Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Wednesday, October 31, 2018

Start Point - Chapter 23 :E = mc2

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.
Kemungkinan minggu depan akan menjadi chapter terakhir dari novel ini (berakhir dengan ngegantung, karena gw mau me-remake novel ini dengan sudut pandang orang ke-3)


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Start Point


Perlahan, Sindy membuka matanya. Dengan tubuh yang masih terasa agak lemas dan juga lelah, ia terbangun di ruangan itu. Sebuah ruangan dengan tembok yang berwarna putih bahkan lantainya juga berwarna putih. Hanya tembok putih yang ada di ruangan ini, sama sekali tidak ada jendela maupun mebel lainnya. Di plafonnya, terdapat sebuah ventilasi kecil. Bahkan ventilasi itu begitu kecil sampai-sampai seorang anak kecil saja takkan muat memasukinya. Di pojok ruangan, terdapat sebuah kamera pengawas yang dalam kondisi menyala. Nampak begitu jelas kalau mereka sedang mengawasi Sindy dan yang lainnya. Namun, ada satu hal yang begitu menarik perhatian Sindy. Suara benturan antara dua benda terus terdengar seiring berjalannya waktu. Terus terulang dan terus terulang tiada henti.

         Dengan lemasnya, Sindy menengok kearah sumber suara tersebut. Suara kencang yang terus terdengar sejak ia terbangun dari tidur lelapnya. “Sial, sial....” Zaki terus memukuli pintu besi tersebut tanpa memperdulikan kondisi tangannya yang sudah mulai lecet bahkan berdarah. Dia terus memukuli pintu tersebut dengan berharap pintu tersebut akan terbuka.
“Maulana, tolong hentikan! Jika kau terus melakukan itu, kau hanya akan melukai dirimu sendiri.” Leila yang terduduk lemas di sebelah Sindy sembari bersandar di tembok mencoba untuk menghentikan Zaki, namun Zaki sama sekali tidak memperdulikan itu dan terus memukuli pintu tersebut.
“Jika kita tak pergi sama sekali, maka Anita bisa dalam bahaya.” Zaki terus memukuli pintu tersebut sampai akhirnya ia memberikan tendangan akhir. Setelah itu, ia berjalan mundur beberapa langkah lalu menjatuhkan tubuhnya karena lelah. “Sial... apa tidak ada yang bisa kita lakukan. Mereka bahkan mengambil Login Device, earphone dan juga smartphone milik kita. Sebenarnya, sudah berapa lama waktu berlalu sejak kita tertidur.” Zaki berbaring lemas dengan napasnya yang terasa berat. Dia berusaha mencoba untuk memeriksa kembali kantungnya dimana dia menyimpan login device miliknya, meski ia tahu kalau benda itu sudah tidak ada lagi di kantungnya.
“Maaf... Maafkan aku...”
Sontak setelah mendengar permintaan maaf itu, Zaki dan Leila langsung menengok kearah Sindy. Sindy yang tertunduk seakan tak berani menunjukkan wajahnya kepada Zaki dan Leila, tangan kirinya yang saat itu meremas kemejanya menunjukkan betapa merasa bersalahnya dia. Tatapannya yang lurus kebawah dan tak berani menatap wajah Leila dan Zaki, serta ekspersi wajahnya yang terkesan mendung.
“Karena aku yang saat itu hanya bisa membeku dan hanya menjadi beban bagi kalian....” Sambung Sindy dengan nada suara yang bergetar.
“I-ini bukan salahmu,’kok.” Leila menghampiri Sindy lalu memegang pundaknya. Sontak, wajahnya terdongkak, menengok Leila yang tersenyum tulus kepadanya.
“Ya, benar. Tak ada satupun dari kami yang menyalahkanmu.” Zaki yang sebelumnya berbaring, mengangkat tubuhnya lalu duduk. Tak lama kemudian dia menghela napas lalu menengok kearah Sindy “Tapi, ada satu hal yang sejak tadi mengganguku.... Kenapa tadi kau membeku saat kau bertemu dengan Seno?”
“Itu....” Sindy mencoba untuk membuang wajah dari Zaki, namun ia tahu, kalau ia tak bisa terus merahasiakan hal ini kepada teman-temannya. Sindy memejamkan matanya dan berusaha untuk membulatkan tekadnya, dia buka kembali matanya lalu hendak akan memberitahu mereka mengenai hubungannya dengan Seno. “Sebenarnya, aku dan dia—”
“Sebenarnya dulu aku dan Sindy sudah pernah bertemu.” Tiba-tiba, Seno menyela perkataan Sindy. Dia bersandar di pintu seakan ia sudah berada disana sejak lama sekali.
“Kau...!” Dengan cepat, Zaki langsung berdiri dan berusaha untuk memukul Seno dengan tinjunya. Tapi, dengan mudah Seno mengikat kaki Zaki dengan batu ciptaannya sehingga ia tak bisa mendekati Seno. “Sial, lepaskan!” Zaki berusaha untuk menghancurkan batu tersebut, namun akibatnya, tangannya malah ikut terikat dengan kakinya. Saat ia hendak berusaha untuk melepaskan tangan dan kakinya, ia teringat dengan perkataan Seno sebelumnya “Tunggu dulu, apa maksudmu dengan kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?”
“Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kami sudah pernah bertemu. Kalau tidak salah, tiga tahun yang lalu. Benar bukan, Sindy?” Seno dengan santainya berjalan melewati Zaki lalu menghampiri Sindy.
“Kakak....” Sindy menengok kearah Seno yang berjalan menghampirinya lalu menatap wajahnya yang tertutup oleh sebuah topeng batu. Sindy bertanya-tanya, ekspresi seperti apa yang saat itu terpampang diwajahnya yang tertutup oleh topeng itu. Namun, disaat yang bersamaan, dia tak ingin mengetahuinya.
“Kakak?” Tanya Zaki dan Leila dengan kompaknya.
“Benar. Tiga tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Dialah yang telah mengajariku bermain game hingga semahir ini. Hampir setiap minggu kami bermain bersama, hingga kusadari, aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri.” Meski Sindy menceritakan suatu hal yang terdengar begitu menyenangkan dan juga membahagiakan, wajahnya sama sekali nampak tak begitu senang dan juga bahagia. Wajahnya nampak begitu sedih seakan ia sama sekali tak sanggup mengingat masa-masa itu. Nada suaranya yang rendah dan juga bergetar, tatapan matanya yang nampak sedih dan juga alisnya yang sedikit mengkerut menunjukkan dengan jelas bahwa itu adalah ingatan yang membekas dihatinya. Perlahan, nada suaranya yang bergetar semakin lirih.
“Itu adalah saat-saat yang berharga bagiku. Hingga di akhir tahun, insiden itu terjadi. Pesawat yang membawanya menuju jakarta untuk mengikuti final dari sebuah turnamen game online mengalami—” Sambung Sindy. Namun, ditengah penjelasan, tiba-tiba Seno memotong.
“Yak, kurasa itu sudah cukup menjelaskan hubunganku dengan Sindy.” Sembari berkata seperti itu, Seno melepas topengnya lalu mengurainya menjadi debu. “Dan juga, apa kau bisa ikut denganku?” Seno mengulurkan tangannya kearah Sindy.
Sindy hanya terdiam, tangannya sama sekali tidak bergerak. Dia menatap Seno dengan tatapan kosong. Bukan tatapan penuh kebencian maupun tatapan penuh kasih sayang. Hanya sebuah tatapan kosong tanpa arti sedikitpun.
Seno tersenyum lalu menarik kembali tangannya “Baiklah kalau begitu, aku tak punya pilihan lain.” Dia berjalan menuju kearah pintu lalu. Dia ketuk pintu tersebut dua kali. Tak lama kemudian, kunci pintu tersebut terbuka. Dia buka pintu tersebut lalu berjalan keluar. Sesaat sebelum pintu tersebut ditutup, dia sempat tersenyum lalu berkata “Game start.”
Pintupun tertutup.
Bersamaan dengan suara pintu yang terkunci rapat, mulai tersebarlah gas berwarna putih yang keluar dari ventilasi. Gas tidur tersebut terus menyebar dengan cepat memenuhi ruangan.
***
“Maulana....”
“Maulana, bangun....”
Perlahan, Zaki kembali membuka matanya. Menyadari bahwa batu yang sebelumnya mengikat dia sudah terurai menjadi debu. Suara yang dia dengar tadi ternyata adalah suara Leila yang berusaha membangunkannya.
“Leila...?” Meski dengan kepala yang masih terasa agak pusing, Zaki mencoba untuk duduk. “Sudah berapa lama waktu berlalu sejak kita tertidur?” Tanya Zaki sambil sedikit bergeleng untuk membuat kantuknya hilang.
“Kurasa tidak terlalu lama. Yang lebih penting, kita harus bergegas! Mereka telah membawa Sindy. Dia sudah tidak ada sejak aku terbangun.” Balas Leila dengan nada suara yang terburu-buru dan terasa panik. Mendengar jawaban Leila, Zaki langsung menengok kesana kemari. Ternyata Leila benar, Sindy sudah tidak ada di ruangan tersebut.
Zaki tahu betul siapa penyebab ketidak hadiran Sindy di ruangan ini. Seseorang yang baru saja datang ke ruangan ini beberapa menit yang lalu. Seseorang yang mengikatnnya. Dan seseorang yang memiliki hubungan dengan Sindy. “Seno.... Tidak salah lagi, dialah yang telah membawa Sindy.” Zaki kembali berdiri sembari memakai jaketnya.
“Apa yang harus kita lakukan? Aku takut mereka melukai Sindy.” Leila ikut berdiri lalu berjalan menghampiri Zaki dengan penuh khawatir.
“Ya, aku juga khawatir kepadanya.” Zaki menengok kearah kamera pengawas yang ada di sudut ruangan. Zaki menghela napas panjang. “Andai saja ada cara untuk mematikan kamera itu.” Dia mulai melangkahkan kakinya lalu mulai berjalan mondar-mandir. Disela-sela tersebut, tiba-tiba muncul suara menggeresek dari dalam jaket Zaki.
Zaki yang tahu darimana suara itu berasal langsung meraba bagian dalam jaket untuk mencari sebuah lubang kecil yang ukurannya hanya cukup untuk tiga jari dimasukkan bersamaan. Dari lubang tersebut, Zaki mengambil sebuah earphone wireless—sumber dari suara menggeresek itu berasal.
“Maulana, itu’kan....” Bisik Leila sambil menghampiri Zaki.
Zaki mengangguk “Ya, aku sengaja membawa earphone cadangan untuk berjaga-jaga jika keadaan seperti ini terjadi.” Perlahan, dengan perasaan yang ragu tapi penuh dengan rasa penasaran, Zaki mendekatkan earphone tersebut ke telinganya. Suara menggeresek yang awalnya tak terlalu kencang itu semakin kencang beriringan earphone yang tiap detiknya semakin mendekati telinga Zaki. Entah apa yang membuat earphone ini menggeresek, satu hal yang pasti, benda ini takkan mungkin bereaksi begitu saja. Pasti ada campur tangan orang lain sehingga membuat earphonennya bereaksi seperti itu.
Dengan jantung yang terus berdegup semakin kencang dan semakin keras, Zaki mendekatkan earphonenya ke telinga. Disaat sudah cukup dekat, dia memakai earphone tersebut. Dan muncul sebuah suara. Suara dari seorang pria dewasa. Suara dari seseorang yang sebelumnya telah membantu Zaki dan yang lainnya.
Kurasa aku bisa membantumu.
“Paman Adi...?! Kemana saja paman?” Eluh Zaki.
Ahaha, maaf, maaf... tiba-tiba sinyalku terputus saat kalian mulai memasukki pintu belakang.” Adi tertawa seakan saat ini mereka sedang tidak berada dalam masalah karena terputusnya sinyal tersebut.
“Yasudah lupakan saja. Jadi, bagaimana? Apa kau bisa mematikan kamera pengawas itu?” Tanya Zaki sembari menunjuk kearah kamera.
Yah, aku sudah melakukannya sejak 15 menit yang lalu. Aku juga sudah mengulang rekaman dari kamera pengawas lainnya dan membuka pintu keluar kalian.” Lagi-lagi Adi tertawa. Mungkin baginya semua masalah ini hanya masalah kecil baginya, tapi dari sudut pandang Zaki, ini benar-benar masalah besar.
 “Baiklah, terima kasih. Dan lagi apa kau tahu kemana mereka membawa Sindy dan dimana mereka menyimpan barang-barang kami?” Zaki dan Leila menghampiri pintu. Dengan kedatangan Zaki dan Leila, pintu tersebut terbuka secara otomatis. Merekapun berhasil keluar dari ruangan tersebut dengan bantuan dari Adi. Setelah berhasil keluar, Zaki kembali meraba bagian dalam jaketnya lalu mengambil sebuah earphone wireless lainnya dan memberikannya kepada Leila.
Oh ya satu hal lagi. Karena tadi aku bingung harus melakukan apa, aku jadi menghubunginya.” Sambung Adi tanpa memperdulikan pertanyaan Zaki.
“Menghubunginya? Siapa yang paman maksud?” Tanya Leila sembari memakai earphone tersebut.
Barang kalian sudah ada di divisi tujuh. Dan lagi, biar aku yang menangani Sindy.” Jawabku melalui earphone. Sementara divisi tujuh mengamankan area lainnya, aku terus berjalan menuju kearah lift menuju lantai selanjutnya. Yaitu lantai dimana Sindy berada.
Mendengar pernyataanku, Zaki sontak berkata “Dimo? Bagaimana kau—”
“Ya, aku sudah mendengar semuanya saat earphone milikmu masih berada didalam jaket.” Potongku. Disaat aku sedang memotong perkataan Zaki, seorang  pemain—pengikut shadow player tiba-tiba menghadangku. Nampak dari senjatanya yang merupakan sebuah tongkat, dia adalah seorang Wizard. Disaat dia hendak akan melafalkan mantranya, aku berlari kearahnya dengan menggunakkan Moonlight Speed lalu kuteriakkan “Inventory.” Kuambil pedang yang diberikan Anita kepadaku.
Sembari kutarik dan kuayunkan pedang tersebut, aku mulai melafalkan skill milikku “Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword.” Cahaya perak dari Moonlight Shard dengan cepatnya merambat mengaliri pedangku. Cahaya perak tersebut berpadu dengan berlian yang merupakan pusat dari pedang tersebut dan merefleksikannya. Menciptakan cahaya berwarna hijau cerah yang nampak indah seperti permata.
Kuayunkan pedangku sekuat yang kubisa. Akhirnya, pedang tersebut berhasil mengenai pemain tersebut. Walau pada awalnya pemain tersebut berusaha menghentikan pedangku menggunakkan tongkatnya, namun sayangnya, tongkat tersebut tak cukup kuat untuk menahan Moonligth Sword milikku. Akibatnya, tongkat tersebutpun patah dan ayunanku berhasil mengenai dadanya. Hembusan angin yang tercipta akibat ayunan pedangku begitu kencang hingga membuat kerikil maupun batu yang ada diarea tersebut berterbangan.
Mendengar suara pertarungan tersebut membuat Zaki dan Leila yang sedang berjalan menuju kearah dimana divisi tujuh berada malah terhenti “Dimo? Ada apa? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Zaki.
“Aku tidak terima ini. Aku sama sekali tidak terima jika orang tersebut masih menyebut dirinya sebagai seorang kakak.” Jawabku dengan penuh kekesalan.
***
Sindy membuka matanya. Setelah beberapa menit tertidur akibat efek gas tidur, ia akhirnya terbangun. Terbangun di atas sebuah sofa berwarna coklat yang nampak mewah di dalam sebuah ruangan yang lebarnya cukup luas. Di ruangan itu, bukan hanya ada sebuah sofa yang diduduki oleh Sindy,  namun ada 3 barisan sofa yang dibariskan secara vertikal. Ruangan itu nampak bersih dan sangat terawat. Bahkan terdapat dua buah pendingin ruangan yang terpasang di tembok. Di ruangan itu juga ada beberapa jendela yang ukurannya cukup besar. Namun, tak ada satupun kamera pengawas terpasang di ruangan itu.
            “Dimana aku...?” Sindy menengok kesana kemari.  Saat ia sadari, Seno duduk tepat disebelah dirinya yang sedang berbaring. Seno duduk bersandar di sofa sementara sebuah video. Dia terus menonton sebuah tayangan video yang ada di laptop sampai akhirnya dia mendengar pertanyaan Sindy.
            “Oh, kau sudah bangun. Syukurlah.” Seno berkata sembari tersenyum lembut kepada Seno.
Sindy bangun dan duduk dengan sedikit menjauh dari Seno “Kakak... Kenapa kakak membawaku kemari?” Tanya Sindy sambil membuang pandangan.
Seno menggaruk rambut “Sebenarnya, aku ingin mengajakmu bernegosiasi.” Lalu duduk mendekati Sindy.
“Negosiasi? Apa maksud kakak?”
Seno tersenyum dengan sedikit menyeringai lalu menunjukkan video yang ada di laptop. Sindy yang awalnya enggan melihat video tersebut, langsung mengubah pikirannya saat mendengar suara percakapan antara Leila dan Zaki. Video tersebut adalah sebuah tayangan dari salah satu kamera pengawas. Tayangan tersebut menunjukkan kondisi Leila, Zaki dan Divisi tujuh yang sedang terpojok oleh monster-monster. Monster dan pengikut yang mengepung mereka begitu banyak hingga memenuhi lorong. Bagaikan semut yang berbaris mendekati gula.
“Ini... Apa ini...?” Dengan cepat, Sindy langsung mengambil laptop tersebut dan melihat video tersebut dengan begitu seksama. Dia bahkan sempat berganti kamera dan yang dia lihat hanyalah monster dan pengikut yang mengepung divisi 7.
“Kejadian itu sedang berlangsung tepat dilantai yang ada di bawah kita. Bagaimana jika kukatakan kepadamu kalau aku bisa menyelamatkan teman-temanmu dengan menghentikan semua monster dan pengikut yang ada.” Mendengar tawaran Seno, tanpa sadar Sindy sudah tidak membuang pandangannya lagi.
“Menyelamatkan mereka?” Meski ragu, namun Sindy sempat menaruh harapan kalau apa yang dikatakan Seno itu benar.
“Ya, dengan syarat yang akan kuberikan. Aku akan menyelamatkan mereka. Simpel bukan?” Seno menjawab dengan santainya lalu berdiri dan berjalan menghampiri tembok. Dia bersandar di tembok tersebut sembari menatap Sindy.
Sindy hanya terdiam, tak lama kemudian dia mulai membuka mulutnya “Baiklah, kuterima tawaran kakak. Tapi, sebelum itu, ada hal yang ingin kutanyakan kepada kakak.” Sebelum syarat diucapkan, ada beberapa pertanyaan yang sudah mengganggu Sindy sejak awal dia bertemu dengan Seno.
“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu.” Seno bersedekap.
“Kenapa kakak.... kenapa kakak masih hidup? Padahal aku yakin kalau kakak adalah salah satu korban dari kecelakaan pesawat saat itu. Yang kedua, kenapa kakak bisa menjadi anggota mereka?”
“Baiklah, karena kedua pertanyaan itu berhubungan, aku akan menjawabnya bersamaan. Saat itu, aku memang sudah meninggal.” Sindy terkejut. Meski Seno belum menjawab seluruh pertanyaannya, ini sudah membuatnya begitu terkejut.
“Kalau begitu, kenapa kakak—“
“Aku tahu, memang sulit untuk dipercaya. Tapi, makhluk hitam itu berhasil melakukannya bukan? Dia menarik jiwaku lalu mewujukannya dalam wujud fisik seperti sekarang ini. Sebenarnya, makhluk itu membiarkanku bebas melakukan sesuka hatiku. Aku bahkan bisa kapan saja memberontak kepada mereka.” Potong Seno. Sindy hanya bisa terdiam. Seakan tiba-tiba kenyataan menamparnya. Dia hanya terdiap bisu seperti batu. Seno tersenyum lalu menepuk tangan selama dua kali.
“Lalu, kenapa kakak—”
“Karena ini adalah permainan.” Seno tersenyum lalu tertawa. Tawanya begitu kencang dan juga aneh. “Ini adalah permainan antara hidup dan mati. Sebuah permainan yang benar-benar membuatku deg-degan.” Seno kembali tertawa. Sindy seharusnya sudah tahu betul, kalau kakaknya—Seno adalah seorang penggila game. Bahkan, setahu Sindy, Seno biasa berganti permainan setiap 3 hari sekali. Dengan kata lain, dia berhasil menyelesaikan permainan tersebut hanya dalam kurun waktu 3 hari.
Perlahan, Seno berhenti tertawa lalu menatap Sindy dalam-dalam “Baiklah, kurasa tadi itu sudah cukup. “ Seno menghampiri Sindy lalu mengulurkan tangannya. “Bergabunglah dengan kami.” Di telapak tangannya, terdapat sebuah benda. Sebuah benda yang ternyata itu adalah login device milik Sindy.
“Bergabunglah denganku, bersama, kita bisa menguasai galaksi sebagaik kakak dan adik.” Sindy hanya terdiam. Dia bahkan sama sekali tidak memperdulikan refrensi Star Wars yang baru saja dikatakan kakaknya. Sindy hanya terdiam sembari menatap layar laptop. Tak lama kemudian, dia mulai menatap Seno dengan tatapan dingin lalu berkata.
“Bagaimana jika aku menolak?” Sindy menaruh laptop tersebut disampingnya.
“Kalau memang begitu jadinya, kurasa takdir mereka ada di tangan mereka sendiri.” Seno menjawab sambil membalas tatapan dingin Sindy. Dia sedikit tersenyum lalu berkata “Jadi bagaimana? Apa kau menerima tawaran ini?”
Tanpa tahu harus menjawab apa, Sindy hanya terdiam. Terdiam seribu bahasa sambil membuang muka dari Seno. Tapi, waktu terus berlalu dan Sindy tak bisa terus diam. Dia harus segera memutuskan apa jawabannya.
“Aku...”
Saat itu, dia benar-benar tidak tahu keputusan mana yang lebih baik. Namun, melihat teman-temannya semakin tepojok benar-benar membuat dadanya terasa sakit. Melihat mereka yang benar-benar ia pedulikan berada dalam bahaya sangat membuatnya merasa tidak nyaman. Sindy teringat dengan saat pertama kali ia bertemu dengan mereka. Saat ia menabrakku saat itu. Saat ia bertarung bersama kami untuk melawan Hitter atau Adi. Saat dia merasa begitu bersalah disaat melihat Leila yang terluka akibat serangan Shadow Player. Saat dia memergokiku di taman. Dan semua hal dan waktu yang telah dia habiskan bersama kami.
Baginya, kami benar-benar teman yang begitu berharga.
Sindy menengok—menatap Seno yang tersenyum lembut. Saat itu Sindy sempat berpikir, kalau ini lebih baik. Kalau mengorbankan dirinya sendiri lebih baik dari pada mengorbankan orang yang disayanginya. Ya, benar. Ini lebih baik daripada kehilangan Zaki, Leila, dan semua orang di divisi 7. Itulah yang dipikirkannya.
Sindy menarik napas dalam-dalam, dia mulai menetapkan hati untuk menerima tawaran tersebut. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya. Perlahan, tangan tersebut semakin mendekati uluran tangan Seno.
Disaat Sindy sudah menerima uluran tangan Seno, terjadi sebuah tiba-tiba pintu masuk beserta temboknya hancur. Batu-batu akibat hancurnya tembok berterbangan memasukki ruangan. Dengan sigap, Seno langsung berbalik lalu berjongkok dan menyentuh lantai “Open the Seal : Craft – Stone Wall.” Tembok batupun tercipta dihadapannya. Tembok batu tersebut berhasil melindungi Seno dan juga Sindy dari bongkahan-bongkahan batu yang berterbangan memasukki ruangan. Namun, saat itu Sindy melihat login devicenya yang terlempar dari genggaman tangan Seno saat Seno hendak menciptakan tembok batu tersebut. Bersamaan dengan hancurnya tembok tersebut, terlemparlah sebuah monster ular kedalam ruangan. Tak lama setelah itu, monster itupun bercahaya lalu lenyap menjadi bola-bola cahaya kecil.
Tembok batupun terurai, Seno kembali bangkit lalu menghampiri Sindy. Namun, sesaat sebelum ia berhasil mendekati Sindy, sebuah cahaya berbentuk seperti pecahan-pecahan dari bulan melesat keluar dari asap. Pecahan-pecahan berwarna hijau cerah terlempar dengan cepatnya kearah Seno. Namun, Seno menyadari serangan itu dan melompat mundur. Cahaya itupun menabrak tembok dan menghancurkannya—menciptakan sebuah lubang besar di tembok. Dibalik tembok tersebut, terbentang luas pemandangan kota. Meski melalui sebuah lubang, Sindy bisa melihat dengan jelas pemandangan seluruh kota. Ini menandakan bahwa kemungkinan dia dan Seno berada di lantai atas yang cukup tinggi.
Melalui lubang tersebut, angin berhembus kencang memasuki ruangan. Bahkan begitu kencang hingga Sindy bisa mendengar gesekan udara.
“Akhirnya kau datang juga ya.” Seno merapihkan sarung tangannya lalu menepuk-nepuk jaketnya untuk membersihkannya dari debu sembari menengok kearah asap. Asap yang tercipta akibat hancurnya tembok dimana pintu masuk berada.
Perlahan, asap tersebut semakin tertiup oleh angin yang memasukki ruangan melalui lubang di tembok. Saat asap tersebut sudah lenyap, Seno dan Sindy bisa melihatku yang berjalan memasuki ruangan. Tak lama kemudian, kedua tangan Seno menyentuh tembok di sebelahnya. “Open the Seal : Craft – Stone Gun.” Setelah itu, bongkahan-bongkahan batu mulai keluar dari tembok tersebut. Saat sudah keluar sepenuhnya, bongkahan-bongkahan itu mulai terlempar kearahku.
“Sindy apa kau baik-baik sa—”
Melihat datangnya bongkahan-bongkahan batu itu, aku berhenti sebelum menyelesaikan kalimatku. “Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Speed.” Dengan cepatnya, energi Moonlight Shard menyebar ke seluruh tubuhku. Jaket hitamku dilapisi oleh cahaya putih yang begitu terang benderang. Warna oranye di jaketku berubah menjadi berwarna biru dan mengeluarkan semacam kilatan cahaya berwarna putih tiap kali aku bergerak terlalu cepat.
Dengan mengandalkan Moonlight Speed, aku menghindari bongkahan-bongkahan batu tersebut dan berhasil menghampiri Sindy. Tak lama setelah menghampiri Sindy, Moonlight Speed-ku akhirnya habis dan jaketku kembali seperti semula.
Angin berhembus kencang meniup rambut dan juga jaketku. Begitu kencang hingga jaketku berkibar seperti bendera. Aku menengok kearah Sindy yang berada di belakangku. Dia nampak agak murung dan tidak berani melirikku.
“Sindy? Ada apa?” Tanyaku penuh penasaran.
“Dimo... Tadi itu—Zaki, Leila dan Divisi 7, mereka....” Sindy menengok kearah laptop tergeletak rusak di lantai akibat terbentur salah satu bongkahan batu. Layarnya retak dan mati sehingga Sindy sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Dia begitu khawatir dengan kondisi Leila dan juga Zaki. Wajah dan ekspresinya sama sekali tidak berbohong.
Aku juga begitu. Sejak aku memijakkan kaki di lantai ini, aku sama sekali tidak bisa menghubungi Zaki, Leila bahkan juga Divisi 7. Aku yakin seberapapun khawatirnya aku kepada mereka, Sindy pasti lebih khawatir lagi dibandingkan diriku.
 “Tenang saja. Aku yakin mereka pasti akan baik-baik saja.”
Mendengar jawabanku, Sindy dengan spontan menengok kearahku. “Saat ini, aku memang tidak bisa menghubungi mereka. Tapi, aku yakin kalau mereka baik-baik saja.” Sambungku. Aku tersenyum dengan penuh keyakinan kepada Sindy. Tak lama kemudian, aku mendengar suara tepuk tangan seseorang. Tanpa diragukan lagi, suara tepuk tangan itu jelas milik Seno.
Aku menengok kearahnya sembari menaikkan pedangku untuk menodongnya. “Wah, sungguh drama yang menyentuh hati.” Seno berpura-pura menangis dengan mengusap bawah matanya dengan jaket miliknya. Tak lama kemudian dia berhenti bertepuk tangan lalu menatap kami berdua “Nah, sekarang. Ayo ke drama utama.”
Seno memukul tembok di belakangnya. Dia majukan kedua tangannya lalu membenturkannya kearah tembok di belakangnya. “Open the Seal : Craft – Stone Gloves.” Perlahan, sarung tangan batu mulai melapisi kedua tangannya. Sarung tangan yang tercipta dari dalam tembok tersebut nampak begitu keras dan juga kokoh, mungkin lebih keras dari sebelumnya. Dia kepalkan kedua tangannya lalu menarik tangannya—sarung tangan batunya dari tembok. Dengan kedua sarung tangan batu yang nampak kokoh dan keras tersebut, Seno mengambil kuda-kuda. Dia tersenyum licik “Game start.” Dia menerjang dengan cepat kearahku. Begitu cepat hingga aku nyaris tidak melihat langkah awalnya sama sekali.
Kutepis setiap pukulan yang ia arahkan padaku. Dia terus mencoba untuk memukul diriku dengan kedua sarung tangan batu tersebut secara bergantian. Aku terus terdorong mundur di setiap serangannya. Aku terus melangkah mundur. Selangkah demi selangkah, sementara dia terus berjalan maju. Selangkah demi selangkah. Semakin ku berjalan mundur, semakin dekat aku dengan tembok di belakangku. Saat aku melirik tembok di belakangku, akupun menyadari rencananya.
Aku menyadari bahwa terdapat batu yang berusaha mengikat kakiku. Batu tersebut muncul ketika aku melangkahkan kakiku saat aku melirik kearah belakang. Dengan cepat, ku mengucapkan “Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Speed.” Aku bergerak menjauhinya sesaat sebelum batu tersebut berhasil mengikat kakiku. Saat itu aku benar-benar beruntung. Jika saja saat itu aku tidak menyadari rencananya, aku pasti akan mengalami nasip yang sama dengan saat di sekolah.
“Wah, ternyata kau tidak senaif yang ku pikirkan.” Seno berbalik sembari memalsukan tawanya. Tak lama setelah itu, batu yang sebelumnya akan mengikat kakikupun terurai. “Tapi sayang sekali, gerakanmu terlalu mudah dibaca.” Seno menunjuk kearah kakiku. Aku menengok kebawah mengikuti apa yang di tunjuknya. Saat kusadari, kedua kakiku sudah terikat tembok batu miliknya.
Aku berusaha menghancurkan batu tersebut dengan pedangku, namun aku terlambat. Saat kusadari, Seno sudah berada tepat di hadapanku dengan tangannya yang hendak akan meninjuku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berusaha menahan serangannya dengan menggunakkan kedua tanganku. Tapi aku gagal menahannya dan malah terpental hingga menabrak tembok akibat serangannya.
Kubuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah batu-batu yang terlempar kearahku “(Gawat!) Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Speed.”
Aku takkan terjatuh kedalam trik yang sama untuk yang kedua kalinya.
Dengan cepat, ku berusaha bangun dan hendak akan menghindari batu-batu tersebut. Aku hanya berhasil menghindari beberapa batu karena tubuhku yang masih terluka akibat serangan sebelumnya. Beberapa batu yang tak berhasil kuhindari menggores pundakku, kakiku dan juga pipiku. Tapi, aku tetap berusaha memanfaatkan momen ini dengan menghampiri Seno. Saat aku hendak akan menyerangnya, tiba-tiba aku tersandung. Lagi-lagi, kaki kananku terikat oleh batunya. Akibatnya aku terjatuh dan pedangku terlepas dari genggamanku.
Seno menghampiriku. Aku berusaha menyerangnya dengan pedangku, namun kedua tanganku diikat oleh batu sesaat sebelum aku berhasil meraih pedangku. Dia berdiri di sebelahku. Lalu berjongkok dan berbisik.
“Nah, sudah kubilang bukan? Kalau gerakanmu terlalu mudah dibaca.”
Sementara Seno dan aku sedang bertarung, Sindy memanfaatkan momen tersebut untuk mencari login device miliknya yang sebelumnya terlempar dari tangan Seno. “Ketemu” Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukan login device miliknya. Untungnya, tak ada satu batupun yang mengenai alat tersebut sehingga Sindy bisa menggunakkannya lancar.
Setelah login, Sindy langsung berbalik menghadapku dan Seno lalu menembak kearah batu yang mengikat kaki dan tanganku “Open the Seal : Storm Bullet.” Peluru yang ditembakkan oleh Sindy langsung teraliri dengan listrik. Batu-batu yang tertembak oleh peluru tersebut mulai retak dan akhirnya hancur. Setelah itu, Sindy menembak kearah Seno. Seno berusaha menepis peluru pistol tersebut dengan sarung tangannya, namun saat ia sadari kalau peluru tersebut beraliran listrik, Seno langsung melompat mundur dariku.
“Dimo apa kau baik-baik saja?” Sindy menghampiriku. Dia mengulurkan tangannya kepadaku—mencoba membantuku untuk kembali berdiri. Kuterima uluran tangannya. Meski sudah berhasil berdiri, aku merasa agak pusing sehingga harus berdiri sambil berpegangan pada pedangku yang sudah kutancapkan ke lantai.
“Ya, kurasa aku baik-baik saja.” Meski aku sudah berusaha untuk berbohong, aku tetap tidak bisa berbohong kepada diriku sendiri. Mau bagaimanapun, kedua tanganku masih terasa sakit akibat pukulannya tadi. Bahkan karena begitu kencangnya pukulan tadi, lengan jaketku menjadi sobek. Lenganku juga penuh dengan luka baret dan ada sedikit sobekan. Ditambah lagi, luka gores akibat tembakan batu-batunya tak bisa dianggap enteng.
Melihat tanganku, Sindy langsung menariknya dan melihat luka yang ada di tanganku “Baik-baik apanya, tanganmu terluka parah. Dan lagi, lukamu ini—” Dia juga menyadari luka gores yang ada di sekujur tubuhku.
“Tak apa, aku masih bisa menahannya. Yang lebih penting, sekarang kau segeralah pergi ke tempat Zaki dan Leila.” Aku sedikit menarik tanganku dengan perlahan lalu berbalik menghadap Seno.
“Tapi—” Sebuah batu terlempar kearah Sindy. Untungnya, batu tersebut berhasil kutepis.
Seno menembakkan beberapa batu kearahku. Kutepis batu-batu tersebut dengan pedangku. Aku menengok kebelakang. Sindy masih berada di belakangku. Alasan utama mengapa aku ingin dia untuk pergi adalah, karena aku tak ingin dia melihat kakaknya melakukan hal buruk kepadanya. Aku ingin dia tetap menyukai kakaknya apa adanya seperti dulu.
Meskipun saat ini, aku begitu membenci Seno.
“Cepatlah!” Setelah menaruh kembali pedangku kedalam sarungnya, kulepas jaketku lalu melemparnya kesamping. Kutarik napas dalam-dalam lalu menarik pedang itu kembali. Kutatap Seno dengan tajam, namun Seno hanya tertawa kecil lalu menyeringai.
Sindy yang awalnya keberatan dengan permintaanku, mulai menurut. Dia mengangguk lalu berbalik. “Jangan kalah ya.” Setelah berkata seperti itu, Sindy akhirnya mulai melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan ruangan.
Aku tersenyum lalu berkata “Tentu saja.”
Tak lama kemudian, Seno setengah mengangkat tangannya. Dia buka telapak tangannya yang tertutupi dengan sarung tangan batu. Tak lama kemudian, muncul beberapa tonjolan batu dari sarung tangan tersebut “Open the Seal : Craft – Stone Gun.” Dia menembakkan batu dari sarung tangan itu. Batu-batu dengan ukurannya yang beragam tertembak kearahku.
Aku terus menepis setiap batu yang ia tembakkan kearahku. Kutepis batu tersebut sembari berlari menuju kearah Seno. Kuayunkan pedangku sekuat tenaga. Namun Seno dengan mudahnya menangkap pedang tersebut dengan sarung tangan batunya. Saat itu aku berpikir kalau mungkin lagi-lagi Seno akan menangkap kakiku dengan batunya. Karena itulah, aku memutuskan untuk menendangnya lalu melompat mundur. Setelah mendarat, dengan cepat aku langsung melafalkan mantra Moonlight Shard lalu melemparkannya kearahnya.
Seno berlari menghindari setiap Moonlight Shard yang kulemparkan kearahnya. Saat dihadapannya ada tembok, dia melompat kearah tembok tersebut dan menggunakkannya untuk melompat balik dan menghindari setiap Moonlight Shard milikku. Disaat dia melompat, dia memanfaatkan momen tersebut untuk menembakkan Stone Bullet kearahku. Tentu saja, aku langsung berlari menuju sebuah sofa dan berlindung dibaliknya.
“Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Speed.” Dengan menggunakkan Super Moonlight Speed, aku berlari menuju tembok dimana Seno melompat sebelumnya dan mencoba melakukan trik yang sama. Dari sudut pandangku, waktu seakan melambat. Kalau diibaratkan, aku bagaikan seekor cheetah dan yang lainnya adalah siput. Aku cepat, dan yang lainnya lambat.
Saat aku sudah melompat di belakang Seno, aku ayunkan pedangku.
Namun, saat kusadari, tiba-tiba sebuah tembok batu tercipta diantara aku dan Seno sehingga tebasanku gagal mengenainya.
Super Moonlight Speed milikku akhirnya habis dan semuanya bergerak seperti biasa. Akupun terjatuh sementara Seno berhasil mendarat dengan sempurna. “(Sial, andai saja aku bisa menggunakkan Moolight Speed sedikit lebih lama... )” Aku kembali berdiri. Napasku terasa berat karena aku terus menggunakkan Moonlight Speed secara terus menerus. Meski efektif, Moonlight Speed bagaikan pisau bermata dua. Karena itulah aku tak bisa menggunakannya lebih dari 4 detik. Untuk Super Moonlight Speed, kemampuan tubuhku hanya bisa selama 2 detik.
Seno menggaruk rambutnya sembari menghela napas “Harus kubilang berapa kali? Gerakanmu itu terlalu mudah dibaca.” Dia semakin sering mengatakan hal itu. Tentu saja, semakin sering dia berkata seperti itu, semakin kesal diriku. Aku bahkan sudah muak mendengar huruf pertama dari kata-kata itu.
Namun, dalam kekesalanku itu, aku menyadari sesuatu “(Tunggu dulu, mudah terbaca? Kalau begitu...)” Aku menatap Seno lalu menunjuknya dengan pedangku sembari tersenyum “Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Speed.” Dengan cepat, aku bergerak. Namun, aku mengambil revolver milikku sebelum aku bergerak ke belakang Seno. Kutembakkan revolver tersebut sembari berlari ke belakangnya. Saat sudah di belakangnya, waktu pemakaian Super Moonlight Speed-pun akhirnya habis sesuai dengan dugaanku.
Kuayunkan pedangku, namun Seno berhasil menangkapnya dengan sarung tangan batu miliknya.
Seno tertawa lalu berkata “Apa ini? Apa kau sudah seputus asa ini hingga akhirnya melakukan hal yang sama dua kali?”
Aku membalas tawanya lalu menyeringai “Benarkah?”
Bersamaan dengan aku mengahiri kata-kataku, peluru yang kutembakkan akhirya mengenai pundaknya. Akibatnya, diapun genggamannya melemah dan membuatku bisa lebih mudah melawannya. “Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword.” Ayunan pedangku akhirnya berhasil mengenai dada Seno. Dia yang mulai merasakan bahaya langsung membuat tembok batu dan melompat mundur.
Tak lama setelah itu, tembok batu itupun terurai menjadi debu. Dibalik tembok tersebut, terdapat Seno yang sedang menekan luka di punggungnya. Dia bahkan sama sekali tidak memperdulikan luka di dadanya. Tak lama setelah itu, Seno menghela napas, lalu kembali berdiri tegak “Begitu ya. Job ganda.”
Aku angkat revolverku lalu mengarahkannya kearah Seno. “Ya, kau mungkin bisa memprediksi gerakanku. Tapi, apakah kau bisa memprediksi banyak gerakan dari orang yang sama secara bersamaan?”
Seno terdiam sejenak. Lalu tertawa dengan wajah yang terdongkak keatas. Tawanya begitu keras hingga tak kalah keras dengan suara gesekkan angin. Cara dia tertawa begitu aneh, bahkan aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keanehannya. “Ternyata kau lebih unik dari yang kuduga.” Kata Seno sambil tertawa. Dia tertawa sembari menutup matanya dengan tangan kirinya. Aku hanya terdiam. Sejujurnya, saat itu aku tidak tahu mengapa dia begitu nampak puas.
Karena dia tak berhenti tertawa, aku mulai melapisi pedangku dengan Moonlight Shard lalu melemparkannya kearahnya. Seno tidak panik sedikitpun meski Moonlight Shard terlempar kearahnya. Dia berhenti tertawa lalu mulai berjalan menghampiri seranganku. Setelah cukup dekat, dia menahan Moonlight Shard yang totalnya ada tujuh dengan sarung tangan batunya. Keduanya terus beradu. Cahaya berwarna hijau yang cerah dan indah dengan batu cokelat yang keras dan juga kokoh. Dia terus menahannya hingga Moonlight Shard milikku lenyap. Meski begitu, Moonlight Shardku berhasil melukainya. Telapak tangannya terluka karena sarung tangan batunya yang terus terkikis saat menahan Moonlight Shard milikku. Dia terdiam sejenak menatap tangannya lalu berjongkok dan memperbarui sarung tangan batu miliknya.
Aku tak berdiam diri begitu saja. Kuberlari kearah Seno sambil menembaknya dengan revolverku. Sementara itu, dia hanya berjalan santai kearahku sambil menepis peluru-peluruku dengan sarung tangan batu miliknya. Kutembak dia hingga peluruku habis. Ku isi ulang peluru revolverku, saat sudah cukup dekat dengan Seno, kuarahkan revolver ini tepat dihadapan wajahnya. Saat kuhendak menembak Seno, tangan kanannya mendorong keatas tangan kiriku yang menggenggam revolver  sesaat sebelum aku sempat menarik pelatuk. Tak kehabisan ide, saat Seno mendorong tangan kiriku, kubalik pedang di tangan kananku lalu kuayunkan keatas sehingga mengenai dada kirinya hingga pundaknya.
Membalas seranganku, dia menendang kakiku hingga membuatku terjatuh condong ke depan, lalu memukul wajahku dengan tangan kirinya. Akibat pukulannya, aku terpental kearah pintu masuk dan akhirnya menabrak tembok lorong.
Sebelum aku berhasil kembali berdiri, Seno berlari kearahku lalu memukul perutku dengan keras hingga membuat tembok di belakangku hancur. Akupun terpental memasukki ruangan.
Aku terbatuk-batuk. Kucoba menarik dan mengatur napasku. Aku mencoba merangkak dan berdiri dengan bertumpu pada pedangku. Namun saat kusadari, Seno sudah tepat dihadapanku sesaat sebelum aku sempat menancapkan pedangku sebagai tumpuan. Aku panik. Tanpa pikir panjang, aku dengan cepatnya langsung melafalkan kemampuan Super Moonlight Speed lalu pergi ke tembok berlubang yang tercipta tadi.
Seno berbalik dan tertawa “Ternyata kau lebih unik dari yang kuduga. Pantas saja Sindy menyukaimu.” Dia tetap tertawa dengan lepas meskipun aku sudah memberikannya luka di bahunya. Seakan dia sama sekali tidak memperdulikan luka tersebut.
Ku menghela napas pendek lalu berbalik menghadapnya “Hei, menurutmu Sindy itu apa?” Seno berhenti tertawa setelah mendengar pertanyaanku. Dia memejamkan kedua matanya lalu menatapku dengan tatapan kosong. Setelah sedikit menyeringai dia menjawab.
“Entahlah. Dia memang mengaggapku sebagai kakaknya, namun aku sama sekali tidak merasakan perasaan yang sama kepadanya.”
“Lalu?” Tanyaku lagi.
Seno berjalan mondar-mandir sembari bersedakep. “Dulu dia sama sekali tidak berbakat dalam bermain game. Hampir setiap hari dia terus saja menggangguku.” Sesaat setelah itu, dia terhenti dan menengok kearahku sembari menyeringai “Kuharap dia tak pernah ada dan tak pernah menggangguku.”
Aku kembali menghela napas panjang lalu menatapnya dengan tajam. Kuangkat pedangku lalu menunjuknya “Jadi begitu jawabanmu....” Dengan cepat, tanpa Seno sadari, aku yang sudah dilapisi dengan Moonlight Speed muncul dihadapannya sambil menebas dadanya. Seno hanya menyeringai melihatku. Saat dia sadari luka tebasan di dadanya, dia sedikit menggaruk belakang lehernya sambil melompat mundur ke belakang.
Dia tertawa “Ada apa? Apa kau mara—” Lagi-lagi, dengan kecepatan yang sama, aku bergerak kearahnya. Tapi kali ini, Seno menyadari seranganku dan berhasil menahan dan menepsinya dengan kedua tangan. Meski begitu, dia sempat sedikit terdorong mundur akibat serangan itu. Aku tak berhenti begitu saja, ku terus menyerangnya dengan tembakan peluru revolverku maupun tebasan pedangku. Aku terus mengulanginya hingga akhirnya peluruku habis. Ada beberapa seranganku yang mengenainya, ada juga yang berhasil di tepisnya.
Seno tertawa “Ahaha, ternyata kau bisa menggunakkan kemampuan itu lebih dari 4 detik. Menarik.” Dia menyeringai. Seringaiannya nampak begitu licik dan seram disaat yang bersamaan. Seakan dia sama sekali tidak khawatir akan kondisinya dan sangat menikmati pertarungan ini. Sementara aku hanya terdiam tak menanggapinya sama sekali.
Kuhentikan seranganku. Kuatur kembali napasku. Aku sudah tidak tahu berapa lama aku telah menggunakkan kemampuan ini. Meski kupaksakan sekalipun, ternyata aku masihlah merasa sakit. Tulangku berderit, ototku terasa nyeri, napasku terasa sesak bahkan aku tidak punya waktu untuk berpikir. Atau mungkin, pikiranku menjadi kosong saat aku menggunakkan kemampuan ini.
Kurasa sudah cukup, aku tak bisa menggunakkan kekuatan ini lebih lama lagi.
Saat aku hendak mematikan kemampuan ini, sebuah batu terlempar dengan cepatnya kearahku. Aku akhirnya batal menonaktifkannya demi menghindari batu tersebut. Batu yang berhasil kuhindari tersebut menabrak lantai dan mengakibatkan debu dan asap tersebar ke seluruh ruangan. Tapi keadaan tersebut tak berlangsung lama. Batu-batu mulai muncul dari lantai dan juga tembok. Mereka melesat keluar seakan dimuntahkan. Kutengok Seno dan saat itulah, aku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat.
Seno terus menyerap batu yang ada di sekitarnya. Saat batu-batu itu berdekatan, mereka akan menempel atau bersatu seperti puzzle. Batu-batu tersebut tidaklah besar dan juga tidak kecil. Namun cukup besar untuk bisa menjadi satu kesatuan. Batu-batu yang bersatu itupun menutupi tubuh Seno, sama seperti sarung tangan batunya.
Sebelumnya, aku sempat berpikir. Kalau masalah utama yang akan kuhadapi saat melawannya adalah sarung tangan batu miliknya. Tapi ternyata, aku salah besar.
Batu-batu tersebut menutupi tubuh Seno—melindunginya seperti sarung tangan batu miliknya. Bagaikan kesatria abad pertengahan yang mengenakan pakaian besi untuk melindungi dirinya dari serangan musuh. Sementara itu, aku hanya terdiam membeku. Kedua mataku terbelalak, tenggorokanku terasa kering, tubuh yang terdiam, pandangan yang beku. Dengan tubuh yang terasa sakit, aku sadar.
Kalau saat itu, aku melawan monster—tidak, lebih tepatnya, hewan buas.
Seno melompat kearahku. Dengan cepatnya, ia berada dihadapanku seakan dia sama sekali tidak mengenakan pelindung batu itu. Dia bahkan bisa bergerak leluasa seakan pelindung batu itu anggota tubuhnya sendiri.
Dia ayunkan tangan kanannya. Sebuah ayunan penuh yang langsung ia hantamkan kearahku. Dengan cekatan, ayunan tersebut langsung kutahan dengan pedangku. Namun, menahan serangannya terasa berat. Menahan serangannya terasa seperti menahan sebuah misil yang ditembakkan langsung dari jet tempur. Akibatnya, meski aku sudah mencoba—meski aku menahannya dengan pedangku—meski aku menahannya dengan segenap tenaga, aku akan tetap terlempar—terdorong dan terpental akibat serangannya.
Aku beruntung. Saat aku terpental, aku sedang mengenakan kemampuan Moonlight Speed sehingga segala sesuatu yang ada di sekitarku terasa lambat. Dengan cepat, kutancapkan pedangku ke lantai. Kugenggam kencang-kencang pedang tersebut. Aku dan pedangku sempat terseret beberapa meter sampai akhirnya aku terhenti. Sehingga aku berhasil mendarat dengan aman tanpa menabrak tembok maupun benda di belakangku. Saat aku berhenti bergerak, gerakan semua orang kembali berjalan dengan normal.
“(Apa itu tadi, serangannya begitu keras. Tadi aku beruntung karena berhasil menahan serangannya. Entah apa yang akan terjadi jika aku gagal.)” Pikirku sembari bertumpu pada pedangku, aku mencoba kembali mengatur napasku. Salah satu aset penting dalam menggunakkan kemampuan ini adalah pernapasan. Jika napasku tak beraturan, maka beban di tubuhku akibat Moonlight Speed akan menjadi lebih besar.
Kulepas genggamanku dari pedangku. Saat ini, senjata yang kupunya hanyalah pedang ini. Peluru revolverku sudah habis, sehingga aku sudah tak bisa menggunakkan senjata itu lagi. Melihat dari pengalamanku setelah dua kali melawannya, pedangku selalu berakhir naas. Namun, entah bagaimana pedang pemberian dari Anita berhasil menahan setiap pukulan dan serangan yang ada. Bahkan saat ini sama sekali tak ada goresan sedikitpun di pedang ini.
Tapi, apa pedang ini saja cukup? Aku terus menanyakan hal itu sejak aku mulai melawannya. Ditambah lagi, saat ini tubuhnya benar-benar dilapisi oleh batu. Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang lebih kuat.
Aku butuh kekuatan.
“Ada apa? Apa kau sudah kehilangan semangatmu? Kemana kemarahanmu pergi?” Tanya Seno. Aku hanya diam. Aku enggan menjawab pertanyaannya. Namun kurasa, dia ada benarnya. Aku mulai merasa kalau mungkin aku takkan bisa mengalahkannya.
Tapi dia salah akan satu hal. Kemarahanku, masihlah sama. Karena itulah, akan kukalahkan dia.
Dengan seluruh kebencian ini.
“Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Speed.”
Cahaya yang mengalir di tubuhku menjadi semakin terang benderang. Bagai bulan purnama yang dengan terangnya menerangi di malam hari.  Cahaya berwarna biru terang ini terus bertambah terang seiring berjalannya waktu. Namun, aku telah menggunakkan pisau bermata dua.
Aku sudah tidak peduli lagi. Meski tubuhku hancur sekalipun. Meski kesadaranku menghilang. Meski jiwakupun lenyap sekalipun, aku tidak peduli. Asalkan aku bisa mengalahkannya, lalu menyelamatkan Anita. Aku akan mengerahkan segala yang kupunya.
Seno hanya tersenyum. Dia menatap tajam sembari tersenyum aneh. Mata ikan matinya menatap lurus kearahku seakan dia tidak merasa terkejut sama sekali. Tak lama kemudian dia berkata “Haha, oke.”
Seperti kilat, aku melesat kearahnya. Kugenggam pedangku dengan kedua tangan, lalu kuayunkan kearahnya. Kugunakkan bagian tumpul dari pedangku untuk memberikan efek bash kepadanya. Kupukul tubuhnya dengan pedangku bagaikan pemukul bisbol yang memukul bola. Akibatnya, Seno terpental menabrak tembok dibelakangnya. Tembok tersebut hancur bagaikan biskuit karena pelindung batu yang dikenakan Seno.
Asap tersebar memenuhi ruangan. Aku tidak bisa melihat hal lain selain asap berwarna cokelat kehitaman. Bahkan begitu penuh hingga bisa membuatku ingin batuk setiap kali aku bernapas. Batu-batu besar terlempar dari dalam asap dengan cepatnya kearahku. Dengan mudah, kuhindari batu tersebut. Namun, batu yang dilemparkannya semakin banyak dan terus bertambah banyak. Karena tak mau membuang waktu menghindari batu-batu tersebut, akupun berlindung di balik tembok lorong. Batu-batu besar itu terus ditembakkan kearahku tanpa henti. Hingga akhirnya tembok lorong dimana aku berlindung sebelumnya hancur.
Dari balik tembok yang hancur, Seno muncul. Dengan reflek, aku langsung menahan serangan itu menggunakkan pedangku. Namun tetap saja. Sama seperti sebelumnya, aku tetap terpental. Aku terpental hingga menembus kedua tembok di belakangku. Tembok yang menghubungkan lorong dengan ruangan dimana Sindy ditahan sebelumnya, dan juga tembok luar.
Aku terpental keluar.
Gesekan angin terdengar begitu jelas menggesek tubuhku. Suaranya begitu kencang. Rambut dan pakaianku tertiup angin begitu kencang hingga berkibar seperti bendera. Langit biru yang mulai menguning kemerahan terbentang luas sepanjang mata memandang. Aku menengok. Memandang sang mentari cerah yang mulai turun dari langit.
“(Sial, takkan kubiarkan berakhir seperti ini.)” Untung saat itu aku masih menggunakkan Super Moonlight Speed. Sehingga aku bisa membuat area di sekitarku menjadi terasa begitu lambat. Begitu lambatnya hingga aku bisa melompat dari satu puing ke puing-puing lainnya tanpa takut terjatuh akibat ditarik oleh grafitasi. Aku bahkan bisa berlari dengan santainya di tubuh gedung tanpa takut terjatuh.
Namun, aku tak punya waktu untuk itu. Aku langsung memasukki kembali ruangan tempat Sindy ditahan. Tapi, aku tidak bisa menemukan Seno. Aku sudah berkeliling area tersebut, namun aku tidak bisa menemukannya. Yang aku temukan hanyalah sebuah lubang kecil di lantai yang nampaknya muat untuk seseorang.
Tunggu dulu, sebuah lubang?
Dengan penuh waspada, aku mencoba berbalik. Namun sudah terlambat.
Seno memukulku dengan telak. Dia memukul perutku ke lantai hingga membuat lantai menjadi hancur. Aku terlempar jatuh.
Saat aku sadari, aku berada di sebuah aula besar yang nampak kosong tanpa ada satupun barang maupun orang. Aula ini begitu luas, bahkan nampaknya bisa menampung ratusan orang sekaligus. Tapi sekarang bukanlah saatnya untuk terpesona dengan aula ini.
Aku mencoba bangun dengan bertumpu pada pedangku. Perutku terasa begitu sakit. Pukulan tadi begitu kencang. Aku menengok keatas—melihat langit-langit plafon yang berlubang akibat pukulan tadi. Bisa dibilang, saat ini aku berada di lantai yang sama dengan Sindy, Leila, Zaki dan Divisi 7.
Kunonaktifkan skill Super Moonlight Speed. Kutengok segala arah. Menatap setiap sudut aula yang kosong. Di ujung pojok ruangan, terdapat sebuah pintu keluar. Aku pergi menghampiri pintu tersebut dengan tujuan untuk kembali ke lantai atas. Tapi, saat aku hendak akan membuka kenop pintu keluar, aku mendengar sebuah suara benda hancur. Lalu kusadari kalau mulai muncul bayangan di area sekitarku. Bayangan tersebut semakin melebar seakan benda dimana bayangan itu berasal semakin mendekat.
Aku semakin curiga. Sesuai dari sumber suara tadi berasal, aku menengok keatas. Kulihat sebuah bongkahan batu yang begitu besar terbang kearahku. Bongkahan batu tersebut jatuh dari atas—dari lantai atas kearahku dengan begitu cepat. Tentu saja, aku langsung menghindari batu tersebut dengan Super Moonlight Speed. Aku memang berhasil menghindar, tapi sekarang batu besar tersebut menghantam lantai dai menghalangi satu-satunya pintu keluar. Debu dan asap bertebaran dimana-mana. Tak butuh waktu lama sampai debu dan asap yang berasal dari hancurnya lantai tersebut menghilang.
Kucoba menghancurkan batu tersebut dengan pedangku, namun ketebalan dan kerasnya batu itu sama dengan pelindung yang dipakai Seno.
Tak lama setelah itu, batu-batu berukuran kecil hingga sedang mulai ditembakkan dari lantai atas. Batu-batu tersebut terus ditembakkan mengikuti langkah kakiku. Aku terus menghindari batu-batu tersebut dengan menggunakkan Super Moonlight Speed, namun nampaknya penembakkan batu-batu tersebut tak kunjung berhenti. Bahkan batu-batu itu membuat plafon berlubang-lubang seperti sarang lebah. Tapi, saat aku sudah hampir mencapai ujung aula, penembakannya terhenti seketika. Disaat yang sama, muncul suara tembok hancur dari belakangku. Tembok yang hancur tersebut adalah tembok plafon.
Saat mendengar saura tersebut, aku langsung refleks berbalik lalu menahan pukulan Seno dengan pedangku. Pukulan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Menahan pukulannya terasa seperti menahan torpedo yang ditembakkan langsung dari kapal perang. Lagi-lagi, aku gagal menahan serangannya. Pedangku yang masih dilapisi oleh Super Moonlight Speed terpental kebelakang akibat pukulannya. Pedang tersebut terpental dengan sangat cepat hingga aku sama sekali tak sempat melihat kearah mana pedang tersebut terlempar.
“(Gawat—)”
Aku langsung menggunakkan Super Moonlight Speed untuk menjauhinya. Aku pergi ke tengah aula lalu menengok kesana kemari—mencari pedangku. Saat kutengok kebelakang, pedangku ternyata tertancap di batu besar yang menghalangi pintu. Dengan cepat, aku langsung menghampiri batu tersebut lalu hendak menarik pedangku. Aku terhenti. Saat itu aku tersadar, bahwa sebelumnya aku sama sekali tidak bisa menghancukan batu tersebut, bahkan memberikan goresan besar saja aku tak bisa. Namun saat ini, di hadapanku ini, pedangku sedang tertancap di batu tersebut dengan cukup dalam. Mungkin cukup dalam untuk bisa menembus pelindung batu milik Seno.
Tapi, bagaimana? Bagaimana mungkin pedangku yang terlempar dengan cepatnya bisa berakhir seperti ini?
Tunggu dulu, dengan cepatnya.... Mungkinkah.....
“Ada apa? Kenapa kau terdiam seperti itu, Dimo? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?” Teguran dari Seno yang menggema ke seluruh ruangan berhasil membangunkanku dari lamunan panjang. Aku tersenyum lalu menarik pedangku.
“Ya, semacam itulah.” Balasku dengan santainya. Aku mulai mencoba merenggangkan tubuhku dan mengambil sedikit pemanasan. Seno merasa curiga dengan apa yang aku lakukan, dia mulai kembali menembakikku dengan batu-batu yang keluar dari sarung tangannya. Aku menghindari tembakannya dengan berlari memanjat batu besar di belakangku. “Hei, apa kau masih ingat taruhan kita saat kau menculik Anita?”
“Ya, aku masih ingat.” Jawab Seno.
Aku tertawa lalu menyeringai “ Baguslah kalau kau masih ingat. Karena saat ini, aku mengajakmu bertanding ulang.”
Seno ikut tertawa “Hoo, boleh juga. Aku terima taruhanmu.” Karena wajahnya tertutup oleh topeng batu, aku tak tahu ekspresi seperti apa yang sedang dikeluarkannya saat ini, tapi aku sangat yakin, kalau dia sedang menyeringai dengan begitu puas.
“Kalau begitu, aku mulai.” Kugenggam pedangku dengan kedua tanganku. Kuaktifkan skill Super Moonlight Speed. Dengan cahaya Moonlight Shard yang perlahan mulai menyebar ke seluruh tubhku, aku menghela napas. Kuangkat pedangku yang sedikit demi sedikit mulai dialiri oleh Moonlight Shard. Cahaya birunya berubah menjadi hijau dengan seketika setelah menyentuh permata hijau yang ada di pedang. Aku sedikit menyeringai lalu mulai melangkahkan kakiku.
Kilatan ekor cahaya berwarna biru muncul dari pakaianku. Semakin cepat aku bergerak, semakin terang kilatan ekor cahaya tersebut. Gesekan angin terasa begitu kencang. Lebih kencang dibandingkan saat aku terjun dari gedung Bum Corp. bersama Leila. Suaranya memekakkan telinga, membuatku tak bisa mendengar apapun selain suara gesekan angin. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara langkah kakiku sendiri maupun suara napasku. Aku bisa melihat dengan jelas debu dan kerikil yang tergeser dan terdorong saat aku berlari. Kulihat Seno yang berdiri sambil mengangkat tangan kanannya dengan lambat. Aku menengok tanganku. Kugenggam dengan erat pedangku. Kuarahkan pedangku ke depan. Cahaya hijaunya yang terang seperti bulan menciptakan efek cahaya di belakangnya. Cahaya hijau tersebut bagaikan ekor pedangku.
Bagaikan melukis di udara.
Hembusan angin tertiup dengan kencangnya dariku dan Seno. Meniup setiap debu, kerikil dan bebatuan kecil yang ada di sekitar kami. Cahaya. Cahaya akibat sebuah luka di tubuh mulai nampak. Aku hanya terdiam. Aula terasa begitu kosong. Seakan kami berdua sama sekali tak berada di dalamnya.
Seno menengok—menunduk. Dia menghela napas lalu tertawa. “Akhirnya. Sudah kubilang bukan, kau terlalu mudah ditebak.” Dia hanya menatap lurus. Menatap sebuah pedang bercahaya kehijauan yang tembus menusuk pelindung batunya dan juga tubuhnya.
Perlahan, pelindung batunya mulai terurai. Begitu juga sarung tangannya. Dia tak memberikan perlawanan sama sekali. Dia hanya tertawa.
Kutarik pedangku dari dalam perutnya. Lalu berjalan mundur dengan perlahan. Seno memejamkan kedua matanya, mendongkak keatas. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menjatuhkan dirinya ke belakang. “Kurasa, sudah game over untukku.” Perlahan, cahaya di luka perutnya mulai tersebar dimana-mana. Cahaya tersebut lalu berubah menjadi butiran-butiran cahaya kecil yang terbang terbawa angin.
“Ya, kau sudah berakhir.” Aku menjawab sambil menyarungkan pedangku dan menonaktifkan Super Moonlight Speedku. Tak lama setelah itu, aku mulai merasakan sakit kepala yang amat sangat. Akibatnya, aku terjatuh sesaat sebelum aku sempat melangkah menuju pintu keluar. Penglihatanku mulai berkabur dan tubuhku terasa lemas. Kemungkinan, ini adalah efek samping dari mengggunakkan Super Moonlight Speed dalam waktu yang lama. Aku duduk bersandar di tembok untuk beristirahat. Untungnya, rasa sakit itu tak bertahan lama.
“Bagaimana kau bisa menembus pelindung batuku?”  Tanya Seno.
E = mc2. Aku mendapatkan ide ini saat melihat pedangku yang tertancap di batu besar itu.” Aku menunjuk batu besar yang menghalangi pintu keluar “Hal itu mengingatkanku dengan manhwa yang dulu pernah kubaca. Tokoh utama dari manhwa tersebut memakai trik yang sama dengan yang kugunakkan saat ini.”
Seno tertawa geli “Aku sama sekali tidak menduga akan kalah dari seseorang yang mengambil refrensi dari sebuah buku komik.” Lalu menghela napas. Tak lama setelah itu, tiba-tiba batu besar yang menghalangi pintu keluar mulai terurai dan lenyap. “Cepatlah pergi, teman-temanmu dan juga cewek berambut putih itu menunggumu bukan?”
Aku hanya terdiam. Setelah apa yang telah dia lakukan ke teman-temanku, kurasa aku sama sekali tak bisa berterima kasih kepada orang ini. Tetapi tetap saja, kenyataan kalau dia adalah seseorang yang dianggap kakak oleh Sinddy takkan berubah. Karena itulah, untuk kali ini saja aku akan mengatakannya.
“Terima kasih.”



 ~BERSAMBUNG~

No comments:

Post a Comment