Zaki begitu terasa sampai-sampai pendingin ruangan yang ada di lorong tersebut sama sekali tidak terasa.
“Sindy, Leila, mundurlah... aku akan mencoba memotong pintu ini.” Kata Zaki sembari mengambil satu langkah mundur untung membagi jarak antara dirinya dengan pintu di hadapannya. Mengikuti permintaan Zaki, Sindy dan Leilapun mundur beberapa langkah menjauhi Zaki untuk memberinya ruang. Setelah memastikan kalau Sindy dan Leila sudah cukup mundur, Zaki menghela napas panjang lalu hendak akan menebas pintu tersebut dengan sekuat tenaga.
Saat ia mengayunkan pedangnya untuk membelah pintu tersebut menjadi dua, tiba-tiba Zaki mendengar suara seseorang.
“Tunggu dulu, tahan dulu.”
Suara langhkah kaki yang menggema di lorong begitu memekakkan telinga. Disaat Zaki sadari, pedangnya gagal untuk menebas pintu tersebut. Yang ia tebas adalah sebuah bongkahan—tembok batu berukuran besar yang cukup besar untuk bisa menghalangi pintu tersebut.
“Bisakah kalian tidak menimbulkan keributan? Aku sedang mencoba untuk tidur.” Kata seseorang yang berjalan menghampiri Zaki dan yang lainnya. Suaranya begitu berat seakan ada sebuah benda yang menutupi mulut orang tersebut. Tanpa pikir panjang maupun berpikir dua kali, Zaki bisa dengan mudahnya menebak suara milik siapa itu. Suara dari seorang pria yang dia lawan saat misi penyelamatan dan saat terjadi penyerangan di sekolah.
“Aku tidak menduga akan bertemu secepat ini denganmu, Seno.” Zaki berbalik dengan tenang. Dia menyarungkan kembali pedangnya lalu menghampiri Sindy dan Leila.
Seno tertawa kecil lalu menggaruk rambutnya “Kau pikir aku mau bertemu dengan kalian? Dan lagi, aku kembali bertemu denganmu, Sindy.” Dia menengok kearah Sindy.
“(Kenapa ia begitu tertarik kepada Sindy?)” Pikir Zaki sambil sedikit melirik kearah Sindy yang hanya terdiam seribu kata sejak kedatangan Seno. Ditambah lagi, anehnya tingkah laku Sindy sejak kedatangan Seno telah menarik perhatian Zaki dan semakin membuatnya penasaran.
Sindy menatap lurus kearah Seno. Tatapan lurusnya yang begitu kosong dan juga hampa. Tangan kirinya mengepal dengan sangat kuat sementara tangan kanannya yang menggenggam pistol begitu gemetar. Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Apakah ia takut? Ataukah ia kesal? Zaki terus mengulangi pertanyaan itu dipikirannya saat dia melihat kedua tangan Sindy.
Perlahan, Zaki menghampiri Leila lalu berbisik kepadanya untuk bersiap kabur. Setelah itu, ia mendekati Sindy dan berniat untuk membisikkan hal yang sama. Tapi, situasi seakan tak mengizinkannya untuk melakukan itu. Meski dia terus berulang kali mencoba untuk memberi tahu Sindy untuk bersiap kabur, ia sama sekali tak mendapat tanggapan. Sindy hanya terdiam menatap Seno seakan ia sedang menatap hantu.
Melihat tingkah laku Sindy yang masih aneh, Zakipun menghela napasnya lalu berkata dengan kencang “Heh, aku ingin melawanmu, tapi saat ini kami sedang terburu-buru (Mau bagaimana lagi.)” Dengan cepat, ia langsung menangkap tangan kiri Sindy lalu menggenggamnya dengan erat. Dia, Leila dan Sindypun berlari menyusuri lorong untuk bisa kabur dari Seno. Mereka terus berlari dan terus berlari tanpa tahu harus pergi ke mana.
“Tunggu, aku melihat sebuah tangga.” Leila berbelok diikuti oleh Zaki yang sedang membawa Sindy. Disaat mereka hendak akan melangkahkan kaki menuju ke anak tangga, sebuah tembok batu muncul di hadapan mereka menghalangi mereka. Tanpa pikir panjang, Zaki, Leila dan Sindy langsung berbelok menuju sebuah pintu lalu memasukinya.
“Sial, kenapa kita harus bertemu dengan lawan yang merepotkan sepertinya?!” Zaki melepaskan genggamannya dari Sindy lalu mengambil perisai miliknya yang ia gantung di punggungnya. Ia menaruh perisai tersebut dihadapan pintu dimana mereka masuk mundu beberapa langkah “Open the Seal : Fire Element – Fire Wall.” Dengan cepat, perisainya berubah menjadi tembok api yang menghalangi pintu masuk. “Kuharap itu bisa menghalangnya.” Dengan lemasnya, Zaki berjalan mundur lalu menjatuhkan diri. Kakinya terasa lelah karena terus berlari. Meski hanya berlalu beberapa menit sejak mereka memasuki gedung, mereka sudah merasa lelah akibat terkena ilusi sebelumnya.
“Kita harus mencari cara untuk bisa kabur dari orang itu.” Leila berlari menghampiri sebuah pintu yang ada di pojok ruangan dan berusaha membukanya. Namun, pintu tersebut terkunci rapat.
“Kau benar, tapi aku sama sekali tak memiliki ide untuk bisa kabur dari orang itu.” Meski dengan napas yang masih terasa berat, Zaki kembali berdiri lalu menghampiri Leila.
“Kurasa aku bisa membantu.” Tiba-tiba, sebuah bongkahan batu terlempar kearah Zaki. Untungnya, Zaki menyadari itu dan langsung menunduk. Bongkahan batu yang berhasil dihindari itupun menabrak pintu dan membuatnya hancur. Melihat kesempatan itu, Zaki langsung berlari menghampiri Sindy dan membawanya memasuki ruangan yang pintunya hancur tersebut. Setelah Zaki, Leila dan Sindy berhasil memasuki ruangan tersebut, mereka dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang pahit.
Kenyataan kalau ruangan itu adalah sebuah jalan buntu.
Saat mereka hendak akan berlari keluar dari ruangan tersebut, lagi-lagi sebuah tembok batu muncul di pintu dan menghalangi jalan keluar mereka. Tak lama kemudian,  disaat Zaki hendak akan menebas batu tersebut, ia ter-log out dari dalam sistem Start Point. “Apa yang—” Zaki menengok kearah Leila. Mencoba meminta bantuan kepada Leila untuk menghancurkan tembok batu tersebut. Namun, saat ia sadari, Leila dan Sindy juga sudah berada dalam kondisi log out.
Tak mau kehilangan asa, Zaki mengambil alat scan yang ia simpan di saku celananya. Tapi, dia sama sekali tidak bisa melakukan login meski sudah mengscan jarinya berkali-kali. Hal ini juga berlaku kepada Leila dan Sindy. Tak peduli berapa kalipun mereka melakukan scan pada jarinya, mereka sama sekali tidak bisa login.
“Kenapa? Apa kalian tidak bisa login?” Tiba-tiba, suara Seno terdengar dari sebuah speaker yang ada di sudut atas ruangan. Seno tertawa lalu menghela napas pendek  “Itu adalah ruangan khusus yang sudah didesain oleh makhluk hitam itu sehingga sistem login start point tidak berlaku di ruangan itu.” Sambung Seno sembari tertawa kecil. “Aku benci mengakuinya tapi—ruangan itu benar-benar membuatku terkesan. Tapi, karena ruangan itu aku tidak bisa lagi bermain dengan kalian.”
Tak lama setelah Seno menyelesaikan kata-katanya, keluar sebuah gas—asap berwarna putih dari ventilasi yang ada di plafon ruangan. Perlahan gas tersebut semakin menyebar dan menyebar memenuhi ruangan tanpa celah sedikitpun.
Zaki yang sudah sedikit menghirup gas tersebut, mulai merasa sedikit ngantuk. Matanya semakin terasa berat dan tubuhnya semakin lemas. “Ini gas tidur—” Dengan cepat, iapun menutup hidungnya dengan tangannya. Asap putih yang pekat tersebut terus mengisi ruangan tanpa jeda sedikitpun hingga akhirnya ruangan tersebut dipenuhi oleh gas tidur. Bahkan sangat sulit untuk melihat karena adanya gas tidur tersebut.
Zaki melepas jaket miliknya dan mengikatkan lengan jaket tersebut di hidungnya untuk membuatnya menjadi masker. “Leila? Sindy? Dimana kalian?” Zaki mencoba untuk memanggil Sindy dan Leila dengan sekeras mungkin, namun dia sama sekali tidak mendapat tanggapan. Dengan berandalkan ingatannya terhadap posisi Sindy dan Leila, Zaki mulai berjalan. Perlahan, tiap langkah semakin terasa berat. Indra keseimbangannya mulai goyah dan penglihatannya semakin kabur tiap detiknya “(Sial. Penglihatanku juga sudah mulai kabur... Kuharap mereka baik-baik saja.)” Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya Zakipun menemukan Leila dan Sindy. Sesuai dugaan Zaki, mereka berdua sudah tak sadarkan diri. Untungnya, posisi mereka tak berjauhan.
Namun, disaat Zaki hendak berusaha untuk membangunkan mereka berdua, tubuhnya terasa berat dan begitu terasa mengantuk. Rasa kantuk yang ia rasakan sudah begitu berat hingga akhirnya ia sama sekali tidak bisa menahannya.
“Yah, begitulah. Seno disini dan selamat tidur.”



 ~BERSAMBUNG~


No comments:

Post a Comment