Selamat datang di KnK Land. Mari menguasai dunia bersama kami. Disini kalian bisa menemukan ratusan postingan berbahaya dari penulis-penulis kami. Selamat menikmati situs yang hidup ini.

Pengumuman Penting! Sebagian besar link download file di web ini telah terhapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini :(. Kami akan segera mengunggah kembali file yang telah terhapus :).

Monday, July 23, 2018

Start Point - Chapter 12 : Kecoa Terbang

Sebelum membaca novel ini, sangat disarankan untuk membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu.

Oke akhirnya, 2 chapter akhir yang akan mengakhiri Part 1/Vol 1 novel ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Start Point





“Kak Anna, bertahanlah!” Salah seorang menghampiri Mbak Anna dan memberinya penanganan medis. Dan yang satunya berdiri melindung Mbak Anna.
“Kau... berani-beraninya kau melakukan ini kepada Kak Anna” Dia mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya ke depan. Di depan telapak tangannya mulai keluar bola api yang perlahan semakin membesar. Bola api itu terus membesar dan terus membesar sampai ukurannya hampir memenuhi lorong.

“Hentikan, kau bisa melukai semua yang ada di lantai ini, Eni, Ani!” Mbak Anna keluar dari dalam ruang kelas sembari menekan perutnya seakan-akan terdapat luka di perutnya. Tak lama setelah Mbak Anna keluar dari ruang kelas, tubuh Mbak Anna yang sudah tertusuk pedang mulai bercahaya dan menghilang.
“Kak... Anna.” Eni yang sebelumnya sedang merawat luka dari tubuh Mbak Anna yang menghilang perlahan berdiri dan memeluk Mbak Anna. Melihat kondisi Mbak Anna yang baik-baik saja, Ani langsung membatalkan bola apinya dan menghampiri Mbak Anna.
“Tapi... bagaimana bisa? Padahal Barusan...”
Kak Anna tersenyum lalu mengelus kepala keduanya “Open the Seal : Light Clone. Ini adalah skill yang jarang kugunakkan karena membutuhkan banyak mana dan juga bisa berdampak buruk bagi penggunanya jika luka yang dialami kloning terlalu parah.” Mbak Anna berjalan maju melewati Ani dan Eni lalu menarik pedang dari sarungnya. “Namun, keuntungan dari skill ini adalah....” Perlahan-lahan muncul sebuah lingkaran berwarna keemasan di belakang punggung Mbak Anna. Cahaya keemasan itu menyinari lorong yang gelap. Bagaikan emas, cahaya itu begitu terang dan berkilauan “....membuat penggunanya dapat menyalin kemampuan musuh.”
Mbak Anna menengok ke arah Ani dan Eni “Kalian bawalah semuanya pergi menjauh dari pertarungan ini. Karena ada kemungkinan tempat ini akan hancur.” Ani dan Enipun mengangguk lalu pergi memberi tahu semuanya.
Dent menghela napas lalu memejamkan kedua matanya “Kau pikir kemampuan pinjamanmu itu dapat menandingi kemampuanku?” Tiba-tiba, sebuah pedang bercahaya emas langsung meluncur dan berhasil menggores pundaknya Dent.
Setelah melihat anggota divisinya dan Divisi 5 telah pergi, Mbak Anna tersenyum “Entahlah, bagaimana jika kita coba saja?”
“Jangan sombong dulu!” Dent mengangkat tangannya hingga setinggi pundak dan tubuhnya mulai melayang. Perlahan-lahan, seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan aura berwarna biru dan angin disekitarnya mulai berhembus kencang.
Mbak Anna mengangkat tangan kanannya yang menggenggam pedang lalu menunjuk Dent “Kaulah yang tidak boleh meremehkan lawanmu!” Lalu dia menghentakkan kakinya. Sama seperti Dent, tubuhnya mulai mengeluarkan aura keemasan dan mulai melayang. Angin disekitarnya bertabrakkan dengan angin yang ada di sekitar Dent. Kaca-kaca ruangan mulai pecah karena tekanan udara dan kursi-kursi serta meja yang berada di ruang kelas mulai bergerak tertiup angin.
Pedang-pedang cahaya yang mulai tercipta dari lingkaran semakin banyak. Putih dan Emas, kedua warna itulah yang menerangi seluruh ruangan. Pedang mereka terus bertabrakan satu sama lain. Tercipta, hancur, tercipta, siklus itu terus terulang dan terus terulang tanpa ada jeda waktu sedikitpun. Banyak pedang berceceran. Ada yang tertancap di lantai, ada juga yang tertancap di plafon. Namun tak lama setelah pedang tersebut tertancap, pedang tersebut akan terurai dan lenyap.
“Open the Seal : Light Boost.” Mbak Anna mempercepat proses penciptaan pedang sehingga membuat jumlah pedang yang bisa dia ciptakan dalam 3 detik berjumlah dua pedang yang dimana pada umumnya hanya bisa menciptakan 1 pedang. Namun, meski begitu, tetap saja dia tak bisa sepenuhnya menandingi Dent. Sesekali ada satu atau dua pedang yang luput dan berhasil menggores tubuhnya, namun dia sama sekali tidak bisa menggores Dent sedikitpun.
“Percuma saja! Kekuatan palsumu takkan bisa mengalahkan kekuatan sejati milikku.”
“Aku tidak peduli meskipun ini hanyalah kekuatan palsu! Selagi kekuatan ini sanggup melindungi teman dan orang yang kucintai, aku akan menerima kekuatan itu!” Teriak Mbak Anna.
“Sungguh perasaan yang tidak berguna. Perasaan dan emosi itulah yang membuat kalian menjadi lemah.”
“Karena kami lemah itulah, kami bisa menjadi lebih kuat! Karena itulah yang menjadikan kami manusia!”
Perlahan-lahan, jumlah pedang yang tercipta semakin banyak dan semakin cepat. Akibatnya, sedikit demi sedikit pedang-pedang mulai menggores dan mengenai Dent.
“Apa-apaan ini?!”
Pedang-pedang itu terus menerus menyerangnya tanpa memberinya celah untuk menyerang balik. Bukannya merasa terpojok, Dent malah tertawa keras “Aku akui kau, Anna! Kau satu-satunya orang yang bisa menyudutkanku hingga seperti ini! Teruslah menari dan hibur aku dengan kekuatanmu!”
Sampai akhirnya Mbak Anna memberikan serangan ultimatum kepadanya dengan menyerangnya dengan 20 pedang secara bersamaan.
Asap berwarna coklat menghiasi lorong. Lingkaran keemasan yang ada di belakang Mbak Anna perlahan mulai menghilang. Pedang-pedang berwarna keemasan yang berserakan mulai terurai dan lenyap. Diapun terjatuh. Tubuhnya lelah karena telah menggunakkan skill sebesar itu. Mananya habis. Dan dia ter log out dari dalam sistem. Sementara dia mengatur napasnya yang tidak beraturan, dia mencoba untuk berdiri. Namun, tubuhnya terlalu lelah untuk digerakkan. Bahkan kakinya mati rasa.
“Sudah berakhir.... aku berhasil mengalahkannya.” Mbak Anna mendekati tembok lalu mencoba untuk berdiri dengan berpegangan pada tembok. Setelah berhasil berdiri, diapun mulai melangkah berjalan untuk menemui Divisi 4 dan Divisi 5.
“Mengecewakan sekali. Ternyata hanya bisa sampai sini kemampuanmu.”
Langkah kaki Mbak Anna langsung terhenti. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Kalau bisa, dia bahkan ingin sekali berpikir bahwa apa yang sudah didengarnya hanya halusinasi semata.
Perlahan dia menengok kebelakang. Asap berwarna coklat yang semakin memudar dan menghilang, serta orang yang perlahan keluar dari asap tersebut. Dent berjalan sembari menyobek jas miliknya yang sudah berlubang-lubang lalu membuangnya.
“Tidak mung—”
Dia mencekik Mbak Anna lalu mengangkatnya ke udara. Mbak Anna yang sudah tak punya kekuatan sama sekali tak bisa melawan sedikitpun. Kedua tangan dan kakinya lemas dan penglihatannya sudah mulai pudar.
“Karena sudah begini, matilah.”
“Open the Seal : Water Sword” Tiba-tiba, ada sebuah cambuk air yang terikat di lehernya Dent. Melihat itu, Dent menghela napas. “Lepaskan dia!” Kak Indra dan anggota Divisi 6 dan Divisi 7 tiba.
“Baiklah.” Dent melepaskan cengkramannya. Mbak Anna yang sudah dalam keadaan pingsan terjatuh sementara Dent yang berbalik sembari mengangkat kedua tangannya lalu menjauhi Mbak Anna. Tak lama kemudian, Mbak Annapun dinaikkan ke atas tandu dan diamankan untuk mendapatkan perawatan medis.
“Kalian, benar-benar menyusahkan.” Dent menggenggam cambuk air milik Kak Indra lalu mengubahnya menjadi cahaya dan terurai.
“Baiklah kalau begitu.... ayo hibur aku!” Lingkaran berwarna biru itu kembali muncul di belakangnya bersamaan dengan pedang-pedang cahaya dan Dent mulai kembali melayang. Namun tiba-tiba, sebuah Ogre Sword terlempar di belakangnya dan mengenai lingkaran berwarna biru miliknya.
Aku, Ani dan Enipun tiba. Aku berjalan menghampirinya sembari menarik pedangku lalu menunjuknya menggunakkan pedangku “Ini bukanlah sebuah hiburan.... Tapi penyelamatan.”
***
Beberapa menit sebelumnya.
Sebuah bom asap tiba-tiba menggelinding dari sebuah persimpangan. Tak lama kemudian, mulai bermunculan orang-orang yang memakai jubah berwarna hitam dan memegang tongkat. Melihat itu, aku dan Radhika langsung bersembunyi di balik pilar. “Apa kita sudah ketahuan?” Aku sedikit menengok memeriksa jumlah orang yang muncul dari balik asap.
“Nampaknya begitu.” Radhika melakukan login lalu maju menerjang sementara orang-orang berjubah itu sedang melafalkan mantra untuk menciptakan energi cahaya yang dapat mengeluarkan laser. “Open the Seal : Dark Moonlight Shard – Dark Sword.” Pedangnya mulai menghitam, lalu dia hindari setiap laser yang diarahkan kepadanya. Dengan cepat, dia berlari dan mengalahkan setiap musuh yang ada. Tiba-tiba, terjadi sebuah getaran dan suara ledakan serta suara dari pedang yang bergesekan yang berasal dari lantai di bawah kami. Kejadian itu terjadi cukup lama sampai akhirnya terjadi sebuah ledakan besar dari bawah.
“Apa... itu tadi?”  Aku menengok kesana kemari. Walau aku tahu bahwa sumber ledakan dan getaran tadi tepat di bawah kami, aku tetap tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di lantai bawah.
“Entahlah, yang lebih penting, kita harus segera ke lantai bawah. Di lantai itulah dimana para tahanan berada.” Radhika melakukan logout lalu langsung berlari menuju ke tangga bawah dan diikuti olehku. Setelah melalui tangga dan hendak akan berbelok untuk memasuki lorong, kami bertemu dengan Ani dan Eni.
“Kalian... bocah bertudung yang mengejarku waktu itu.” Tiba-tiba, Eni dan Ani menarik tangan kananku dengan ekspresi yang penuh dengan kekhawatiran. Tak ada sedikitpun kebohongan yang nampak di matanya.
“Kumohon, ikut kami.” Eni langsung berusaha menarikku tanpa basa-basi sedikitpun lalu diikuti oleh Ani.
“Tunggu dulu, sebenarnya ada apa? Apa ada hubungannya dengan getaran yang terjadi tadi?”  Radhika  memegang pundak Eni lalu berjalan ke hadapannya—menghalangi mereka sehingga mereka tidak bisa lewat.
“Sebenarnya... getaran tadi disebabkan oleh pertarungan Kak Anna.” Ani berbalik dan mulai menjelaskan situasi.
“Jadi, lawannya adalah Dent?!”
“Ya, saat ini Kak Anna sedang melawannya sendirian.” Ani mengangguk lemas dengan wajah yang tertunduk. Bahkan meski saat ini dia tidak melepas tudungnya, dia tetap tak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Sejak dulu, Kak Anna sangat baik kepada kami berdua. Namun, kami selalu tidak punya kesempatan untuk membalas kebaikannya. Lalu, saat Kak Anna mengira bahwa Kak Andri sudah tiada.... dia nampak begitu sedih.” Suaranya yang terdengar lirih membuatku tak bisa berdiam diri saja. Tapi sayangnya, misi adalah misi.
“Aku mengerti.” Wajah mereka terangkat. Aku bahkan bisa melihat air mata mereka. Aku berjalan melewati mereka lalu terhenti sejenak “Tapi maaf, misi tetaplah misi. Kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja.”
Radhika yang tidak terima akan kata-kataku langsung berjalan menghampiriku “Tunggu dulu Dimo—”
“Karena itulah....” Potongku
“...cukup aku saja, yang pergi ke sana.”
***
“Nampaknya kita kedatangan serangga lainnya.” Dent mencabut Ogre Sword milikku lalu membuangnya sembari berbalik menghadapku.
“Sayang sekali, aku bukanlah serangga biasa. Aku adalah kecoa terbang.” Aku menyeringai lalu mengambil kuda-kuda untuk bertarung. “Ngomong-ngomong, dimana Mbak Anna?” Aku, Ani dan Eni melirik kesana-kemari, mencari Mbak Anna di kumpulan anggota-anggota Divisi.
“Luka yang diterimanya cukup parah. Jadi saat ini dia sedang mendapat perawatan medis.” Mendengar itu, Ani dan Eni bisa bernapas lega dan langsung pergi menuju ke tempat dimana Mbak Anna berada “Yang lebih penting, dimana Radhika?”
“Dia sudah duluan.”
“Begitu ya, kalau begitu baguslah. Saat ini, kita hanya harus menahan orang ini bukan?” Kak Indra tersenyum lalu mengubah pedangnya menjadi pedang air sementara anggota-anggota Divisi 6 dan Divisi 7 bersiap untuk bertarung.
 “Begitulah. Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword.” Kugenggam pedangku dengan kedua tanganku.
Sementara itu, Radhika terus berlari secepat yang dia bisa untuk menuju ke ruangan dimana para tawanan berada. Walau sebanyak apapun musuh yang menghadangnya, tidak akan cukup untuk menghalaunya. Dia terus menerjang musuh bagaimanapun keadaannya. Inilah penebusan dosanya.
“Akhirnya....” Sembari mengatur napasnya yang tidak beraturan dan berat, Radhika mengusap keringatnya lalu bersandar di tembok. Saat ini, dihadapannya tepat berada sebuah pintu dari ruang tahanan. Tempat yang ditujunya selama ini. Untuk membuka pintu itu, dibutuhkan sebuah kata sandi. Setiap petinggi sepertinya, memiliki sandi masing-masing dan walau dia sudah keluar, Radhika masih bisa menggunakkan kata sandi milik Ratu Putih.
Disaat dia hendak akan memasukkan kata sandi dan membuka pintu itu, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki dua orang. Suara itu membuatnya mengurungkan niatnya dan melakukan login untuk berjaga-jaga. Perlahan-lahan, suara langkah kaki itu semakin dekat dan semakin dekat. Jantungnya berdegup kencang, keringatnya yang mengalir dari rambutnya ke lehernya, serta rasa lelah yang dia rasakan membuat keadaan menjadi mencekam.
Saat sudah cukup dekat, Radhika mendekati pinggir tembok lalu menarik pedangnya. Tak lama kemudian dia langsung melompat keluar dari persemunyiannya dan berniat untuk menyerang kedua orang itu. Itulah yang awalnya ingin dia lakukan. “Kalian, kenapa bisa ada di sini?” Radhika menyarungkan kembali pedangnya lalu melakukan logout.
Zaki menggaruk pipinya lalu tersenyum kecut sementara Leila membuang pandangannya karena tersipu malu “Yah... Aku dan Leila terpisah dengan Divisi 7 karena ledakan sebelumnya.”
“Ma-maaf, sebelumnya kami berniat untuk kembali ke Divisi 7, tapi kami malah tersesat.” Dengan wajahnya yang memerah karena malu, Leila mencoba untuk tidak membuang pandangannya dan malah tidak berani menatap wajah Radhika.
Melihat tingkah laku mereka berdua, membuat Radhika tak bisa menahan tawanya. Rasanya, semua beban yang sebelumnya dirasakan olehnya langsung menghilang tertiup angin bersamaan dengan lepasnya tawa. Melihat tawa Radhika yang begitu lepas membuat Zaki dan Leila menatap satu sama lain dan lagsung ikut tertawa.
“Terima kasih ya, karena kalian.... rasanya aku merasa baikan.” Radhika mengusap air matanya yang keluar karena tawanya lalu tersenyum.
“Tak masalah. Jadi, apa kau sudah menemukan tempatnya?” Zaki menghampirinya lalu menepuk punggung Radhika.
“Ya, aku sudah menemukannya.” Radhika menengok ke arah ruangan dimana tawanan berada, lalu merekapun berjalan menghampiri pintu itu. Setelah menghampiri pintu itu, Zaki memegang dagunya sembari melihat kesetiap sudut dari pintu tersebut.
“Nampaknya pintu ini harus menggunakkan kata sandi ya.” Leila mencoba mengutak-atik alat keamanan dari pintu tersebut dengan kata sandi tebakannya namun selalu gagal.
“Tenang saja, walau aku sudah dikeluarkan, aku bisa menggunakkan kata sandi milik seseorang yang kukenal.” Leilapun mundur dan mempersilahkan Radhika untuk memasukan kata sandi. Setelah kata sandi dimasukkan, pintupun sudah tidak terkunci. Radhika langsung memegang gagang pintu dan membuka pintu perlahan, karena ada kemungkinan bahwa ada pasukan musuh yang menanti dari balik pintu. Namun, nampaknya tak ada seorangpun yang menunggu dan ruangan aman. Setelah mereka masuk, Radhika sengaja untuk tidak menutup pintu rapat-rapat agar memudahkan proses penyelamatan.
Zaki menghampiri salah satu sel lalu menggenggam jeruji besi “Hei, kalian baik-baik saja?” Zaki mencoba untuk membangunkan para anggota ERASER yang menjadi tahanan. Semua anggota ERASER, dikurung di satu sel. Sel itu tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Tak lama kemudian, Radhika memasukan kata sandi yang sama untuk membuka sel. Melihat itu, semua orang yang ada di dalam sel langsung berjalan mendekati pintu termasuk orang tua Radhika. Melihat kedua orang tuanya baik-baik saja, Radhika tak bisa menahan air matanya. Setelah pintunya terbuka, Radhika langsung berlari memeluk kedua orang tuanya.
“Ayah, ibu!”
Sementara itu, tahanan yang lain mulai keluar dari dalam sel. Namun, salah satu tahanan yang mengenali Radhika menghampirinya dan langsung memukul wajahnya hingga membuatnya terjatuh. “Kau pantas mendapatkannya!” Karena tidak terima melihat putranya diperlakukan seperti itu, ayahnya Radhika langsung berniat untuk membalas. Namun, Radhika meminta kepada ayahnya untuk tidak membalasnya dan berdiam diri saja.
“Ayah, ibu, tak apa. Aku memang pantas menerima pukulan itu.” Sembari menekan luka di pipinya, Radhika memegang pundak ayahnya sembari mencoba berdiri. “Karena akulah mereka ada di sini. Jadi kurasa, aku memang pantas mendapatkannya.”
“Tapi, kau terpaksa melakukan semua itu karena orang tuamu ditahan.” Zaki menghampiri Radhika lalu memegang pundaknya.
“Tetap saja! Kau pikir kami akan memaafkanmu?!”
“Aku tidak meminta kalian untuk memaafkanku.” Radhika berlutut lalu bersujud—meminta maaf kepada seluruh tawanan yang ada “Tapi, untuk kali ini saja, mohon percayalah padaku.” Melihat kebulatan tekad Radhika, seluruh tawanan terdiam. Seketika semuanya kehilangan niatan untuk membalas apa yang sudah Radhika lakukan kepada mereka. Semuanya tertunduk tanpa bisa berkata-kata. Bahkan kedua orang tuanya tak bisa menyalahkan atau membenarkan apa yang sudah dilakukan oleh anaknya.
“Aku mempercayaimu.” Dari sekian banyak tawanan, salah seorangnya maju menghampiri Radhika “Aku juga punya seseorang yang kusayangi, jika aku ada dalam posisimu, aku pasti akan melakukan hal yang sama.” Dia mengulurkan tangannya kepada Radhika untuk membantunya berdiri. Radhikapun menerima ulurannya dan berdiri “Aku Andri wakil ketua dari Divisi 4, akan percaya kepadamu.” Setelah melihat Andri, seluruh tawanan yang ada mulai mengikutinya dan percaya kepada Radhika.
Tiba-tiba “Dim—Radhika, ada sesuatu yang harus kau lihat.” Leila membawa Radhika ke sebuah ruangan yang ada di ruang tahanan. Di ruangan itu, terdapat sebuah layar monitor yang besar dengan angka-angka yang terhitung mundur. Angka yang tertulis di monitor itu adalah 7 menit 45 detik dan akan terus berkurang sampai akhirnya manjadi 0.
“Ini... bom?!” Radhika mencoba untuk menjinakkan bom itu dengan mengutak-atiknya, namun gagal. “Percuma, kita harus segera memberitahu semuanya mengenai bom ini.” Merasa percuma saja, Radhika dan Leila langsung berlari untuk memberitahu tawanan dan semua orang yang ada di gedung ini.
~BERSAMBUNG~

No comments:

Post a Comment