Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Monday, July 16, 2018

Start Point - Chapter 11 : Raid


Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

Semakin dekat dengan akhir.
2 chapter lagi, Vol.1 dari novel ini bakalan tamat dan akan di lanjutkan di vol.2 nanti yang akan diberi judul Arc White.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point


Beberapa hari kemudian, persiapan untuk penyeranganpun selesai. Empat pasukan Divisi sudah dikerahkan untuk menyerang gedung les yang sudah tidak terpakai tersebut. Divisi 4 dan Divisi 5 bertugas untuk menyerang dari depan, sedangkan Divisi ke-7 dan ke-6 bertugas menyerang dari belakang.

Dua peluru bius ditembakkan. Keduanya mengenai leher dari kedua orang yang baru saja keluar dari gedung tersebut. Bahkan untuk berjaga-jaga, mereka sampai meretas kamera pengawas yang berada di sekitar gedung les. Walau begitu, entah mengapa mereka tak bisa meretas kamera pengawas yang ada di dalam gedung.
Setelah berhasil mengikat kedua orang tersebut dan mengamankannya untuk bisa diinterogasi, anggota-anggota dari Divisi 4 dan Divisi 5-pun mulai berjalan menuju ke pintu masuk dari gedung tersebut. Namun, sesaat sebelum mereka memasuki ruangan, mereka memberi sinyal kepada Divisi 7 yang sudah berjaga di pintu belakang gedung. Aku merasa agak khawatir dengan Zaki, Leila dan Sindy yang ada bersama Divisi 7, namun selagi Kak Indra bersama mereka, aku yakin mereka pasti akan baik-baik saja.
Sesaat setelah sinyal diberikan, Divisi 6 dan 7 yang sudah siaga langsung mendobrak pintu belakang dan masuk bersamaan dengan Divisi 4 dan 5.
Sedangkan, untukku dan Radhika, kami memiliki rute kami sendiri. Disaat perhatian musuh sedang terpusat kepada Divisi 4 sampai Divisi 7, kami berdua sudah bersiap untuk masuk melalui jalur udara. Di sini, kamilah yang memegang peran penting dalam melepaskan tawanan. Kami berada di sebuah gedung yang lebih tinggi dan jaraknya tak jauh dari gedung les dimana penyerangan berlangsung. Bahkan di atas gedung ini terasa sangat dingin, ditambah lagi, dengan udara malam. Aku bahkan bisa melihat uap yang keluar dari mulut dan hidungku saat  aku bernafas.
“Baik, dimengerti. Dimo, penyerangan sudah dimulai. Kita juga harus segera bersiap.” Radhika menutup saluran radio yang dia pakai di telinga kirinya lalu mulai mengenakan tas parasut sementara aku hanya duduk terdiam memandangi gedung tersebut. Sejak tadi—tidak, sejak Radhika memberi tahu siapa dia yang sebenarnya, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.
Melihatku yang sudah larut dalam lamunanku, Radhika menghampiriku lalu hendak akan memegang pundakku untuk menyadarkanku “Dimo, ada apa?”
Aku terkejut. Aku terlalu larut dalam lamunanku sampai-sampai aku lupa dengan apa yang harus kulakukan saat ini. “Tidak, bukan apa-apa...” Aku langsung cepat-cepat bangun dan mengenakan tas parasut. Saat ini bukan waktunya untuk memikirkan hal ini, aku harus fokus untuk bisa menyelamatkan para tawanan.
Itulah yang kukira dan kupikirkan.
“Kita harus cepat-cepat karena semuanya mengandalkan kita.” Radhika berjalan menuju ke pagar lalu menaikinya dan bersiap untuk terjun. Namun aku hanya terdiam seperti batu. Mau bagaimanapun, aku tetap tidak bisa menghilangkan hal yang mengganggu pikiranku.
“Radhika, sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan.” Mendengar kata-kataku, Radhika langsung menengok dan berbalik menghadapku. Aku yang terdiam mulai melangkahkan kakiku menghampirinya. Aku bersandar di pagar lalu menatap gedung les tersebut. Disana terdapat anggota-anggota ERASER yang ditawan, bahkan kedua orang tuanya Radhika juga berada di tempat itu. “Sebenarnya, siapa aku ini? Itulah pertanyaan yang selama bertahun-tahun ada di benakku.”
“Dimo...” Radhika menatap wajahku yang penuh dengan kekosongan. Ekspresiku yang datar dan murung, entah mengapa membuatnya ikut merasa sedih.
“Dulu sekali, sebelum aku bertemu dengan Zaki, dengan kakak dan yang lainnya. Aku sebatang kara. Aku bahkan tidak ingat siapa diriku ini.”
***
Disaat itu, tiba-tiba aku terbangun. Hujan deras membasahi tanah dan seluruh tubuhku. Aroma hujan dan aroma tanah serta rumput yang basah begitu menyengat. Pakaianku penuh dengan lumpur, bahkan penglihatanku begitu kabur. Diriku yang kecil tiba-tiba mendengar sebuah suara ledakan. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa langsung mencoba berdiri. Dengan kedua tangan dan kakiku yang begitu terasa lemas, aku mencoba untuk berdiri. Walau aku bisa merasakan ada cairan kental berwarna merah mengalir jatuh di wajahku. Tubuhku yang juga lebam serta dengan pikiranku yang kosong, aku mencoba mengikuti sumber suara ledakan tersebut.
Saat itu aku kehilangan ingatanku.
Hujan deras yang tak kunjung henti, sudah seperti lagu pengantar tidur bagiku. Aku bahkan bisa mencium aroma yang juga menuntunku ke sumber suara ledakan tadi. Sembari menekan luka di pundak kiriku, aku berjalan dan terus berjalan. Bahkan walau harus merangkak sekalipun, aku rela melakukannya asalkan aku bisa sampai ke sumber suara tadi. Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa aku harus pergi ke sana.
Entah mengapa, sumber suara ledakkan tersebut tak jauh dari tempatku terbangun. Aku melihatnya. Aku melihat seorang perempaun dewasa dan lelaki dewasa yang terbaring lemas di tak jauh dari mobil yang terbakar. Asap berwarna hitam pekat yang keluar dari mesin mobil yang terbakar, mulai menyebar ke segala arah. Aku menghampiri kedua orang tersebut lalu menatap keduanya. Pakaiannya tidak terlihat mewah namun entah mengapa terdapat kesan bahwa mereka akan pergi ke suatu tempat untuk berlibur. Tiba-tiba, perempuan dewasa yang sebelumnya tak sadarkan diri itu batuk dan tersadar. Tubuhnya yang terluka dan juga kaki kanannya yang terkena sedikit luka bakar membuatnnya tak sanggup lagi berdiri.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya.
Perempuan dewasa itu langsung tersenyum tulus saat melihatku. Entah mengapa keberadaanku disana membuatnya merasa bahagia. Tangannya yang hangat perlahan meraih dan mengelus pipiku “Dimo....” Tiba-tiba air mata mulai mengalir keluar dari kedua matanya. Aku tidak tahu apakah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan. Air mata dan senyumnya yang begitu tulus itu entah mengapa membuat hatiku terasa sakit. Padahal, tidak ada luka yang bisa membuatku merasa sesakit itu, tapi kenapa aku merasakannya. Seakan-akan rasa sakit yang dialami tubuhku tak sebanding sama sekali dengan rasa sakit yang ada di hatiku. Aku meremas pakaianku. Kedua tanganku bergerak dengan sendirinya memegang tangan perempuan itu. Tangannya yang hangat dan lembut perlahan mulai menjadi dingin.
“Dimo... syukurlah... kau selamat.... syukurlah. Tapi.... maafkan.... Ibu..... nampaknya Ibu... tak bisa ikut bersamamu...” Tangannya yang sebelumnya memegang pipiku dengan kuat mulai melemas dan akhirnya terlepas. Cahaya yang terpancar dari matanya mulai memudar. Matanya yang sebelumnya menatapku perlahan mulai menutup. Namun walau begitu, senyuman tulus itu tetap terjaga. Ekspresinya yang sungguh hangat membuat hatiku terasa hancur.
Saat itu, entah mengapa air mataku mengalir dengan sendirinya. Rasa sakit di dadaku yang tak tertahan membuatku tak bisa menahannya. Entah mengapa aku tak ingin tangannya terlepas dari pipiku. Entah mengapa aku menangis.
Ibu....
***
“Radhika, menurutmu, siapa sebenarnya aku ini?”
Angin berhembus kencang, meniup rambut gondrongku dan Radhika. Tatapan serius yang kukeluarkan tak membuat Radhika terganggu sedikitpun. Dia tetap berusaha tenang dalam segala keadaan. Bahkan, walau saat ini kedua orang tuanya sedang ditahan, dia tetap tenang dan tidak bertindak ceroboh.
Radhika kembali menatap langit hitam berhias bintang-bintang. Rembulan yang terang memancarkan cahayanya, membuat malam menjadi terang. “Benar juga ya. Kau adalah aku dan aku adalah kau.” Radhika kembali tertunduk dan menengok gedung les tersebut. Mendengar jawabannya, membuatku merasa dilema, aku tak ingin mengakui hal itu, namun mau tidak mau itulah kenyataan.
Aku menggigit bibirku, tanganku mengepal karena kenyataan ini dan entah mengapa aku tidak berani untuk menatap ke depan. Namun tak lama kemudian, dia menengok ke arahku dan tersenyum.
“Tapi, mau bagaimanapun juga, kau adalah Dimo Ramadhan. Terlepas dari siapa diriku ini. Kenyataan bahwa siapa dirimu yang sebenarnya memang tidak bisa diubah, namun bukan berarti kau harus hidup sebagai diriku. Kehidupanmu adalah kehidupanmu, kehidupanku adalah kehidupanku.”
Wajahku terdongkak, kata-katanya yang tak terduga membuat dilemaku menghilang. Aku menatapnya lalu tersenyum lega “Benar juga, ya....”
“Ayo, kita harus segera pergi.” Radhika menunjuk gedung les itu dengan menggerakkan kepalanya. Dia mundur beberapa langkah lalu melompat terjun diikuti olehku. Setelah jarak antara kami dengan atap gedung sudah cukup dekat, kami menarik dan membuka parasut. Angin-angin dengan kencang meniup kami. Aku bahkan bisa mendengar suara gesekan udara dengan sangat jelas.
Setelah mendarat dan merapihkan parasut, kamipun melapor dan mulai masuk dengan melalui tangga darurat. Tiba-tiba, terdengar sebuah ledakkan dari dalam gedung. Asapnya yang berwarna putih kecoklatan meluap keluar melalui sebuah kaca yang pecah.
***
Terdengar suara teriakkan yang menggema ke seluruh koridor. Bahkan Sindy, Zaki dan Leila yang terpisah dari Divisi 7 akibat ledakan tadi bisa mendengarnya dengan jelas dari sisi lain gedung yang terpisah akibat ledakan. Hawa panas menyengat yang berasal dari api yang tercipta akibat ledakan tadi seakan-akan membuat tubuh mereka meleleh.
“Suara apa itu?!” Zaki yang penasaran langsung berlari menghampiri sumber suara tersebut.
“Tunggu dulu!” Sindy mengangkat tangannya dan berniat untuk meraih kerah Zaki, namun dia terlambat. Tiba-tiba terjadi ledakan kembali. Membuatnya terasa tak mungkin untuk bisa dipadamkan dalam waktu dekat. Sindy dan Leilapun mengurungkan niatnya untuk menunggu Kak Indra memadamkan api tersebut dan pergi mengejar Zaki.
Suara teriakkan itu menuntunnya menuju ke sebuah tangga yang mengarah langsung ke lantai di atasnya. Satu demi satu anak tangga dia naiki. Sampai akhirnya, dia sampai di lantai dimana suara itu berasal. Zaki melihat orang-orang dari anggota Divisi terbaring tak sadarkan diri di ruangan itu. Dia langsung menghampiri satu persatu anggota dan berusaha untuk membangunkannya, namun tak berhasil. Tiba-tiba, terdengar lagi suara teriakkan seseorang. Dia juga melihat sebuah cahaya berwarna merah berkedip di ruangan tersebut.
“Siapa kau?!” Zaki menarik pedangnya dan mengambil perisai miliknya. Di hadapannya, terdapat seseorang yang memakai topeng dan jubah yang tangan kirinya menggenggam wajah dari salah seorang anggota Divisi 6 yang nampak berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan orang itu dari wajahnya. Namun tak lama kemudian, tangan kanan dari orang itu menyentuh sebuah pilar disampingnya.
“Open the Seal : Craft – Stone Sword.” Tiba-tiba dia menarik sebuah pedang batu dari dalam pilar tersebut dan hendak akan menusuk orang yang digenggamnya.
“Hentikan!!!” Zaki langsung berlari untuk menghentikannya, namun dia terlambat. Pria bertopeng itu tepat menusuk leher orang yang digenggamnya dan melepaskannya bersamaan dengan pedang batu yang tertancap di lehernya. “Siapa kau sebenarnya?” Menyadari keberadaan Zaki, Pria Bertopeng itu melepas jubahnya dan mengusap percikan darah yang mengotori topengnya. Dia berlutut lalu kedua tangannya menyentuh lantai. Melihat sarung tangan putih yang dikenakkannya, Zaki mendapat satu kesimpulan “Begitu ya... Jobmu adalah Alchemist.”
“Open the Seal : Craft – Stone Sword and Stone Shield.” Lagi-lagi, dia menarik pedang batu dan perisai batu dari dalam tanah. Wujud dari pedang dan perisai itu nampak persis seperti pedang dan perisai milik Zaki. Bahkan hampir seperti dua benda yang sama. Dia kembali berdiri. Melihat itu, Zaki langsung bersiap dan mengambil kuda-kuda untuk menyerang. Setelah melihat kuda-kuda Zaki, diapun mengambil posisi yang sama persis.
Zaki berlari menghampirinya. Lalu dia ayunkan pedangnya, namun berhasil dihindari Pria Bertopeng. Zaki tetap memanfaatkan momen. Dia ayunkan perisainya ke wajah Pria Bertopeng, tapi Pria Bertopeng itu sudah memperkirakannya dan menahannya menggunakkan perisai miliknya. Pria Bertopeng itu mengayunkan pedangnya dan berhasil menggores perut Zaki. Merasa gawat, Zaki langsung menendang orang itu dan melompat menjauh darinya.
Dia kembali berlari menghampiri Pria Bertopeng lalu kembali menyerangnya dengan pedang. Namun setiap serangannya berhasil dibaca dan ditepis dengan mudah oleh Pria Bertopeng “(Apa-apaan orang ini?)” Di sela-sela penyerangan, tiba-tiba Zaki berjongkok dan menendang kaki orang itu. Namun, tiba-tiba Pria Bertopeng melempar perisainya ke bawah untuk melindungi kakinya. Tapi, itu sama seperti yang sudah Zaki harapkan.
Zaki melempar pedangnya ke arah orang itu dan berhasil menggores pundaknya. Tak berhenti di situ, Zaki memanfaatkan perisai milik musuh dengan mengambilnya dan menggunakkannya. Dia kembali berdiri dan memukul perut Pria Bertopeng menggunakkan perisainya lalu dia pukul wajah orang itu dengan perisai batu. Akibatnya, orang itu terpental beberapa meter dan menabrak tembok.
Tiba-tiba, pedang batu miliknya terlempar keluar dari asap dan menusuk paha kiri Zaki. Akibatnya, dia berlutut karena tak sanggup berdiri. Dia taruh kedua perisainya dan menarik pedang itu keluar dari pahanya. Setelah pedang itu dicabut, perlahan pedang dan perisai batu mulai terurai menjadi debu. Melihat itu, Zaki semakin waspada. Dia hendak akan mengambil perisainya, namun tiba-tiba “Open the Seal : Craft – Stone Wall.” Tercipta sebuah tembok batu diantara dirinya dan perisai miliknya.
Tembok batu yang tinggi itu mengelilingi perisai miliknya sehingga membuatnya tak bisa mengambilnya lagi. Ditambah lagi, saat ini pedangnya tergeletak jauh darinya. Inventorinya juga kosong dan tak ada senjata pengganti.
“(Gawat, apa yang harus kulakukan?)” Zaki kembali berdiri, dia langsung berlari menghampiri pedangnya dan berhasil mengambilnya. Asap sudah menghilang. Pria Bertopeng itu berjalan dengan santainya seakan tak terjadi apa-apa. Sembari membersihkan rompi dan kemejanya dari debu, dia berjalan menghampiri Zaki. Zaki yang masih dalam kedaan siaga, langsung mengayunkan pedangnya tanpa pikir panjang. Namun, dengan keadaan masih membersihkan rompinya, dia menangkap pedang Zaki. Zaki mencoba untuk menarik pedangnya, namun genggaman orang itu begitu kuat sampai-sampai dia tak sanggup untuk menarik pedangnya.
Pria Bertopeng itu memukul perut Zaki lalu menendangnya sekuat tenaga hingga membuat genggamannya terlepas dari pedangnya dan terlempar hingga menabrak salah satu pilar. Pria Bertopeng menaruh pedang milik Zaki lalu kembali berlutut serta menyentuh lantai. “Open the Seal : Craft – Stone Leash.” Dari Pilar dibelakang Zaki, muncul sebuah batu yang mengikat seluruh tubuh Zaki. Sekuat apapun, Zaki tak sanggup untuk menggerakkan tubuhnya, bahkan kedua tangan dan kakinya. Satu-satunya yang bisa dia gerakan hanyalah kepalanya. “Sudah berakhir.” Dia mengambil pedang milik Zaki dan berjalan menghampirinya.
Dia angkat pedang itu tinggi-tinggi dan hendak akan menusuk Zaki. Daripada melihat pedang itu, Zaki lebih memilih untuk menutup kedua matanya. Tiba-tiba “Hentikan!” Sindy menembak tangan milik Pria Bertopeng itu dan mengakibatkan pedang milik Zaki terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke lantai.
“Open the Seal : Triple Wind Arrow.” Anak panah itu ditembakkan kearah Pria Bertopeng. Melihat serangan itu, dia melompat mundur untuk menghindar. Bersamaan dengan mundurnya Pria Bertopeng itu, Leila dan Sindy langsung berlari menghampiri Zaki. Sementara Sindy mencari cara untuk menghancurkan batu yang mengikat Zaki, Leila mengarahkan busur dan anak panahnya ke Pria Bertopeng “Apa kau baik-baik saja, Maulana?”
“Ya, berkat kalian.” Zaki tertawa lega.
“Siapa kau sebenarnya?” Sindy berbalik dan mengangkat tangan kanan yang menggenggam pistol.
Pria Bertopeng itu tertawa setelah melihat Sindy “Ironi sekali. Lama tak berjumpa, Sindy. Sekarang kau sudah besar ya.” Dia menghampiri salah satu pilar dan bersandar.
“Jawab saja! Siapa kau sebenarnya?” Bentak Sindy sembari mengangkat tangan kirinya.
“Oi, oi, kau ini kejam sekali karena tidak mengingatku. Ya sudahlah, lupakan saja. Perkenalkan, namaku adalah The Mask aku adalah salah satu dari kelima Anggota Besar. Karena kalian adalah teman Sindy, kalian boleh memanggilku Seno.” Seno membelakangi Sindy dan yang lainnya lalu melepas topengnya untuk memamerkannya. Lalu, dia kenakan kembali topeng itu dan kembali menghadap Sindy.
“(Seno?!) Jawab, bagaimana caranya untuk menghilangkan batu ini?!”
“Jika itu adalah maumu, Dek Sindy” Dia menepuk pilar di sebelahnya, lalu tak lama kemudian batu yang mengikat Zaki serta tembok batu yang mengelilingi perisai milik Zaki mulai mengurai menjadi debu. Setelah terurai sepenuhnya, Zaki langsung kembali berdiri dan mengambil perisai serta pedangnya. Semuanya terheran-heran, mengapa Seno dengan mudahnya melakukan hal yang diinginkan oleh Sindy. Namun, semuanya juga tak mau memikirkan hal itu, saat ini yang terpenting adalah mengalahkan orang itu. Disaat Sindy, Zaki dan Leila hendak akan maju bersama, tiba-tiba ada batu yang keluar dari lantai yang mengikat Zaki dan Leila. Melihat itu, Sindy langsung terhenti dan berbalik “Tunggu dulu, tahan dulu. Aku hanya tertarik untuk bertarung melawan Dek Sindy.”
“Jangan bercanda! Kau kira kami akan bersedia begitu saja?” Sindy berbalik dan mulai menembaki Seno. Namun walau begitu, Seno langsung menghindar dengan bersembunyi di balik pilar.
“Siapa bilang aku butuh persetujuanmu?” Tiba-tiba, batu yang mengikat tubuh Leila dan Zaki semakin kencang dan semakin kencang. Membuat Zaki dan Leila semakin tak kuasa bernapas.
Sindy terdiam. Kekesalannya semakin memuncak setelah melihat kondisi Leila dan Zaki. “Baiklah! Akan kuturuti permintaanmu!” Bentak Sindy. “Tapi sebelum itu, lepaskan dulu teman-temanku.”
“Baiklah, cukup adil.” Dia menepuk pilar dan batu yang mengikat Leila dan Zakipun mulai mengurai. Dia berjalan menjauhi pilar dengan kedua tangan terangkat ke atas. Setelah terlepas, Zaki dan Leilapun terjatuh lemas. Mereka terbatuk-batuk karena sebelumnya tak bisa bernapas.
“Zaki, Leila, pergilah duluan. Aku yang akan menanganinya.” Sindy berjalan maju sembari mengisi ulang amunisi pistolnya.
“Sindy....” Zaki mencoba untuk berdiri dengan bertumpu dengan pedangnya lalu membantu Leila untuk berdiri.
“Tenang saja, aku pasti akan menyusul kalian.” Sindy sedikit menengok dan tersenyum tulus. Melihat senyuman tulusnya, membuat Zaki tak bisa berkata-kata. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah mempercayakan semuanya kepada Sindy.
“Tapi—”
“Baiklah, kami mengerti. Kami akan segera pergi dari sini.” Potong Zaki sembari menggantung perisainya dan menyarungkan pedangnya sementara Leila menyimpan panahnya di Arrow Rest “Oh ya, Sindy. Pastikan kau menghajar orang itu dan segeralah susul kami.” Zaki dan Leilapun berlari menuju ke sebuah lorong yang terhubung dengan ruangan lain.
“Tentu saja.” Sindy melambaikan tangannya saat Zaki dan Leila pergi. Tak lama kemudian tatapannya berubah. Dengan kedua tangannya yang menggenggam pistol, dia tatap Seno dengan fokusnya yang tinggi.
“Baiklah, ayo kita mulai permainan ini.”
***
Sebuah pedang cahaya melesat dengan cepat dan menggores pundak Mbak Anna. “(Gawat....) Semuanya, berlindung!” Mbak Anna melompat memasuki sebuah ruangan kelas untuk menghindari pedang-pedang cahaya sementara anggota-anggota Divisi 4 dan 5 berlindung dengan bersembunyi di balik ruang kelas. “(Pedang itu, tidak salah lagi....)” Mbak Anna menarik pedang dari sarung lalu sedikit menengok ke luar ruangan—memastikan bahwa anggotanya baik-baik saja lalu menengok kearah dimana pedang cahaya itu berasal.
Di lorong antar kelas, seorang pria berjalan dengan santainya. Lingkaran berwarna biru yang ada dibelakangnya terus menciptakan pedang-pedang cahaya bagaimanapun keadaannya. Suara langkah kakinya yang menggema keseluruh lorong membuat atmosfir semakin mencekam.
“Mau sampai kapan kalian bersembunyi?” Dent mengambil sebuah pedang cahaya, lalu perlahan pedang cahaya itu berubah menjadi pedang yang nampak elegan dan juga baru. Mbak Anna melempar sebuah meja keluar lalu berlindung di belakangnya.
“Open the Seal : Light Sword.” Dari tangan kirinya tercipta sebuah pedang cahaya. Lalu, dia lempar pedang tersebut ke arah Dent. Melihat itu, Dent melempar salah satu pedang cahayanya untuk menahan pedang cahaya milik Mbak Anna. Tak cukup sampai disitu, kali ini Mbak Anna melempar tiga pedang sekaligus. Namun, lagi-lagi pedang itu berhasil ditepis olehnya.
“Hmm... kemampuan yang sama dengan milikku. Menarik.” Dent menunduk dan melihat pedang-pedang cahaya milik Mbak Anna. Tanpa dia sadari, Mbak Anna sudah tepat dihadapannya.
“Open the Seal : Light Boost” Dengan cepat dia menarik pedangnya dari dalam sarungnya lalu mengangkat pedangnya. “Open the Seal : Light Sword” Disaat pedang yang digenggamnya mulai bercahaya, Mbak Anna langsung mengayunkan pedangnya dan hendak akan menebas Dent. Namun, Dent dengan mudahnya menahan serangan itu menggunakkan pedang yang digengamnya. Mbak Anna berdecap kesal “Open the Seal : Light Hand.” Dia mendekatkan tangan kirinya yang bercahaya kewajah Dent lalu melompat mundur. Sementara Dent yang sibuk mengusap matanya akibat serangan tadi “Aku tak punya waktu untuk meladenimu.” Mbak Anna membuka inventori lalu mengambil sebuah pedang untuk digunakan di tangan kirinya.
“Begitu. Kalau begitu, aku akan mengakhirinya dengan cepat.” Tiba-tiba Dent sudah berada di belakang Mbak Anna. Saat Mbak Anna menyadarinya, sudah terlambat. 3 Pedang cahaya milik Dent langsung menusuk tubuh Mbak Anna.
Dengan perlahan, Mbak Anna menengok ke bawah—melihat ketiga mata pedang yang sudah tertusuk di tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas, pandangannya mulai kabur, pikirannya mulai kosong, tak lama kemudian Mbak Anna terjatuh lemas. Melihat kondisi Mbak Anna, dua orang berjubah yang merupakkan anggota Divisi 4 langsung berlari menghampiri Mbak Anna.

~BERSAMBUNG~

No comments:

Post a Comment