Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Monday, September 3, 2018

Start Point - Chapter 17 : Roda Takdir

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

Oke, udah cukup episode santainya. Sekarang balik lagi ke bagian seriusnya.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





Start Point


Pada akhirnya, aku gagal memberitahu Anita mengenai kondisi tubuhnya. Setelah mendengar impiannya, aku mulai merasa ragu untuk memberi tahunya dan memilih untuk diam. Setelah mendengar alasannya itu, aku merasa bertanggung jawab.
Beberapa hari kemudian.
Hari demi hari mulai berjalan seperti biasanya. Dan sekolah hari ini berlalu begitu cepat tanpa kusadari. Sesaat sebelum aku sempat pulang, lebih tepatnya di jam pelajaran terakhir, aku mendapat pesan dari Sindy yang memintaku untuk menemuinya di ruang kelas F sesaat setelah sepulang sekolah. 

 
Aku menengok kearahnya sesaat setelah membaca pesan itu. Dirinya yang nampak cuek sembari menyimpan smartphonya, kembali mengambil pulpennya dan kembali mencatat pelajaran yang sedang disampaikan oleh guru.
Memang, akhir-akhir ini Sindy nampak lebih serius dari biasanya. Aku tahu dia bukanlah tipe orang yang mengajak seseorang bertemu begitu saja tanpa ada alasan yang pasti. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menebak alasan mengapa dia tiba-tiba ingin menemuiku.
Setelah jam pelajaran berakhir.
Sesuai permintaan Sindy, aku menunggu dirinya di ruang kelas F. Dari sekian banyak ruang kelas, aku tidak tahu mengapa dia memilih ruangan ini. Ruang kelas F adalah ruang kelas yang paling terpencil yang terletak di dekat gerbang belakang sekolah. Namun, ruangan ini biasa di gunakan untuk murid kelas menengah keatas. Karena itulah kelas ini pulang lebih cepat dibandingkan dengan kelas reguler.
Cahaya sore hari kekuningan yang menembus jendela menyinari ruangan. Berpadu dengan tembok yang berwarna putih. Sunyinya area tersebut membuatku bisa mendengar suara angin yang berhembus, bahkan meski sudah sore, burung-burung masihlah berkicau. Udara sejuk yang kuhirup begitu segar. Atmosfir yang kurasakan begitu tenang dan damai. Mungkin karena faktor-faktor itulah ruangan ini menjadi ruangan khusus.
Sudah hampir lima menit aku menunggunya di sini, tapi Sindy belum juga tiba. Sebelumnya, dia mengirim pesan kepadaku untuk berangkat terlebih dahulu sementara dia sedang membicarakan sesuatu dengan Zaki dan Leila. Aku penasaran dengan apa yang mereka bertiga bicarakan.
“Maaf sudah membuatmu menunggu.”
Sindy memasuki ruang kelas lalu mengambil sebuah kursi. Dia taruh kursi tersebut di depan mejaku dengan arah yang menghadap kearahku lalu melepas tasnya dan menaruhnya di samping kursinya.
“Tak apa, aku juga baru saja tiba di sini. Lalu, kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu denganku di sini?” Sementara Sindy masih menaruh tasnya, aku berpangku dagu dengan wajah datar namun penuh penasaran.
“Sesudah malam tahun baru, apa yang kau bicarakan dengan Anita? Apa kau sudah memberitahunya mengenai kondisinya?” Sindy menatapku dengan serius. Rambut hitamnya yang menjadi kekuningan akibat cahaya kekuningan. Mata hitamnya yang menatapku begitu indah dan juga memberi tekanan disaat yang bersamaan.
Tapi, bagaimana dia bisa tahu mengenai itu?
“Bagaimana kau—” Wajahku terdongkak. Tanpa kusadari, aku sudah berdiri dengan sendirinya. Melihat reaksiku, Sindy tersenyum. Sementara aku yang tak bisa berkata-kata, memilih kembali duduk. Aku buang pandanganku darinya dan lebih memilih untuk menunduk dan menatap lantai putih yang sedikit berdebu.
“Begitu... Dilihat dari reaksimu, sepertinya kau belum memberi tahunya. Kalau begitu, aku saja yang akan memberitahunya.” Sindy memejamkan kedua matanya untuk sesaat, lalu dia kembali berdiri dan mengambil tasnya.
“Tapi, dia—” Dengan cepat, tubuhku langsung mendongkak ke depan dan menangkap tangan Sindy yang berusaha untuk meraih tasnya.
“Aku tahu. Aku juga mendengar percakapan kalian pada malam itu.” Sindy menarik tangannya dari genggamanku dengan perlahan lalu menengok kearahku.
“Kalau begitu, kau pasti mengerti’kan. Dia....” Aku menjatuhkan tubuhku dengan lemasnya ke kursi. Aku menunduk lalu bersandar di meja.
“Tidak. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak bisa memberitahunya.” Sindy menggeleng.
“Kenapa kau tidak mengerti? Jika dia mengetahui tentang ini, mungkin dia akan menyerah.” Wajahku mendongkak kearahnya. Aku kembali berdiri sembari menggaruk rambutku.
“Kau pikir, Anita akan begitu saja membuang impiannya setelah mengetahui kenyataan ini?!” Bentak Sindy sembari memukul meja dengan kedua telapak tangannya. Bentakannya membuatku begitu terkejut. Aku bahkan hampir saja terjatuh kebelakang akibat bentakannya.
Meski wajahnya masih begitu tenang, dia nampak begitu kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya sembari menatap tajam kepadaku.
“Apa maksudmu?” Tanyaku penuh ragu.
“Disini, kaulah yang sama sekali tidak mengerti apa-apa! Kau pikir sudah berapa lama Anita memiliki impian untuk menjadi seorang novelis?”
“Sejak kapan....?” Mataku terbelalak. Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali? Padahal akulah orang yang telah membuatnya ingin membuat novel. Padahal akulah orang yang paling dekat dengannya. Padahal, aku adalah teman masa kecilnya.
Aku menggigit bibirku. Aku tertunduk kebawah, tanganku mengepal dan aku sudah tak tahu apa yang sebenarnya kulakukan adalah hal yang benar.
“Sejak dulu, meski dia telah kehilangan penglihatannya, dia tetap percaya diri dan berpikir positif. Dia yakin bahwa suatu hari dia akan mewujudkan impiannya dan menjadi seorang novelis. Dan kau berpikir, kenyataan bahwa kehidupannya akan berakhir dalam waktu setengah tahun akan menghentikannya?” Dengan nada suaranya yang tinggi. Perlahan demi perlahan dia mulai menyadarkanku bahwa yang kulakukan bukanlah sebuah kebaikan, melainkan hanyalah keegoisanku semata.
“Dan jika kau masih bersikeras tak ingin memberitahunya, maka aku yang akan melakukannya!” Sindy menghela napas lalu mengambil tasnya. Dia pakai tas tersebut lalu dengan perlahan keluar dari dalam kelas.
“Tunggu!” Aku mengejarnya lalu menangkap tangannya.
“Ada apa? Apa kau masih kebe—” Sindy menengok kebelakang lalu berusaha untuk melepaskan genggaman tanganku.
“Akan kulakukan. Kali ini, aku akan memberitahunya. Pasti.” Aku mengangguk sembari tersenyum lembut lalu kulepaskan tangannya dari genggamanku.
Setelah mendengar jawabanku, Sindy memejamkan matanya lalu tersenyum balik. Perlahan, dia membuka kedua matanya. Dia rapihkan kembali pakaian dan rambutnya lalu menatap wajahku “Kalau begitu, bicarakanlah dengannya....”
***
Di rumah.
Aku hanya termenung di kamarku. Aku terduduk lemas di lantai sembari bersender di kasurku. Aku menatap semut-semut yang berbaris memasuki sebuah celah kecil di sudut lantai. Seragam putihku yang sudah lecek, tersinari oleh cahaya keemasan sore hari yang memasukki kamarku melewati dua pasang jendela yang ada tepat di belakangku. Dan Kasurku yang masih rapih seakan belum tersentuh. Meski aku sudah yakin dan membulatkan niat untuk memberi tahu Anita, namun aku belum menemukkan saat yang tepat untuk bisa menemuinya.
Disaat aku sedang tenggelam dalam pikiranku, smartphoneku berbunyi. Smartphone yang tergeletak tepat di kasur belakangku. Smartphone tersebut terus menerus berbunyi hingga akhirnya aku membuka smartphone. Ternyata, itu adalah pesan yang dikirim oleh Zaki. Pantas saja pesannya nge-spam.
Pesan singkat yang di kirim oleh si berisik itu berbunyi “Dimo, aku dan Leila sudah mendengar semuanya dari Sindy. Karena itulah, kami berdua berinisiatif untuk mempertemukanmu dengan Anita secara langsung sore hari ini. Oh ya, yang Anita ketahui adalah kau yang tiba-tiba ingin menemuinya. Jadi, jangan sampai keceplosan, ya. Aku hampir lupa, Anita akan tiba di taman pukul 5 sore. Jangan sampai lupa ya!”
Aku menghela napas panjang. Entah mengapa aku merasa ingin tertawa setelah membaca pesan tersebut. Aku menengok ke sebuah jam yang tergantung di dinding. Sebuah jam yang menunjukkan pukul 4:50.
“Baiklah, kurasa aku harus segera bergegas.”
Di taman.
Sudah lama sejak terakhir kali aku menghampiri tempat ini. Aku menengok kearah dimana rumah lamaku berada. Dan ternyata rumah tersebut masih nampak rapih dan terjaga. Mungkin Zaki yang merawatnya, atau mungkin Paman Tedi?
Sesaat sebelum aku tiba di taman, aku sempat mampir ke toko roti milik Paman Tedi. Di sana, ada Zaki, Leila dan Sindy yang menungguku sembari memberi semangat kepadaku.
Kurasa, aku sudah tak bisa mundur lagi....
Aku duduk sembari menatap ke atas langit. Langit berawarna oranye dengan cahaya kekuningnanya. Sudah hampir dua puluh menit sejak aku tiba di sini, namun ia belum tiba. Padahal taman sudah mulai sepi, namun aku sama sekali tidak dapat menemukannya.
“Di-Dimo...”
Tiba-tiba aku mendengar suaranya. Tubuhku bereaksi dengan langsung berdiri dan menengok kearah sumber suara tersebut. Anita berdiri dengan tegapnya. Pipi di wajahnya yang nampak agak memerah, serta kedua tangannya yang meremas switer turtleneck bewarna hitam yang dikenakkannya.
Namun, kenapa dia tertunduk?
Sejak dia tiba, dia sama sekali tak menatap diriku dan hanya tertunduk. Namun, kurasa, itu bukanlah alasan untuk tidak memberitahunya kenyataan. “Anita, sebenarnya, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu.” Mendengar itu, wajah Anita yang sebelumnya tertunduk langsung terangkat dan menatap wajahku.
“Sebenarnya...”
Entah mengapa, di saat-saat seperti ini tenggorokanku menjadi kering. Tiba-tiba angin berhembus kencang meniup rambut putihnya. Cahaya kekuningan yang dipancarkan matahari mulai pudar terhalang awan, perlahan, cuaca yang cerah dan penuh dengan cahaya kekuningan langsung berubah menjadi gelap akibat mentari yang terhalang awan. Ditambah, suasana sepi di taman yang membuatku semakin canggung. Aku mengepalkan kedua tanganku. Wajahku yang semulanya tertunduk langsung menatap tajam Anita. Aku menarik napas panjang lalu mulai membuka mulutku “Sebenarnya—”
Tiba-tiba terjadi sebuah ledakan besar tepat di area sebelah yang tak jauh dari tempat dimana aku berada. Asap akibat ledakan yang tersebar di mana-mana, secara tak langsung telah memisahkanku dengan Anita. Tiba-tiba, aku mendengar suara Anita yang berteriak meminta tolong. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju ke tempat di mana Anita berada sebelumnya, namun aku tak bisa menemukannya.
“Anita, di mana kau?” Aku terus berlari mengitari taman untuk mencari Anita, namun aku sama sekali tak bisa menemukannya. Untungnya, aku membawa login login device dan melakukan login. Dengan cepat, kuaktifkan skill moonlight speed lalu mencoba mencari sekali lagi.
“Dimo... maaf...”
Sekilas aku mendengar suaranya. Akupun kembali ke tempat dimana aku mendengar suara tersebut. “Anita!” Aku mendapati Anita yang dalam kondisi tak sadarkan diri sedang dibawa oleh Seno dengan cara menggotongnya. “Kau! Mau dibawa ke mana Anita?!” Mendengar teriakkanku, Seno terhenti lalu berdecap sembari menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghela napas panjang. Tak lama kemudian, dia turunkan Anita lalu berbalik menghadapku.
“Yah, mau gimana lagi... meski merepotkan...” Seno berjongkok lalu kedua tangannya menyentuh tanah “Open the Seal : Craft – Stone Gloves.” Setelah sarung tangan batunya telah terbentuk, dia kembali berdiri lalu menunjukku “Baiklah begini saja, ayo kita buat ini sebagai permainan.”
“Permainan katamu?” Aku mengambil ogre sword dari dalam inventoriku. Untungnya, akibat sistem yang di perbaharui oleh Pak Bum sesaat setelah insiden guncangan terjadi, semua equipment dari anggota ERASER, tanpa terkecuali akan langsung mencapai level maksimalnya. Termasuk kedua pedangku. Meski aku bukan lagi anggota ERASER, namun aku masihlah memiliki urusan dengan mereka sehingga equipmentku masihlah berada di level maksimal. Meski pedang ini tak seefektif pedang yang biasa kukenakkan, tapi kuharap ini cukup untuk menyelamatkan Anita.
“Ya, sebuah permainan. Jika kau berhasil mengalahkanku atau membuatku mundur dari pertempuran dengan satu serangan, gadis itu, akan kuserahkan padamu.”
“Jangan bercanda! Kau pikir nyawa seseorang adalah sebuah mainan?”
“Yah, kurasa akan aku koreksi kata-kataku.” Seno berjalan menghampiri tubuh Anita yang terbaring tak sadarkan diri di jalan. “Bergabunglah kedalam permainan ini jika kau tak ingin nyawa dari gadis ini melayang!” Dia menapakkan kedua tangannya di tanah lalu mengikat tubuh Anita dengan batu yang diciptakannya. Batu itu semakin kencang dan semakin kencang, aku bisa melihatnya dari ekspresi Anita yang nampak kesakitan.
“Keparat, jangan bercanda!” Aku langsung melompat menerjangnya “Open the Seal: Moonlight Shard – Super Moonlight Sword!”
“Itu baru yang namannya semangat!” Seno berjalan ke depan melewati tubuh Anita, lalu menghadangku. Dia menapakkan kedua telapak tangannya yang terbungkus oleh sarung tangan batu. Disaat kami berdua sudah cukup dekat,  aku langsung mengayunkan pedangku dengan sekuat tenaga. Sementara Seno yang bertepuk tangan lalu mengarahkan tinjunya kearahku.
Kejadian itu terjadi dengan sangat sekejap, hingga aku tidak terlalu mengingatnya. Dibanding menghindar, Seno langsung memukul pedangku hingga patah menjadi dua lalu dia lanjutkan dengan memukul wajahku dengan kencang hingga membuatku terpental beberapa meter hingga akhirnya aku menabrak pohon.
“Haah.... lagi-lagi kau mengecewakanku.” Seno menepuk batu yang mengikat Anita. Dengan cepatnya batu itu mengurai dan lenyap. Setelah itu, dia gendong kembali Anita lalu membawanya pergi.
Dengan asap akibat ledakan yang masih tebal, dan tubuhku yang lemas, sangat tak mungkin bagiku untuk menyusulnya.  Apalagi, kesadaranku mulai memudar dan penglihatanku mulai berkunang-kunang.
“Anita....”
Aku tak ingin, kehilangan lagi...
Ini semua salahku...
***
6 Tahun yang lalu.
Dengan perut yang kosong, aku terus berjalan dan terus berjalan tanpa tahu ke arah mana aku pergi. Dengan pakaian yang masih compang-camping dan berlumuran lumpur. Cuaca yang panas juga menyengat membuat tenggorokanku semakin kering dan terasa haus. Padahal, kemarin hujan sangatlah deras.
Sudah dua hari berlalu sejak aku meninggalkan mobil yang terbakar itu, dan sudah dua hari juga aku terus mencuri untuk bisa bertahan hidup.
Saat itu, rasa laparku tak tertahankan. Akupun melihat seorang pembeli yang baru saja keluar dari sebuah toko roti dengan membawa sebuah kantung plastik berwarna putih yang terisi dengan roti-roti yang nampak lezat.
Entah mengapa, bukannya memilih untuk mencuri dari pembeli yang barusaja melintasi diriku, aku lebih memilih berlari menuju ke toko roti yang dimana pembeli tadi berasal.
“Hei, mau kemana kau?!”
Paman penjual roti yang rotinya baru saja kucuri menyadari kepergianku. Namun nampaknya dia merasa terlalu malas untuk mengejarku.
“Duuh, kenapa Paman malah diam saja dan bukannya mengejar dia?” Seorang perempuan yang nampak lebih tua dariku (Nampak seperti remaja SMA) berlari mengejarku. Pada awalnya aku tak menyadari bahwa dia sedang mengejarku sampai akhirnya dia melompat dan menghadangku.
Remaja perempuan itu nampak tomboi dengan seragam olah raganya. Rambutnya yang berwarna coklat, kaca mata berwarna hitamnya yang agak bulat, serta senyuman percaya diri yang begitu nampak dari wajahnya.
“Anu, apa yang kakak lakukan?” Aku berhanti berlari lalu mundur sedikit demi sedikit.
“Tentu saja, mengejar seorang pencuri.” Dia berpose ala seorang kiper penjaga gawang sembari melangkah menghampiriku. Aku menengok kesana kemari untuk mencari pencuri yang ia maksud, namun aku tidak bisa menemukannya. Tapi, perlahan aku menyadari maksud sesungguhnya dari kakak perempuan itu saat aku menengok ke bawah dan melihat sebuah roti rasa coklat yang terbungkus dengan sebuah plastik dengan rapih.
Aku memasukkan roti tersebut kedalam kausku dan langsung berlari—berbelok menuju ke sebuah tempat yang nampak seperti sebuah taman. Untungnya, karena cuaca panas yang menyengat dihari ini, taman sangatlah sepi sehingga memudahkanku untuk kabur. Meski begitu, meski aku sudah berlari dengan sangat kencang, kakak perempuan itu masih saja mengejarku, bahkan dengan kecepatan yang lebih cepat dari kecepatanku.
Aku menengok ke belakang “Kenapa... kakak itu.... larinya kencang sekali.” Disaat aku kembali menengok ke depan, ada sebuah pohon yang tepat sudah ada di hadapanku. Disaat aku ingin segera berhenti berlari, aku malah tersandung salah satu akar pohon sehingga membuatku terjatuh dan menabrak pohon. Bersama dengan jatuhnya aku, roti tersebut terlempar keluar dari dalam pakaianku.
“Kalau mau roti, kumpulkanlah uang dan beli, dong...” Kakak perempuan itu mengambil roti yang sudah terjatuh dan berusaha untuk membantuku bangun kembali. “Lho, eh...?” Namun yang dia temukan adalah diriku yang sudah jatuh pingsan karena kelaparan.
Aku membuka mataku. Pandanganku yang awalnya kabur perlahan mulai menjadi jelas. Aku melihat plafon berwarna putih yang nampak asing. “Wah, kau sudah bangun!” Aku mendengar suara kencang dari anak laki-laki yang sebaya denganku. Saat aku bangun dan duduk di atas sofa, aku melihat anak laki-laki berambut cokelat yang nampak enerjik itu pergi meninggalkan ruangan. Aku juga menyadari bahwa kaus serta celana pendek yang kupakai berbeda dan nampak baru. Tak lama kemudian, aku melihat kakak perempuan itu yang berjalan dari dapur dengan membawa segelas air mineral. Dia yang sebelumnya memakai seragam olahraga sekolah kini telah berganti dengan sebuah kemeja berwarna biru.

“Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?” Aku mengangguk dengan penuh bingung. “Syukurlah, jika kau tidak bangun, maka aku akan sangat merasa bersalah.” Dia duduk di sofa sembari tersenyum lega lalu menawariku segelas air. Aku yang masih merasa bingung, langsung menerima air tersebut tanpa pikir panjang.
“Anu, maaf... tapi, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Tadi kau pingsan. Mutia-lah yang telah membawamu ke sini.” Paman penjual roti yang baru saja melayani pembeli langsung datang menghampiriku. Dia memiliki rambut yang berwarna coklat pucat serta kumis tipisnya dan memakai kaus lengan panjang yang berwarna hitam.
“Anu, maafkan aku karena sudah mencuri di toko anda.” Aku langsung berdiri dan sedikit menunduk meminta maaf.
“Apa? Tak usah di pikirkan. Tapi lain kali jangan di ulangi ya.” Dia melempar sebuah roti kearahku. Aku yang masih agak lemas sempat hampir gagal menangkapnya.
“Ini... roti yang tadi kucuri...” Aku menatap roti itu sembari memutar-mutarnya untuk memastikan roti tersebut roti yang sama. “Tapi, kenapa? Padahal aku’kan sudah....”
“Kau lapar bukan? Makanlah.” Penjual roti tersebut tersenyum lalu menghampiriku.
“Y-ya, terima kasih...!” Dengan cepatnya, aku langsung membuka bungkus roti tersebut dan memakan rotinya dengan lahap.
Melihat reaksiku, Kak Mutia tersenyum lalu sedikit tertawa sembari berpangku dagu “Kau benar-benar suka roti, ya.”
“Ti-tidak! Ha-hanya saja, hanya ada ini yang bisa kumakan saat ini!” Aku berhenti makan dan menjawabnya dengan gagap. Karena mulutku yang masih penuh, Kak Mutia dan Paman Penjual Rotipun tertawa. Tawa mereka semakin membuatku tersipu malu. Akupun membuang pandangan dan lanjut memakan roti tersebut.
Tak lama kemudian, Kak Mutia mengulurkan tangannya kearahku “Perkenalkan, namaku Mutia Cendana, lalu Om-om jomblo di sana adalah Tedi Gemilang. Kalau kau?” Aku menengok kearahnya, dia hanya tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
“Om-om jomblo?!” Celetuk Paman Tedi
“Dimo... hanya Dimo... setidaknya itulah yang kuingat...” Dengan malu-malu, aku mengulurkan tanganky dan menjabat tangannya.
“(Aku tidak begitu mengerti apa maksud perkataannya barusan....) Dek Dimo, di mana rumahmu? Nanti Kakak akan mengantarmu pulang.” Kak Mutia kembali berdiri dan bersiap menuju ke ruang depan, namun terhenti saat melihatku yang hanya terdiam.
“Maaf, tapi aku tidak tahu.” Mendengar jawabanku, semuanya langsung terkejut. Tanpa ragu sama sekali, mereka langsung menghampiriku. “Aku tidak tahu siapa diriku, dan aku tidak tahu berasal dari mana aku...” Kak Anita dan Paman Tedi yang berjongkok bersebelahan menghadapku langsung menengok ke satu sama lain.
“Jangan-jangan... Amnesia...?” Paman Tedi kembali berdiri sembari menggaruk-garuk rambutnya dan berjalan mondar-mandir.
Diikuti dengan Kak Mutia yang kembali duduk di sofa “Kalau begini sih... susah.” Aku yang tak mengerti dengan maksud mereka, membuang sampah plastik ke tempat sampah dan dengan santainya kembali duduk di sofa. “Kalau begini... bagaimana jika kau tinggal di sini dulu sampai ingatanmu kembali...? Lagipula, ada satu kamar kosong yang bisa kau gunakan.”
Paman Tedi yang nampak kurang setuju dengan ide itu langsung menghampiri kami berdua “Tapi—”
“Baiklah!” Balasku dengan penuh antusias. Paman Tedipun terhenti. Dia berhenti setelah aku dan Kak Mutia menatapnya dengan dalam.
Merasa tak enakan, diapun memejamkan kedua matannya lalu sedikit menggaruk rambutnya “Baiklah-baiklah!”
“Tapi sebelum itu, pertama-tama kita harus melakukan sesuatu dengan namamu itu. Karena tidak ada orang yang mempunyai nama ‘Hanya Dimo’” Kak Mutia memegang pundakku lalu sedikit mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Ramadhan... Bagaimana jika Dimo Ramadhan? Saat ini aku memang masih lajang, tapi saat sudah menikah nanti, aku selalu ingin mempunyai seorang putera yang memiliki nama belakang ‘Ramadhan’”
“Bagaimana?” Dengan kompaknya, Paman Tedi dan Kak Mutia menengok kearahku. Aku sempat bingung, namun, setelah melihat kebaikan dan ketulusan mereka, kepada orang asing sepertiku. Rasanya meski tanpa ingatan sekalipun, di sini, aku merasa seperti memiliki sebuah ikatan yang bernama ‘Keluarga.’
“Baik!” Jawabku dengan penuh semangat.
Saat itu, tanpa kusadari, keputusan yang telah kubuat saat itu telah menggerakkan sebuah roda. Sebuah roda dengan akhir yang sudah di tentukan. Sebuah roda yang disebut ‘Takdir.’
 

 ~BERSAMBUNG~

No comments:

Post a Comment